Kamis, 08 Juni 2017

Dokter Anak

Penjelajahan dokter sampai Luigi umur 16 bulan, beberapa diantaranya :

Prof. Dr. Darto Saharso, Sp.A (K)

Alamat rumah : Darmo Permai Selatan XI/16 Surabaya. Telp (031) 7312350
Pagi : 05.30-06.30
Malam : 18.00-20.00

Praktek : Jl Nias 128 Surabaya (031) 5018890
Sore : 16.30-17.30
Inilah pertama kali Luigi sakit. Saat itu Luigi sakit panas, usia 7 bulan. Barusan MPASI. Dokternya ramai, antri, meski pagi buta. Bisa imunisasi juga disana. Saat itu Luigi diberi obat penurun panas. Sampai akhirnya berakhir rawat inap di RS. Darmo Surabaya karena panasnya  tidak segera turun.

Luigi dan Ayah di ruang tunggu tempat praktek rumah


Dr. Moeharsanto, Sp.A
Praktek : RS. William Booth poli spesialis
Jl Diponegoro 34 Surabaya
Rumah : Menganti Wiyung 118 Surabaya (031) 7523428

dokter anak senior di RS William Booth


Ini yang bikin Luigi kenal yang namanya alat nebu. Waktu itu dia batuk dan sulit napas, jadilah di uap. Selama 3 hari, tiap pagi ke IGD buat uap. Dokter ini yang pernah bilang ke saya bahwa anak yang dilahirkan melalui ‘jalan tol’ akan mudah sakit karena tidak melalui jalan yang seharusnya dimana ia mendapat kuman baik. Entahlah. Respon saya : "haaah" (sambil melongo)




Dr. Paulus A. Suhamzah, Sp.A
Praktek : RS Darmo Surabaya
Jl Darmo Surabaya
Praktek rumah : Jl Arjuna 12 B Surabaya
Dokter yang selalu merawat Luigi saat harus rawat inap. Dokter yang sering disebut di RS Darmo, padahal menurut saya orangnya to the point. Kurang ramah sama anak, makanya Luigi pasti nangis. Dan beliau gak ada usaha nenangin dan baikin. Huhu. Yang jelas dia yang bikin anak saya lekas sembuh, udah cukuplah.

gak punya potonya Luigi sama dr Paulus haha

Luigi di ruang tunggu Darmo Children Center 


Dr. R. Moch Chairullah
Praktek : Puskesmas Banyu Urip
Jl. Banyu Urip Kidul
Praktek malam : Jl. Raya Banyu Urip
Sebenernya beliau dokter umum, tapi beliau dipercaya menangani pasien anak di Puskesmas Banyu Urip Surabaya. Orangnya sabar. Baik dan pendengar banget lah. Gak suka kasih antibiotik jika memang tidak perlu. Cuma di tempat praktek malam susah nyari alamatnya, padahal tinggal salto doang haha. Saya muter berkali-kali sampe akhirnya nemu dibawah kafe. Wuzzzz.


Adalagi sih, dr Ericka Jahya, Sp.A yang praktek di RS. Petrokimia Gresik. Beliau yang mendampingi lahiran saya. Cuman enggak pernah ke beliau lagi saat anak saya sakit. Beliau ini yang nyuruh saya buat ngasih Luigi vitamin anak, saat dia masih ASI dan berat badannya lagi mengalami kenaikan pesat. Yaah gak saya turutinlah.



Udah ini aja, bingung mau nulis apah hari ini. Kayaknya bakalan didepak dari #30dwcjilid6. Hiks. Kurang konsisten nulis nih.


*semua poto ini dari dokumentasi pribadi
Tidak ada komentar:
Selasa, 06 Juni 2017

