Ketika Anak Takut Eskalator dan Cara Mengatasinya

by - Minggu, Agustus 04, 2019


Sejak bayi sepertinya Luigi sudah jadi “anak mall”, terbiasa jalan-jalan berdua sama saya. Ketika Luigi bisa berjalan sendiri, lebih sering lagi ke mall. Kami tidak pernah sekalipun membawa stoller ke mall, jika capek ya gendong, ingin pindah ke lantai atas ya naik eskalator, kadang gendong, kadang ya berdiri sama saya.

Namun setelah usia 3 tahun, entah apa mulanya, Luigi sekonyong-konyong takut naik eskalator. Dulu jika ia merasa gugup, akan minta digendong terlebih dahulu saat pijakan pertama, dan minta diturunkan ditengah-tengah perjalanan eskalator. Tapi sekarang memandang eskalator dari kejauhan ekspresinya menjadi panik dan wajahnya pucat. Kemana “anak mall” Surabaya ini?

Sebenarnya saya tidak masalah membopong Luigi ketika naik eskalator, namun bebannya semakin bertambah jika membawa tas. Di mall Surabaya masih ada pilihan naik lift, kami bisa memilih masuk lift. 

Mempertahankan ketakutan atau membantu anak menyelesaikan masalah ‘eskalator’ adalah pilihan. Dan saya memilih membantu Luigi menyelesaikan masalahnya.

gambar diambil dari Canva dan diedit sendiri

***
Ketajaman Indera dan Editing Submodality
Manusia menyimpan memori dalam bentuk visual (gambar), auditif (suara) dan kinestetik (rasa dan penciuman) ((VAK)) yang disebut Modality. Bagian dari VAK disebut submodality. Rekaman submodality akan menentukan emosi yang muncul. Dengan mengubah masing-masing komponen ketiganya, bisa mengubah emosi terhadap sebuah memori. Jadi rekaman submodality kita susun ulang atau diedit pengalaman yang sudah tersimpan dibawah sadar.  

Saya pernah mencoba cara mengedit eskalator secara visual “yuk Lui kita kecilkan eskalatornya, eskalatornya tingginya seberapa, saya rentangkan tangan, segini? Kita kecilkan segini ya? (regangan tangan semakin dekat)”. Trus saya paksa langsung naik. Luigi tetap takut. (ternyata sebabnya karena emosi belum diselesaikan, saya bergegas “main suruh” saja, hiks). Setelah dievaluasi, ternyata saya editnya berdasarkan asumsi. Asumsi saya ketakutan Luigi pada eskalator adalah karena ketinggian. 


sumber gambar diambil dari : https://giphy.com/explore/panic

Ketika dirumah sambil ngobrol santai, saya tanyakan lagi “apa yang bikin Lui takut naik eskalator?” (ketajaman indera). Ternyata karena eskalatornya terlalu cepat jalannya. Hiyaa pantas cara pertama gagal (ya tidak sesuai substansi masalah). *ok maafin Mama

Lalu saya menggunakan cara mencari eskalator yang sepi (sebagai asumsi eskalator yang sepi, tidak dipakai orang, akan melambat. Ketika sudah dinaiki maka eskalator berjalan cepat). Di Gressmall dia mau naik eskalator karena melihat jalannya eskalator lambat sekali (iyalah mallnya sepi hehe).

Namun akankah menggunakan cara seperti ini terus? Menjawab masalah tapi tidak efektif. Emang mall selalu sepi, gitu? gak khan -.-

***
Balik lagi cara edit submodality. Kalo Lui ngerasa eskalatornya kecepetan, maka editnya secara visual. Kalo cepat, berarti lawannya dilambatin. Tapi gimana ya caranya menggambarkan Luigi yang tiga tahun gambaran slow motion. Jika menggunakan gawai, khawatir membuatnya salah fokus sama ponsel dan terfikir minta main youtube. Maka yang saya lakukan adalah :

Selesaikan emosinya
Saat ke mall dan dia takut naik eskalator, maka jangan saat itu juga dipaksa menyelesaikan dengan edit submodality, namun selesaikan dulu emosinya. Luigi khan masih merasa takut, obrolannya saat dirumah adalah “samakan perasaan”
Mama : “Pas lagi di mall, Lui kenapa ya gak mau naik eskalator?”
Lui : “Aku iki gak seneng Ma, eskalatore kecepeten”
M : “Hmm Mama ngerti Lui takut sama eskalatornya yang cepet. Hmm, Lui seneng main di mall?”
L : “he em”
M : “Gimana kalo Mama bantuin Lui bikin eskalatornya jalannya jadi pelan” “Biar kita bisa makin seru ngemallnya, naik lantai jadi gampang, gak susah nyari eskalator sepi di baju-baju” (baju-baju = maksud saya eskalator seperti di dalam Matahari lebih sepi, jadi jalannya lambat).
L : (mikir, kayak mencerna maksud saya)

