Mengenal Metode Montessori


Pernah dengar istilah Montessori? Atau sekolah Montessori? Berapa biayanya? Pasti hanya kalangan elite yang bisa sekolah disana. Atau pernah dengar hestek Montessori dirumah? Paham enggak maksudnya apa? Dimulai dari mana? Filosofi metodenya seperti apa. Urutannya seperti apa. “Ah bayar duit puluhan jeti dulu dong, baru kita bisa tau jawabannya. Tuh sekolah Montessori masih berdiri kokoh enggak kemana-mana kalau mau masukin sekolah anaknya disitu” batinku sedikit menggerutu saat itu. Lalu kita berfikir bahwa Montessori adalah pembelajaran anak usia dini untuk horang kaya. Dan Montessori hanyalah mimpi yang harus dilupakan jauh. 


Suatu sore yang sejuk di kota Santri, Gresik saya tetiba melihat IG teman (Mom's Ethan) yang disana terpampang poster info mengenai Workshop Metode Montessori di Surabaya. “Yuuuuhuuu mari di goyang mak2 Suroboyo. Wajib kudu ikut nehhh. Worthed lah”. Begitu kira-kira teksnya. Dari sana saya langsung membatin “Oh jadi selama ini aktifitas anaknya pakai Montessori” gumamku. Tapi aku sendiri enggak paham apa itu Montessori. Sampai akhirnya bertemu 2 (dua) website berbahasa Indonesia mengenai Montessori. Penulisnya Bu Ivy Maya Savitri dari Rumah Montessori dan tulisan Elvina Lim Kusumo founder Indonesia Montessori (dot)  com.


Darisanalah saya tanyakan ke teman sy tersebut mengenai apa beda Montessori keduanya? dari jawaban mama Ethan saya dapati bahwa antara Montesssori Elvina Lim Kusumo dan Ivy Maya Savitri adalah sama. “Cuma karena Mom C (Elvina Lim Kusumo) ga pernah adakan seminar or training jadi terkesan mereka b2 berbeda” “intinya sama stimulasi anak untuk 5 area perkembangan, kalo mau stimulasi anak ala Montessori sebaiknya seh ikut training mom. Mom akan amaze banget de ama segala detail aktifitas Montessori. Karena aku pun begitu” lanjut mama Ethan. Belum puas tanya teman, saya tanya hal yang sama pada panitia (mbak Dian) dan jawabannya tidak jauh berbeda “Elvina mom C itu kan penggerak komunitas @IndonesiaMontessori beliau di Amerika. Kalo Bu Ivy Maya Savitri memang berkecimpung di dunia Montessori sebagai praktisi (punya sekolah @rumah_montessori) dan trainer pelatih guru Montessori juga pembimbing beberapa sekolah Montessori”.
Saya langsung buka dan baca lagi secara detail web Rumah Montessori dan ada pertanyaan lagi “Siapakah profile trainer Rumah Montessori?”. Lalu saya masih berfikir lagi (cuma ikutan seminar ginian, kebanyakan mikirnya nih saya haha). Sejujurnya kenapa sampai gini banget, tanya sana sini, tidak lain tidak bukan adalah karena rupiah tiket seminarnya yang (menurut saya) tidak sedikit. Senilai satu juta seratus lima puluh ribu rupiah. Makanya saya harus ‘dapat apa’ dengan uang segitu dengan minimal paham siapa pengisinya. Ketika teman kerja saya ceritain mengenai harga seminarnya, ada yang nyeletuk “Mbak Septi bisa KP khan (Keterampilan Proses)?, kenapa enggak lihat di You tube aja, dan di KP sendiri” begitu katanya. Aku berfikir lagi. “Eh bener juga ya, liat di youtube pasti bisa sendiri” gumamku. Sampai ada teman kerja lain yang menimpali “Kalau seminar biasanya emang beda, lebih detail dan ada praktikumnya”.
Nah, dari buka detail web Rumah Montessori saya tau bahwa seorang bernama Ivy Maya Savitri adalah seorang ahli di bidang metode Montessori untuk anak usia dini. Pengalaman sebagai konsultan dan trainer beberapa sekolah Metode Montessori dan pembicara seputar Metode Montessori baik nasional dan internasional event. Benar saja, saya langsung berfikir beliau ini magister Manajemen yang bertransformasi menjadi praktisi di dunia Montessori. Dan membayangkan pasti nanti akan banyak pengalaman riel yang bisa share. Dan aku inget lagi akan tujuannya ikutan workshop ini “Mau belajar buat persiapan Luigi saat 15 bulan” Udah itu aja. Apapun kegiatannya kalau demi mempersiapkan diri jadi Ibu, harus diikuti. Lalu tanggal 01 Februari 2017 maghrib dengan mengucap Bismillah, saya tranfer ke panitia dan berencana tidak bilang Adit karena pasti tidak di setujui mengingat baru saja bayar hal lain (wisuda) di bulan Februari yang bukan nominal kecil juga. Dan entah kenapa, hati saya bilang “ Kamu harus ijin Adit “ Akhirnya saya bilang, dan akhirnya ini jawabannya.