Pentingnya Memakai Car Seat

Dalam list perlengkapan bayi baru lahir dulu, tidak pernah ada list membeli car seat. Pikiran saya cuman satu, sukses menyusui. Jadi segala alat menyusui dibeli selengkap mungkin. Bagi saya alat menyusui aja udah mahal, maka ‘mahal’ yang lain dipinggirkan dulu aja dari anggaran. Beberapa pikiran mengapa car seat tidak penting antara lain :
“Bukankah dimobil bisa dipangku?, masak sopir dan yang memangku akan mencelakai anak?”
“aduh car seat harganya berderet tujuh digit dalam rupiah. Mahal banget ah !”
“enggak sis, tinggal sopirnya aja dipesenin jangan ngebut dan tetiba ngerem mendadak ketika mengendara”
“udah mahal, cuman dipakai sebentar. Setelah bisa duduk sendiri, bisa dipangku didepan pakai sabuk pengaman bareng yang memangku”
“selama ini enggak pakai car seat juga aman-aman aja tuh, enggak kenapa-kenapa”
“iya kalo anaknya mau ditaruh car seat, yang ada bikin anak jejertitan”
“udah pernah sekali aku cobain, anaknya enggak mau, berontak gila-gilaan”
“dananya buat imunisasi aja, yang jelas-jelas bermanfaat untuk kesehatan anak”
“iya penting, tapi ditunda dulu aja deh. Kalau ada dana sisa aja, baru deh beli setelah yang LEBIH prioritas terbeli”
Bla bla bla lalala lilili
Terus berderet dibelakang alasan-alasan orangtua mengapa tidak memasukkan car seat dalam list shopping.


Sampai akhirnya saya membaca buku dr.Meta Hanindita, Sp.A berjudul Don’t Worry to be a Mommy ! mengenai pembahasan car seat. Ia bercerita, seorang pasiennya bayi berusia 6 bulan yang datang kepadanya karena mengalami cedera otak. Alasannya “hanya” karena ayahnya mengerem mendadak saat mengendarai mobil untuk menghindar dari kucing. Alhasil kepala bayi yang dipangku tersebut terantuk dashboard mobil. Menurut dr Meta, 75% kecelakaan terjadi dalam radius kurang dari 40 km dan 50% terjadi pada kecepatan kurang dari 60 km/jam (halaman 107). Waw, sepele yang berakibat fatal bukan?

Memangnya apa sih car seat?
Saya bingung cari pengertiannya dimana. Tapi coba saya definisikan sendiri aja deh. Car seat adalah kursi khusus anak yang didesain dipasang dikursi mobil. Gunanya adalah untuk menjaga keselamatan dan keamanaan anak selama perjalanan.



Mengapa harus menggunakan car seat ?
Menurut safetysign dampak jika anak terlempar dari pangkuan selain kemungkinan cedera tulang dan otot, anak juga dapat mengalami cedera otak akibat kepala terguncang saat terjadi pengereman mendadak atau benturan keras yang terjadi tiba-tiba (whiplash effect). Cedera batang otak akibat batang leher tempat batang otak berada, terguncang oleh gerakan berhenti seketika saat mobil sedang melaju dengan kecepatan tinggi dapat menyebabkan kematian.

Di Amerika Serikat, kecelakaan mobil bisa menjadi penyebab signifikan kematian pada anak usia 1-3 tahun. Hasil penelitian dari American Academy of Pediatric (AAP) menunjukkan, 97% anak usia 1-3 tahun terabaikan oleh orangtuanya karena tidak didudukkan di car seat. Akibatnya, lebih dari 40ribu anak berakhir di UGD setiap tahun karena kecelakaan mobil. Penelitian tersebut dilakukan di University of Michigan, Amerika terhadap 22.000 anak.




Bagaimana car seat bekerja melindungi anak?
Menurut Wahyu, seorang inisiator Safe Kids Indonesia dalam tayangan Kompas TV (tumben saya nonton tipi haha), dalam crash test, mobil yang sengaja ditabrak dengan kecepatan 30-40 km/jam tanpa anak menggunakan car seat akan terpental ke kaca depan, dan benturan yang dialami seperti menjatuhkan anak dari lantai 3. Ini hanya 30-40 km/jam loh. Gimana kalo di tol yang kecepatan minimal 60 km/jam?.

Segala variable yang ada dalam car seat seperti dudukan, bantalan dan sabuk pengaman car seat berguna mengurangi resiko terbentur bahkan terlempar ketika terjadi tabrakan atau pengereman mendadak. Kita tidak pernah tau yang namanya kondisi saat berkendara, apa yang terjadi dijalan yang menyebabkan sang sopir mengerem mendadak atau terbentur benda keras. Dan menyebabkan resiko yang membahayakan bagi anak.

Sehingga maha penting menggunakan car seat untuk anak saat berada didalam mobil. Demi keselamatan dan keamananan anak.

Lalu bagaimana jika anak tidak mau ditaruh car seat?

Tips mama Luigi agar anak tidak berontak menggunakan car seat
Sejujurnya saya adalah orang yang termasuk saya sebutkan diatas. Saya ragu, apa anak saya mau ditaruh car seat? Apa anak saya tidak berontak? Padahal saya tau jika car seat penting. Akhirnya saya menggunakan insting.
Saya biasakan Luigi duduk di car seat sejak ia umur 6 bulan. Sejak dia lebih banyak diam belum banyak protes seperti sekarang. Sejak dia belum banyak bicara dan belum banyak bertingkah. Jadi saya ‘memanfaatkan’ masa bayi Luigi untuk membangun kebiasaan. Saya percaya, anak akan mengikuti kebiasaan.

Nah pertama kali menaruh Luigi di car seat, saya memastikan beberapa hal untuk meminimalisir berontak.
Dengan cara memastikan dan memenuhi kebutuhannya. Apa sajakah itu?

Pastikan meletakkan anak dengan benar dan memasangnya sesuai prosedur keselamatan.
Hal ini penting karena jika kita tidak benar-benar membuat anak dengan posisi yang sesuai, anak akan rewel. Misalnya saat ia bayi, sementara car seat tidak benar-benar datar. Maka bisa ditambahkan alas, agar anak tidur dalam posisi punggung yang lurus. Pun juga ketika anak masih belajar duduk, kita tidak mendudukan dengan posisi yang sesuai, dan memasang sabuk pengaman tidak pas. semakin tidak sesuai, semakin membuat ia tidak ‘kerasan’ karena tidak nyaman. Semakin benar pemasangan, semakin membuat ia nyaman. Tidak merasa ‘terpenjara’ dalam balutan sabuk pengaman.

Memastikan bahwa selama perjalanan anak tidak dalam kondisi lapar.
Sebelum pergi saya pasti sudah memberi makan Luigi. Ataupun jika waktu mepet, sementara dia belum makan, maka saya menyiapkan bekal makanan dari rumah. Yang nantinya akan disuapi dalam mobil . Atau menyiapkan cemilan yang ia pegang sendiri. Sehingga selama dalam perjalanan ia dalam keadaan kenyang.



Bagaimana jika anak masih menyusui?
Jika masih menyusui, jangan menyusui saat mobil sedang berjalan. Lebih baik berhenti dulu. Selalu ingat dampak mommies. Toh mengalah untuk menyusui demi lancarnya perjalanan berikutnya akan lebih baik bukan? Bagaimana jika waktu sudah mepet, yang membuat kita beralasan menyusui dijalan. Agar ini tidak terjadi, maka susun rencana perjalanan pergi seperti berangkat lebih awal. Ingatlah kita tidak pergi sendiri, tapi membawa bayi. Sehingga buat rencana perjalanan sebelumnya, seperti akan berhenti dimana untuk menyusui tiap 2 jam. Jadi kita bisa memperkirakan jam tiba di tempat tujuan.

Memastikan anak tidak bosan dan merasa senang
Yah namanya anak, dia juga bisa bosan sama seperti kita. Maka, saya membawa mainan yang bisa digunakan agar Luigi menjadi ‘sibuk’. Apalagi jika perjalanannya jauh sehingga memakan waktu yang lama. Adakalanya Luigi bosan dan berontak. Maka mainan adalah solusi. Rentang konsentrasi anak khan cuma sebentar, yang membuat ia mudah bosan. Sehingga saya pasti membawa bekal mainan tidak hanya satu jenis tapi beberapa jenis. Dulu diawal memakai car seat ia saya pegangin teether. Sudah semakin gede ia dipegangin mainan yang berbunyi. Bahkan botol, gelas plastik bekas minuman kemasan, atau apapun asal yang berbunyi. Sekarang diusia Luigi 16 bulan, saya mengandalkan buku supaya dia teralihkan dalam kebosanan. Buku dengan warna kontras, banyak gambar dan minim kalimat.



Membuat anak merasa aman dan nyaman.
Luigi pernah berontak habis-habisan saat perjalanan di tol. Saat itu kondisinya sangat gelap ditambah hujan pula. Benar-benar ingin ‘diselamatkan’ dalam car seatnya. Saya pikir, pasti dia ketakutan. Akhirnya lampu mobil saya nyalakan dan bernyanyi-nyanyi. Entah saya nyanyi apa, suara cempreng nan syahdu. Yang penting suasana ‘mencekam’ menjadi senang. Ia tidak merasa ketakutan lagi.
Untuk kenyamanan lainnya, memastikan suhu AC dalam mobil, tidak terlalu dingin dan sebaliknya. Karena saat Luigi tertidur, merasa kegerahan, dia bakal berontak ingin dilepaskan dari car seat dan minta gendong.

