Jumat, 24 November 2017

Anak Usia Dini Gemar Baca Tulis dengan Cara Ini

Hah, bukannya anak usia dini enggak boleh dijejali baca tulis dan berhitung ya? Bukankah anak usia dini baru boleh dikenalkan baca tulis hitung saat usia 6 tahun? Bukankah diusia itulah anak akan siap menerima pembelajaran angka dan huruf? “Jangan maksa anak membaca, menulis dan berhitung Ah. Nanti anaknya bisa stress karena ‘belum waktunya’.”





Padahal taukah Mama, pelajaran seperti apa yang didapatkan anak ketika masuk SD. Bacaan dengan kalimat panjang dan sudah menyuruh anak untuk menjawab pertanyaan. Lah kalau pra SD nya belum dikenalkan huruf dan angka, bagaimana nanti bisa menyerap pelajaran dari sekolah?  Sebagai ilustrasi, saya lampirkan buku pelajaran keponakan saya yang saat ini kelas 1 SD di sebuah SD Negeri di Surabaya.

Buku tematik kurikulum 2013

Buku dengan tema Keluargaku


Kira-kira jika pelajarannya sudah seperti ini, dan anak belum pernah dikenalkan huruf dan angka, apa yang terjadi?
“Yah guru SD nya yang harus sabar dan telaten ngajarin dari nol”
“Saya maunya nyari sekolahan SD yang bisa nerima anak belum bisa baca tulis hitung”
Hmmm…

Ada lagi orangtua yang keukeuh agar anaknya bisa lancar membaca dan menulis sebelum SD. Ini terjadi adik teman saya sendiri yang saat itu masih TK. Setiap malam adiknya harus les membaca dan menulis. Lain lagi cerita tetangga rumah dengan kegigihan mengikutkan anaknya yang berusia TK les privat membaca. Ya, les privat dan mendatangkan guru dirumah. Bahkan ada juga loh lembaga yang menyediakan jasa tutor membaca anak prasekolah “24 bisa membaca”. Semua ini untuk apa? Tuntutan masuk sekolah SD yang sebagian orangtua menganggap harus sudah bisa membaca menulis, bahkan berhitung.

Keresahan orangtua diatas dijawab oleh OrtuIndonesia (dot) com dengan menyelenggarakan acara bertajuk Filosofi Pengenalan Baca Tulis pada Anak Usia Prasekolah. Mendatangkan seorang Montessorian bernama Vidya Dwina Paramita yang juga seorang penulis buku Jatuh Hati pada Montessori. Acara ini diselenggarakan di Hotel Cleo Surabaya tanggal 18-19 November 2017.  



Bukankah seorang anak pasti bisa menulis? Menulis mudah bukan sih? Yuk ah coba kita yang tidak pernah menulis dengan tangan kiri, lalu dalam seketika “harus” bisa lancar dan rapi saat menulis kidal. Udahlah yang paling gampang, nama kita sendiri. Diawal mbak Vidya mengatakan bahwa banyak hal yang terjadi saat anak menulis. Anak duduk, memfokuskan matanya pada alat tulis dan menggunakan kekuatan tangannya untuk bekerja sehingga jadilah sebuah tulisan. Dan itu gak bisa ‘ujug-ujug’ terjadi jika tanpa latihan.

Mengapa harus segitunya mencari cara  'elegan' supaya anak bisa membaca dan menulis? Karena membaca dan menulis adalah modal belajar manusia sepanjang hayat. Tahukah Mama, apa efeknya jika pengajaran baca tulis dilakukan secara instan? Keponakan saya saat TK sudah sangat lancar membaca buku cerita, karena ada hari tertentu ustadzahnya menyuruh untuk membaca minimal 2 halaman buku sampai akhirnya habis. Jika dirumah saya tanya, “itu bukunya cerita tentang apa sih, Kak?” “apa ya?” jawabnya menggeleng sambil tersenyum. Apa artinya? Dia sendiri juga tidak paham apa isi buku cerita yang sudah dibaca sampai habis.

Darisini kita melihat, sebuah proses pasti berpengaruh pada hasil. 

Apa sih membaca? Membaca bukan sekedar mampu membunyikan huruf sehingga menjadi kata dan kalimat. Namun, membaca adalah MEMAHAMI MAKNA.



Mama, mudah sekali membuat anak bisa membaca dan menulis, mudah menjadikan anak menghafal perkalian dan teknis-teknis lainnya. Tapi apakah tujuannya kita seremeh itu? Apakah tujuan kita hanya agar anak dapat sesegera mungkin membaca? Mbak Vidya mengingatkan kami, bahwa ada hal yang lebih besar dari sekedar anak bisa membaca dan menulis. Apa itu? ANAK GEMAR BELAJAR. Dan itu menurut saya mahal. Gemar belajar adalah dia suka belajar sampai dia besar, dia belajar karena dia senang belajar dan dia betah belajar karena dia tau apa yang akan dipelajari, dan ingin berbuat apa dari hasil belajarnya.

Sementara yang tidak kalah pentingnya tentang memahami apa yang dibaca, kita bisa melihat banyaknya orang-orang yang GAGAL PAHAM hanya karena kemampuan literasi yang kurang.

Oleh karenanya, membaca dan menulis bukan hal yang bisa dicapai anak secara instan. Membaca adalah memahami MAKNA, maka idealnya anak melalui tahap PRA MEMBACA. Mbak Vidya memadukan background pendidikan sastra Indonesianya dengan metode Montessori untuk membedah tahap pra membaca dan teknis membaca.

Apa itu tahap pramembaca? Tahap pramembaca adalah langkah-langkah yang harusnya dilalui sebelum anak memiliki kemampuan membaca dan menulis. Tujuan tahap pra membaca ini mengembangkan kemampuan mendengar, menyimak, memahami, menceritakan kembali, menambahkan pendapat, dan berdiskusi/berargumentasi.

Apa sajakah tahap pra membaca itu?

MENGOBROL
Apakah Mama suka memberikan komando pada anak setiap hari? “setelah selesai mandi, makan ya” “kalo sudah makan ditaruh di wastafel” “setelah ini kita berangkat sekolah” “ayoh dong yang cepet pakai kaus kakinya kita mau berangkat, keburu berangkat bisnya. Mbak Vidya mengatakan bahwa seringnya kita sebagai orangtua lupa untuk menjadi pendengar tentang diri anak. Padahal dengan membiasakan anak untuk bercerita, banyak hal yang didapat. Anak menjadi lebih mudah memahami runtutan cerita karena terbiasa dengan 'menceritakan kembali' kemudian menambah pendapatnya. Dan hal ini menjadi modal dalam kemampuan membacanya kelak. Yakni kepekaan terhadap urutan peristiwa.

MENDONGENG/MEMBACAKAN CERITA
Membiasakan membacakan cerita minimal 10 menit sehari menjadi hal yang penting menurut mba Vidya. Kenapa? Karena anak bisa banyak “menabung” bahasa baku. Selain itu menstimulasi kemampuan logika cerita yang nantinya memudahkan anak untuk memahami sebuah bacaan. Jangan lupa bahwa tujuan awal kita adalah agar anak GEMAR BELAJAR. Sehingga membacakan dongeng merupakan cara yang sangat baik untuk membangun bonding dengan anak. Jika kegiatan ini dilakukan dengan suasana yang hangat, anak akan mengingat dan menjadikan pengalaman ini sebagai modal ia mencintai buku. 

BERNYANYI DAN BERMAIN PERAN
Mbak Vidya menyampaikan bahwa lagu dan permainan peran menyimpan cerita. Beliau mencontohkan lagu cicak di dinding saja anak sudah bisa diajak untuk memahami urutan peristiwa.

BERLATIH MENGOBSERVASI
Dilakukan dimana saja misalnya di taman di jalan untuk membedakan bentuk, warna dan ukuran suatu benda. Apa hubungannya dengan persiapan membaca? Karena anak yang sering distimulasi membedakan bentuk dan ukuran, bisa mudah membedakan huruf yang mirip seperti "s" dan "z" atau "p" dan "b". 