Seketika itu seperti bergelimang hujan hadiah nan luar biasa dari Adit. Ijinnya membuka satu jalan, bahwa saya bisa mengikuti seminar dengan hati yang tenang karena Luigi akan bersama Adit di hari Sabtu dan Minggu. Ijin dari pak bos pun juga sudah di tangan. Hari Sabtu surat cuti mulus ibarat kulit pipi saya, dan tanpa hambatan seperti jalan tol.
Sebelum mengikuti acara ini, saya mendapat beberapa data mengenai Metode Montessori. Yang saya tau bahwa Montessori adalah metode belajar anak usia dini yang pasti menggunakan alat – alat (apparatus) dan alatnya khusus. Alat Montessori ada ciri khasnya, alias dimana-mana, di luar negeri sekalipun juga menggunakan alat yang sama. Setelah itu kepoin harga apparatus Montessori di medsos yang OMG (buat saya) kalau untuk stimulasi anak mah mahal banget lah ya. Cuma balok-balok susun bisa ratusan ribu. Itu masih satu alat. Lah masalahnya apparatus montessori itu banyak sis. Kalau ratusan ribu di kali 3 alat, duitnya jadi nambah nol nya dong. Hmm. *setengah pingsan*.
Sebelum mengikuti seminar tepatnya tanggal 04 Februari 2017 malam saya sengaja mencari buku tema Montessori di Toga Mas Surabaya (setelah sebelumnya saya sudah hunting di berbagai Gramedia Surabaya dan udah enggak ada, sampe pesen ke petugas Gramedia Royal, tetep kosong). Apa yang saya dapati setelah membaca buku tersebut? Satu kata. Bingung. Buku ini lebih banyak bercerita tentang kegiatan anak dengan metode Montessori (khususnya di Practical Life), namun tidak di detailkan mengenai filosofi Montessori dan maksud dari setiap aparatus Montessori itu sendiri. Ya untuk targetan permainan stimulasi sih detail, namun hanya 1 area perkembangan saja yang di bahas. Darisana otak saya tetep ngerasa buntu dan bikin saya semakin yakin dan harus semangat ikut pelatihan Montessori dari Rumah Montessori. Sengaja berangkat dari Gresik jam 06.00 pagi berharap bisa duduk depan dan mengikuti seminar dengan fokus. Padahal acara dimulai jam 08.00. *peserta teladan* *hasyeek*

*Ada yang masih lanjut baca? Haha maaf saya kalo nyerocos bisa panjang gini #sungkem satu-satu dulu biar gak bosen :D

Ternyata beneran, saya amaze banget dengan Montessori. Saya bingung cara nulis reportasenya, jadi dimodel pertanyaan aja ya?

A.      Ini acara seminar apaan sih?
Pelatihan dasar metode Montessori 2 hari. Pengisi materi : Ivy Maya Savitri, SP, MM. Dibantu EO dari XC Enterprise. Kuota 40 peserta.

gambar diambil dari FB panitia

B.      Apa metode Montessori?
1.       Metode Montessori adalah metode belajar anak usia dini, umur nol-12 tahun. Dipelopori oleh seorang bernama dr. Maria Montessori yang berasal dari Itali. Metode ini memadukan antara Ilmu Kedokteran (psikologi perkembangan anak) dengan ilmu pendidikan konvensional. Sekolah Montessori pertama tahun 1906 Casa De Bambini (Rumah Anak) di Roma untuk 3-6 tahun (kebanyakan merupakan anak terlantar).
2.       Awalnya metode ini di khusukan untuk anak dengan kebutuhan khusus, sehingga alat-alatnya khusus, warna yang dikenalkan khusus dan cara pemakaiannya pun ada SOP nya tersendiri.
3.       Sehingga alat Montessori memiliki fungsi, cara penyampaian dan control yang jelas.

C.    Mengapa harus menggunakan Montessori?
1.       Metode belajar anak usia dini dengan 5 area perkembangan. Yakni :
-          Exercises of practical Life (EPL) – keterampilan hidup
-          Area Sensorial
-          Matematika
-          Cultural (peradaban dan budaya
-          Bahasa
2.    Metode Montessori memahami bahwa setiap anak adalah berbeda / unik, sehingga penanganannya pun berbeda-beda dan bersifat PERSONAL..
3.    Pembelajaran metode Montessori adalah banyak observasi (pengamatan). Sehingga memberikan pengalaman riel dengan touch, metode ini pasti melibatkan seluruh indra. Dan tidak menggunakan KERTAS KERJA (yang abstrak nan mengawang di langit pikiran). Jadi tujuannya tidak sekedar bisa menjawab soal, namun yang lebih penting adalah memahami konsep.
4.    Dalam kelas Montessori “saya sedang bekerja”. Sehingga mereka membuat karya dengan bermain. Mereka akan berusaha, dan kita jangan pernah meng ‘cut’ proses belajar anak dengan memberi interupsi, pembenaran, sangsi atau hukuman. Karena dalam Montessori tidak ada punishment. Justru apresiasi proses adalah cara memberi penghargaan yang diterima anak. Namun yang menarik, reward dalam Montessori bukan barang atau benda. Kata positif mengenai proses belajarnya lah yang memotivasi anak. Jadi dalam Montessori tidak ada punishment atau interupsi/pembenaran kesalahan aktifitas belajar .

foto diambil dari panitia

5.    Montessori sangat menghargai proses anak. Seorang anak butuh banyak kesempatan, pengulangan, dan jam terbang. Untuk menjadi sempurna perlu proses, bukan hasil. Sehingga dalam Montessori MEMBERI WAKTU anak berusaha.  Secara tidak langsung ia bisa mengoreksi kesalahannya sendiri. Sampai ia bisa. Buatlah ia bangga bisa melakukannya. Karena anak ingin mandiri, kita harus memberi nya waktu. Contoh kecil : membawa nampan, menuang gelas, membagi air dalam gelas yang semuanya tidak boleh tumpah.

6.    Anak memilih sendiri permainan, bukan kita yang memilihkan. Kita sebagai “fasilitator” yang memberikan pilihan-pilihan. Dan menghormati hak kebebasannya dan keinginannya. Menghormati pilihan-pilihannya. Kita tidak boleh sedih alias ‘baper’ jika dia tidak mau memilih permainan yang kita siapkan. Hal kecil tujuannya : arahnya ini nanti adalah anak terbiasa untuk memutuskan sesuatu dengan pilihannya sendiri dengan penuh tanggung jawab. (ini menohok banget buat saya, saya pikir bahwa stimulasi anak diarahkan alat-alat permainannya alias kita yang memilihkan).
7.    Karakteristik lingkungan Montessori bahwa ada rak atau tempat untuk mengembalikan permainannya dan tidak ditumpuk-tumpuk. Agar menarik dalam proses pemilihan stimulasi dan mereka bisa mengembalikan lagi mainannya seperti semula. Inilah lanjutan dari tanggung jawab terhadap pilihan permainannya. Bahwa ia  akan merapikan kembali alatnya. Dan alat-alat nya selalu ada tujuannya, hendak menstimulasi apa?
8.    Dalam kelas Montessori minim percakapan. Gunanya adalah untuk menjaga konsentrasi. Dan mencontohkan setiap kegiatan dengan kosakata yang tepat. Sehingga alurnya à  bicara, kerja, memperhatikan, menunggu dan mengulang. Dalam mencontohkan kegiatan, fokuslah dan tidak menambahi tata cara. Misalnya : tanpa sengaja menggaruk kepala. Anak pasti akan meniru.
9.    Fasilitator Montessori berbicara dengan anak menggunakan eye level. Bicaralah sejajar dengannya.
10.Sehingga metode belajar anak usia dini pendekatan Montessori adalah sangat humanistik. Alat-alatnya pun sangat filosofis (dijelaskan di bawah).
11.Menurut Bu Ivy Maya, Montessori adalah sebuah metoda yang mengajarkan kita tidak hanya untuk sekolah tetapi juga mengajarkan kita untuk HIDUP. 



D.      Bagaimana metode Montessori itu?
Untuk mendetailkan mengenai teknis pembelajaran 5 area perkembangan, maka Montessori di bantu oleh alat yang dirancang khusus, filosofis dengan tata cara penggunaan yang detail. Sehingga setiap alat yang digunakan ada SOP khusus. Sebagai asumsi bahwa setiap pembelajaran dengan alat pasti menggunakan alas kerja, agar ia tau bahwa inilah area kerjanya. Tidak tercecer kemana-mana dan fokus di satu tempat. Alas kerja di rapikan dari kiri ke kanan untuk proses belajar menulis.
Kita bahas satu-satu ya, mengenai 5 area perkembangan.

1.       Exercises of practical Life (EPL) – keterampilan hidup
Ini adalah kegiatan praktis yang dilakukan oleh orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari dalam memelihara dan mengelola lingkungan hidup dan tempat bekerja. Tujuan EPL adalah : kemandirian, konsentrasi, kemampuan motoric dan koordinasi, aspek social, intelegensi dan disiplin diri. Dan menggunakan alat di kehidupan sehari-hari.
Contoh aktifitas yang di demokan oleh Bu Ivy diantaranya :
-        Menuang air dari teko ke gelas
Dinamika di lapangan : tumpah. Penyelesaian : menyudahi dan membersihkan bersama, besok demo dan diulang lagi.
-        Memindahkan obyek benda dengan menggunakan sendok ke gelas/teko
Dinamika di lapangan : ia memindah obyek ke teko/gelas dengan tangannya, bukan dengan sendok. Penyelesaian : biarkan, dan jangan pernah menghilangkan sendoknya. Kata Bu Ivy, suatu saat ia akan mencoba sendiri ketika siap sebagai tantangan baru. Latihan ini sebagai dasar kemampuan menulis (memegang pensil) selain kemampuan motorik. Dan dilakukan dari kiri ke kanan, karena kedepan belajar menulis juga dari  kiri ke kanan.


-        Meronce dan menggunting.
Keterampilan untuk melatih koordinasi jari tangan, koordinasi, dan koordinasi tangan dan mata. Dan ada latian-latihan menggunting yang di sarankan.
-        Mencuci dan mengeringkan tangan

2.       Sensorial
Area sensorial merupakan area dimana tersedia alat-alat untuk kegiatan sensori motor anak yang dirancang secara sistematis untuk kelima inderanya sehingga memungkinkan anak untuk memahami konsep baru melalui pengamatan indera serta latihan. Karena pada usia 0-6 tahun indera anak sedang dalam masa perkembangan yang pesat. Tujuan sensorial : membantu anak mencapai kemampuan indera yang maksimal, mengembangkan rentang konsentrasi, intelegensi dan persiapan tidak langsung untuk perkembangan bahasa, sains, music dan matematika. Prinsip dasar sensosial : membentuk pola pikir runut/bertahap. Disini ada tahapan pembelajaran.  Misalnya dalam penggunaan alat pengenalan warna (saya lupa namanya apa, tapi wujudnya membentuk rel kereta api), maka step nya :
1.       Sebutkan “ini merah” dan mintalah anak untuk mengulang, lalu sebutkan“ ini biru” 
2.       Minta anak untuk menunjuk mana yang biru dan merah
3.       Tanyakan “yang ini warna apa?”

Kegiatan yang di demokan Bu Ivy Maya :
1.       Stimuli penglihatan (ukuran dan dimensi)
-          Yang didemokan Pink tower, knobbed cylinder, brown stairs dan long rods. Ketiga alat inilah yang saya maksudkan apparatus Montessori khas. Ada urutan tahapan pembelajaran yang harus dijalankan. Ada SOP penggunaannya. Selain untuk memaksimalkan sensorinya, alat stimulasi indra ini untuk menunjukkan konsep 1-10. Tapi tidak hanya itu, luar biasanya alat Montessori diatas bisa menunjukkan konsep bilangan pangkat. 

foto : dari panitia

-          Contohnya Pink tower secara tidak langsung merujuk pada pembelajaran pangkat 3. Contohnya : kubus dengan panjang, lebar dan tinggi 3 cm, maka volumenya adalah 3cm x 3cm x 3cm = 3 pangkat 3 = 27 cm3. Pink tower di area sensori  juga ngajarin konsep ukuran, urutan, susunan, dan perbandingan.


-     Long rods atau tongkat merah dan biru
Tongkat paling pendek adalah bilangan 1 pangkat 1, baris kedua adalah 2 pangkat 1 (dst). Menunjukkan konsep panjang dan pendek juga.
-          Brown stairs
Sedangkan brown stairs adalah pengenalan konsep pangkat 2.


(semoga pemahaman ini bener ya, maklum pembahasan ini sudah sore menjelang berakhir huhu)
Dan pembelajaran ini adalah langkah awal anak belajar matematika, karena dalam matematika ada kegiatan mengurutkan dengan membandingkan.

2.       Stimulasi penglihatan warna
Yang didemokan Bu Ivy Maya diantaranya :
-            Kotak warna dengan 3 warna utama sebagai pengenalan awal yakni warna merah, kuning dan biru.  Dinamika di lapangan dalam pengenalan warna dasar, mereka menyusun alatnya menjadi rel kereta api. Apa kita menyalahkan? Tidak. Besok bisa di simulasikan lagi, toh konsep warna dasar sudah dia dapatkan.
-            Geometric solids
Ini merupakan bangun geometri dalam bentuk mini yang biasanya diajarkan di matematika SMP. Kedepan bisa mudah memahami konsep sudut, garis, volume dan ukuran. Kata Bu Ivy, kadang kita dulu suka bingung dengan pelajaran geometri saat menggambar kubus, balok, ada bagian titik-titiknya itu loh. Bingung bayanginnya. *ada yang nasib masa SD nya gini?* *itu saya*. Nah, alat ini memudahkan dalam menunjukkan bangun ruang 3 dimensi tersebut.

gambar diambil dari : montessorialbum.com
3.       Perabaan
Yang didemokan :
- Papan kasar halus (papannya khusus) dengan mengajarkan konsep kasar halus, lebih -kasar halus, paling - kasar halus,
- Papan kayu untuk menunjukkan konsep berat ringan.
Di aktifitas ini, satu indera nya ditutup agar semakin peka. dalam hal ini adalah mata. sehingga anak bisa maksimal di indera yang lain.
4.       Pendengaran
Yang didemokan :
Kotak suara (kotaknya dari kayu khusus). Gunanya nanti di pendengaran dalam memahami bunyi huruf atau angka dan pengejaan kata dalam pembelajaran membaca.

Add captiongambar diambil dari : id.aliexpress.com


3.       Cultural (peradaban dan budaya)
Area cultural adalah area dimana tersedia alat-alat (yang dirancang Maria Montessori) untuk membantu anak mengenal dunia atau lingkungan hidup, baik yang ada di sekitarnya maupun lingkungan yang lebih luas (alam raya). Mengapa perlu diajarkan sampe seperti ini? Karena dalam Montessori ada tujuan untuk membantu anak dalam beradaptasi dengan budaya lingkungannya dan mandiri.
Kegiatan dan alat yang di demokan Bu Ivy Maya di forum :
-          Biologi : puzzle hewan dan tanaman (alat khusus)



-          Geografi : bentuk daratan, air, udara, teluk dan semenanjung.
-          Sains : makhluk hidup dan benda mati, magnet, konsep terapung tenggelam.
     Oia di forum ada cerita unik mengenai murid Bu Ivy yang setiap hari selama berapa bulan ya (lupa) maunya bermain dengan alat tentang konsep terapung dan tenggelam. Diulang itu terus. Sampai suatu ketika ia menunjukkan ke fasilitator bahwa kelereng itu tidak tenggelam, tapi terapung. Fasilitator pun tidak menyalahkan, namun dia diminta menunjukkan gimana kelereng yang harusnya tenggelam menjadi terapung. Dan ternyata benar!!! Kelereng bisa terapung dengan cara ia masukkan terlebih dahulu mangkuk / wadah kecil lalu ditaruh dalam air dan kemudian kelereng di letakkan di mangkuk tersebut. Luar biasa kreatif.  Ini lah keindahan Montessori yang menunjukkan jika kita sabar dengan proses belajar anak, dia akan bisa memahami konsep dengan ‘caranya’. Dengan cara mereka sendiri.  Dan mereka akan bisa menjelaskan konsep tersebut dengan ‘bahasanya’ dan membuat mereka semakin kreatif.

4.       Bahasa
Membantu mengembangkan kemampuan komunikasi, persiapan pengembangan keterampilan Bahasa lebih lanjut (menulis dan membaca) dan membantu anak berinteraksi dengan lingkungannya.
Yang paling saya ingat dalam mengajarkan kata, maka tunjukkan wujud bendanya. Tujuannya agar ia tau apa maksud lambang yang ia baca. Misal : ia membaca baju, maka sebelahnya taruh baju Barbie misalnya. Ia membaca bola, taruhlan bola mini di sebelahnya. Sehingga dalam Montessori itu, dia tau cara menulisnya, dia tau huruf apa saja yang dibutuhkan disana, dan dia tau apa maknanya yang dibaca itu. Sempat di bandingkan juga dengan flash card (ehem karena saya juga pakai ini) kemungkinan anak sebatas membaca symbol saja, apa dia tau apa arti yang di baca? apa dia tau isi dari huruf yang membentuk kata itu? Begitu kira-kira kata Bu Ivy Maya. Pembanding dengan metode selain Montessori anak dipaksa bisa membaca doang. Padahal hakekat membaca itu apa? Paham apa yang dibaca. Karena guru SD, guru SMP pun kedepan juga minta apa dari kemampuan membaca anak? Dalam 1 paragraf, suruh cari itu yang namanya pikiran utama. Kalau enggak paham tentang hakekat membaca, ya enggak akan bisa lah. Anak-anak PAUD dan TK sekarang “just read”. Jadi enggak belajar babibubebo, cacicuceco, lha kalo ditanya babibubeno aja enggak tau. *tertohok ya* Dan usia peka membaca adalah 4,5 tahun.



Alat Montessori yang digunakan ada secara khusus yang di bedakan antara huruf vocal dan konsonan. Huruf vocal berwarna biru dan konsonan berwarna pink, dan ukuran sesama konsonan pun ukuran papan nya beda. Misal huruf s dan j. Dalam menulis lebih panjang j. Dalam Montessori pengenalan hurufnya tidak berurutan. Seperti A, B, C, D, E dan seterusnya urut. Mengapa? Karena nanti seperti menghafal. Dan cara mengenalkan ejaannya bukan seperti metode konvensional sekarang ah untuk A, be untuk B, ce untuk huruf C, de untuk huruf D dan seterusnya. Tetapi seperti lagu dalam Phonics song. Saya dikasih tau teman sesama peserta di forum mengenai referensi pembelajaran Bahasa (karena anak beliau sekolah di Surabaya Montessori School), diantaranya Badanamu song, ants for the apple song, dan phonics song (yutubing sendiri aja ya).

Dalam pembelajaran Bahasa di Metode Montessori tahapan dalam pengenalan huruf yakni 3 huruf. Missal L U I (nama panggilan anak). Dan proses belajar membaca ada buku khusus, yakni : Buku kata, Buku frase, dan Buku kalimat. (ini Bu Ivy bikin sendiri, dari terjemahan Montessori versi asli / Bahasa Inggris ).

Buku kata : Sapi - diatasnya gambar sapi
Buku frase : contohnya bayi lucu, tahu basi, mata hati, meja kaca, pita baju
Buku kalimat : Luigi mencari bola, Mama beli roti

5.       Matematika
Area dimana tersedia alat-alat-alat untuk membantu anak mengenal konsep matematika, dimulai dari yang KONKRET. Matematika bagian dari pembentukan pola berfikir kritis dan sistematis, dan membatu kemampuan dalam problem solving skill. Matematika dalam kelas Montessori adalah keterampilan Menyamakan-Membandingkan-Mengelompokkan-Mengurutkan. Dan ini bagian dari pembelajaran sebelumnya yakni EPL, Sensorial dan Cultural.

Alat yang di demokan di forum :
- Penggunaan manik-manik. Manik warna-warni yang terdiri dari manik satu hingga manik sembilan.[Warna manik sesuai dengan urutan warna pada metode Montessori yaitu warna merah untuk menik satu, hijau untuk warna manik dua, merah muda untuk manik tiga, kuning untuk manik empat, biru muda untuk manik lima, ungu untuk manik enam, putih untuk manik tujuh, coklat untuk manik delapan dan terakhir warna biru tua untuk manik sembilan.
gambar diambil dari : alibaba.com

- Tongkat angka, Darisini bisa belajar penambahan dan pengurangan juga.
gambar diambil dari : montessori-doma.cz
- Papan Seguin, untuk memahami belasan, puluhan, dan konsep angka 0 (nol)
gambar diambil dari : id.aliexpress.com

*maaf dari demo ini saya agak nge heng*
*nanti janji saya perdalam lagi* *entah janji sama sapa*

Itulah rangkuman pembelajaran 5 area perkembangan dalam Montessori yang saya pahami di kelas Bu Ivy Maya. Jika ada kesalahan pemahaman, yah sambil jalan, sambil belajar dan diperbaiki mana yang kurang.

Pertanyaan fenomenal dalam pembelajaran Montessori (karena saya pun begitu).

"Apakah harus memiliki semua apparatus Montessori?"
Dalam sejarahnya, setiap alat yang di ciptakan dr. Maria Montessori memiliki fungsi yang disesuaikan dengan anak berkebutuhan khusus. Dengan penyampaian khusus dan cara pemakaiannya yang detail tahapannya. Ada latar belakang dan tujuan apa dari adanya alat – alat tersebut? Sebenarnya kalau saya pahami alat Montessori ini membantu membuat nyata sebuah konsep. Ketika nyata akan lebih mudah dipahami.
Misalnya :
-          Alat pengenalan warna dengan warna merah kuning dan biru. Kenapa dengan pengenalan warna itu? Karena sangat kontras. Apakah tidak bisa di ganti dengan kertas buffalo dengan kita print warna yang sama? Menurut saya bisa
-          Kayu panjang untuk menunjukkan konsep panjang dan pendek
Apakah tidak bisa jika diganti dengan tali raffia? Atau meja yang ada dirumah?
Menurut saya bisa jika tujuannya untuk mengenalkan konsep panjang pendek saja. Namun dalam alat itu ada pembelajaran meng urutkan sebagai pembelajaran konsep 1-10.
-          Keramik kasar dan keramik halus untuk menunjukkan konsep halus kasar, lebih halus lebih kasar, sangat halus sangat kasar. Bisakah diganti dengan amplas biasa? Bisa aja lah. Atau langsung pegang batang pohon 
-          Kayu khusus yang dirancang untuk memahami konsep berat dan ringan. Ya mungkin bisa diganti dengan obyek yang sama dengan berat yang berbeda. Jangan beda obyek.
-          Pink tower untuk memahami konsep 1-10. Nah ini yang saya bingung. Diganti sama apa ya? Karena ukurannya udah diatur presisi buat belajar konsep ukuran, urutan, susunan, dan perbandingan.
-          Alat khusus untuk memahami konsep teluk dan semenanjung, daratan dan lautan. Bisa diganti dengan plastisin dan sterofom, kasih air.
-          Manik-manik untuk mengenalkan 1-10 dengan butir 1 warna merah. Kayaknya sih bisa bikin sendiri gitu dari kawat.
-     Geometri 3D dan turunan obyeknya
   
gambar diambil dari : pinterest.com
-   Alat di area sensori pendengaran, bisa di ganti dengan bekas redoxon. Tinggal di ganti isinya.

Ada yang mau nambahi lagi? Atau ide bikin DIY alat peraga Montessori? Saya masih buntu, anak saya masih 11 bulan *alesan* *mhuahaha*

Intinya gini, semua alat Montessori kita pahami prinsipnya, bukan plek ketiplek alatnya. Lah menggunakan alat peraga nya khan adalah sebuah ‘teknologi’ untuk mempermudah pembelajaran menjadi Nyata. Dengan ide kreatif, InsyaAllah alat dirumah bisa dimanfaatkan untuk membuat nyata, sehingga Montessori bisa dilakukan dimana saja. Menyenangkan sekali memahami metode belajar anak usia dini pendekatan Montessori. Membuat anak menjadi kreatif dan berani mencoba. Dengan jam terbang tinggi membuat meraka selangkah untuk tahap-tahap tantangan lain, membuat mereka bangga dan percaya diri bahwa mereka bisa. Sehingga titik tekan Montessori bukan pendekatan belajar dengan alat (saja), tapi Montessori adalah keseluruhan pembelajaran hidup terutama di 5 aspek perkembangan dengan bukti yang riel, nyata, bukan abstrak, bisa diraba dan dirasakan, dapat diamati prosesnya. Secara tidak langsung membuat mereka 'hidup' seperti kata Bu Ivy Maya di awal.


Terimakasih untuk teman-teman baru saya di seminar, guru PAUD-TK, dosen PAUD, psikolog, penggiat metode belajar paud, rumah bermain anak, terapis ABK, penulis, ibu bekerja, sampai ibu rumah tangga. Jujur aja ya, selama di forum saya merasa kehausan. Semakin haus karena merasa ilmu saya seperti gak ada apa-apanya di bandingkan mereka semua yang memang terjun langsung di pendidikan anak usia dini. Saya bersyukur ada di deretan Ibu-Ibu keren diatas. Mereka datang dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jember, Banyuwangi, sampe Mataram, NTB (eh ciyusan).

foto diambil dari panitia

Bu Ivy Maya Savitri sebagai pembicara pun semangat sehingga kami pun tertular semangatnya. Seorang yang sederhana tampilannya namun punya mimpi mulia : Montessori for Everyone. Bahwa metode belajar Montessori untuk anak usia dini bisa di rasakan semua kalangan. Semoga sehat selalu, Bu. Dengan berkeliling mengenalkan Montessori di semua kalangan. Ini adalah ladang pahala jariyahmu. Amin.

Terimakasih untuk mom Ichiban, mama nya Ethan. Bersyukur nya Ethan punya mommy yang sayang kamu. Terimakasih untuk Adit yang dengan ijinnya memberikan keleluasaan pada minat saya, saya bisa sedikit melangkah. Iya sedikit. Di kelas Montessori ilmu saya seperti buih di lautan.
Dan terimakasih untuk Luigi. Dialah alasan terbesar saya untuk terus meng upgrade kualitas diri. Berkembang dengan Ilmu dan mengamalkan untuknya.



Secara umum acara ini sangat menarik dan keren. Namun kekurangannya : pertama tidak semua alat di demokan (mungkin karena waktu juga ya), kedua ada alat yang tidak disediakan panitia (Bu Ivy nyari-nyari emang enggak disediakan) padahal alat tersebut merupakan urutan dalam pembelajaran aktifitas. Dan ketiga foto acara tidak segera dikirim ke email peserta. Selebihnya sudah OK. Keren dagh untuk panitia. Bisa membawa seorang praktisi Montessori Ivy Maya Savitri ke Surabaya. Dan pelatihan Montessori ini tidak dikhususkan untuk guru PAUD-TK (saja), namun untuk umum. Sehingga untuk emak-emak biasa seperti saya bisa bergabung. Mamah muda yang ingin terus belajar.*dan tetiba lupa umur* :D

Huah akhirnya sekitar 4.000 kata telah terketik dalam tulisan ini. Hayati sudah lelah. Kalau pengen lengkapnya, hmm yah saya aja 2 hari daripagi sampe sore. Kalau diketik semua bisa gak muat blog ini.. hoho.
.
.
.

Gresik, 23 februari 2017
Ditulis di sela-sela malam hari, sambil menemani anak kecil terlelap.



Sumber referensi tambahan :
Modul Pengenalan Filosofi Singkat Metoda Montessori by Julia Ahmad dan Ivy Maya Savitri

Posting Komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates