Strategi Mendampingi Belajar Anak Usia Dini Pada Masa Pandemi

 “apa’an sekolah online yang pinter mamanya”

“sekolah daring bikin anak nggak tambah pinter”

“enak gurunya, susah orangtuanya karena bantuin ngerjain tugas anak”

“pembelajaran jarak jauh itu yang paling ribet bukan anaknya tapi orangtuanya”

 

Adalah beberapa suara hati teman-teman yang saya baca di media sosial ketika akhirnya pemerintah tetap memutuskan melakukan pembelajaran dari rumah. 


Sebagai orangtua yang pertama kali menyekolahkan anak, saya jadi mikir bagaimana cara mengantisipasi semua yang akan terjadi. Termasuk merencanakan what if scenario. Jika peristiwa “x” terjadi, maka apa yang harus dilakukan agar Luigi tetap bersemangat belajar meski hanya di pojokan kamar saja.

 

Saya perlu tahu apa saja sih tantangan pembelajaran jarak jauh sehingga bisa cari solusi. Alhamdulillah sekolah Luigi menyelenggarakan Sosialisasi Pembelajaran dengan materi webinar bertema Mendampingi Proses Belajar Anak di (masih) Pandemi pada hari Sabtu (10 Juli 2021).

 

Menghadirkan Ibu Citrawanti Oktavia, M.Psi, Psikolog yang merupakan lulusan fakultas psikologi Universitas Indonesia (UI) dan sekarang menjadi dosen psikologi di Universitas Muhammadiyah Gresik dan mahasiswa diploma Montessori. 




Sadar Dulu

 

Memang hal ini bukan harapan kita semua, dimana harus mengulang pembelajaran jarak jauh karena kondisi pandemi yang semakin mengerikan. Katanya saat ini adalah gelombang kedua Covid-19, apalagi munculnya varian virus baru.

 

Trus kita sebagai orangtua harus memulai darimana saat mendampingi anak belajar secara jarak jauh? Dimulainya dari kesadaran.

 

Karena pandemi  Covid-19 adalah kondisi diluar kontrol kendali kita. Kita nggak tahu kapan penyakit yang disebabkan Sars-Cov-2 ini akan hilang. Jika kita masih belum menerima kondisi pandemi, maka semua diluar dirinya akan menjadi sasaran kesalahan.

 

Anak tidak bisa mencerna pembelajaran yang disalahkan pandemi. Guru disalahkan karena cuma ngasih tugas doang, anak nggak makin pinter karena yang susah orangtuanya, guru enak cuma kirim link dan nyuruh orangtua bikin video.

 

Padahal sadari dulu bahwa semua orang juga terdampak pandemi. Tidak hanya orangtua, guru pun mengalami hal serupa. Termasuk anak-anak kita. Sehingga tidak ada yang diuntungkan ketika terjadi pembelajaran daring saat Covid-19 semakin mengganas ini.

 

Coba kita berpikir dari sisi lain. Bahwa ini adalah kesempatan untuk terlibat dalam pengasuhan anak. Mungkin yang biasanya jadi suporter, kali ini bisa hadir secara fisik mendampingi pembelajaran anak.

 

Apa dampaknya jika kita tidak segera MENYADARI?

Kita bakalan sulit untuk menerima (acceptance). Sebagai orangtua bakalan terus merutuki keadaan, komplain sana sini, dan nggak segera action. Akhirnya kemampuan anak ya “gitu-gitu” aja. ( la wong emaknya cuma jadi tukang maido) hiks -.-

 

Makanya kita perlu sadari dulu, lalu menerima keadaan, dan move on, sehingga kita akan cepat mengambil aksi.

 

Perubahan besar - Peranan Orangtua

Sebelum pandemi, peran guru sangat dominan dalam proses belajar anak. Berbeda dengan saat ini yang lebih banyak pendampingan orang tua karena pembelajaran dilakukan di rumah. Maka yang perlu disiapkan adalah orangtua terlebih dahulu.

 

Kita harus tahu bahwa mendidik anak usia dini itu kita sedang menyiapkan lahan. Kita ini sedang mempersiapkan lahan yang subur dan bukan memetik buahnya langsung.


 Ibu Citrawanti menjelaskan materi dalam zoom

Kerja kita berkaitan dengan bagaimana cara lahannya bagus, tanahnya jadi bagus. Jika dikembalikan ke anak, peran orangtua adalah menyirami tanah, lalu bagaimana anak bisa mekar dan belajar dengan kegembiraan.