Poinnya dari kegiatan pra membaca adalah bahwa hal diatas adalah kegiatan "belajar" pra membaca yang menyenangkan, memperkaya kosa kata dan menstimulasi logika berfikir dengan cara yang soft



Setelah tahap pra membaca, barulah anak dikenalkan dengan teknis membaca. Masa peka anak terhadap huruf bahkan bisa dimulai usia 2,5 tahun. Ada murid mba Vidya yang sensitif terhadap huruf sejak usia 2,5 tahun dan usia 3 tahun bisa membaca. Semua tergantung periode sensitif anak yang berbeda-beda. Normalnya bisa dimulai sejak usia 4 tahun.


Berikut ini merupakan urutan teknis membaca

MENGGUNAKAN SANDPAPER LETTERS
Didalam Montessori pengenalan huruf dimulai dari huruf raba atau biasa disebut sandpaper letter. Menyentuh huruf adalah hal penting dari proses membaca dan menulis. Dengan menyentuh huruf menggunakan sanpaper letter anak dapat mengasosiasikan suara phonic dengan huruf, belajar arah penulisan huruf, membangun kesan visual terhadap huruf dan membantu mengingat bentuk huruf.

Apa itu phonic? Phonic adalah bunyi huruf. Anak Montessori diajarkan membaca dari bunyi hurufnya, bukan dari membaca a, be, ce, de, ef, ge, ha, sampai zet. Phonic indonesia hampir sama dengan phonic bahasa Inggris. Manfaat menggunakan phonic adalah anak dapat memahami huruf apa saja yang menyusun suatu kata atau kalimat.

Huruf yang dikenalkan awal pada anak bukan urutan a, b, c, d, e, f sampai berakhir z. Yang dikenalkan awal adalah a,i,u,e,o dan nama depan anak. Anak pasti senang memulai pengenalan huruf dengan nama depannya. 
Tahapan pengenalan huruf menggunakan three lesson period dengan menyebutkan bunyi hurufnya / phonic. Teknisnya seperti ini
Pengenalan 3 huruf terlebih dahulu, misalnya a,i dan u.
“Ini adalah huruf a” “ini adalah u” “ini adalah i” lalu kita gunakan dua jari telunjuk dan tengah untuk mengikuti bentuk huruf.
“kamu mau coba?”
Lalu 3 huruf tadi diletakkan berjajar
“yang mana yang a”
“yang mana yang I”
“yang mana yang u”
Kemudian tahap terakhir
“ ini apa? (sambil menunjuk huruf)


KONSEP HURUF AWAL
Tujuan pengenalan huruf awal ini adalah agar anak dapat mengkorelasikan bentuk huruf, bunyi dan benda yang mewakili. Nah teknisnya kita berbicara atribut suatu obyek. Misalnya belajar kata sapi. Karena dalam Montessori belajarnya dari yang konkrit, sapi dalam hal ini tidak perlu didatangkan dari peternakan sapi. Kita bisa menggunakan miniatur sapi. Mengapa menggunakan miniatur? Supaya anak dapat memegang dan eksplorasi obyek tersebut dengan seluruh inderanya. Yang pada akhirnya tahap ini anak bisa mengkorelasi huruf awal pembentuk kata dengan obyeknya. Percakapan misalnya seperti “ini hewan apa ya?” “kapan adek terakhir melihat sapi?” “sapi itu punya kaki berapa ya, yuk kita hitung” “eh sapi warna apa?”. Darisana kita mulai bertanya “Oia sapi, ssttttttt dimulai dari huruf apa ya?” kita bisa bantu bunyikan hurufnya Sssssssss. “Oh sapi dimulai dimulai dari huruf s”

HURUF LEPAS
Pengenalan huruf lepas merupakan “jembatan” antara huruf raba dan large movable alphabet (huruf lepas). Caranya, misalnya kita ambil huruf raba “a” dan menyuruh anak untuk mencari mana di kotak LMA huruf yang sama dengan huruf raba yang sama bentuknya “a”. Nanti dijejer di sebelah antara huruf raba dan huruf lepas.

Large Movable Alphabet (huruf lepas)

sumber gambar : panitia by grup WA


MEMBANGUN KATA
Di tahapan ini anak mulai belajar mengeja. Menerka huruf apa saja yang membentuk suatu kata. Tujuan dari proses ini adalah anak bisa kenal bunyi huruf dalam suatu kata. Mba Vidya mencontohkan kata “sapi” dan “mata”. Sebelum memulai pasti tetap diajak ngobrol mengenai kata yang mau di eja, misalnya “kita punya mata gak?” “mata kita ada berapa ya” “mata ini fungsinya buat apa sih?” “yuk coba kita tutup dengan dua tangan, apa yang terjadi”. Lalu kita mulai membunyikan huruf dari mata “maaaaaaaataaaaa” (asumsinya bunyi huruf mata adalah m,a,teh,a). Kita tanya “bunyi huruf apa yang kamu dengar waktu Mama bilang “mata”?”. Dia ambil dari LMA (huruf lepas). Nah untuk mengecek apakah huruf yang diambil benar, kita gak perlu evaluasi anak berlebihan, cukup keluarkan control card “mata” sambil bertanya “sama enggak ya?”.
Mba Vidya mengingatkan kami bahwa anak yang sering dikoreksi berlebihan membuat anak tidak PD. Control card membantu kami untuk tetap diam dan “biasa aja” dalam mengevaluasi anak. Juga membantu anak mengoreksi kesalahannya sendiri. Misalnya pernah tau enggak anak yang kalau nulis suka kebalik arah hurufnya, nah dengan control card membantu untuk mengetahui yang benar.  



Dalam tahap ini Mama bisa dibantu dengan KOTAK OBYEK 1a yang isinya adalah miniatur kata yang bisa dibentuk dari huruf a,i,u,e,o dan huruf m,p,t,r,s. Karena dengan ‘modal’ pengenalan huruf diatas, sudah bisa dijadikan kata bermakna, misalnya mata, roti, ratu, sapu, satu, rusa, sapi, topi, peta

KOTAK OBYEK 1b isinya adalah miniatur kata yang bisa dibenti dari huruf a,i,u,e,o dan huruf b,k,l,h,n. Dengan modal huruf ini dapat membenti kata hati, bola, batu, buku, labu, paku, babi.

KOTAK OBYEK 1c isinya adalah miniature kata yang bisa dibentuk dari huruf a,i,u,e,o dan huruf d,j,g,k,f. Dengan modal huruf ini dapat membentuk kata kuda, dasi, meja, tiga, gigi

Nah, pada saat menggunakan kotak baca anak masih belajar mengeja. Tahap selanjutnya Mama bisa dibantu dengan KOTAK BACA. Yang isinya adalah gambar obyek yang dibaca. Bukan menggunakan miniature lagi. Saat menggunakan kotak baca anak sudah belajar membaca. Sehingga tujuan kotak baca adalah anak dilatih memperlancar kemampuan membaca kata.




DAFTAR KATA
Untuk semakin memperlancar membaca, Mama bisa membuat daftar kata. Gambarannya adalah list kebawah kata sapi, satu, topi, rusa, roti, sapu, peta, mata. Teknis mengajarinya adalah mencontohkan membaca kemudian menawarkan ke anak. Di daftar kata hanya menggunakan 1 gambar dari sepanjang list kata.

