Sabtu, 04 November 2017

Terapi Oromotorik (Oral Motor)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Ikhtiar Tumbuh Kembang Luigi dan Menjawab Pertanyaan.
MashaAllah sampai saya menulis ini masih banyak ibu-ibu yang mengirim pesan pada saya. Beberapa bertanya bagaimana terapinya dan hal yang dilakukan selain terapi. Sampe nanya susunya Luigi apa? Hehe.

Kali ini saya akan merangkum dan menjawab pertanyaan yang belum saya tulis ya.
Masalah utama : BERAT BADAN LUIGI adalah UNDERWEIGHT
Yang telah dilakukan :
ü  Cek Anemia Defisiensi Besi (ADB) – yup dia ADB berat
ü  Cek Infeksi Saluran Kemih (ISK) – negatif
ü  Konsul rehab medik apa ada gangguan oromotorik – yup dia ada gangguan oral motor

Pengaruh ADB dengan berat badan kurang adalah karena efek anemia membuat sistem kekebalan tubuh anak berkurang. Sehingga anak mudah sakit.

Pengaruhnya gangguan oral motor pada berat badan adalah anak menjadi sulit mengunyah dan menelan. Makanan berserat seperti daging dan sayuran tidak bisa maksimal dikunyah dan ditelan anak. Hal ini tentu menghambat penyerapan nutrisi pada anak.

Apa sih oral motor (oromotorik)?
Oromotor didefinisikan sebagai sistem gerak otot yang mencangkup area rongga mulut  termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi. Kemampuan oral motor ini digunakan untuk mendukung kemampuan makan. Karena kekuatan, koordinasi dan kontrol dari struktur mulut ini akan menjadi dasar dari kegiatan makan seperti menghisap, menelan, menggigit dan mengunyah.
Jadi, intinya anak saya kesulitan mengkoodinasi sistem saraf bibir, lidah dan rahangnya yang menyebabkan ia kesulitan mengunyah makanan tekstur kasar dan kesulitan menelan makanan padat.

Solusi pada ADB adalah Luigi diberi suplemen zat besi yang dosisnya disesuaikan dengan kebutuhannya yang tinggi.
Solusi masalah Luigi yang tidak bisa mengunyah dan menelan makanan dengan tekstur kasar adalah terapi oromotorik. Terapi ini tujuannya adalah agar Luigi bisa memaksimalkan kekuatan otot mulut sampai lidahnya untuk bisa makan dengan tekstur seperti emaknya orang dewasa.

Nah itu terapinya itu diapain siih?
Terapi yang fokusnya untuk meransang dan menstimulasi saraf oralnya. Dengan cara lidahnya di ‘sikat’ dengan sikat khusus.

Untuk sikat yang bergerigi halus digunakan untuk menyikat lidah dibagian pinggir sebelah kanan dan pinggir sebelah kiri.

Untuk sikat yang bergerigi besar digunakan untuk menyikat gusi daerah pipi atau geraham. Gunanya agar dia menjadi sensitif dan bisa menggerakkan lidahnya kekanan dan kekiri.

Beberapa titik-titik gusinya diberi perasa, agar lidahnya berputar mencari sumber rasa-rasa yang saya siapkan. Perasa yang saya maksud disini apapun ya, yang mengandung rasa. Misalnya madu, jus tomat, jus jeruk dan lainnya. Nah, perasa ini diletakkan melalui sikat dilangit-langit, gusi pipi kanan dan kiri, juga lidah kanan dan giri. Ketika lidahnya mencari sumber rasa, maka lidahnya otomatis akan kekanan, kekiri, keatas dan kedepan. Hal ini gunanya untuk melatih lidahnya yang fungsinya untuk mengumpulkan makanan tekstur kasar, dikunyah, kemudian ditelan. Gambarannya gimana ya? Hmm, kalo kita makan enak yang otomatis lidah kita bakal lemes (lekoh dalam bahasa Jawa) ngunyahnya. Yah kayak gt laaah.

Tidak hanya lidahnya yang di “sikat”, namun beberapa bagian dari wajahnya juga dipijat. Seperti pipi kanan dan kiri.  Terus bawah mulut sebelum tenggorokan.

Selain itu meniup buble gunanya untuk meningkatan kekuatan bibir dan mampu mengontrol napas



Sama enggak sih kayak terapi wicara?
Nah, penyebab kemampuan bicara yang kurang khan banyak. Salah satunya karena gangguan oral motor. Jadi terapinya Luigi ini masuk dalam terapi wicara tapi fokusnya memaksimalkan oral motor bukan untuk bicara, melainkan untuk makan dengan benar. Hubungannya seperti ini. Jika Luigi mampu menggunakan kekuatan otot mulut dan lidah dengan baik, ia akan mudah mengeluarkan suara sehingga jadilah ‘bicara’. Tidak hanya itu ia akan mudah dalam mengunyah dan menelan makanan padat atau tekstur kasar. Yah seperti itulah sepengetahuan saya. Entahlah semenjak terapi oromotorik, kosa kata Luigi juga makin banyak dan pengucapannya lebih jelas. Anggap aja bonus :)

Konsultasinya ke dokter anak tumbuh kembang atau ke nutrisi anak?
Saya konsultasi ke dokter anak subspesialisasi nutrisi anak. Emang apa bedanya dengan dokter anak yang lain? Yuk diintip blognya dr. Meta disini

Apakah ada hasilnya dengan terapi oromotorik (oral motor)?
Subhanallah, dari awal dr. Meta. Sp.A bilang kalo terapi oromotor ini membutuhkan waktu 3-4 bulan. Dan selalu ingatkan saya untuk sabar, telaten, dan jangan putus ditengah jalan. Karena kalau tidak dilatih akan terlambat terus kemampuan makannya kata beliau. “Ngelatih lidah itu agak susah, butuh waktu jadi harus telaten bener” itulah yang dituliskan dalam sebuah chat. Namun, Alhamdulillah terapi kedua Luigi mampu mengunyah sosis dan wortel dan tidak dilepeh. Padahal jika makan sosis, hanya dikunyah-kunyah lalu dikeluarkan lagi. Terapi ketiga sudah mampu makan telur ceplok, dan bisa makan kering alias tanpa kuah. Setelah terapi ketiga, datanglah saya ke dokter anak. Dokter Meta sampe kaget Luigi udah pinter mengunyah dan menelah. Sudah bisa makan kering dan tak melepeh lagi.



