Kamis, 16 Maret 2017

Serunya Menjadi DINK Family

Saya mengenal istilah DINK family ketika jalan-jalan berselancar di internet sampe nyasar di website (SINI). DINK merupakan singkatan dari Dual Income, No Kids. Seperti judulnya saya dan Adit pernah menjadi DINK family. Yap kami sama-sama bekerja dan memiliki penghasilan namun tanpa ada anak. Jadi, semenjak diajak menikah Adit, saya memang membuat kesepakatan padanya untuk menunda memiliki anak terlebih dahulu. Bayangkan usia 24 tahun, tau apa saya tentang hak dan kewajiban suami istri. Boro-boro hak dan kewajiban suami istri, rumah tangga gambarannya seperti apa, masing ngawang di otak saya. Yang saya tau, kalo menikah susah. Saya gak bisa jalan-jalan lagi. Udah itu aja. Cetek banget niiih pikiran ane. Haha. Sehingga DINK konteks kami, bukan karena kondisi. Melainkan karena pilihan dan kesepakatan kami berdua. Dan jika dihitung, kami menjadi DINK family selama 2 tahun 2 bulan sebelum akhirnya anak saya, Luigi lahir kedunia. Kami ingin-ingin sama-sama belajar dan beradaptasi dalam berumah tangga.



Ternyata banyak hal yang sangat berkesan buat saya, selama menjadi DINK family. Banyak hal yang bisa saya pelajari dan lakukan. Saya dan Adit adalah pasangan yang pacarannya (atau ta’arufnya atau apalah itu istilahnya) sedikit nekat. Saya dan dia bukan teman sepermainan yang kemana ada dia selalu ada aku *kayaknya kedengaran suara Bunda Maia nih*. Kami saling mengenal adalah ketika akhir semester perkuliahan. Tetiba setelah berkomitmen saya memilih bekerja di Jakarta sementara dia bekerja di Gresik. Sehingga LDR gitu deh. Sepulang dari Jakarta, saya pindah kerja di Babat Lamongan, sebelum akhirnya terdampar berjuang sendiri jatuh bangun di Bojonegoro. Barulah ketika saya kerja di Gresik komunikasi jadi lebih intens. Ketika baru saja memulai intens komunikasi, saya langsung diajakin nikah. *etdah *mimpi apa saya semalem *target nikah usia 27 kandas.

Otomatis yang sebelumnya saya PP Surabaya Gresik kala kerja, jadi pindah rumah di kontrakan imut nan pengab di Gresik. Hidup serumah berdua doang. Ini macam anak kelinci ditinggal induknya deh.*Nampak dramatis*. Darisanalah petualangan sebagai istri dimulai.

Pertama saya bisa mendalami sifat, dan belajar memahami, mulai kebiasaan kecil yang tak terlihat di masa pdkt. *hasyek
Misalnya nih, saya sih taunya dari cerita-cerita kalau dia telfon dan cerita kegiatannya. Teratur dan tertata banget, gak kayak saya. Dan ketika hidup seatap sama dia, saya kadang ngos-ngosan ngikutin ritme kerja dia. Mulai bangun sampai tidur lagi ditata detail. Sampe diatur jam nya juga. Darisana akhirnya penyesuaian kebiasaan, sifat, dan kesukaan.

Kedua pengen banget jadi istri sholehah (yang jadi perhiasan paling indah) *uhuk.  Maka saya juga pengen dong, masakin suami. Apah masak? Hus jangan ketawa. Saya ini ya, yang awalnya masak air aja bisa gosong, akhirnya bisa nyentuh dan bergelut dengan dapur juga loh. *mana tepuk tangannya?* Ya masak yang gampang lah, ayam dikasih tepung bumbu trus goreng, tumis kacang panjang wortel dan udang, dadar jagung, sayur sop, sambel terasi dan (haduh sambil mikir panjang) dan udah gak ada kepanjangannya lagi. *maaf lahir bathin mas suami* *kelebihan saya cuma gitu doang dalam masak memasak*. Tapi saya niat bener belajar masak, beli buku masak, eksekusi, sampe akhirnya tau jenis bumbu dapur. *prestasi

Belajar dunia rumah tangga
Banyak membaca buku dan kisah-kisah pernikahan. Buku tulisan Asma Nadia, Pipit Senja saya lahap aja. Apa sih hak dan kewajiban suami istri. Kita harusnya ngapain aja jadi istri. Gimana cara bikin suasana rumah jadi nyaman.

Belajar dunia per Ibuan
Saya jadi paham bahwa tes TORCH itu penting, saya tau bahwa saya punya CMV, saya ikutan join grup Rumah Ramah Rubella karena baca blog mami Ubii, saya jadi tau bahwa ASI itu luar biasa. Saya baca buku ASI dan belajar persiapan busui bekerja untuk kesuksesan ASI. Semua alat pumping ASI, Alhamdulillah sudah tuntas sebelum Luigi lahir. Dan ketika saya akhirnya melahirkan, saya jadi tidak mudah percaya mitos-mitos busui yang sering terdengar di kalangan para ‘orang tua’.