Saya merasa sangat terbantu dengan car seat dan menerapkan cara membiasakan dan memastikan kebutuhannya terpenuhi. Mengapa? Karena Luigi bisa tidur terlelap saat di mobil. Selama perjalanan ia bisa beristirahat sehingga tidak capek selama perjalanan. Jika tidak capek, sesampainya ditempat tujuan ia juga tidak rewel ‘hanya’ karena tidak nyaman selama perjalanan.



Sehingga, tidak ada alasan tidak memakai car seat saat berkendara dengan anak bukan? Demi keselamatan dan keamaan anak selama berkendara. Meminimkan resiko jauh lebih penting, daripada sudah terlanjur terjadi hal yang tidak diinginkan. Akan membuat kita lebih menyesal. Tapi mahal? Hari ini banyak persewaan perlengkapan bayi, salah satunya sewa car seat. Jadi, masih ada jalan menyewa, mommies 😊


maaf mama Lui ikut nampang, pucet karena lagi puasa hihi


Ditulis setelah nemu foto Luigi pertama duduk di car seatnya. Masih ucul (baca : lucu). Anakku sudah gede dan Ibunya tetiba sedih :( 
Ibu sayang Luigi setiap saat, semoga Allah melindungimu selalu ya, Nak. Dari segala bahaya yang nampak ataupun yang tidak tampak. Amin.



Sumber referensi :
dr Meta Hanindita, Sp. A, Don’t Worry to be a Mommy!, Stiletto Book, Jogjakarta, 2013
Tayangan Kompas TV Edukasi Pengenalan Bahaya Untuk Anak, Senin, 5 Juni 2017
Tidak ada komentar:
Jumat, 02 Juni 2017

Mengapa Menulis Disini

Aku memiliki kebiasaan menulis tanggal penting dalam hidupku sejak SD. Yah sejak sekolah dasar. Dulu aku menggunakan buku diary bergambar winni the pooh. Dibuku itu, aku ingat pernah menulis kapan aku sakit cacar air. Betapa saat itu Ibuku menjagaku dengan kasih sayang. Sebenarnya Ibu akan pulang kedesa, namun karena aku sakit Ibuk rela tidak ikut serta dengan Bapak.

Aku juga penah menulis hobby telfon ditelfon umum. Berbekal koin sisa jajan, aku menelfon 2921100. Disana terdapat banyak sekali kisah anak dan hikmahnya. Ketika SMP, hampir setiap hari aku menulis catatan sehari-hari. Namun aku menulisnya dibuku tulis. Disana penuh dengan cerita pertemanan, perselisihan dan persahabatan.

Entahlah, aku suka menyimpan hal-hal penting dalam hidupku. Aku seperti merapikan sejarah hidupku. Baik senang maupun sedih. Ketika SMA, aku meninggalkan buku tulis sebagai catatan harian. Saat itu aku menggunakan MS Word karena bisa diwarna otomatis. Dan karena bisa dipassword, sehingga hanya aku yang bisa membukanya. Semuanya tidak luput dari catatanku. Bagaimana perjuangan bisa berjilbab saat kelas dua SMA. Bagaimana senangnya aku memiliki banyak teman. Aku mendapat banyak pengalaman ketika menjadi Ketua Sekbid 1 OSIS. Aku sering didaulat menjadi MC acara sekolah. Dan dimasa-masa umur puber itulah aku bisa mengenal apa arti sebuah perjuangan. Dirumahpun aku aktif di Karang Taruna. Masa remajaku benar-benar “hidup”.

Sampai suatu hari, file catatan itu hilang. Tak bisa dikembalikan. Ah, aku tak punya salinan apapun. Aku sungguh sedih. Dan aku ingat aku juga pernah menulis seseorang yang mendownload lagu kesukaanku, dari Mariah Carey. Catatan penting itu juga hilang. Nasi sudah menjadi bubur.

Akhirnya saat sudah menikah, aku ingin merapikan semua cerita-cerita hatiku. Tentang perjalananku yang kulengkapi dengan foto-foto. Tujuannya satu, semoga kelak anakku bisa dekat denganku meski aku telah tiada. Itu saja.

Dan mengapa nama blog ini bukan bunda Luigi, mama Luigi, istri Adit, keluarga bahagia, namun namaku sendiri. Karena aku ingin menjadi diriku sendiri disini. Tanpa embel-embel gelar sebagai istri dan sebagai Ibu. Meski pastinya aku akan banyak sharing tentang lingkup istri dan Ibu. Namun, disini aku menjadi aku. Tidak terbebani menjadi Ibu dan istri yang ideal. Sempurna.

Ini rumahku. Tempat aku bisa menggoreskan apapun melalui ketikan. Tidak lagi berfikir akan hilang. Maka kubuat judul cerita hati. 


Tulisan daily life yang sangat sederhana, mengalir, dan hanya diketik dengan hati, semoga sampai juga kehati. Dan memanjangkan pertemuanku dengan anakku. Amin.

menghibur anakku dengan kakinya yang terpasang infus



#30dwcjilid6
#day17
Tidak ada komentar:
Kamis, 01 Juni 2017

Hijrah ke Ibukota (bagian 2)

(Baca cerita sebelumnya)

Bapak memberiku amplop berisi uang. “untuk pegangan dijalan” katanya. Kuintip uang merah seratus ribu sejumlah sepuluh. "Nanti jika ada apa-apa jangan lupa kabarin." lanjutnya
Malam itu keretaku berangkat. Ibuk tak mengantarku ke stasiun. Aku diantar mbak Erti. Inilah pertamakali aku pergi ditempat jauh sendiri. Tanpa ada siapapun. Argo Anggrek melaju dengan cepat. Tak terasa, pagi itu aku sampai di stasiun Gambir. Berkali-kali aku ambil napas panjang. Aku semakin membuka mata lebar. Jantungku berdegub. Aku sekarang ada di ibukota. Terlihat tiang Monas dekat denganku.

Dimulai bulan Ramadhan pertama kali di Jakarta, aku merasakan beratnya kesendirian. Tanpa kamar yang nyaman seperti dirumah, tanpa lemari es yang selalu tersedia minuman dingin dan tanpa mesin cuci. Mengatur keuangan yang ternyata sering berantakan. Dengan capeknya perjalanan ditempat kerja karena melewati tiga kali kemacetan. Kemacetan di Condet sampai Cililitan, juga ganasnya jalan Kalimalang menuju Bekasi. Karena aku kecapekan dengan perjalanan ini, akhirnya kugunakan jasa laundry pakaian. Kusisihkan bekal sangu dari Bapak untuk bisa menghemat tenaga tangan untuk mengkucek baju. Setiap hari bangun pagi-pagi, dan tidur malam hari. Setiap hari berlari. Setiap hari berkompetisi. Membelah jalanan Jakarta yang sesak.

Aku stress dengan masa saat itu. Saat aku kelelahan, aku pilek yang lendirnya bercampur darah. Dari kecil aku tak pernah bermasalah dengan hidung kecuali pilek biasa yang akan sembuh perlahan setelah istirahat. Dan malam-malam karena pilek itu, membuat badanku hangat. Pilek dengan jenis ini sungguh menyiksa. Aku semakin membenamkan diri dalam jaket. Untuk berjalan membuat tubuhku sempoyongan. Aku juga pernah terlambat datang bulan. Padahal aku mesti teratur mengenai hal itu. Aku takut terjadi kelainan padaku. Akhirnya saat siang hari yang panas di bulan puasa, aku menyempatkan browsing. Dan ternyata dari semua artikel yang aku baca, banyak yang mengatakan salah satu sebabnya adalah stress. Huifttt  benar. Aku stress luar biasa. Macet dan karakter orang Jakarta diawal sungguh mengagetkanku. Aku hanya bisa bersabar sampai kereta eksekutif Argo Anggrek seharga 550ribu membawaku lagi ke Surabaya untuk berlebaran bersama keluarga. 