 

Karena kita yang menyiram, maka kita kudu tahu apakah airnya jernih atau keruhkah? Ketika airnya yang disiran keruh, makan tanahnya pun akan keruh. Begitu juga dengan dunia anak usia dini. Jika kita ingin anak ingin berprestasi, pikirkan cara agar psikologis anak hepi.

 

Apa yang harus disiapkan orangtua menghadirkan tanah yang subur pada pendidikan anak usia dini?

 

3 E

Ortu perlu mempersiapkan 3 E.

 

Emosi

Kalo orangtua mendampingi anak dengan muka judes, anaknya yang nge-zoom juga ikutan bete. Kita kudu kenali stres, karena terkait air yang mau kita tuang ke anak.

 

Sebenernya seseorang ketika marah itu nggak langsung marah. Alias sudah ada gejalanya. Sayangnya kita tahunya saat ada di kurva merah saat meledak. Duaaaaar :D

 

Kita kenali dulu tanda-tandanya seperti gambar dibawah ini. Tanda yang hijau itu adalah prosesnya, mungkin energi kita menurun, lelah banget, lelah dan nggak mau ngapa-ngapain hingga ke warna merah yakni marah.




Cara mengatasinya cek baterei kita. Ketika sudah di kurva merah, segera menepi sejenak atau meminta bantuan orang lain dengan delegasi pekerjaan. Hal ini agar kita punya air jernih lagi untuk mengairi tanah untuk menemani anak belajar.

 

Ekspektasi,

Kita sadari bahwa kondisi belajar online bukan kondisi ideal apalagi untuk anak usia dini. Namun harus dilakukan demi keselamatan anak. Oleh karena itu ekspektasi orangtua perlu diatur terutama dalam hal kecepatan anak untuk mengerti materi, termasuk kecepatan anak menguasai pembelajaran.

 

Edukasi

Pembelajaran memang harus daring, namun tidak semua orangtua punya background mengajar. Sehingga orangtua perlu membekali diri bagimana mengajar dan mendampingi anak belajar yang menyenangkan.

 

Memahami Anak Usia Dini

Yuk kita samakan asumsi untuk memahami anak usia dini. Bahwa kita perlu membangun koneksi dulu sebelum anak dikoreksi (connect before correct). Ketika ada perilaku anak yang salah lalu kita koreksi dulu, bukan perilaku berkurang tapi bakalan timbul lagi.

 

Padahal setiap perilaku anak mengindikasikan sesuatu hal. Misalnya kenapa ya kalo anak nge-zoom kok lemes. Sehingga kita perlu tahu bagaimana anak usia dini belajar.

 

Fitrah Perkembangan Anak Pra Sekolah

Apa itu fitrah anak? Yakni kekhasan perkembangan anak pra sekolah. Fitrah ini perlu dikenali karena hal ini yang membedakan anak usia dini sehingga cara memperlakukannya pun nggak bisa disamakan dengan anak SD bahkan SMP. Fitrah apa yang khas pada anak usia pra sekolah?

 

1.       Dominasi aktivitas fisik,

Anak-anak suka bergerak, suka lompat atau lari, mereka bergerak nggak ada berhentinya. Nanti akan menurun saat usia SD. Hal ini karena fisik sangat berkembang saat usia pra sekolah.

 

2.       Fitrah bermain,

Nggak mengherankan jika anak usia dini dikit-dikit maunya bermain, mau sepedaan, main lego, mau perosotan, ya itu memang fitrahnya. Bermain ini juga sangat penting bagi anak usia pra sekolah sebagai pemenuhan psikologis, dan bermain adalah cara anak usia dini belajar.

 

3.       Pembelajaran konkrit

Fitrahnya anak pra sekolah adalah belajar dengan konkrit. Misalnya belajar akar. Anak nggak bisa membayangkan bagaimana perbedaan jenis akar. Bisa jadi kita perlu membawakan dua akar yang berbeda agar mereka tahu perbedaan akar satu dan lainnya.

 

4.       Butuh rutinitas

Anak butuh merasa aman dan nyaman dengan rutinitas. Anak usia pra sekolah ini harus tahu apa yang harus dilakukan. Sehingga menciptakan rutinitas itu penting. Misalnya setelah bangun tidur harus apa lagi? Semakin terprediksi dan semakin rutin aktivitasnya, akan menghilangkan kecemasan anak.

 

Mengenal gejala stress pada anak

Nggak hanya dewasa saja loh yang bisa stres. Ternyata anak juga bisa stres. Kenapa sih kok anak bisa stress?


1.       Perubahan aktivitas sangat signifikan,

Yang biasanya setiap pagi berangkat ke sekolah, bertemu ustazah dan teman-teman ustazah dengan ruang kelas besar. Sekarang belajarnya ada di ruang kecil - sudut rumah.


2.       Kurangnya ruang bergerak

Padahal fitrahnya anak adalah bergerak (fisik)


3.       Tidak ada teman bermain

Karena harus dirumah saja selama masa pandemi apalagi PPKM, dimana mall dan tempat wisata saja pada tutup, apalagi sekolah, maka teman bermain anak terbatas. Apalagi buat anak-anak yang motivasi berangkat sekolahnya karena ingin bertemu sohibnya di kelas.


4.       Bosan belajar daring

Mau nggak mau, saat ini pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Belajar dari laptop setiap hari. Kadang membuat anak menjadi bosan.

 

Empat hal inilah yang membuat anak stres di rumah. Namun gejala stres pada anak mudah dikenali, karena anak belum bisa meregulasi emosinya dengan baik. Jadi emosinya itu masih nyata. Masih terlihat sekali perubahannya. 


Bisa dilihat ciri-cirinya, misalnya :


Anak mudah menangis

Tadinya jatuh dan sedikit luka nggak nangis, sekarang kesenggol saja nangis. Nah ini anak kenapa ya?


Murung

Kalo sudah bete bakalan nampak murung.


Tidak bisa tenang

Selama pandemi anak-anak terkesan hiperaktif. Yang biasanya bisa konsentrasi lama, akhirnya jadi mudah terpecah fokusnya. Kadang setelah di observasi ternyata masalahnya nggak suka sistem belajarnya.


Lengket berlebihan pada orangtua atau pengasuh,

Biasanya anak usia 5 tahun bisa ditinggal sebentar, namun sekarang mudah nangis, sering ndusel ndusel, dan nggak mau pisah dari orangtua meski sebentar doang


Nafsu makan menurun

Padahal biasanya makan apa saja mau. Hal ini juga perlu diwaspadai ya


Penurunan tahap perkembangan,

Yang tadinya Toilet Training udah tuntas kok tiba2 ngompol lagi.


Inilah ciri anak stres, yang perlu diobservasi terlebih dahulu. Lalu ditangani sesuai sebabnya.


(Baca juga : briefing and role playing toilet training)

 

Mengenal Kesiapan Belajar Anak

Sebagai orangtua kita juga perlu tahu bagaimana kesiapan anak belajar anak. Seperti pada teori Abraham Maslow yang membuat tangga kebutuhan dasar anak sekolah. Untuk anak bisa siap berprestasi, maka harus menaiki tangga bawah terlebih dahulu.


sumber gambar : presentasi Ibu Citrawanti

Apa kebutuhan yang paling dasar anak?

1.       Kebutuhan fisiologis

Nggak mungkin berprestasi ketika dia sakit dan lapar. Maka sebelum belajar online kebutuhan fisiologis harus dipenuhi dengan baik.


2.       Kebutuhan rasa aman

Rasa aman dalam hal fisik dan emosional. Misalnya tidak mood, sulit untuk menampilkan performa terbaiknya, sulit naik tangga selanjutnya.


3.       Belonging

Atau rasa memiliki. Anak perlu juga kebutuhan membangun hubungan relationship. Seperti tetap berkomuniksi dengan teman-temannya, dengan para ustazah.


4.       Esteem

Baru deh tumbuh jadi anak yang percaya diri dan punya keberhargaan diri. Jadinya anak tidak minder dan siap untuk belajar dan berprestasi.

 

Sehingga jika ingin anak siap belajar, kebutuhan basic anak harus terpenuhi.

 

Mengenal Piramida Belajar Anak

Ada yang disebut dengan piramida belajar, lebih kompleks lagi. Kalo tadi kebutuhan yang harus terpenuhi. Sekarang mengenal piramida belajar. Sama konsepnya , ada levelnya.


Paling bawah adalah kematangan sensory. Jadi anak ketika mampu belajar, ketika sensorynya sudah matang. Mereka bisa membau mendenger melihat dengan baik.

 

Kedua : baru naik ke koordinasi sensorik-motorik. Hal ini untuk persiapan menulis dan membaca

Ketiga : kemampuan mempersepsi dengan baik. Misalnya jika kemampuan di level sensorinya seperti pendengaran belum baik, ketika guru bilang suruh anak buka halaman 39, maka dia akan salah mempersepsi, didengernya halaman 93. Makanya perlu stimulasi sensory dulu.

 

Ingat ya, nggak perlu terburu-buru untuk anak berbuah. Ketika sensory sudah baik, sudah paham instruksi, baru anak bisa belajar secara mandiri.