Hanya terapi oromotorik langsung bisa makan padat dan tidak lagi melepeh?
Kesuksesan terapi apapun itu, pasti dipengaruhi banyak hal. Salah satunya adalah juga dilatih dirumah. Karena durasi terapi hanya 2X seminggu selama 60 menit. Dirumah juga diajarkan makan dengan benar seperti duduk. Dirumah juga ‘disikat’ lidahnya. Dan kami (saya dan Ibu ) selalu memotivasi Luigi dengan kata-kata “ayo dikunyah dan ditelan” “luigi bisa mengunyah dan menelan” “anak hebat menelan makanan” dengan nada lagu yang kami karang sendiri. Namun kami tidak memaksa, adakalanya tetap melepeh. Biasanya karena makanan yang masuk mulut terlalu banyak. Jadi sesekali mual atau istilah orang jawa mukok. Jika seperti itu, saya tetap coba lagi dan Alhamdulillah dia tetap mau mencoba mengunyah makanan kembali.   
 
Sehingga berapa kali terapi Luigi bisa makan sempurna?
Saya kebetulan ikutan paket 5X terapi. Nah, pada pertemuan ketiga sudah banyak sekali peningkatan. Kalau dibilang sempurna juga belum, karena saya sadar MAKAN MEMBUTUHKAN LATIHAN.

Lalu apakah berat badannya sudah naik?
Belum timbang

Nutrisinya dibantu apa supaya berat badan cepat naik?
Selain makan dengan protein tinggi juga dibantu susu Nutr*nidr*nk. Susunya diganti karena jumlah kalori yang ada disusu Luigi sebelumnya (atau susu apapun itu) per 1cc hanya 0,67 kcal. Sedangkan Ped**asur*e per 1cc hanya 1 kcal. Sedangkan susu Nutr*nidr*nk per 1cc adalah 1,5 kcal.
Nah karena berat badan ideal (BBI) Luigi adalah 11 kg maka nutrisi harusnya didapat dari 70% makan dan 30% susu. Karena Luigi barusan bisa makan, maka rumus ini dibalik. 70% dari susu dan 30% dari makan. Jika Luigi tetap menggunakan susu sebelumnya (1cc hanya 0,67 kcal) maka sehari dia membutuhkan 1.150 cc. Apa efeknya? Dia kekenyangan susu, malah tidak mau makan. Padahal dia lagi seneng-senengnya makan karena sudah bisa “makan”. Maka, Luigi dibantu susu Nutr*nidr*nk yang tinggi kalori (1cc – 1,5 kcal) dan sehari hanya membutuhkan 550 cc saja. Sehingga dia tidak kebanyakan minum susu dan tetap mau makan.

Dimana mendapatkan susunya? hanya di Apotek, seperti Kim*a F*rma dan menggunakan resep dokter. Karena ini termasuk obat yang membutuhkan dosis dari tenaga ahli.


Sekian, semoga bermanfaat ya. Dan semoga ikhtiar ini ada hasilnya *sambil ngelus dada


Berat badan itu tidak hanya sensitif untuk para emak saya, tapi juga untuk anak. Karena pengaruhnya bisa banyak banget. Bisa Stunting atau Gagal Tumbuh seperti yang dituliskan oleh dr. Meta, Sp.A di blognya. Yuk para Ibu, kita harus semangat belajar. Agar anak-anak tumbuh tidak hanya cerdas, namun juga SEHAT dan KUAT. Karena dengan kesehatan, ia akan memperoleh banyak kesempatan dimasa depan 😊




*menulis adalah juga menasehati diri sendiri
Gresik, 04 November 2017
Sabtu, 28 Oktober 2017

prioritas

September 2017 adalah bulan yang istimewa. Aku punya banyak waktu bermain bersama anak. Bersyukur sekali, betapa semesta mendukung segala keinginanku. September adalah purnama yang paling ditunggu sejak kelahiran Luigi. Dan Allah mengabulkannya dengan rasa haru dan bahagiaku. Aku resign kerja !!!

September setelah aku melepas semua pekerjaan, Allah mengganti dengan memberikan kesempatan aku mengikuti acara blogger. Sebenarnya tujuanku adalah mencari ilmu. Tapi ternyata pundi rupiah terisi direkeningku. Yah, aku anggap bonus dari tulisanku. Tidak hanya itu, aku bisa mengenal orang-orang baru. Dunia baru. Toh aku meninggalkan anakku hanya dua jam saja.


bersama dr. Andy Darma, Sp.A (K)
bersama Husna Ika Putri Sari, Psikolog - @iburakarayi

September aku berkesempatan mengikuti pelatihan Montessori ketiga kalinya. Kali ini bersama miss Eva Sidabutar dari Rumah Aruna. Dan aku takkan pernah bosan mempelajarinya. Sederhana tujuannya. Agar kelak aku bisa terapkan pada lelakiku ini. Saat itu yang paling kuingat, saat aku memperkenalkan diri. Aku menjelaskan bahwa bulan ini adalah aku tidak lagi ijin cuti untuk mengikuti acara karena sudah resign. Miss Eva dan semua peserta bertepuk tangan untukku.

miss Eva Sidabutar yang selalu ceria :)



September, disaat biasanya parno karena ribet ruwet, ngerjain laporan, seninku kali ini adalah berenang. Dan akupun telah lupa, kapan terakhir kali aku renang.

September pertamakalinya aku mencoba membuka jasa titip BBW. Aku mendapatkan tiket sehari sebelum dibuka untuk umum karena blog ini. Dan Alhamdulillah selain mendapat uang dari jasa titip, aku juga mendapat buku bagus dari preview sale. Blogpost ku mengenai liputan BBW juga berhasil mendapat voucher belanja buku senilai 200ribu.

bersama Bu Risma yang selalu semangat

dapet bingkisan karena bertanya :D

bersama dr Dini Adityarini, Sp.A

abaikan muka yang kucel haha :D


08 Oktober 2017, kulangkah kaki mengikuti seminar Stunting yang diisi oleh dr Dini Adityarini, Sp.A. Tidak hanya itu, kami diberi banyak wejangan oleh Ibunya Surabaya, karena Bu Risma bisa hadir ditengah padatnya acara beliau. Setelah seminar aku bertemu dengan orang-orang hebat dibalik acara. Mereka dari komunitas Eping. Sangat bersahabat. Bercerita bagaimana proses sampe akhirnya acara kopdar eping bisa jadi luar biasa meriah nan bermanfaat.