(bersambung)
#day16
#30dwcjilid6
Tidak ada komentar:

Hijrah ke Ibukota

Siang yang terik, udara nan panas Surabaya, aku berdiri didepan mereka
“aku mau ke Jakarta!”
Kataku seperti aktifis mahasiswa sedang antusias berdemo, mengajukan tuntutan didepan gedung pemprof.
“disana khan tidak ada Saudara”
“tapi aku mau kerja disana”
“disana banyak kriminalitas”
“aku mau belajar, Buk. Disana juga banyak teman. Pokoknya aku mau ke Jakarta”
Semangatku berapi-api

Itu tahun 2011. Kala itu perasaanku teraduk-aduk. Bahagia akhirnya aku akan bekerja di Jakarta. Namun juga pilu, karena tahu pasti akan berpisah dengan Ibuku. Yah, perpisahan adalah keniscayaan yang menyerta dalam keputusan hidupku ini.
Kutatap dengan perasaan sedih, Ibuku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Cuma dua bulan, Buk. Lebaran Tia pulang ke rumah lagi”
Siang yang panas itu disaput kabut. Langit yang cerah, tapi tak mampu mencerahi hati kami. Kami terbenam dalam perasaan masing-masing. Mungkin tak pernah ada dipikirannya, anak bungsunya yang manja, yang apa-apa harus Ibuk, memutuskan merantau. Merantau jauh.


Aku meminta Bapak membelikan koper untuk mengusung segala keperluanku di Jakarta. “Apa semua bajumu akan dibawa semua? Bawalah sedikit saja. Kalau kurang, bisa Ibuk kirim. Kamu membawa semua baju, apa akan tidak kembali?" Tanya Ibu padaku.
Kata-kata Ibu membuyarkan lamunanku akan perjuangan di Jakarta nanti.
“oh enggak Buk, tidak semua dibawa”
Ada perasaan bergemuruh dalam dada.


Sampai akhirnya dalam jarak 700 km aku akan sampai ke kota impian. Kota yang membawa mimpiku menari-nari. Jakarta. Aku akan berada di ibukota

(bersambung)
Baca juga : bagian 2


#30dwcjilid6. 
Tidak ada komentar:

Pemburu Bus

Pagi yang sejuk. Angin semilir menerpa jilbab para pemburu bus. Ya pagi itu aku sedang melihat orang-orang dengan seragam dinas, dengan sepatu mengkilat, menenteng tas, tua muda, laki-laki dan perempuan untuk berebut bus. Mereka semua wangi. Aku ditempat arah masuk tol Romokalisari.

Memori otak berputar mundur ...

Mereka saling berebut naik untuk mendapat kursi duduk. Sementara beberapa pedagang tak mau kalah. Mereka pun ikut masuk dalam bus. Untuk lalu lalang didalam tempat sesak itu, tertatih membawa air mineral yang bersatu dengan bongkahan es. Penjual tahu goreng dan kacang tak henti menawarkan dagangan yang hanya seharga seribu. Mereka maju kedepan, kembali kebelakang lagi dan kedepan lagi mengikuti kemana bus menuju. Sementara para penumpang sibuk melihat pergelangan tangan. Khawatir perjalanan yang ramai, berakibat pada terlambat ngantor.

Sementara saat jam pulang kerja, wajah-wajah sejuk berubah menjadi penuh keringat. Bau pakaian mereka menjadi bau asap kendaraan. Jidat dan pipi mereka mengkilat. Dan siap-siap terpenyet jika penumpang sedang penuh. Terutama saat moment libur panjang. Kaki siap gempor. Menahan badan dan menahan diri agar tidak roboh karena desakan penumpang lain. Sementara jilbab ini entah apa bentuknya. Miring sana sini. Dan kulihat wajahku dicermin, ah dekil sekali batinku. Terkadang perutku berorkestra. Melilit karena butuh sekedar cemilan. Tahu goreng dengan rasa debu kulahap dengan nikmat malam itu.

Aku pernah berdiri sejak naik dipasar Babat sampai turun di Rolak Surabaya. Dengan tentengan tas yang berat membawa laptop dan beberapa potong pakaian ganti. Dan ditempat lain, aku pernah menangis sejak awal menghentikan bus di jalan besar, diiringi suara klakson mobil yang bersahutan. Sampai tiba ke kota lahirku.


Ah rasanya aku seperti kembali kemasa itu. Aku pernah menjadi bagian dari mereka. Menjadi para pemburu bus. Yang menjadi bagian dari perjalanan perantauanku. Perjalanan spiritualku. Di dua kota kecil yang selalu terpatri didalam hati. Aku bisa merekam jelas segala memori perjuangan. Dimasa aku masih bergelora. Semangat membangun mimpi-mimpi. Bagiku saat itu tak penting bus dengan nama apa. Yang penting aku bisa sampai ke tempat perjuangan dengan segera atau kembali bertemu Ibu dengan bahagia.


#30dwcjilid6 
#day14
Tidak ada komentar: