Senin, 27 Februari 2017

!@#$%^&*&*)(%#^**

Apa sih makna ulang tahun pertama anakku? tidak ada yang special. Karena aku pun tidak pernah merasakan ulang tahun kecuali saat usiaku 15 tahun. Hanya saja akhirnya aku dan Adit telah bergelar orang tua dengan sederatan tanggung jawab. Aku membersamainya untuk pertumbuhan Luigi agar selalu sehat dan ceria.

Hidup ini pilihan ya. Hmm, ternyata pernikahan itu proses belajar tiada henti. Dimulai dari berkenalan dengan Adit aku tidak percaya apapun dari dia. Tapi toh akhirnya kita bareng juga. Semakin lama semakin mengenal ternyata dia seorang pejuang ulung. Dilahirkan dari hidup yang keras membuatnya semakin kuat menginjak kerikil kecil sampai yang besar sekalipun.

Malam ini aku belajar, bahwa kedewasaan itu bukan dilihat dari umur seseorang. Aku dan adit cuma berjarak 2 tahun saja. Tapi secara pemikiran dia melesat menjauhi ku yang kekanak kanakan. Kadang suka bikin nangis kalau di nasehati yang bikin aku tertampar banget. Iya sih bener, tapi susah banget berubah. Tapi ya Allah, dibalik sikapnya yang cuek melebihi bebek. Dia selalu memikirkan aku dan Luigi. Dia memikirkan detail bagaimana agar hidup kami lebih indah dari hari ke hari. Bekerja keras untuk nutrisi kami sementara dia sendiri lebih suka memilih makanan yang paling murah yang ada di dunia ini. Ini sih contoh kecil ya.

Pagi sampai malam tidak pernah mengeluh, hanya sekali dua kali saja minta pijit di punggung. Itupun juga karena dia nya sakit dan drop banget. Dia menjaga aku dari kemarahan (dan kewarasan) dengan nasehat-nasehat hidupnya yang ibarat 'bapak' ngasih tau ke anaknya. Malam ini serius ya, dia beneran keliatan sifat aslinya. Dia beneran berjuang buat kami, aku dan Luigi. Peluhnya bahkan mungkin belum pernah aku lap tisu. Tapi hatinya berharap ada surga sebelum surga (hiks beneran dia bilang gini).

Dimulai dari rumah kecil kita yang sempit dan pengab. Kontrakan yang penuh dedikasi kerja kerasnya dengan baju, sepatu dan segala pernik bola di tiap sudut rumah. Aku jadi tau bahwa ya memang benar, pernikahan itu tidak segampang bilang iya aku mau nikah sama kamu. Tidak. Menikah itu bukan jalan keluar ke jombloan. *uhuk* Menikah bukan supaya bisa leha-leha disayang suami setiap hari. Menikah bukan karena keren bisa upload foto keluarga di Instagram. Menikah bukan ajang pamer. Menikah bukan kompetisi dan perlombaan. Ih apaan sih. Menikah bukan untuk itu semua.

Dalam pernikahan ada harapan, ada targetan, ada pembelajaran, ada masalah, ada tangis, ada suka, ada sabar dan ada perjuangan. Yang tidak boleh adalah putus asa. Kita semua harus saling menjaga. Terimakasih kesabaran dan pembelajarannya selama ini. Maafkan aku malam ini banyak salah. Semoga bahagia menyertai kita di usia anak kita yang pertama. Kalau boleh disuruh milih, masih mau yang lain apa tetap memilih Adit saat itu. Meski saya ngos-ngosan ngikutin ritme kerja dia, tapi akan tetap memilih Adit. Yailah udah nikah pula haha. Bukan. Ini pengandaian jika memang bisa keulang. Aku bakal tetap milih dia dan ternyata benar. Dia mendidik aku dengan caranya yang unik. Kadang bikin puyeng juga. Eh salah ding. Bikin migrain. Tapi rasa cinta ternyata tak cukup hanya dengan kata-kata mutiara. Tak cukup hanya dengan puisi dan janji. Tak cukup dengan cokelat dan se tangkai bunga. Atau tidak cukup hanya di ukur dengan bongkahan berlian *emang saya punya?* *enggak kogh* :D

Rasa cinta itu mewujud dalam pikiran yang rasional, perasaan sayang, dan kadang dalam perilaku nya yang misterius.

Hai diriku, perubahan itu dari hati dan segeralah berubah karena hati. Mari bersama menciptakan surga sebelum surga di dalam rumah tangga yang seumur kuku ini.
.
.
.
.

Maaf antara paragraph pertama dengan kedua isinya enggak nyambung. Intinya Selamat ulang tahun pertama anakku, dan selamat telah menjadi orang tua selama setaun diriku.

Bahagialah selalu para lelaki ku :(



Tertanda seorang istri yang habis nangis.

Gresik, 17 Februari 2018
di malam menjelang keberangkatan ke Kota Batu