Edit Visual Melambatkan Eskalator
M : “Lui bayangin kalo eskalatornya cepet Mama jalannya gini (memperagakan orang yang jalan cepat ditempat). Kalo eskalatornya lambat Mama jalannya gini (jalan kaki pelan-pelan) ((*pelan bahasa Jawanya=mlaku timik-timik)). Ok bayangin Lui lambatin eskalatornya dengan jalan timik-timik kayak Mama gini. Coba sekarang Lui jalan timik-timik kayak Mama .
((jalan pelan untuk menggambarkan slow motion))
L : (mempraktekkan)
M : “sekarang Lui pejamkan mata, dan bayangin eskalatornya pelan dengan Lui jalan timik-timik kayak tadi”. “gimana, eskalatornya pelan?”
L : “iyo Ma”
M : “Jadi, kalo Lui bayangin eskalatornya lambat, takut ndak?”
L : “tidak”
M : “nanti coba sama Mama ya”
L : “iyo”

Menceritakan kembali pemahaman edit submodality ada di video ini




Praktik Naik Eskalator setelah di Edit  
Jumat malam (2/8) Luigi saya bawa ke Plaza Gresik, untuk mengajak dia naik eskalator (tujuannya cuma naik turun eskalator). Saat itu jam menunjukkan pukul setengah 9 malam (sengaja memilih jam sepi Plaza). Didekat pintu masuk Plaza saya bilang ke Lui
“Lui kita akan naik eskalator, kalo Lui Mama gandeng, Lui gak takut”.

Mendekati eskalator, Lui jalan pelan-pelan (seperti saat dibriefing) dan melakukan pijakan pertama dengan seimbang. Dan untuk pertamakalinya setelah SELALU gendong naik eskalator, kali ini dia berdiri sendiri. Videonya naik eskalator disini, divideo dia bilang ini :
Lui : “aku gak takut Ma”
M : “oh Lui gak takut. Kalo Lui digandeng Mama, Lui gak takut ya”




Lalu saat sampai diujung eskalator kami berpelukan. Untuk turun, Lui sudah bilang diawal “Ma aku mau turun, tapi gendong dulu, trus aku ditaruh”. Saya bilang OK. Sepakat, tos. Ternyata saat eskalator meluncur Lui semakin mantap mengatakan “mudah Ma, kalo turun”
Video saat turun eskalator ada disini




Menanyakan perasaan setelah mencoba
“Gimana perasaan Lui naik dan turun eskalator? Takut apa tidak?”tanya saya “tidaaaaaaak”jawab Lui mantap.
Puji Efektif
“wah makasih ya, Lui sudah berani naik dan turun eskalator”, sambil peluk
Pasang anchor
“Ok lain kali, kalo Lui ditepuk pundaknya sama Mama seperti ini, Lui berani naik eskalator dimana aja”

Menumpuk dengan Pengalaman Membahagiakan
Tidak jauh dari eskalator Plaza Gresik, ada arena mainan pasir buatan. Karena Luigi senang main pasir, dan selepas mengalahkan ketakutannya, maka saya tumpuk dengan pengalaman senang dengan menawarkan “apa mau Luigi main pasir disini?” “mau mau” (jawaban yang sudah saya duga).

Ternyata karena kami ke Plaza sudah malam (sengaja nyari waktu eskalator sepi buat latihan), mainan pasirnya jam 9 tutup. Penjaganya bilang “maaf Buk, mainannya tutup 15 menit lagi”. Kubilang Luigi sambil memperlihatkan jam tangan bahwa jika jarum jamnya yang panjang di angka dua, Lui selesai ya mainnya, karena mbaknya mau pulang, mainannya tutup. Alhamdulillah dia mau. Sepakat tos.

Setalah saya ingatkan jarum jam yang panjang di angka dua, dia dengan ikhlas melepas semua mainan. Dan kami pulang tanpa drama.


meski sebentar karena sudah kesepakatan, jadi pulang dengan hati lapang

Membagi “Kue Yang Enak” ke Pak Bojo
Setelah dari Plaza Gresik kami pulang kerumah, dan saya langsung WA suami. Dibalas cuma “gak usah divideo, demi safety”. Eh iya, kubilang buat kenang-kenangan. Ok lain kali kalo diingatkan suami bilang terimakasih. Paginya suami baru tanya lagi, kogh bisa Luigi mau naik eskalator lagi? *ciiee akhirnya penasaran juga khan?

Briefing and Role Playing Menggunakan Eskalator
Saat saya dan Luigi naik eskalator malam itu, Luigi sengaja digandeng bersisian dengan saya untuk meyakinkan bahwa dia aman, ada saya disampingnya. Harusnya ketika naik eskalator bersama anak, anak didepan, orangtua menggandeng posisi dibelakang.

Bahan Briefing Naik Eskalator bersama Luigi
Kadang kita memandang anak sebagai orang dewasa yang dikecilkan, memandang anak-anak “harusnya” sudah fasih dengan diajarin sekali. Maka penting memberi wawasan mengenai eskalator dan cara aman menaikinya. Jadi ya ngobrol berdua sama Luigi. 

“Eskalator adalah mesin yang berbahaya jika Lui ndak hati-hati. Bagaimana cara agar hati-hati naik eskalator?”
“Luigi harus memakai sepatu dan kaos kaki sebelum naik eskalator”.
“Lui harus barengan sama Mama ketika menginjak eskalator pertama kali”.
“Mama beri hitungan 1,2,3, baru kaki diangkat dan naik ya.”
“Berdiri di garis aman (bukan garis kuning)"
"Selama di eskalator Lui hadap depan dan lihat kedepan” (meminimalisir rasa takut).
“Jika naik eskalator Luigi didepan, Mama dibelakang, tapi tetep gandengan”.
“Jika turun eskalator, Mama didepan, Lui dibelakang tetap gandengan sama Mama. Kalau turun, Lui digendong Mama dulu, baru diberdirikan lagi sama Mama.”


karena Luigi dalam masa peka terhadap simbol, saya sangat terbantu dengan gambar yang dia tanyakan ini. Dok pribadi

Bahan Role Playing Naik Eskalator
Karena dirumah Gresik kami gak punya tangga, jadi saya akan gunakan dua kursi. Kursi yang satu lebih tinggi, dan kursi satu lebih rendah. Mempraktekkan bagaimana berdiri depan belakang saat naik dan turun eskalator. Tidak berdiri bersisian, karena sebelah kiri eskalator untuk orang yang berdiri diam. Sedangkan sebelah kanan untuk orang yang naik eskalator sambil berjalan karena kondisi tergesa-gesa.

Moment Utilization dengan Gossip
Esoknya di siang Gresik yang panas (3/8) kami bertiga naik mobil ke Cerme Gresik. Saya bilang ke Ayahnya berbisik dengan nada yang bisa didengar Luigi.
“Ayah tadi malam ada anak yang berani naik eskalator loh, trus habis naik eskalator anaknya main pasir” kata saya dengan nada antusias
“oh iya ta Ma, wah pinter ya anak itu Ma” jawab Ayahnya bersemangat
Seketika Lui menyahut “arek itu aku Ayah, iku aku, iyo aku iki wani naik eskalator, tapi pas turune aku digendong Mama sek, trus ditarok Mama” (anak itu aku Ayah, iya aku berani naik eskalator, namun saat menuruni eskalator digendong terlebih dahulu, lalu ditaruh lagi sama Mama). MashaAllah senengnya mendengar ocehan Luigi siang itu.

***
Setelah menulis ini, saya ternyata menemukan istilah escalaphobia. Yaitu orang yang ketakutan luar biasa pada eskalator. Seperti sangat irrasional karena phobia seperti ini diidap oleh dewasa, bukan anak tiga tahun seperti Luigi.


sumber gambar diambil dari : https://giphy.com/explore/panic

Bahkan mereka lebih memilih naik puluhan anak tangga dan bercapek ria, daripada naik eskalator yang membuat panik. Ada juga orang yang dengan terpaksa, dengan muka penuh malu meminta tolong satpam Mall untuk mematikan eskalator terlebih dahulu, saat ia akan turun eskalator dan menuruni secara manual karena tidak menemukan lift.  

Saya menghela nafas panjang. MashaAllah. Membaca itu semakin menghayati bahwa ilmu yang saya pelajari di kelas EP dan TBS adalah alat yang memudahkan hidup. Terimakasih bu Okina Fitraini dan tim fasilitator atas segala guyuran ilmu selama ini. Nikmat Tuhanmu Manakah Yang Kau Dustakan?



Gresik, 3 Agustus 2019
Menulis adalah untuk mengingatkan diri sendiri
Menulis adalah sebagai catatan perjalanan peningkatan skill menjadi Ibu dan Istri





Baca juga cerita lainnya :


You May Also Like

0 komentar