BUKLET KATA
Fungsi buklet kata adalah selain untuk memperlancar kemampuan membaca, juga untuk melatih anak membaca buku dengan membuka halaman buku. Gambarannya adalah kumpulan kata-kata yang dijilid spiral.

sumber gambar : peserta, mb Yuni 

sumber gambar : peserta, mb Yuni


MEMAHAMI FRASA
Frasa adalah gabungan kata yang menduduki fungsi. Tujuannya adalah memahami makna gabungan 2 kata. Misalnya Ayah (subyek), naik (predikat), mobil merah (obyek). Nah mobil merahnya merupakan frasa. Belajarnya dimulai dari 2 suku kata terbuka misalnya bola merah, topi biru, tiga baju, bola biru. Baru suku kata tertutup misalnya motor hitam, mobil merah, tujuh bebek, gajah besar. Untuk membantu visualisasi anak, Mama bisa menggunakan gambar.

FARM GAME
Tujuan permainan ini adalah untuk melatih preposisi atau hal yang menunjukkan tempat. Misalnya didepan, dibelakang, disamping kiri, disamping kanan, diatas, dibawah dan lainnya. Mba Vidya saat itu mengilustrasikan dengan toobs peternakan sebanyak 2 buah. Hal yang dilakukan pertama adalah menyamakan asumsi terlebih dahulu tentang toobsnya, ini gudang, ini pak tani. Teknis permainannya kita ngobrol mengenai peternakan, lalu memasang pembatas. Kita mulai dengan “coba taruh sapi diatas gudang, coba taruh pak tani disamping kiri jerami dan seterusnya. Setalah itu dibuka pembatasnya untuk mencocokkan.

MEMBANGUN KALIMAT
Tujuan pada tahap ini adalah anak dikenalkan tata bahasa (subyek-obyek-predikat-keterangan), anak mengenal huruf kapital, anak mengenal tanda baca pada akhir kalimat. Mama bisa dibantu dengan stik es krim yang diwarna merah, kuning, hijau, biru seperti lagu Pelangi-Pelangi. Merah sebagai subyek, kuning sebagai predikat, hijau sebagai obyek, dan biru sebagai keterangan. Selain stik es krim, Mama bisa membuat kotak yang berisi kata subyek, kotak yang berisi kata predikat, kotak yang berisi kata obyek, kotak yang berisi keterangan.

Nah supaya anak tidak bingung memilih kata yang sesuai, maka pilihan kata dalam setiap kotak dibatasi. Misalnya mengoles, pilihan obyeknya hanya roti, mengupas pilihan obyeknya hanya mangga. Belajar hal ini manfaatnya nanti adalah anak bisa memahami logika bercerita. Tidak mungkin mengoles padanan katanya baju. Teknis pengajarannya adalah Mama mencontohkan terlebih dahulu, kemudian menawarkan anak apa mau mencoba, kemudian setelah anak mencoba baru kemudian membahas kalimatnya. Misalnya “siapa yang mengoles roti?” “rotinya dioles dimana?” “apa yang dikupas didapur?”. Sehingga meski kalimat pendek, anak bisa memahami isi kalimatnya.

latihan membangun kalimat secara berkelompok

membangun kalimat dengan control stick


MEMAHAMI KALIMAT
Seperti penjelasan diatas bahwa kalimat adalah gabungan kata yang diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca. Huruf kapital ya namanya, BUKAN huruf besar. Pada tahap ini anak belajar sebuah kartu yang berisi sebuah kalimat. Tidak lupa disertai gambar. Misalnya “Papa duduk di kursi.” “Ibu mencuci mobil.”. Nah teknis pengajarannya adalah sama seperti tahap membangun kalimat.

MEMBACA BUKLET CERITA
Pada tahap ini Mama dibantu dibantu dengan buklet cerita yang bergambar. Teknis pengajarannya adalah membahas sampul buku. “apa ya judunya?” “siapa yang menulis?” “siapa sih ilustratornya?”. Hal ini mengesankan ke anak bahwa setiap buku pasti ada temanya, ada yang mengarang. Misalnya buklet cerita tentang naya. Penulis Vidya Dwina Paramita. Halaman pertama berupa gambar anak membaca buku dan ada tulisan “Naya suka baca buku”. Setelah 3 halaman, kita tawarkan ke anak apa masih mau lanjut membaca. Kemudian setelah selesai membaca buklet cerita, membahas isi bukunya. Sehingga manfaat kedepan anak bisa memahami jalan cerita sebuah buku.