Belajar dunia parenting
Buku pertama yang saya baca adalah Baby Book. Ditulis oleh seorang dokter anak di bantu anak-anaknya yang juga dokter anak dan istrinya yang seorang perawat. Tau bagaimana teknis stimulasi anak dari buku-buku. Oh jadi anak bayi tuh ada tahapan pembelajarannya ya, dan kenapa penting stimulasi di masa golden age *sambil manggut-manggut

Mulai nulis blog
Saya itu dari SD punya buku Diary , tapi yang saya catat adalah tanggal-tanggal penting seperti kapan saya kena cacar air, saya suka telfon di telfon umum, saya ikut lomba menyanyi, gerak jalan dan senam SKJ. Nah giliran SMP hampir setiap hari saya catet tuh kejadian dalam hidup, sampe macemnya banyak. Kalo SMA saya nulis di file MS Word namun sayang banget ilang. Kuliah udah enggak pernah, cuma sering alay dengan nyetatus galau di FB. Barulah taun itu saya mikir gimana supaya catatan saya enggak ilang, blog lah jawabannya. Dari situ saya bisa banyak pandangan. Saya berselancar, jalan-jalan ke blog orang, baca kisah-kisah pernikahan orang lain, ada hikmah, ada perjuangan, jadi tau jatuh bangunnya seorang single parent, dalamnya luka hati akibat KDRT, dan bagaimana menjadi Ibu yang realistis.

Belajar merawat diri
Sejujurnya karena saya bingung, dikemanain gaji saya ini. Toh semuanya sudah dipenuhi Adit. Akhirnya sok sok an ke tempat perawatan wajah. Ternyata banyak banget aturannya, ada krim siang, itu masih di tambah sunblock, ada krim malam yang bikin tidur saya enggak boleh gerak ke kiri dan kanan. Cuma hadap langit-langit kamar. Trus sampe pada kulit saya mengelupas. Belum lagi sekali nebus krim dari dokter, yang entah itu dokter kulit apa cuman dokter umum, bisa ratusan ribu, bahkan bisa hampir sejuta. *gubrak* *menunduk lunglai di pojokan kasur*. Akhirnya saya memutuskan berhenti. Ikutan perawatan wajah gitu bukan saya banget. Saya tersiksa dan memilih jalur awal. Bedak Marcks tabur. *duta bedak Marcks. Dan tiap sore pulang kerja mampir ke tempat fitnes buat olahraga. Hidup sehat yang berefek menjadi semangat menjalani peran sebagai istri.

Jalan – jalan
Diantara semuanya ini yang paling berkesan. Bisa jalan-jalan haha. Diantara jadwal kerja yang padet, kami masih bisa ke :
Museum Angkut Batu, ke Tretes, ke Taman Safari Indonesia, Prigen Pasuruan, ke Madura, ke Djogja dan Magelang
saya pernah kurus haha


M
Dari jalan-jalan kami bisa kuliner. Dan Aditlah tersangka yang bikin gajih perut saya makin numpuk *sambil nutup pakai kerudung*

Membangun bisnis
Suami saya ini orangnya jiwa dagang. *meneladani Rasulullah :)* Selain ngantor kalo pagi, kami berdua membangun bisnis bernama Scudetto Sport Gresik yang menjual segala macam kebutuhan olahraga, namun yang paling banyak adalah serba serbi sepak bola. Memulai dari Nol. Mulai masang tempat majang kaos, beli manequin pakai motor dari Surabaya, mulai enggak ada yang datang kerumah buat beli, sampe akhirnya kelabakan karena banyak pembeli. Sampai akhirnya ada ide, mendirikan tim futsal putri yang memang belum pernah ada di Gresik. Antusias para peminat futsal putri sungguh diluar dugaan. Banyak banget. Sampe akhirnya pernah diliput oleh Jawa Pos. dan beberapa kali mengikuti pertandingan futsal di Surabaya dan sekolah Gresik.