Hari yang sama aku diberi kesempatan menjadi MC acara parenting di kota Gresik. Materi yang membuat aku merenung. Bagaimana menjadi Ibu hebat untuk mendidik anak yang shaleh? Karena doa anak shaleh adalah termasuk amalan yang tak terputus.

acara parenting di kota Santri, Gresik

bersama pembicara Hj. Riyadlotus Sholichah, S.Ag. M.Si

menebar manfaat 

sebagai MC

Setelah seminar, aku membuka teka teki anakku yang akhirnya kujadikan sebuah perjalanan. Kesibukan berubah karena ditambah mengantar anakku ke terapi oromotorik. Dibalik itu ada hikmah, bahwa aku bisa bertemu dengan perempuan idolaku sejak SMP.

Yang paling mewah dalam kehidupanku saat ini adalah aku bisa tidur siang. Berdua dengan si kecil yang sedang semangat mencoba semua makanan karena dia tak melepeh lagi.

Ah betapa luar biasanya hidup saat ini. Allah banyak sekali memberikan nikmat padaku. Keputusan resign dari pekerjaan tidak akan pernah aku sesali. Meski aku seorang ibu rumah tangga, tak ingin aku menjadi ibu rumah tangga biasa. Tak ingin hanya berdaster dan kucel dalam keseharian. Aku ingin terus produktif, bermain dengan anakku, menebarkan semangat padanya, dan terus membaca buku.

Kedepan, tanggal 18-19 November 2017 aku akan bertemu dengan seorang yang hanya bisa kubaca tulisannya. Seorang Montessorian, Vidya Dwina Paramitha. Bersama Ibu-Ibu pembelajar aku akan duduk bersama untuk belajar Teknik Pengajaran Baca Tulis dengan Metode Montessori. Ah, semoga diberi kesehatan sehingga rencana ini terselesaikan dengan baik.

(Baca juga : Mengenal Metode Montessori)

Dan InsyaAllah aku akan sekolah lagi dengan mengikuti pelatihan guru TK Islam di Surabaya selama satu tahun.

Anakku tidak selamanya kecil, tidak selamanya dia bergantung padaku. Saat ini aku hanya ingin mendampingi dimasa emasnya. Esok dia akan pergi. Pergi jauh dariku. Dan aku bisa membangun karir lagi meski dari NOL.

Ibu rumah tangga dan ibu pekerja publik adalah sama-sama bekerja. Semua adalah pilihan. Dan setiap keluarga memiliki pertimbangan pilihan yang bisa jadi berbeda. Hal yang penting adalah mendapat ijin dari suami dan pernikahan berjalan baik. Juga anak-anak tetap menjadi prioritas karena sesungguhnya itulah pekerjaan utamaku (saat ini). Sebagai Ibu dan istri.



Gresik, 29 Oktober 2017


*beberapa foto diambil dari Instagram karena filenya sudah hilang

Menjawab Pertanyaan

Saya tidak menyangka jika tulisan saya disini, sampe dengan hari ini mendapat Pageviews (PV) 1400an. Beberapa Ibu menanyakan prosedur, dokter yang menangani dan biaya-biaya yang dibutuhkan. Ternyata banyak Ibu yang juga merasa anaknya mengalami hal yang sama seperti Luigi. Diantaranya berat badan (BB) anak stagnan, tidak bisa mengunyah dan menelan makanan kasar sehingga harus blender dan kuah. Padahal usianya diatas 12 bulan. Jika di usia 19 bulan BB Luigi hanya 9 kg saja, ternyata ada yang cerita jika anaknya diatas Luigi BBnya 7 kg. Sampe ada juga seorang Ibu yang bercerita, menangis setelah membaca tulisan saya.

terapi ketiga : belajar meniup

Hmm mulai darimana ya. Gini gini. Apa sih yang memotivasi saya sampe segitunya berbuat untuk tau masalah Luigi. Yang pertama karena saya memahami bahwa 1000 hari pertama kehidupan itu adalah pondasi. Bahwa pertumbuhan otak sangat pesat terbentuk 80% adalah ketika usia dibawah dua tahun. Nah dalam seminar yang disampaikan oleh dr. Dini Adityarini, 1000 hari pertama kehidupan itu bukan dimulai sejak bayi lahir !!! Melainkan sejak hidup dalam kandungan sampe usia dua tahun. Masa-masa inilah yang menentukan kemampuan dia kedepannya.

Nah masalah berat badan Luigi yang stagnan ini terjadi sejak dia masih ASI Eksklusif. Padahal ternyata KMS Luigi menunjukkan jika ia gagal tumbuh. Jika melihat kurva pantau garisnya, bukan warna areanya. Jika kurva menurun atau mendatar, akibatnya pindah jalur kurva bisa jadi gagal tumbuh. Pertumbuhan yang baik berat badan bertambah, kurva menaik, tidak menurun dan tidak mendatar. Efek gagal tumbuh adalah gangguan tumbuh kembang atau tidak tumbuh secara normal. Emang apa sih gagal tumbuh? Silahkan googling Failure to Thrive (FTT).

Alasan yang kedua adalah setelah saya membaca tulisan dr. Meta di blog bahwa tinggi tidaknya anak, tidak ditentukan oleh keturunan. Melainkan gizi yang masuk pada anak. Sementara efek anak yang stunting atau perawakan pendek adalah berpengaruh pada kecerdasan anak.

Tidak hanya itu berat badan anak yang sulit naik itu pasti ada sebabnya? Yang saya ketahui beberapa diantara adalah bisa karena Anemia Defisiensi Besi (ADB), karena Infeksi Saluran Kemih (ISK), karena Tubercolosis, dan karena gangguan oromotorik (oral motor) yang menyebabkan anak tidak maksimal dalam pengunyahan makanan.

Alasan yang ketiga adalah saya sudah resign dari pekerjaan. Saya sekarang ibu rumah tangga sejak Oktober 2017. Saya memiliki banyak waktu untuk berikhtiar membuka teka-teki masalah Luigi. Saya ingin fokus pada perkembangannya di masa emasnya. Karena saya meyakini bahwa masa emas anak itu SEBENTAR dan TIDAK BISA DIULANG.

Alasan yang keempat adalah insting. Saya merasa anak saya ada apa-apa. Meski ia terlihat aktif, ceria dan sehat, namun dalam hati saya menduga ada masalah dalam tubuhnya.

Keempat alasan ini yang mendorong saya untuk berikhtiar demi tumbuh kembang Luigi. Saya hanya ingin ia bertumbuh sesuai hukum umumnya, sesuai usianya, bertumbuh sesuai fitrahnya.

Nah pertama yang saya lakukan langsung Lab. Harusnya konsulitasi ke dokter anak terlebih dahulu.
Biaya Lab darah dan urine rutin untuk mengetahui apa ada Anemia Defisiensi Besi sebesar Rp. 786.000. Karena saya mendapat diskon 15% jadinya bayar Rp. 668.100.
Biaya Kultur Urin untuk mengetahui apa ada Infeksi Saluran Kencing Rp. 449.000
Biaya konsultasi dokter spesialis anak Rp. 150.000
Biaya konsultasi dokter spesialis rehab medik Rp. 160.000
Biaya terapi oromotorik Rp. 150.000/pertemuan dengan durasi 60 menit.

Apa ini semua ditanggung BPJS? Sejujurnya saya tidak tau. Karena Luigi tidak punya BPJS. Asuransi Luigi sejak dalam kandungan hanya bisa dipakai saat rawat inap. Sehingga semua biayanya adalah sendiri.

Bisakah ditanggung BPJS? Kemungkinan bisa. Karena anak teman saya terapi wicara dan konsultasi ke rehab medik menggunakan BPJS di RS Haji Surabaya.

Lab dilakukan dimana? Seperti ditulisan saya disini, semua Lab saya lakukan di Prodia, Jl. Diponegoro Surabaya. Biaya Lab nya apa sudah yang termurah? Sekali maaf saya tidak tau. Karena sebelumnya saya tidak/belum survey Lab mana yang paling murah di Surabaya. Alasan saya Lab di Prodia sudah saya tuliskan sebelumnya

Konsultasi itu dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang atau ke ahli gizi? Saya konsultasi dokter spesialis anak konsultan nutrisi anak. Ditangani oleh dr. Meta Hanindita, Sp.A di RS. Bedah Surabaya.


Siapa saja dokter anak konsultan nutrisi anak di Surabaya? Setau saya ada empat diantaranya Prof Boerhan Hidayat, Sp.A (K) , dr Meta Hanindita, Sp.A, dr Nurul Hidayati, Sp.A, dan dr Nur Aisyah Wijaya Nuril, SpA (panggilan dr Nuril) 

Terapinya apa tidak bisa melihat youtube dan dilakukan sendiri dirumah? Terapi Luigi dilakukan 2X seminggu. Sejak awal dokter rehab medik mengatakan bahwa keberhasilan adalah karena dilakukan juga dirumah. Karena terapi hanya dilakukan 60 menit sekali pertemuan. Nah, nanti terapisnya ngajarin apa yang bisa kami lakukan dirumah. Seperti bagaimana cara menyikat lidah, dan bagaimana menerapkan aturan makan dirumah.

Emang beneran setelah terapi ada progress? Lihat di Instagram kogh kayaknya Luigi main-main mulu?
Hehe, Yaah namanya terapi buat anak kecil Buuk. ya pasti diselingi main-main. Namun, mainnya itu juga ada targetannya. Nah apakah ada progress? Subhanallah, yang awalnya Luigi selalu melepeh makanan, pertemuan ke 3 terapi sudah bisa makan rada kasar dan tidak pernah melepeh makanan. Kapan-kapan saya ceritain di space yang lain ya. Yang pasti dokter awalnya bilang butuh waktu 3-4 bulan looh :D

Dimana terapi oromotorik dilakukan? Luigi terapi di National Hospital Surabaya. Apakah di Rumah Sakit lain tidak ada? Hmm, kemungkinan pasti ada. Namun di National Hospital alatnya lebih lengkap dan terapisnya sudah terbiasa menyelesaikan khasus feeding problem seperti Luigi. Entah, saya juga tidak/belum survey.
  

Sekian, semoga membantu dan menjawab pertanyaan Ibu-Ibu yang juga memiliki masalah yang sama dengan Luigi. Semoga anak-anak kita sehat jiwa dan raganya. Menikmati masa kecilnya dengan indah. 

Surabaya, 28 Oktober 2017
Kamis, 26 Oktober 2017

and then I met you

Sejak kecil saya menyukai musik. Mungkin generasi 90an pasti tau ya lagu anak seperti Trio Kwek-Kwek, Maisy Pramaisella, Zaskia Geofanni, Cikita Meidy, dkk. Dan itu saya pasti hafal semua liriknya. Nah beranjak SMP kecintaan saya akan musik enggak berubah. Jika saat SD musik anak bisa dinikmati melalui kaset yang diputer di tape recorder, juga bisa diliat video clipnya dari acara Tralala Trilili.

Nah, Pas SMP musik saya nikmatin dari radio. Kenapa radio? Bukan karena kelahiran saya bertepatan dengan ulang tahun Radio Republik Indonesia (RRI). Melainkan karena lagu terbaru salah satu media promosinya adalah melalui radio. Sehingga sebelum keluar video clip kayak di MTV Ampuh, di radio udah keluar duluan. Musik solois seperti Marcell, Audy, Shanty, Glend Fredly lebih saya sukai ketimbang band. 

Selain bisa dengerin lagu teranyar dari radio, kita juga kirim-kirim salam yang nanti bisa dibacakan oleh penyiar. Jadi kalo dapat kiriman salam dari temen melalui radio tuh senengnya kebangetan. Mhuahaha, jadul banget yaaak.

Ketika masih berseragam putih biru alias SMP saya memiliki penyiar radio faforit. Kalo EBS FM penyiar faforit Meta, kalo Merdeka FM penyiar faforit Ocha. Dan Alhamdulillah dulu berkesempatan menjadi MC acara sekolah yang dimoderatori oleh Ocha Merdeka saat SMA.

gambar diambil dari www.sendscraps.com


Kali ini saya akan cerita tentang penyiar yang enggak pernah terlambat datang ke studio. Siapa lagi kalo bukan Meta. Penyiar dengan suara 'cempreng' yang khas ini mengudara di EBS FM jam 5 pagi sampe jam 7. Nama acaranya apa ya, EBS pagi kalo gak salah. Bangun tidur, sebelum mandi, sarapan, sampe sebelum berangkat sekolah suara Meta pasti memantul di kamar sempit saya. Mbak saya pun juga seneng sama Meta. Secara kami sekamar berdua.

Saking senengnya sama Meta si penyiar radio faforit, pulang sekolah pernah saya dan temen se geng nyamperin ke studio. Saya masih inget banget dipanas Surabaya kami datang ke EBS FM deket Studio East di jalan Simpang Dukuh cuma buat liat Meta siaran. Seingat saya saat itu dengan rambut berombak, Meta siaran dengan membawa diktat tebalnya. Saat play music, tangannya bolak-balik buku kedokterannya. Yup, saat itu Meta merupakan mahasiswa kedokteran UNAIR.

Ketika EBS FM pindah di jalan Jawa, pun saya bersama geng nyamperin juga. Naik bemo sodara haha. Yang paling diinget selain cempreng, Meta merupakan pemenang cewek Koteks, trus sering nangkring di Deteksi Jawa Pos. Sampe akhirnya saya udah gak ngikutin suaranya mengudara tapi setia membaca blognya. Dari mulai Meta mahasiswa sampe sekarang menjadi dokter spesialis anak. Juga ngepoin Instagramnya. Oia, suara dokter Meta sekarang mengudara di DJ FM sejak sepuluh tahun yang lalu.

Setelah saya menikah, saya sering ceritain tentang dokter Meta ke suami. Tentang anaknya bernama Naya yang gifted. Dan pertanyaan-pertanyaan Naya yang cerdas diluar nalar anak seusianya. Sampe bikin dokter Meta kelimpungan cari sekolah yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Dokter Meta sering menceritakan percakapan dengan Naya di blognya.

DM melalui IG pertama kali 23 April 2016


Tulisan di blog www.metahanindita.com dan buku-bukunya lumayan mempengaruhi pikiran (dan perilaku) saya. Saat hamil saya beli pompa ASI Medela Swing salah satunya karena review dokter Meta. Karena Medela Swing menemani dokter Meta memberikan ASIP untuk anak semata wayangnya selama 2 tahun. Padahal produksi ASI dokter Meta pas-pasan dengan jam kerja yang panjang di RS. Ketika kelahiran Luigi, saya ngotot bilang suami beli car seat juga setelah membaca buku Don’t Worry to be a Mommy karya dokter Meta yang keempat. Sampe jadilah sebuah tulisan. Ketika ASI saya seret, pikiran langsung tertuju chat ke IG dokter Meta.

Selama mengikuti blognya, selama itu pula saya selalu terinpirasi olehnya. Bayangkan, saat itu beliau dokter, praktik di RS pemerintah terbesar, ambil sekolah spesialisasi, penyiar, MC, penulis, job-job di TV (entah apa itu), sebagai istri dan Ibu untuk Naya. Juga sempet ngeblog. Dengan kesibukannya itu masih bisa membangun bonding yang kuat dengan anaknya melalui permainan sederhana dengan bahan-bahan yang ada dirumah. Sampe jadilah buku kelimanya berjudul Play and Learn yang lahir terinspirasi dari ide main bersama anaknya.

DM melalui IG 21 Desember 2016



Bukan dokter Meta kalo diam ditempat dan tidak produktif. Setelah Play and Learn, masih terus berkarya dengan buku Mommyclopedia. Dan hari ini dr. Meta Hanindita, Sp.A sekolah lagi sembari mempersiapkan buku teranyarnya, lanjutan Mommyclopedia yang pertama. Postingan terbaru di Instagramnya mengatakan kalo rasanya 24 jam enggak cukup baginya, saking padatnya kegiatan sehari-hari beliau. Huawwww keren banget dagh dokter Meta. Terus melesat !!!

Dan dari SMP saya mengidolakannya, sekarang setelah jadi Ibu beliau jadi rujukan masalah tumbuh kembang anak saya. Apalagi setelah dokter Meta posting tema kontroversi yakni Stunting Pada Anak di blognya. Saya jauh-jauh dari Barat, belain tempat praktek dokter Meta di Timur hanya untuk tau masalah anak saya secara menyeluruh. dr Meta, Sp. A merupakan dokter anak yang mendalami ilmu nutrisi anak.

Dokter Metalah yang menganalisa bahwa anak saya memiliki gangguan oromotorik. Sehingga menyebabkan Luigi susah mengunyah dan menelan. Sehingga direkomendasikan untuk terapi oral motor melalui dokter spesialis rehab medik. Padahal masalah anak saya mulai dari berat badan, susah mengunyah ini sudah lama dan belum terpecahkan. Belum ada yang sampe sedetail ini menjelaskan satu per satu masalah dan treatment untuk Luigi.

DM melalui IG 10 februari 2017


Semua yang dokter Meta katakan selalu khusyuk saya perhatikan. Entah karena berfikir ini pertama kali saya ngobrol langsung dengan seorang Meta sang idola, entah karena memang saya semangat untuk ikhtiar Luigi. Hihi, dua-duanya kayaknya.

Yang jelas, saya dan Luigi beruntung bisa dipertemukan dengan dokter dengan sejuta bakat seperti Meta Hanindita. Ikhtiar ini semoga membuahkan hasil yang baik untuk tumbuh kembang Luigi. Senang dok, bisa bertemu denganmu yang selalu inspiratif. Ditunggu launching Mommyclopedia selanjutnya ya, dok.  

Kalimat dokter Meta yang selalu saya ingat dalam bukunya No one can tell you that you're not a good mother. No one. Motherhood is a heart work and a work with heart never fails.

(Baca juga pertemuan pertama saya dengan dr Meta)

Kalian juga punya penyiar radio faforit? blogger faforit? atau idola yang akhirnya bisa ketemu? Share yuuk :)

foto diambil 25 Oktober 2017


Gresik, 26 Oktober 2017
yang sedang ikhtiar untuk tumbang Luigi (20 bulan)
Rabu, 18 Oktober 2017

Ikhtiar Tumbuh Kembang Luigi (19 bulan)


Saya menuliskan ini karena ingin menjadikan catatan perjalanan anak saya, Luigi. Luigi terlahir dengan berat badan 2,5 kg. Ukuran yang mepet dengan kelahiran cukup bulan. Kenapa saya bilang mepet, karena standart anak dengan berat badan lahir rendah adalah dibawah 2,5 kg.



Dimasa ASI Ekskusifnya Luigi mengalami kenaikan berat badan yang bagus adalah pada bulan ke dua dan ketiga. Diusia empat bulannya berat badannya turun yang membuat KMS nya hampir digaris merah. Lalu naik lagi dan pada bulan ketujuh juga menuju garis merah. Sampai diusianya hari ini 19 bulan, berat badannya tetap sulit naik. Sebagai asumsi, Luigi mendapat ASI Eksklusif selama 6 bulan. Mix ASI dan sufor saat MPASI 6 bulan sampai 10 bulan. Setelah 10 bulan full sufor.

Nah, sejak MPASI Luigi menurut saya anak yang mudah dalam hal makan. Sekali makan bubur bisa habis 250 cc. Diusia 8 bulan ia dilatih makanan naik tekstur, dari bubur menjadi nasi yang di ‘penyet‘, dia tetap makan lahap. Makan apa aja mau, mulai mie, sayur sop, gule, bahkan tahu campur. Namun diatas usia 1 tahun dia masih sulit makan dengan tekstur seperti makanan keluarga. Padahal yang tau saya ketahui, menurut WHO makanan anak usia 1 tahun adalah makan seperti yang keluarga makan.     

Selama 19 bulan makanan Luigi adalah berkuah atau di blender. Misalnya nasi dan kuah, nanti sayur dan dagingnya diblender. Ketika memegang tempe atau sosis misalnya, dia mengunyah namun berakhir lepehan. Diulang lagi, makan, dikunyah namun dilepeh. Tapi kalo makanannya berkuah dan lembut, cepet banget makannya. Setiap ada orang makan, dia juga ingin makan. Dia bilang “ i tak” yang artinya minta. Jika lembut ya langsung ditelan. Sampe mbak saya bilang kenapa Luigi rakus bener. Karena semua makanan dia mau.

Tapi kogh berat badannya sulit naik siiih?

Komentar orang adalah :
“yang penting khan dia makan”
“yang penting gizinya masuk meski di blender”
“yang penting makanan masuk perut meski bisanya dikasih kuah”
“yang penting gak pernah Gerakan Tutup Mulut”
“yang penting dia sehat, lincah, aktif dan ceria”
“yang penting tahapan kemampuan diusianya normal”
“sabar aja entar juga enggak dilepeh lagi kalo giginya udah lengkap”
“gpp kecil khan Bapak Ibunya juga kecil”
“itu mungil mah karena keturunan siiih”

Tibalah dia batuk pilek. Khas dia kalo batuk adalah muntah. Bertepatan pula sebelumnya saya mengikuti seminar mengenai Stunting. Ketika seminar saya bertanya kepada pembicara yakni dr. Dini Adityarini, Sp.A mengenai kondisi anak saya. Dari growth chart panduan WHO anak saya tergolong berat badan rendah dibanding usianya. Mungkin sebabnya anak saya kurang zat besi atau ada silent infeksi kata beliau. Darisana saya berfikir, mungkin inilah saatnya. Saya lebih konsen sama tumbuh kembang Luigi. Dan semangat mengurai masalah Luigi satu persatu. Selama ini Luigi lebih banyak di Surabaya karena saya kerja dari pagi, pulang malam di Gresik.

Tanggal 12 Oktober batuk Luigi semakin sering. Saya bilang suami, saya ingin bawa Luigi ke laboratorium atas nama insting seorang Ibu. Pokoknya saya harus melakukan sesuatu. Dari dulu saya udah merasa ada yang kurang beres dengan Luigi. Suami OK, kasih duit, saya berangkat.



Sabtu 14 Oktober 2017 saya bawa Luigi ke Lab Prodia. Kenapa disana? Pertama karena Prodia punya Prodia Childlab Unit yakni pelayanan khusus untuk anak. Jadi tenaganya khusus yang bisa mengambil sampel darah dengan prosedur pengambilan yang ramah anak. Sekali tusuk, beres pikir saya. Saya tidak ingin menambah ke traumaan Luigi dalam hal pengambilan sampel darah. Bayangkan, saat dia rawat inap di Rumah Sakit suster selalu kesulitan mencari nadi Luigi sampe nemu di kaki. Kedua karena Prodia Childlab juga punya fasilitas yang sangat nyaman. Anak-anak bisa main. Jadi sebelum disuntik, kesannya enggak serem. Anak main dulu. Setelah diambil sampel darah dan nangis, juga bisa maen lagi. Alasan ketiga saya memilih lab disini karena saya dapat potongan 15% periksa anemia. (dasar emak kalo ketemu diskon mah diburu mhuahaha)

lab yang sangat ramah anak


Hasil Lab sudah ditangan sorenya. Saya galau, besok hari minggu. Masih harus menunggu hari Senin untuk membaca hasil Lab. Hari Minggu, 16 Oktober 2017 saya dilanda galau karena penasaran hasil Lab. Lalu iseng nanya di Instagram dokter Meta dan berakhir dengan balasan maaf mbak saya enggak bisa baca hasil Lab kalo tidak periksa anaknya. Saya mohon-mohon jawabannya tetap enggak tau. Huift sedih.

Ibu saya ingin Senin paginya Luigi dibawa saja ke RS William Booth atau RS Darmo karena dekat rumah sehingga bisa segera minum obat batuk dan pilek. Katanya semua dokter anak pasti bisa lah baca hasil lab. Saya bilang kalo saya mau bawa Luigi ke dokter anak konsultan nutrisi anak. Dan dokter ini adanya di RS Bedah dan jam praktiknya sore, Ibuk saya bilang, ah semua dokter anak sama aja.

Karena Senin paginya, 17 Oktober 2017 batuk Luigi enggak parah, akhirnya Ibu saya setuju dibawa ke dokter anak sore. Berangkat dari rumah saya di Barat menuju RS Bedah di daerah timur Surabaya, saya mendapat antrian nomer satu (niat bener khan akyuh :D). Berbekal KMS dan hasil Lab Luigi, saya berangkat motoran bersama Luigi. Tidak lupa catatan pertanyaan kecil masuk tas, supaya tidak ada yang terlewat segala yang ditanyakan.

Dokter memeriksa Luigi dengan detail, mulut diperiksa, penis diperiksa, KMS dibaca, tanya riwayat makan dan banyak lagi. Dari hasil lab, Luigi terkena Anemia Defisiensi Besi (ADB). Apa itu ADB? Satu diantara banyak jenis anemia, ADB adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak memiliki zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi merupakan mineral penting dalam pembentukan hemoglobin yang berperan dalam perkembangan otak anak serta kekebalan terhadap infeksi.

Kata dokter, ADB Luigi ini berat meski Hemoglobinnya normal. Kenapa ADB lumayan berat? Ferritin atau cadangan besinya sudah 11 dari minimal 20 dan kadar besinya 40 dari minimal 59.

Kenapa Luigi bisa ADB, karena Luigi tidak bisa makan berserat dan makan daging-dagingan. Kenapa? Karena berdasarkan analisa dokter Luigi mengalami gangguan oral motor. Apa itu gangguan oral motor?

Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan di mulut, mengunyah dan menelan. Keterampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah, dan menelan dilakukan otot dirahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya disekitar mulut.

Nah, Luigi kesulitan mengkoordinasi semuanya dengan mengunyah sampe menggunakan lidahnya memasukkan ke tenggorokan. Oleh karenanya makanannya dikunyah, kemudian dilepeh. BUKAN Luigi tidak mau. Bukan Luigi tidak suka makan tekstur kasar, tapi karena dia kesulitan. Efeknya apa? Nutrisi makanan tinggi protein atau kalori yang masuk tidak bisa maksimal. Kata dokter, meski daging satu gelas diblender dengan daging tanpa blender akan berbeda kadar gizinya. Efeknya apa? Ya tadi, dia terkena ADB berat. Efek ADB salah satunya membuat berat badan sulit naik. Efek berat badan sulit naik, Luigi potensi stunting. Bahkan tinggi badannya saat ini kurang 1 cm saja sudah stunting. Efek stunting masih panjang lagi. Dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. Mengapa jika berat badan sulit naik potensi stunting? Karena jika berat badan tidak naik, maka tinggi badan juga tidak akan bertambah. Diusia 19 bulannya berat badan Luigi 9 kg dan tinggi 78 cm. Berat badan ideal diusianya harusnya minimal 11 kg.

Rujukan dari dokter anak ke dokter rehab medik

Akhirnya karena sebab masalahnya adalah gangguan oral motor, maka dokter merujuk Luigi ke dokter spesialis rehab medik (Sp. KFR) untuk terapi oral motor. Rujukan dokter anak ke dokter rehab medik isinya kurang lebih seperti ini:
Luigi : underweight + perawakan normal + gizi baik. 
Suka melepeh, mengemut lalu dilepeh, belum bisa kasar (harus diblender/diberi kuah)

Juga menyuruh saya tes urine Luigi karena bisa jadi Luigi terkena infeksi saluran kencing (ISK). Potensi ini besar karena ISK membuat berat badan sulit naik dan Luigi belum di khitan. Malah yang bagus khitan adalah saat bayi. Nah di lab saya yang sebelumnya, sebenarnya Luigi juga tes urine, namun itu urin rutin dan tidak bisa cek ISK. Harusnya tes kultur urine yang hasilnya keluar 5 hari.

catatan dari dr. Meta, Sp.A


Kedepan dokter menarget minimal 10 kg untuk Luigi. Sementara Luigi diberi suplemen zat besi dengan dosis agak tinggi (7,5 cc), minum susu tetap 10 x150 cc dan makan seperti biasa sambil menuju konsul ke spesialis rehab medik dan cek ISK.

Rabu, 18 Oktober 2017 di pagi yang mendung saya berangkat ke RS Mitra Keluarga Satelit untuk mengejar dokter rehab medik yang dirujukkan oleh dokter anak. Sebelumnya saya disuruh membawa sikat gigi, biskuit dan makanan Luigi biasanya. Saya bawa regal, nasi dan telur.



Dokter rehab medik bertanya berat lahir Luigi dan apa lahir cukup bulan, bertanya apa yang dimakan selama ini, bagaimana makannya, kebiasaan makannya, cara makannya, berapa kali makannya, habis apa tidak, apa makanan yang dilepeh, makanan jenis apa yang di telan, dan apa lagi ya. Banyaklah. Lalu dokter mengobservasi Luigi makan biskuit. Semalam sebelumnya, dirumah sudah pernah diberi Regal, dikunyah namun dilepeh. Begitu terus. Nah saat di ruang praktiknya, Luigi bisa habis 1 keping biskuit. Kata dokter “lha ini bisa, Bu. Enggak dilepeh tuh”. Lalu ganti makan telor goreng. Oleh Luigi dikunyah, lalu dilepeh. Ganti nasi, dia bisa. Lalu telur tadi dikasih air, dia bisa telan.

dokter rehab medik kasih instruksi langsung ke terapis


Dari pengamatan dokter, Luigi ini sensor motornya baik alias normal. Namun Luigi hanya menggunakan gigi depan untuk mengunyah padahal ketika dicoba menaruh potongan keping biskuit di geraham dia bisa mengunyah. Lalu lidah Luigi ini tidak bisa ke kanan dan ke kiri, untuk mengambil dan mengumpulkan makan dilidah sebelum ditelan, juga sulit kebelakang yang menyebabkan ia kesulitan menelan makan yang bulat sehingga dilepeh.

Apa sebabnya? Berat lahir Luigilah yang membuat resiko gangguan oral motor ini besar padanya. Sebagian besar anak dengan berat badan lahir yang rendah atau kurang cukup bulan, berpotensi besar mengalami masalah gangguan oral motor.

Sebab yang kedua adalah faktor kebiasaan. Bagi anak kecil, makan itu USAHA yang keras. Kenapa? Karena makan perlu memasukkan ke mulut, mengunyah dengan gigi sampe halus, menelan, semua otot dimulut bekerja, dan peranan lidah sangat penting. Nah, Luigi selama ini jika makan selalu digendong. Posisi digendong ini membuat tubuhnya tidak tegak. Karena tidak tegak, usahanya untuk mendorong ke tenggorokan lebih berat lagi. Beda dengan orang dewasa yang bisa makan bahkan sambil tiduran. Oleh karenanya Luigi butuh bantuan kuah untuk cepat menelan. Cara makan ini akhirnya secara langsung berpengaruh mengapa Luigi sulit mendorong makanan.

Sebab yang ketiga. Jika sudah melepeh makan dan kita merasa dia kurang asupan, langsung dikasih susu. Hal ini menyebabkan dia jadi mikir “gak papa dilepeh, gak makan, toh habis gini juga dikasih susu, kenyang deh”



Akhirnya inilah solusi dokter spesialis rehab medik untuk Luigi

Solusi yang pertama Luigi harus diterapi lidahnya. Agar bisa ke kanan dan kekiri, dan juga kebelakang. Kalo ke depan bisa buktinya dia bisa melepeh.

Solusi yang kedua ubah kebiasaan makan. Luigi harus makan dengan posisi yang benar yakni duduk. “Nah sebenarnya Luigi ini sudah saya belikan kursi makan tapi kabur dok?” kata saya. Yang penting duduk tegak, meski diselingi main. Namun tidak dengan hape.

Solusi yang ketiga : membangun lingkungan yang membuat ia selalu penasaran sama makanan (karena Luigi kepengenan lihat makanan), semua keluarga makan dan duduk bersama, makan bersama Luigi. Membiarkan ia makan dengan piringnya sendiri, sendoknya sendiri, tanpa disuapi. Resikonya pasti berantakan. Bagi anak, makan membutuhkan banyak latihan.

Untuk khasus Luigi yang underweight, dokter tidak terlalu keras dalam memberikan aturan makan. Misalnya khasus anak sulit makan dengan berat badan ideal, kalo anak gak mau makan, yaudah gak dikasih makan sampe dia lapar dan minta makan sendiri. Dan susu di STOP. Karena berat badan Luigi kurang, susu tetap diberi seperti biasa, untuk mengejar berat badan juga sambil terapi dan mengubah cara makan.

Keempat : solusinya adalah Ibunya dan orang-orang disekitar anak jangan stress. Jika Ibunya stress akan mudah marah dan memaksa anak untuk makan. Padahal dia ini sedang kesulitan cara makan.

Dokter rehab medik  mengatakan, alat untuk terapi dengan masalah seperti Luigi (feeding problem) lebih lengkap di National Hospital, Graha Family. Terapisnya juga terbiasa menyelesaikan kasus ini. Dokter rehab medik Luigi juga praktek disana. Sepulang dari RS Mitra Satelit, saya langsung berangkat ke National Hospital. Pikir saya, jika bisa terapi hari ini juga kenapa nunggu besok.

Luigi terapi oral motor pertamakali


Hari ini juga, 18 Oktober 2017 Luigi pertama kalinya terapi oral motor. Ditengah proses terapi, dokter rehap medik tetiba muncul diruangan dan memberi instruksi langsung kepada terapis Luigi, menjelaskan masalah Luigi dan sebabnya.

Kedepan terapi oral motor Luigi dilanjutkan di National Hospital 2x seminggu selama minimal 6 minggu. Dan akan dievaluasi oleh dokter spesialis rehab medik lagi.   



Sementara PR yang belum dikerjakan adalah cek kultur urine untuk mengetahui apa Lui ada ISK, dan setelah hasil lab keluar konsul lagi ke dokter anak, karena jika positif ISK maka terapinya adalah dengan antibiotik.



Jujur saja, saya lega akhirnya saya bisa tau masalah anak saya secara kaffah. Tau masalah utamanya sehingga penanganannya juga sesuai sebabnya. Dan terkhusus terimakasih saya kepada dr. Meta, Sp.A orang pertama yang sangat detail dan mengurai satu persatu masalah Luigi. Dan tentunya suami akyuuuh :D yang mendukung ikhtiar tumbuh kembang Luigi ini.

Untuk semua yang membaca tulisan ini, semoga ada hikmahnya dari cerita mama Luigi.
Kecil itu bukan keturunan, mungil itu bukan takdir, yang baik adalah yang normal. Dan kalimat barusan adalah ilmiah. Jika anak kita sulit makan, pemilih makanan, hanya mau minum susu tidak mau mau makan nasi, makan apa aja tapi berakhir lepehan dan tidak bisa naik tekstur kasar (seperti Luigi) atau pemakan segala namun berat badan kurang, pliisss cari tau sebabnya bu Ibuk. Bukan ujug-ujug vitamin yang dicari, bukan punishment yang dilakukan, bukan maksa ‘dijamoni’, pijat dukun bayi, atau tetiba anak di renang kan yang katanya bisa bikin nafsu makan membaik. Mari kita sama-sama mencari sebab utamanya dulu kepada yang ahli. Sehingga solusi sesuai masalahnya. Karena anak-anak berhak tumbuh dan berkembang dengan semestinya. Masa usia emas anak itu sebentar, dan tidak bisa diulang. Peluk semua untuk teman-teman Luigi yang juga mungil.




video keceriaan dan lincahnya Luigi saat ambil sampel darah dan urine di Lab
https://www.instagram.com/p/BaOWH9OlGcr/



Surabaya, 19 Oktober 2017




(EDIT TAMBAHAN):
Tulisan ini per tanggal 4 November 2017 mendapat PV 2.000an. Karena banyak sekali pesan yang masuk menanyakan teknis, maka saya lanjutkan tulisan ini pada tulisan ke 2 dan tulisan ke 3. Semoga bermanfaat.