Sabtu, 30 Desember 2017

Catatan Perjalanan 2017

Mendung menggelayut manja di langit Kota Surabaya. Dalam desir, angin berhembus menyejukkan jiwa. Surabaya yang biasanya menyengat, tak menampakkan wajahnya. Memang,  musim penghujan masih dalam masa-masa bulan madu. Air-air dari langit sedang giat-giatnya membasahi bumi. Tiada hari tanpa kesegaran yang ditumpahkan Allah melalui awan-awanNya. Di salah satu bagian kota, dibawah mendung yang mengambil alih birunya langit itu, di sebuah rumah sempit, seorang yang tak lagi muda merenung. Dialah aku. Muhasabah untuk mengevaluasi apa saja yang telah aku lalui diperjalanan 2017.

Yah, 2017 betapa Allah memberi banyak kejutan padaku. Sungguh, tahun ini adalah kado dari semesta. Setelah hujan membasahi hati, akhirnya terlihat pelangi. Pelangi yang sangat indah. Dan barisan pelangi itu ingin aku tulis disini sebagai goresan langkah perjalanan

2016 perjalanan bak roller coaster
Tahun lalu merupakan tahun yang berat untukku. Aku hamil besar dengan banyak tangisan. Setiap hari dan setiap malam. Dan seketika dokter menjadwalkan tanggal keramat untuk mengeluarkan anakku dari perutku yang halus, semakin menjadi-jadi tangisku. Dan saat suatu pagi ada rembesan air, saat itulah aku dipaksa untuk rela menyerahkan tubuhku pada banyak orang yang aku sendiri tak akrab dengan mereka. Aku "disalib" !!! Tangan dan kakiku tak bisa bergerak lagi. Akhirnya Luigi lahir. Apa yang kurasakan saat itu? Tidak senang, tidak juga sedih. Yang ada adalah perih saat bius menguap dari tubuhku. Saat Luigi berhasil dikeluarkan dengan dorongan yang sangat keras, aku tak menangis. Dialah yang menangis keras. Menandakan bahwa sosok yang kubawa kemanapun tanpa pernah kulihat akhirnya ada didepan mata. Dia ada di dadaku. Pertemuan pertama itu yang akhirnya mengubah hidupku sebagai Septi dan merubah hubunganku dengan Adit. Masa itu adalah masa yang naik turun buat aku. Padahal Luigi adalah hasil kehamilan yang kurencanakan. Aku ke dokter untuk program hamil, aku cek Lab (darah maupun TORCH), dan aku banyak belajar untuk menjadi Ibu. Buku pengasuhan bayi aku baca tiap malam. Namun, Luigi bukanlah bayi didalam iklan minyak telon. Banyak malam yang dilalui kami berdua dengan deraian air mata. Bahkan pernah aku ingin membuang semua botol ASI perah (ASIP) dalam freezer yang jumlahnya puluhan. Apakah aku mengalami Baby Blues Syndrom? Entah.

2017 terbitlah pelangi
Dimulai dengan Februari pertamakalinya aku belajar Metode Montessori untuk anak usia dini 11-12 Februari 2017. Bersama Bu Ivy Maya Savitri dari Rumah Montessori aku mengikuti pelatihan dengan fokus sambil sesekali menganggukkan kepala. Kenapa? Karena aku seperti menemukan hal luar biasa dari metode ini. Sangat logis, berpihak pada anak, dan teratur. Mengikuti pelatihan ini seperti sebuah oase di tengah gurun pasir yang panas. Laiknya matahari, kadang Bu Ivy 'menampar' kami dengan menyengat. Dan seseorang inilah yang menyadarkanku bahwa usia dini itu sebentar dan tidak bisa diulang. Saat itu kenangan masa lalu muncul. Inilah minatku sejak dulu. Berhubungan dengan anak-anak. Dan aku sudah memiliki murid yang semangat belajarnya menyala-nyala. Dialah anakku, Luigi.

orang yang pertama kali memberi pandangan mengenai pengasuhan anak usia dini


Di bulan yang sama, aku dan keluarga kecilku pergi ke Jawa Timur Park 2 di Batu. Kami merayakan ulang tahun pertama Luigi. Dan hari itu juga bertepatan perjalanan satu tahun kami dilahirkan menjadi manusia baru. Sebagai Ayah dan sebagai Ibu.

Luigi 12 bulan dan Ayah

Tanggal 19 Maret 2017 untuk pertamakalinya aku menjadi moderator Bedah Buku. Kali ini mbak Farda yang merupakan leader fasilitator nasional Institut Ibu Profesional menawarkan kesempatan itu padaku. Tanpa pikir lama, aku mengiyakan. Dan itulah aku berkenalan lebih dekat dengan ibu pembelajar Kota Gresik.



Tak puas sampai disitu, saat ada informasi bahwa Bu Ivy Maya Savitri datang lagi ke Surabaya, aku semakin haus. Aku mengejar panitia untuk menanyakan apa bisa aku mendapat potongan harga. Kali ini pelatihan Montessori diselenggarakan selama 4 hari non stop. Yakni tanggal 6-9 April 2017. Dengan belajar,  aku semakin mencintai anakku.



Bulan Mei aku mengikuti tantangan 30 hari menulis tanpa henti di #30DWC batch 6 dari Inspirator Academy. Bertepatan tantangan itu pula aku berikhtiar menjadi ibu profesional dengan mengikuti perkuliahan online atau matrikulasi Institut Ibu Profesional. Karena aku tidak bisa menyelesaikan 30 tulisan, aku ditendang dari grup WA. Darisana aku belajar bagaimana teman-temanku menulis fiksi. Ternyata menulis itu menyenangkan.

Tanggal 16 September 2017 aku semakin ingin mendalami Montessori. Kali ini bersama miss Eva Sidabutar, yang super wow dalam mengisi materi. Sangat atraktif seperti bola bekel. Dialah founder Rumah Aruna, sekolah yang berbasic Montessori. Selama 6 jam mengupas salah satu area pembelajaran dalam Montessori yakni Exercise of Practical Life.





Tahun ini juga tahun pertama aku mengikuti event yang diselenggarakan Kumpulan Emak Blogger (KEB). Dan aku mendapatkan tiket preview sale The Big Bad Wolf dari blog ini.

pertamakali ketemu makmin KEB Surabaya, mba Yuni dan blogger Surabaya

bersama Blogger Surabaya mba Ratri Anugrah dan mba Florensi


September 2017 aku resign dari pekerjaan, dan memulai hidup baru menjadi ibu rumah tangga (yang tidak berdaster). Saat itulah aku bisa membayar quality time bersama keluarga terutama Luigi.

Oktober 2017 aku berkesempatan menjadi MC acara parenting di Gresik dengan pembicara Hj. Riyadlotus Sholichah, S.Ag. M.Si yang tak lain adalah temanku sendiri. Mbak Olik aku biasa memanggilnya. Aku sampai harus kerumah beliau di Gresik, agar bersedia menjadi pengisi acara ini. "Bagaimana menjadi Ibu hebat untuk mendidik anak yang shaleh" adalah tema yang dipilih untuk moment Muharram ini. Karena, bukankah do'a anak shaleh adalah termasuk amalan yang tak terputus?

Sore yang bergizi dengan ilmu dari mba Olik

penyampaian mba Olik sangat pas dengan karakter bu ibu Kota Santri

mencari pengisi acara sekaligus menjadi MC

ini moment pertamakali ketemu mba Olik. Berpose dengan Bu Ivy Maya. Poto dari : kamera mba Farda

Di bulan yang sama, akhirnya aku membuka teka teki tumbuh kembang Luigi saat ia berusia 19 bulan. Luigi mengalami oral motor disorders (gangguan oromotorik) yang menyebabkan ia Anemia Defisiensi Besi (ADB) dan underweight / berat badannya sulit naik. Yang akhirnya menjadi sebuah perjalanan spiritualku. Betapa Allah menyayangi kami. Luigi berusaha mengejar ketertinggalan sebelum usia 2 tahun. Sekarang begitu banyak progress darinya. Semua karena support Adit dan Luigi bersemangat untuk belajar.

Luigi sedang terapi Oromotorik di National Hospital Surabaya


Aku tak ingin berhenti belajar Montessori. Di 18-19 November 2017 aku mengikuti Teknik Pengajaran Baca Tulis Metode Montessori. Kali ini dari seorang Montessorian, guru Harmony Montessori Jakarta dan penulis buku Jatuh Hati Pada Montessori bernama Vidya Dwina Paramita. Dialah gambaran guru TK ideal menurutku. Semua yang disampaikan pasti ada pendasarannya namun menggunakan hati. Memahami filosofi Montessori jadi lebih mudah.


(Baca jugaAnak Usia Dini Gemar Baca Tulis Karena Cara Ini )

Dibulan yang sama aku mengikuti tes masuk Diklat Guru TK Islam (DGTKI)  Nurul Falah Surabaya. Ini merupakan perkuliahan untuk calon guru TK Islam dengan durasi selama satu tahun. Alhamdulillah diterima dan kelas dimulai Januari 2018.



Dan mengakhiri tahun 2017 dengan melewatkan 4 hari 3 malam di Bali. Hanya aku dan Adit. Lho kogh Luigi enggak dibawa serta sih? Luigi sudah ada liburannya sendiri. Kami gak mau lupa kalo kita tidak cuma orangtua. Tapi juga pasangan :)

plesiran ke Bali tepat di Hari Ibu

Tahun ini pula aku belajar menjadi lebih luwes. Tak lagi memaksakan yang berbeda. Tak lagi marah untuk hal tak prinsip. Sebanyak tiga film Indonesia seperti Kartini,  Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss 2 dan Susah Signal aku tonton sendirian. Kenapa aku harus memaksa Adit nonton denganku jika ia tak suka nonton?  Tak perlu pegal hati. Nonton sendiri juga asyik tuh :)

Sehingga, 

Apa yang tepat untuk menggambarkan tahun ini? TAHUN BELAJAR. Menempa diri menjadi Ibu sebagai madrasah pertama anak dan belajar menjadi istri yang baik.

Terimakasih ya Allah atas kesehatan sehingga aku bisa mengisi usiaku dengan penuh kebermaknaan. Semoga segala hal yang kulalui bisa sedikit menjadi pemberat amal di yaumul hisab kelak. Amin.

Faidza Faraghta Fanshab. Maka apabila kamu telah selesai satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain (QS al Insyirah : 7)


terimakasih banyak Bu Ivy Maya Savitri

1 komentar:

  1. luar biasa mba Anggraini tahun 2017 penuh dengan aktifitas menempa otak buat diterapin ke anaknya. Hebat, salut mba :D

    BalasHapus