Itulah serunya menjadi DINK family versi keluarga kecil saya. Masih ada hal lain seperti banyak menabung, kerja bakti rumah bisa tiap saat, Ngemall bisa seminggu sekali, belum lagi ke car free day dan car free night pada tahun baru di Surabaya. Ah seru banget masih berdua. Saya bisa mempersiapkan semuanya. Istilahnya ‘learning by doing’. Saya seneng akan keputusan menunda memiliki anak setelah menikah, namun saya lebih bahagia ketika akhirnya bisa bergelar Ibu. Lengkap sudah dunia ku. Dari DINK Family saya jadi tau bahwa rumah tangga adalah perjuangan, punya anak juga bisa di rencanakan, dan menjadi istri dan Ibu itu ilmunya banyak banget. 
Rabu, 15 Maret 2017

Ulang Tahun Pertama

Masih ingat pagi itu, rembesan air diantara kaki ku. Air itu terus keluar, bening, namun membuat aku dan Adit ketakutan. Bingung cairan apa ini? Sampai dengan sigap Adit membawa ku ke IGD RS. Petrokimia Gresik menggunakan motor dengan baju seadanya. Aku pun belum mempersiapkan barang apapun untuk melahirkan karena bukankah aku sudah janjian tanggal cantik dengan SPOG akhir Februari? Aku tidak merasa kesakitan. Saat itu suster/bidan mengatakan aku sudah pembukaan 1. Dan ketika itu aku dipaksa mengeluarkanmu dari perut pagi itu juga. Aku ketakutan. Aku dipersilahkan suster mandi, dan aku mandi lamaaaa sekali. Setelah mandi tanganku mulai di tusuk untuk memasukkan jarum infus. Ibu Bapakku mendampingiku. Dan dengan cepat aku sudah tiba di ruangan aneh. Ruangan bersih dan sangat dingin. Luas dan penuh dengan lampu yang menyorot hebat bola mataku. Aku tak berdaya ketika tanganku di pasung. Kakiku tak bisa di gerakkan. Aku pasrah. Dan suara tangis itu masih bisa kudengar sampai hari ini jika memejamkan mata. Seorang makhuk kecil bernama Luigi Kautsarrazky lahir dengan selamat. Bayi nan imut dengan berat 2,5 kg, yang selama 38 minggu bersamaku dalam suka dan duka. Oh saat itulah semesta berpihak padaku. Aku lahir sebagai perempuan dan hari itu aku terlahir kembali. Aku terlahir kembali menjadi seorang bernama Ibu. Tak perlu kuceritakan bagaimana nyut-nyut nya setelah cairan bernama bius itu menguap dari tubuhku. Perih, terbatas namun bahagia. Prestasi terbesarku adalah dengan cuti 23 hari, aku bisa memberinya ASI Eksklusif dan di lanjutkan 4 bulan kemudian.
-----
Setahun kemudian
-----
Pagi itu ia bangun dengan ceria, tau bahwa ini adalah hari ulang tahunnya yang pertama. Adit sudah merancang sebuah perayaan sederhana dengan membawa serta Ibu Bapakku dan keponakan ke Batu. Tujuan kami adalah ke Batu Secret Zoo. Ketika turun dari mobil, dia sangat antusias. Anak kecil ini berdiri di stoller sambil cekikikan. Ia menikmati setiap perjalanan mengenal satwa-satwa yang selama ini hanya Ia lihat di Discovery Channel dan puzzle knop yang aku siapkan untuk mengisi waktu bermainnya. Ia sekarang tau wujud Gajah, wujud Jerapah, dan hewan-hewan lain yang juga masih asing di telingaku.



Hai Luigi,
lelaki yang menjadikanku seorang Ibu. Ibu tidak pernah meminta pada Allah Luigi lahir dari perut Ibu yang mana, dan Luigi pun tidak bisa memilih menginginkan dilahirkan Ibu yang seperti apa. Namun Allah dengan sunatullahnya yang canggih telah mempertemukan kita pertama kali di ruangan dingin saat IMD. Saat itulah aku menjadi sempurna. Tuntas segala bahagiaku.

begitu nyampe di Batu Secret Zoo, Luigi, keponakan dan aku


Hai Luigi,
Mungkin kamu akan banyak membaca tulisan-tulisan Ibu tentang kamu, semuanya penuh perjuangan. Namun Ibu tidak menganggap itu adalah hutang yang ketika kamu beranjak dewasa, kamu wajib mengganti nya buat Ibu. Mengganti dengan wujud yang lain. Tidak, Nak. Bukan. Yang Ibu lakukan adalah menjaga amanah Allah dan Ibu merasa, Ibulah yang butuh merawat Luigi. Ibulah yang butuh menyusui Luigi. Dengan merawat Luigi aku merasa menjadi Ibu. Ketika menyusui Luigi, Ibu merasa dicintai. Dengan sorot matamu yang tajam, dari lemahnya dirimu membuat Ibu ingin bisa dekat Luigi dengan menyusui.

Hai Luigi,
Selama ini Ibu hidup dengan pasukan gerombolan alat pumping, ada malam-malam Ibu hanya tidur 2 jam saja, atau tidur sebentar-sebentar. Semua untuk memastikan esoknya ada yang diminum buat Luigi. Namun maafkan Ibu. Ibu hanya mampu memberimu ASI hanya sampai usia 10 bulan hidupmu. Ketahuilah bahwa Ibu tidak jahat padamu. - Yang jahat cuma Rangga di film AADC 2 - . Perjuangan Ibu terhenti karena tidak ingin mendholimi mu. Bagaimana mungkin ASI yang setetes ini di paksakan diberikan padamu sementara kamu hanya tau bahwa perutmu kenyang. Entah susu sapi atau susu Ibu kamu taunya perutmu terisi. Tidak ada drama penyapihan diantara kita karena setelah MPASI pun kita jarang bertemu. Kadang seminggu 2 kali aku bisa tidur bersamamu.

Hai Luigi
Diusia mu yang satu tahun ini, kamu sudah mulai belajar trantanan, merangkak udah makin gesit, ngomong masih babling, paling suka mencari cicak dan bilang cak cak sambil lihat ke atas tembok, mengerti siapa orang rumah, namun masih ketakutan kalau Ibu memakai mukenah untuk shalat. Dan sampai dengan detik ini Luigi menjadi anak baik dengan tidak pernah Gerakan Tutup Mulut (GTM). Makan apa aja mau, rawon daging, gule, kare, soto, sayur sop, sayur bayam, bakso dan lontong, bahkan tahu campur. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?. Setiap bangun tidur, kamu arahkan tanganmu untuk memukul pipi Ibu. Membangunkan Ibu untuk Shubuh. Kamu berdiri di pojok kasur sambil ngomong dengan bahasamu. Yang sejujurnya Ibu juga tidak paham. Yang Ibu mengerti bahwa Luigi sedang belajar mengekspresikan emosi. Mungkin maksudmu bersyukur pada Allah masih di beri umur di pagi hari.

Doa Ibu semoga Luigi sehat tidak hanya fisiknya namun batinnya. Luigi bahagia dengan hari-hari bersama orang-orang yang baik dan sayang padamu. Semoga Luigi tumbuh menjadi pribadi yang baik hati juga rendah hati. Kejarlah segala impianmu, tugas Ibu memfasilitasi proses belajarmu. Jangan pernah berhenti belajar, teruslah berusaha dalam setiap kegagalan. Termasuk proses belajar berjalanmu. Ibu tidak pernah memaksamu. Sebagai hadiah Ayah sudah membelikan alat bantu jalan diskonan yang kami beli di Mothercare *pertamakali Ibu menginjakkan kaki ke Mothercare *norak ya. Lucu banget bentuk Lion. Hal yang paling Ibu syukuri di dunia ini adalah menyaksikan perkembangan mu satu per satu. Ibu bersyukur dipercaya Allah memiliki mu.


Luigi bersabarlah, Nak. Akan ada masa Ibu akan membersamaimu 24 jam. Mengajarkan isi semesta, mengenalkan pemiliknya yang Maha Perkasa, menceritakan lelaki tangguh no 1 dalam 100 tokoh paling berpengaruh di dunia bernama Muhammad, seorang wanita hebat bernama Asiyah, dan manusia super lainnya. Yang namanya tertulis dalam sejarah. Mengambil pelajaran hidup mereka yang luar biasa.




Selamat ulang tahun yang pertama ya, Nak. Satu pegangan Ibu dalam mendidikmu, seperti puisi karya Kahlil Gibran

Anak adalah kehidupan,
Mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal Darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan Pikiranmu
karena mereka Dikaruniai pikiranya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
Karena jiwanya milik masa mendatang
Yang tak bisa kau datangi
Bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah

Menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
Tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur,
Dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu meleset,
jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita
Dalam rentangan Sang Pemanah,sebab Dia
Mengasihi anak- anak panah yang meleset laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap
Kamis, 09 Maret 2017

Arti Sebuah Komitmen dalam Sebuah Hubungan

Wah rame banget di timeline facebook dan IG mengenai cerita Selma dan putra bungsu Amien Rais bernama Haqy. Kalau belum pada tau bisa baca di (SINI). Nah dari cerita Selma yang di kasih hesteg #SelmaHaqyJourney tersebut, banyak di share di berbagai media online. Macem-macem sih ngambil sudut pandangnya. Ada yang sampe trenyuh gitu bahasanya. Sementara para netizen pun banyak yang komentar, ada yang pro dan ada yang kontra terhadap keputusan Selma. Yang pro bilang mendukung Selma berani ngasih keputusan iya sama seseorang yang mau ngajak nikah duluan. Yang kontra bilang Selma mengkhianati pacarnya. Ada yang menyoroti bahwa impian Selma menikah muda layak di acungi jempol, dan ada yang kasian sama pacar Selma yang diputusin. (dan akhirnya banyak yang kepo siapa pacar Selma yang di Malang itu, eaaaa) Saya sih enggak akan cerita mengenai kisah Selma, karena aku mah apah atuh. Cuma saya ada uneg-uneg mengenai seberapa besar arti sebuah komitmen dalam sebuah hubungan?

gambar diambil dari : dream.co.id

Saya pernah menjalani hubungan jarak jauh juga seperti Selma, saya di Jakarta sementara Adit di Gresik, Jawa Timur. Saat itu kami berkomitmen untuk membawa hubungan kami pada tahap yang serius. Dan saya manggut-manggut tanda meng iyakan, meski saya tidak mengenal Adit sebelumnya. Saya mengenalnya dari hubungan jarak jauh ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komitmen/ko·mit·men/ n adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Menurut Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) komitmen merupakan nilai sentral dalam mewujudkan soliditas organisasi. Hasil penelitian Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) tentang komitmen organisasi mendapatkan hasil :
1.    Komitmen tinggi dari anggota organisasi berkorelasi positif dengan tingginya motivasi dan meningkatnya kinerja;
2.    Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kemandirian dan “Self Control”;
3.    Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kesetiaan terhadap organisasi;
4.    Komitmen tinggi berkorelasi dengan tidak terlibatnya anggota dengan aktifitas kolektif yang mengurangi kualitas dan kuantitas kontribusinya.

Berarti dapat saya simpulkan bahwa, komitmen (konteks) sebuah hubungan (antara perempuan dan laki-laki) adalah perjanjian untuk melakukan sesuatu antara dua belah pihak. Komitmen dalam sebuah hubungan memang tidak tertulis, namun komitmen membuat pasangan termotivasi dan setia bahkan senantiasa berkontribuasi satu sama lain baik secara kualitas ataupun kuantitas.

Kembali ke cerita saya, ketika di Jakarta saya secara tidak sengaja bertemu kembali dengan seorang yang saya kagumi sejak SMA. Kami sama-sama saling suka sejak MOS namun tidak sempat menjalin hubungan karena sesuatu hal. Lalu kami putus komunikasi karena dia kuliah negeri di luar kota. Ketika bertemu di Jakarta, saya merasa berbunga-bunga. Tetiba saya jadi intens komunikasi sama dia. Bagaimana tidak, dialah seseorang yang saya impikan akan menikah dengan saya. Mungkin karena cinta SMA memang bisa aja di bilang cinta monyetlah, masih emosional lah, jiwa labil lah, namun kenyataannya kekaguman saya sama dia tidak pernah berubah. Dia pun mengajak saya jalan-jalan, dan saya mengiyakan. Saya masih ingat Adit dan cinta sama dia, tapi bertemu lagi dengan seseorang sebut saja Boy, membuat saya tak kuasa menolak ajakannya.

Kita pernah jalan ke tempat para satwa bersama teman-temannya, kami di foto-fotoin pula sama teman kerja Boy. Saya juga pernah samperin dia di depan kosan bawain kue, dan diapun pernah saya ajak ke tempat kerja saya saat itu. Saya bilang, kamu akhirnya tau, saya sibuk apa sekarang. Dan dia mau mendukung. Saya di ajak nge mall, makan dan ini persis seperti kisah Selma yang diajakin jalan sama Haqy. Boy sangat perhatian, tidak berubah sejak kami pakai seragam abu-abu. Lalu tibalah di mall Ambassador Kuningan, ketika dia mengajak buka puasa di Hokben, kata yang saya tunggu bertahun-tahun muncul juga dari mulutnya. Dia nembak saya. Dooooor.

Saya menantikan kata ini bertahun-tahun. Siapa yang tidak mau dengan Boy, cowok impian saya, berprestasi di sekolah, idola para guru (dan saya) juga sudah bekerja mapan yang ia dapatkan dari berbagai rangkaian seleksi yang sangat ketat. Dia lah pujaan hati saya. Dalam hati saya mau bilang iya. Namun, inilah yang saya katakan padanya (intinya ya):
"Jujur, Boy adalah harapan aku selama ini, dan kata barusan adalah impian aku sejak kita sekolah, namun maaf banget boy, karena sejujurnya aku sudah memiliki orang lain".
Dia diem sambil kita teruskan buka puasa kita.

Dan sepanjang kita jalan di mall Ambassador pikiran ku melayang ke Adit, sejenak berfikir Adit tapi mikir lagi khan ini cowok impianmu udah di depan mata, dan yang bikin aku makin merasa bersalah adalah ada embun di matanya yang siap terdorong jatuh, namun ia tahan paksa.

Bohong lah kalo bilang perasaanku gak ada ke Boy, tapi aku inget, aku sudah komitmen dengan seseorang nun jauh disana, Adit.

Bedanya Boy dan Adit tidak segera mengajak menikah, dan secara hukum aku belum ada ikatan sah dalam pernikahan. Kata wong Jowo khan janur kuning belum melengkung. Namun, ada yang lebih penting dari itu semua. Yakni s e t i a . Dan akhirnya aku lebih memilih setia. Makanya aku menghayati banget ketika ngedengerin lagu Fatin Shidqia – Aku Memilih Setia

Yaelah Septi kenapa enggak nerima Boy aja sih udah di depan mata. 

Saya mendefinisikan komitmen adalah sebuah JANJI dan janji tersebut disepakati kedua belah pihak, dan kedua nya sama-sama sadar atas terikatnya mereka dalam suatu perjanjian. Namanya janji bukankah harus di tepati? Saya tau bahwa saya melakukan kesalahan dengan tetap mau diajak jalan sama Boy, namun saya sadar saya janji pada hubungan kita, aku dan Adit. Dan komitmen memang idealnya di jalani dengan keterbukaan. Sayapun jujur juga ke Adit kalo saya keluar sama Boy, dia marah namun menyadari saya khilaf. Dan terakhir komitmen dijalani dengan konsisten. Inilah yang susah ya. Konsisten sama janji yang kita buat berdua.

Jika memang ada orang yang mengganggap bahwa gak papa khan kamu belum dinikahi, secara hak dan hukum khan belum ada apa-apa. Tapi saya berpendapat sebaliknya. Bahwa saya sangat menghargai komitmen dalam sebuah hubungan, meski MASIH dalam tahap pacaran atau ta’aruf atau apapun istilahnya itu .

Saya LDR juga karena saya yang memilih LDR, jika saya sudah memilih Adit berarti harusnya enggak boleh membandingkan lagi. Meski ada yang lebih baik. Karena ketika kita memutuskan memilih, maka saat itu kita telah mempertimbangkan secara rasional dan perasaan. Makanya saya baru deket sama Adit adalah semester delapan *emang ada hubungannya*. Tapi saya juga enggak boleh berlebihan dengan bilang bahwa Adit adalah hamba Allah yang terbaik karena dia juga manusia biasa. Bukankah kami sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing?.

Saya membayangkan bagaimana jika Adit yang ada di posisi saya, saat itu. Dia yang CLBK. Ya sah-sah aja sih. Saya cari ganti Adit dengan segera dong *buset dagh* *hihihi*

Namun dalam hati saya, komitmen = janji dan janji adalah sakral. Karena komitmen adalah kekuatan. Dengan komitmen kami bisa bersama selama hampir 3 tahun sebelum akhirnya menikah, dengan komitmen akhirnya kita belajar sabar, dengan komitmen kita tau arti kesungguhan. Kesungguhan untuk saling memperjuangkan dan menjaga, dan komitmen inilah yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita. Dan satu lagi, dengan komitmen kita bisa saling belajar dan mengenal.

Dan akhirnya aku dan Boy sudah sama-sama berkeluarga. Dia bahagia dengan keluarganya dan sayapun begitu. Saya bahkan menghadiri pernikahannya dan Adit turut serta, Adit pun tau siapa yang ada di pelaminan ketika itu. Aku juga tidak pernah menyesal komitmen yang juga LDR dengan Adit, karena meski menjalani LDR yang tidak sebentar toh dia akhirnya menikahi aku di usia yang baru menginjak 24 tahun. Padahal aku punya target menikah usia 27 dan memiliki anak usia 30 taun.

Jadi titik tekannya :
Janji tetaplah sebuah janji
Dan hargai kesepakatan itu dengan keterbukaan dan konsisten

Namun bukan berarti komitmen itu selalu lurus, komitmen juga bisa berubah, tapi yang berubah adalah derivasi perilakunya, teknis perjanjiannya, bukan pondasi janjinya.




Buat mba S selamat ya akhirnya tercapai impiannya menikah muda. Gara-gara kamu aku jadi nulis gini. Kalaupun mba akhirnya memilih mas H, itu urusan mbak dan enggak ada sangkut pautnya sama saya. Seperti diatas, saya hanya menyampaikan uneg-uneg berdasarkan pengalaman :) Xoxo


Sumber referensi tambahan :
mengenai komitmen

Selasa, 07 Maret 2017

6 hal mengenai etika menjenguk bayi baru lahir

Banyak berita kelahiran, hasyeek senang sekali mendengarnya. Terlintas seperti baru kemaren saya kesakitan nan bahagia di Rumah Sakit sesaat setelah melahirkan Luigi. Selain mempersiapkan kado buat Ibu atau bayi, yuk ah intip hal yang juga penting mengenai etika menjenguk bayi. Jangan sampai kita yang sebagai tamu malah nyusain Ibu nya ya hihi.


Waktu menjenguk

Saya sudah bilang Adit, sesaat setelah secar maunya leha-leha dulu di Rumah Sakit, menambah biaya kamar dan perawatan tidak masalah. Minimal seminggu. Kenapa? Ya karena saya secar. Supaya bisa belajar bangun dari tempat tidur, duduk, dan berjalan *ini sis yang susah*. Dan Adit setuju. Namun ketika suami sudah publish bahwa saya melahirkan, di Rumah Sakit pun akhirnya banyak yang berbondong-bondong datang jenguk saya. Saya senang dikunjungi, merasa ada teman, merasa banyak yang perhatian sama kelahiran Luigi. Namun sebagai seorang Ibu baru (dengan anak pertama) masih butuh proses pemulihan, butuh proses adaptasi terutama cara menggendong dan posisi pelekatan dalam menyusui. Dan itu enggak mudah ketika saya pun harus juga berusaha belajar duduk, berdiri dan berjalan. Sehingga masih butuh bulan madu alias berdua-duaan dengan bayi. Butuh waktu saling mengenal masing-masing. Butuh bonding. Sehingga menurut saya, tak apalah kita bukan yang pertama yang menjenguk bayi sahabat kita, tak mengapa. Tidak mengurangi rasa perhatian kita. Ibu (baru) hanya butuh penyesuaian. Apalagi kalau bayinya nangis aja, dan kita belajar menyusui, begadang yang bikin capek, sementara tamu terus menerus datang di Rumah Sakit, lalu Ibu baru merasa “sungkan” mau bilang “permisi saya mau menyusui”. Nanti mereka membatin aih diusir secara halus nih. Hadeeeh susah juga ya. Sehingga, menurut saya tanyakan kapan waktu yang tepat untuk berkunjung, supaya Ibu bisa mempersiapkan diri atau tunggu ‘lampu hijau” mungkin kita bisa menjenguk bayi setelah ibu dan bayi pulang kerumah. Bagi saya itu menandakan sang Ibu sudah dalam kondisi baik.

Durasi

Karena cuti saya pendek, saya pengen nyampe rumah bisa segera nabung ASIP. Sehingga di sela menyusui dan menemui para tamu, saya masih bisa pumping ASI. Ternyata ada seorang yang menjenguk saya dari pagi sampe sore menjelang mahgrib. Ngajak ngobrol ‘ngalor ngidul’ kayak kita sedang ‘ngafe’ dan ini orang yang sama *etdah*. Menurut saya sih kalau konteksnya begitu membuat fisik Ibu semakin lelah, dan bisa bikin Ibu sedih sendiri. Sedih karena biasanya pagi hari sangat hectic, mulai memandikan, menyusui dan jemur bayi, di sela-sela waktu siang bisa berduaan dengan baby, sedih harusnya dia mendapat minimal setetes, dua tetes ASIP buat di kumpulkan. Sehingga saran saya durasi dalam menjenguk bayi adalah seperlunya. Enggak ada patokan berapa lama dan berapa jam, namun kita TD aja alias tau diri. Eh iya gak sih?

Sehatkah kita?

Bayi baru lahir itu imunitasnya masih sangat amat lemah. Sehingga pastikan kita tidak sedang sakit menular, misalnya pilek, batuk, bersin-bersin. Kalau flu mana bisa di tahan kalau mau pilek dan bersin.  Gimana kalau bersin tapi khan pakai masker? Hmm, gimana ya? Lebih baik keluar dulu di teras rumah, kalau ngerasa belum baikan, segeralah ijin pamit. Berfikir positif aja ya.  

Jangan asal gendong, sentuh dan cium

Kita yang Ibunya aja hati-hati ya dalam gendong bayi, jangan sampai kita udah gendong bayi orang sementara tangan kita belum suci *eh belum cuci tangan ding*. Itu tangan setelah nyetir motor bawa kuman atau virus apa kelihatan mata ya? *sambil mikir*. Apalagi ada aja orang yang ber-hasrat cium mulut atau area wajah bayi. Wuih ini yang bahaya ya. Menurut dr. Theresia Adhitirta di (sini), mencium bagian pipi bayi menyebabkan penularan penyakit melalui percikan ludah dan menyebar di udara sehingga terhirup oleh bayi. Bahkan menurutnya lagi, kebiasaan mencium ini berpotensi menyebabkan bayi terkena penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD), yaitu sekelompok penyakit infeksi seperti radang paru, infeksi darah dan radang selaput otak. Dan penyakit ini penyebab kematian tinggi dan kecacatan pada balita hingga 50%. Ngeri ya?

Jadi mending liat aja dan kalaupun keinginan men cium bayi sangat mendalam, ciumlah kaki nya. InsyaAllah masih kerasa kogh bau bayinya.
Kalau ingin gendong, ijinlah. Biar sama-sama enak, dan demi kenyamanan bayi juga.

Memfoto menggunakan blits dan posting

Jika memang sudah ijin orang tua nya mah monggo. Tapi kita harus empati, tidak semua orang tua mau mem-publish foto wajah anaknya apalagi dalam keadaan jelas wajahnya. Beberapa orang tua dengan pertimbangan keamanan, tidak pernah mempost foto anaknya di media social manapun. Kalaupun di posting biasanya di blur atau ditambahkan sticker. Dan sebagian orang tua menganggap foto anak adalah privacy. Eh ini beneran, saya punya temen blogger yang anti banget posting foto wajah anaknya. Penyanyi Anggun C. Sasmi sampai anaknya gede gini, juga tidak pernah 'pamer' anaknya. Kalaupun ingin di post, Anggun lebih menggunakan angel dari belakang atau tampak samping. Bahkan memainkan pencahayaan foto agar wajah anaknya tidak terlihat jelas.
Nah jangan sampai kita datang sebagai tamu, enggak ijin, tetiba moto dan menggunakan blits disaat mata bayi masih sensitif  *ini saya taubat, maaf mba helen* :'( kemudian asal kita share aja di medsos. Kalau saya sih, jika memang sudah seijin kedua orang tua nya apalagi Ibunya, share aja yang banyak. Apalagi misal kita jenguk cucu raja Salman, sekalian numpang tenar geto ketika share di Instagram. *uhuk*

Banyak komentar mengenai

·      Tuh anaknya rewel aja, ASI nya enggak cukup tuh. Ada lagi temen kantor Adit yang bilang “udah dibelajarin pakai susu botol (formula)? Di belajarin pakai susu botol biar gizinya lengkap, semuanya dapat.”
·      Bedongnya kurang kenceng, biar kakinya lurus, entar kalau gede enggak bengkok
·   Dikasih gurita dong biar perutnya ramping. Ketika tau Ibu saya enggak makein gurita “Loh minimal 40 hari di pakein gurita, jangan macem-macem sama omongan orang tua” lalu Ibu saya ngerasa bersalah, dan makein gurita lagi. Padahal sejak di rumah sakit Luigi enggak pakai gurita.
·      Enggak cocok ASI nya tuh, gumoh terus
·      Kalau njemur tuh semua bajunya dilepas semua biar telanjang bulat. 
     *hadeh bisa gosong anak gue, padahal dia enggak ada target tanning kulit sis*
·      Wah enak ya secar, bisa duduk bersila kayak gitu *iya saya menyusui dengan bersila*, aku DULU setelah lahiran duduk harus lurus kedua kakinya, enggak boleh nekuk, nyut-nyut rasa jaitannya, dan kelahiran anakku DULU prosesnya sampe hampir 24 jam nunggu dia nongol kedunia. Kalau secar enggak sampe se jam udah keluar bayinya, gak lama-lama ya sakitnya. 
    *mau bertukar di posisi saya?*
   *yang ngerasa komen lebih hebat jadi Ibu karena dia melahirkan per vaginam hempas manjah aja say*
·      Susu nya apa, susu ibunya apa susu sapi? *ini pertanyaan mengarah kemana?* *sekedar kepo, apa karena dia bisa membanggakan diri di depan Ibu karena dia bisa ngasih ASI ke anaknya?* *Mau belikan susu sapi nya jika memang beneran minum susu formula?* Tidak kah kita empati, banyak loh ibu-ibu setelah kelahiran ASI tidak langsung lancar ASI nya, padahal dia sudah berusaha mati-matian supaya ASI nya keluar, mulai makanan sampe pompa per 2 jam*
·      Naik berapa kilo niih, lebih berisi lebih kelihatan seger ya? *busui rawan ngamuk kalo di sentil mengenai ini* Xoxoxo :D
·      Anaknya imut, kecil dan mungil *emang kenapa kalo anak saya 2 setengah kilogram? Mau kamu sebul biar gede?*

Sodara sekalian plis buang jauh komentar enggak penting kayak gini, karena enggak bakal kita tambah kliatan pinter dan dipuji sang Ibu. Ibunya malah gengges gemez pengen ngruezz. *piisss ya* :D Pengalaman saya setelah melahirkan jadi sangat sensitif sehingga mudah marah karena sering denger komentar orang seperti ini. Mungkin efek lelah begadang juga ya. Iya beneran saya enggak bisa bobok syantik lagi. Sehingga menurut saya, jika menjenguk duduklah, berilah selamat dan tunjukkan kebahagiaan dan dukungan atas kelahiran bayi Ibu yang penuh perjuangan. Kalaupun mau ngasih masukan, yah tinggal nada bicara nya yang diperhalus dan mimik muka yang bukan ‘sok tau’. Iya beneran beda loh, orang yang tulus memberi bantuan berupa saran ilmu (ilmiah), dengan member Perkemi (Persatuan Kemeruh Indonesia). 


Seorang busui yang mencoba empati Ibu baru
Gresik, 07 Maret 2017
23.00 WKS