Stimulasi kematangan sensory

Setiap stimulasi sensory kita cek mana yang belum berkembang dengan baik, karena kematangan sensoris pengaruh ke fokus anak. Misalnya anak duduk di zoom terlihat letoy, belum tentu anaknya ADD. Dilihat dulu satu-satu. Apakah ia bisa mendengar dengan baik?.

 

Ini adalah contoh stimulasi sensori ala Metode Montessori.

Stimulasi indera penciuman  : mencium beberapa bau, misal minyak wangi atau minyak kayu putih

Stimulasi Indera pendengaran : anak belajar mendengar berbagai botol dengan isi berbeda. Tanpa sadar hal ini juga menstimulasi fokusnya

 

Stimulasi indera penglihatan : misalnya mencocokkan bayangan. Kenapa hal ini penting? Karena ada kaitannya dengan kemampuan membaca. Kalo anak tidak punya kepekaan indera penglihatan, dia akan sulit membedakan huruf a-z.

 

Membaca itu kemampuan tingkat tinggi, jadi dimulainya bukan dengan mengenal huruf, namun mematangkan sensorisnya. Karena ini adalah modalitas belajar anak.


(Baca juga : Sensory Play Montessori)

 

Stimulasi Psikomotor

Ada kaitan anak yang belum baik psikomotornya mempengaruhi fokus anak. Contohnya apa? Jadi ternyata otak akan menangkap gerakan dari individu. Ketika gerakan posisinya kita tidur, otak menangkapnya “oh mau tidur” akhirnya mengantuk.

 

Ketika anak psikomotornya kurang terstimulasi, maka dengerin zoom badannya lesu, akhirnya belajarnya jadi nggak semangat juga.

 

Contoh stimulasinya :

Pertama jalan diatas garis dulu, jangan keluar garis, sampai kita naikkan levelnya di titian, terus dinaikkan levelnya menjadi garis zig zag.

 

Stimulasi koordinasi visual motorik

Agar sensori itu saling berkoordinasi maka perlu juga di stimulasi. Contohnya kita bisa berikan dengan kegiatan menuang, menyendok. Meski sederhana, kegiatan ini menstimulasi otot lengan. Termasuk gerakan dari kiri ke kanan, juga untuk persiapan menulis dan membaca membaca (kecuali bahasa Arab).


(Baca juga : Practical Life Skill Montessori)

 

Stimulasi Kemampuan Mempersepsi

Kemampuan persepsi ini penting karena anak butuh kemampuan memahami intruksi dalam belajar. Kita bisa menstimulasinya dengan aktivitas bermain. Bukan hanya ditanya-tanya mulu. Karena anak bakalan bosan.

 

Tanpa sadar banyak loh permainan anak yang menstimulasi kemampuan mempersepsi. Contohnya : lempar tangkap bola, meloncati garis atau tali, dan bermain bongkar pasang. Ketika anak bermain bongkar pasang anak akan berpikir “ini harus dicocokkan, maka dimasukkan sebelah mana,  sehingga membentuk sesuatu”.

 

Meski terlihat sederhana, ketika dilakukan teratur, akan menstimulasi kemampuan persepsi anak.

 

Mengantisipasi Tantangan Pembelajaran Online

Tantangan pembelajaran online dan solusinya

 

Masalah Kemandirian Belajar Anak

Kadang para dewasa berpikir, pembelajaran daring itu orangtuanya yang belajar, ortu yang nyetor tugas. Anak Menjadi bodoh karena online.


Eeeeiitttssss tunggu dulu...


Anak menjadi bodoh atau kita tidak mengantisipasi kemandirian belajar anak?

Konsep kemandirian anak karena apa sih? anak harus merasa berdaya dan merasa kompeten. Dengan kita memberikan “bantuan” yang dibutuhkan. Hal ini akan menghasilan anak jadi PD untuk belajar.

 

Bantuan seperti apa?

Yang pasti ketika kita melihat anak melakukan aktivitas menempel lama banget, jangan segera bantuin ngerjain. Big No.!!! Yuk kita kenali dulu level pemberian bantuan pada anak, seperti gambar dibawah ini :


presentasi Ibu Citrawanti tentang pemberian bantuan untuk anak usia dini


Paling bagus untuk menstimulasi kemandirian anak adalah dengan memberi bantuan secara verbal dan visual. Tidak full fisikal. Mungkin saya ibaratkan dengan ngasih klue nya gitu

Jika verbal, kita katakan “ituloh digunting dulu origaminya, pelan-pelan”, jadi anak berdaya dan kepercayaan dirinya meningkat karena berani mencoba.

 

Namun jangan cuma bilang ke anak “sana segera mandi lalu buka laptopnya” yang ada anak usia dini puyeng. Bagi anak usia dini, mandi itu pekerjaan berat loh. Mereka harus bangun dari tempat tidur, membuka baju, membasuh badannya, sikat gigi, banyak sekali tahapannya.

 

Lalu apa yang bisa kita bantu?

Ajarkan anak Sequencial (First-Then) alias memecah tugas menjadi bagian-bagian kecil. Kita bisa bikin kartu/gambar rutinitas. Kita jelaskan misalnya sekolah online dulu kemudian main balok. Jadi anak tahu step stepnya.

 

Perkembangan motorik halus dan motorik kasar

Di rumah ruang gerak terbatas, seperti nggak ada penugasan menulis. Jadinya anak jadi cepat nyerah kalo nulis. Disuruh nulis satu kalimat saja capek.

 

Dalam proses belajar ada 3 hal yang berpengaruh terutama pada motorik kasar yaitu :

1.       Postural Control

2.       Kekuatan dan Stabilitas Bahu

3.       Keseimbangan

 

Postural control


Adalah kemampuan mempertahankan tubuh untuk tetap stabil dan waspada. Kalo anak postur kontrolnya buruk maka dia bakalan menyangga kepala di meja, atau selalu butuh sandaran ke orang lain atau perabot, lalu tubuhnya lunglai, otak menangkapnya hal yang rileks, akhirnya anak ngantuk deh. Hoaaam. 

 

Bagaimana cara menstimulasinya?

Kalo ada ball gym, anak disuruh berdiri, tiduran di gym ball, dengan kepala hadap bawah. Atau juga anak diminta kepalanya hadap atas tapi kakinya tegak lurus.

 

Kekuatan dan Stabilitas Bahu

Punya kekuatan dan stabilitas bahu ini penting karena untuk duduk tegak, bahu nggak boleh meleyot. Kalo kekuatan ini nggak bagus, cirinya anak bakalan sering menyangga atau mengunci siku ketika bermain. Jika disuruh nulis bakalan lemah lengannya. 

 

Bagaimana menstimulasinya?

Orangtua mengangkat kaki anak dan anak diminta jalan dengan kedua tangan, atau permainan merangkak.

 

Keseimbangan

Ketika menulis atau mewarnai, penting juga nggak keluar garis, namun keseimbangan anak bagaimana? Kemampuan motorik halus ada tahapan sesuai usia anak.


sumber gambar : presentasi Ibu Citrawanti dalam zoom


Lalu, sebelum anak menulis huruf ada 8 bentuk dasar, yang harus dikuasai. Jadi jangan langsung menilai anak dislexia, karena jangan-jangan nulis dan membedakan bentuk dasar masih belum bisa tuntas.

 

Membangun Kemampuan Interaksi Anak

Kadang orangtua berpikir kalo sekolah daring gini anaknya nggak bisa bergaul. Sebenernya bisa kok, dengan cara :

 

Role Play

Role play adalah bermain peran. Misalnya kita jadi teman baru anak dan mengajarkan anak percakapan sosial

 

Membuat Social Script

Kalo sudah di role play kita bisa kasih pertanyaan “Kalo ada teman menyapa, bagaimana caranya”, “ kalo ada teman ingin kenalan bagaimana” dan percakapan lainnya.

 

Mengenal Konsentrasi Anak

Tiap anak punya interval konsentrasi. Semakin tua anak semakin terbangun konsentrasinya. Anak 5 tahun normalnya bisa fokus selama 10 menit.

 

Bagaimana meningkatkan konsentrasi anak saat belajar daring?

1.       Latihan motorik kasar

lihat postural kontrolnya


2.       Bagi tugas menjadi part kecil.

Bisa kasih kartu bergambar, tentang rutinitas, setelah ini ngerjakan ini.


3.       Tarik perhatiannya

Misalnya jika anak suka dino, ya berikan printable tema dinosaurus agar menarik anak untuk mengerjakan


4.    Mengerjakan mencocokkan bayangan

Kegiatan shadow atau mencocokkan bayangan bisa menstimulasi konsentrasi anak. Misalnya cari perbedaan bayangan.

 

Setelah semua dilakukan, jangan lupa untuk tetap komunikasi yang baik dengan sekolah. Jangan menuntut doang. Karena kunci kesuksesan pembelajaran daring pada masa pandemi adalah fleksibilitas dan komunikasi.





Tidak ada komentar