Nah itu tadi penjelasan panjang lebar mengenai tahapan membaca menggunakan metode Montessori. Wah panjang sekali ya. Karena dalam pengenalan area bahasa Montessori dilakukan dengan cara yang konkrit. Kemudian berangsur-angsur ke abstrak. Dari mulai huruf raba, kemudian huruf lepas / LMA, yang akhirnya menjadi tulisan. Bahkan yang awalnya menggunakan miniatur sebagai obyek, lalu hanya gambar, yang kemudian tak ada lagi gambar. Sehingga membaca bukan sekedar “bagaimana cara membaca”nya, namun ada filosofinya, ada tahapan pra membaca yang harus juga dibangun dari awal kehidupan anak.

Pun juga masalah menulis, ada tahapan pre writing skillnya juga yang harus dibangun. Karena menulis itu pekerjaan kompleks. Anak dapat menulis ketika otot 3 jarinya sudah kuat, ketika otot pergelangan tangan juga kuat dan siap, ketika koordinasi mata dan tangan bagus, dan ketika anak memiliki rentang konsentrasi yang panjang. Pre writing skill ini sangat penting. Semua yang berhubungan dengan area practical life dan sensori membantu anak sebelum masuk ke area bahasa.

Yuk Mama, kita tentukan tujuan lalu tentukan rencana perjalanan.

Tujuan
Rencana
Menguatkan 3 jari

Menguatkan pergelangan tangan

Memperpanjang rentang kosentrasi

Menguatkan koordinasi mata dan tangan

Mengenalkan huruf

Mengenalkan kata

Mengenalkan kalimat


Bagaimana dengan matematika metode Montessori? Itu dibahas satu pertemuan sendiri. Kemarin sempat mba Vidya mendemokan sebentar beberapa apparatus matematika. Namun hanya 30 menit sebelum acara berakhir. Itu sudah bikin kita uwouw sama pengajarannya yang sangat konkrit. Membantu anak memahami konsep, bukan sekedar angka dan bilangan. Anak pra sekolah bisa loooh gemar penambahan dan pengurangan angka, sampai ribuan. Bahkan perkalian dan pembagian.

Tetaplah follow the child, Mama. Setiap anak memiliki periode sensitifnya masing-masing. Pengajaran baca tulis bisa dimulai sejak pra sekolah jika anak siap. Ingat ya Mama, bukan dengan tujuan 'receh' agar bisa cepat membaca dan menulis. Melainkan agar anak gemar belajar. Selama diajarkan dengan cara yang 'elegan',  dimulai dari tahap pra membaca, insyaAllah akan tercapai tujuan jangka panjang kita.

Terimakasih OrtuIndonesia(dot)com yang menyelenggarakan acara berkualitas untuk para orangtua. Dan Alhamdulillah pesertanya berangkat dari berbagai latar belakang sehingga kami sama-sama belajar. Mereka berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Gresik, Palangkaraya, Bali bahkan Batam. Terimakasih juga untuk mba Vidya Dwina Paramita sudah berbagi ilmunya buat kami semua. Semoga menjadi pahala jariyah ya mba 😊


sumber gambar : peserta mb Yuni by grup WA

Untuk mendalami filosofi Montessori bersama Montessorian Vidya Dwina Paramita silahkan ikuti Instagram @filosofimontessori dan @vidyaparamita. Dan ikuti juga Instagram @ortuindonesia untuk meng-upgrade ilmu sebagai orangtua. Karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Sementara belajarnya harus tanpa henti.

sumber gambar : panitia by grup WA


Maria Montessori mengatakan “melihat jadi membaca, meraba jadi menulis”.

Selamat mendampingi buah hati membaca dan menulis, Mama 😊







Gresik, 25 November 2017
Menulis adalah untuk mengingat materi. Juga untuk mengingatkan diri.
Ibu yang sedang belajar dan bertumbuh bersama Luigi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar