Sabtu
(9/3) langit sangat cerah, aku melajukan sepeda motor menuju perpustakaan Balai
Pemuda Surabaya. Tujuanku kesini adalah menunggu seorang kawan untuk berkunjung
ke Pondok Pesantren al Fithrah. Dari yang aku baca dari laman islamidia
disebutkan bahwa Pondok Pesantren al Fithrah merupakan 1 diantara 15 Pondok
Pesantren yang terbaik dan terfaforit di Jawa Timur yang terkenal hingga
mancanegara. Hal itu tentu sangat menarik disambangi. Tau gak kenapa? Yang pertama
karena aku belum pernah mengetahui seperti apa kehidupan santri di pondok.
Apakah mereka terpenjara?
Apakah mereka kenyang makannya?
Apa mereka bahagia
dan apa impian mereka kelak sampe harus bersekolah
khusus di sebuah ponpes dengan segala dinamikanya?
Tidakkah kangen dengan orangtua dan nyamannya
kasur dirumah? (yaelah pertanyaan ini kayaknya buat aku deh wkwk)
Alasan yang
kedua adalah ponpes ini ada didirikan oleh ulama kenamaan (alm) KH Asrori. Konon
namanya dikenal tidak hanya seantero Surabaya saja, namun dalam dan luar
negeri.
Setelah menunggu sebentar di perpustakaan, kami semua berangkat menuju lokasi. Bertempat
di akses utama menuju jembatan Suramadu, yakni jalan Kedinding Lor, kami tak menemukan
kesulitan yang berarti diperjalanan. Sesampainya didepan masjid ponpes, sebuah masjid
megah nan luas berkubah biru, kami berhenti sejenak. Mengamati beberapa orang
sedang memasang tiang-tiang besi. Kami menduga ponpes akan mengadakan acara.
Akhirnya
kami menuju dapur dan berniat ingin melihat bagaimana santri makan rame-rame. Jam
menunjukkan pukul 11.00, tidak lama untuk kami menunggu santri menuju dapur
makan. Ada seorang petugas yang berbaik hati menjelaskan setiap detail pertanyaan
kami, mulai pertanyaan penting, sampe pertanyaan receh hehe.
![]() |
baru ngeliat wajan segede ini :D |
Saat menuju dapur proses memasaknya sudah selesai, jadi kami melihat gundukan nasi dan lauk. Aku hampir tidak bisa mengedipkan mata karena melihat ukuran wajannya yang gede banget.
Diameternya kira-kira 1 meter, dan lauknya penuh dalam besarnya wajan. Belum lagi ketika melihat panci sayur yang gak kalah gedenya. Kira-kira diameternya juga hampir 1 meter.
Sudah bisa bayangkan segede apa? Yang pasti aku gak bisa bayangin ngangkatnya gimana, wkwk. Kenapa ini yang aku pikirin sih. Pikirin bantu tim masaknya dong, duhkah. Oh tydac !!!
![]() |
petugas dapur yang membagi talam dan mengguyurkan sayur |
Ok kembali ke suasana dapur. Seorang petugas menjelaskan kepada kami bahwa inilah makanan santri pondok. Jadi pemandangan di wadah makan adalah tahu dan tempe. Panci yang gede tadi isinya sayur bening. Wajan jumbo yang saya sebutkan diatas isinya tumis tempe dan tahu.
“Oh, dimana protein hewaninya guys?” ucapku dalam hati. Ternyata ya seperti itulah menu utama sehari-hari santri, lauk tahu dan tempe dicampur sayur juga nasi putih. Ah nikmatnya, lauk kesukaanku.
Ada hal
lagi yang unik selain peralatan masak dengan ukuran besar, yakni tempat makan
santri. Mereka bukan menggunakan piring yang dibagi satu persatu santri, namun
menggunakan talam.
Talam ini menurut saya sejenis baki (emang baki sih), terbuat dari besi tipis berbentuk bundar. Motif talam cakep banget, bunga-bunga. Ukurannya kira-kira 30-40 sentimeter. Satu talam isinya dua iris tempe, dua iris tahu, secentong sayur, satu sendok teh sambal dan dimakan untuk empat orang. Cara makannya tanpa menggunakan sendok, alias muluk pakai tangan. Sungguh sederhana namun penuh kebersamaan.
Talam ini menurut saya sejenis baki (emang baki sih), terbuat dari besi tipis berbentuk bundar. Motif talam cakep banget, bunga-bunga. Ukurannya kira-kira 30-40 sentimeter. Satu talam isinya dua iris tempe, dua iris tahu, secentong sayur, satu sendok teh sambal dan dimakan untuk empat orang. Cara makannya tanpa menggunakan sendok, alias muluk pakai tangan. Sungguh sederhana namun penuh kebersamaan.
![]() |
tumpukan talam |
Setelah shalat dhuhur, para santri kembali ke kamar untuk minimal ganti baju. Kemudian menuju dapur pondok. Karena satu talam untuk empat orang, maka perwakilan kelompok mereka mengantri mengambil talam dengan selembar karcis. Satu persatu baris berjejer rapi. Tak terlihat satupun pemandangan saling serobot.
Santri yang sudah menerima talam yang berisi lauk, berjalan menuju meja buah. Buah ini sudah dipotong dan bungkus plastik, sehingga santri tinggal merasakan segarnya pencuci mulut ini.
Mereka berkumpul ruang lapang, dan berjongkok untuk makan bersama. Aku terpaku melihat setiap santri yang menunggu giliran makan. Anak-anak muda yang sedang mengisi tenaga setelah sejak Shubuh belajar agama. Setelah berusah payah belajar, pasti lebih terasa nikmatnya.
![]() |
proses mengantri mengambil talam |
![]() |
mengambil jatah buah |
![]() |
nikmatnya kebersamaan dalam satu ukhuwah |
Setelah berkesempatan
melihat suasana makan di dapur santri putra, maka aku berjalan perlahan menuju
santri putri melalui sebuah gerbang berwarna hijau. Kawanku yang lain tidak
boleh masuk dikarenakan area ini bebas lawan jenis.
Suasana di
santri putri tak kalah tertib, malah diruang lapang tempat makan mereka masih
bisa duduk selonjoran. Aku sempat mendekati beberapa santri putri saat mereka
asyik memasukkan gumpalan nasi ke mulut mereka. “kenapa yang makan cuma dua,
bukannya satu talam berempat?” tanyaku penasaran. “satunya lagi puasa, dan satu
lagi sedang tidak mau turun makan mbak” jawab seorang santri yang kuingat
namanya Sifa. “oh iya, kamu kelas berapa, berasal dari kota mana?” tanyaku lagi
“kelas 7 dari Madura mbak” selorohnya.
Sifa
tersenyum sumringah memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi sambil
bercerita betapa betahnya ia hidup mandiri di pondok. Aku pun tersenyum
menyimak ceritanya. Ia mengatakan tidak merasa kangen rumah karena toh
terkadang hari minggu orangtuanya mengunjunginya sambil membawakan telfon
genggamnya.
Apa kabar aku seusia mereka? Makan aja (kadang) masih disuapin Ibuk, hiks. Yang bikin tercengang adalah ketika kutanya tentang citanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam “pengen jadi Bu Nyai, jadi ustadzah”.
Aku menghela napas panjang, tertegun, ada rasa haru dihatiku seketika. Jawaban itu serupa saat aku bertanya pada tiga orang santri putra, menjadi ustadz adalah citanya. Subhanallah, ini bukan mimpi sembarangan.
Disaat anak muda sekarang bercita menjadi selebgram dan youtuber, namun ia memiliki mimpi besar, yang punya efek untuk umat.
Apa kabar aku seusia mereka? Makan aja (kadang) masih disuapin Ibuk, hiks. Yang bikin tercengang adalah ketika kutanya tentang citanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam “pengen jadi Bu Nyai, jadi ustadzah”.
Aku menghela napas panjang, tertegun, ada rasa haru dihatiku seketika. Jawaban itu serupa saat aku bertanya pada tiga orang santri putra, menjadi ustadz adalah citanya. Subhanallah, ini bukan mimpi sembarangan.
Disaat anak muda sekarang bercita menjadi selebgram dan youtuber, namun ia memiliki mimpi besar, yang punya efek untuk umat.
![]() |
aku (pojok kanan) bersama ustadzah masa depan, para Bu Nyai harapan umat |
Tak terlihat
wajah murung dan sedih, tak nampak wajah sendu, semuanya happy. Mereka sendirilah
yang menginginkan kehidupan mandiri di sebuah pondok pesantren. Dan mimpi
mereka yang membawanya sampai ke tempat ini, mimpi untuk umat. Diusia muda,
mereka sudah tau harus berbuat apa kelak. Meraka sudah memikirkan kontribusi
untuk agama Allah. Ah tak bisa berkata lagi selain salut buat mereka.
Setelah berfoto
dengan beberapa santri putri, akupun pamit dan mengucapkan terimakasih pada
mereka. Terimakasih sudah menyambut hangat kedatangan kami. Semoga kalian senantiasa
menjaga akhlaq, diberkahi segala ilmunya, agar kelak menjadi panutan
masyarakat. Amin
Pondok Pesantren As Salafi Al Fithrah
Jalan Kedinding Lor No. 99
Surabaya
MasyaAllah..wajannya gede banget ya. Secara buat banyak anak. Makan seperti itu ramai2 kalau saya sendiri sangat nikmat. Dan untuk suasana pesantren sendiri sedikit banyak sudah tau, ini pun dapat cerita dari ponakan yg mondok...
BalasHapusiya mbak, karena santrinya banyak jadi wajan buat masak juga gede banget :)
HapusKok jadi saya yang merasa sedih ya, padahal saya dan suami sudah bercita cita mau menyekolahkan Fahmi ke ponpes Gontor
BalasHapusJadi kepikiran kalau Fahmi anak saya begah, kalau enggak? Ya Allah semogaga dimudahkan dalam semua urusan ini. Duh, memang berat untuk bisa memiliki ilmu dan ahlak mulia itu ya...
kenapa sedih mbak? padahal anak-anak disana bahagia loh :), mereka tau mau ngapain setelah dari Pondok :) Amin, semoga jalan anak-anak dimudahkan dalam meraih citanya.
Hapusbaru liat juga aku wajan segede gitu ya, jadi inget dulu pesantren deket sekolah aku, ribuan santrinya, sekali belanja sayur aja satu truk ��
BalasHapuswow satu truk buat belanja sayur ya, :)
HapusMakan bersama dengan santri lain yang mempunyai tujuan sama yaitu mencari ilmu.
BalasHapusTerasa nikmat karena di pondok pesantren adanya kebersamaan yang tidak di dapat dari restoran sekelas apapun
nah iya Mpo, terasa nikmatnya karena kebersamaan :)
Hapusmasya allah enak sekali makan beramai ramai dengan stantri yang lain. makannnya bersih dantempatnya juga bersih.salut rapibegitu baris nyabahkan makannya.
BalasHapusasyik ya mbak, makan rame-rame gini :)
HapusBun ceritain dong kok bisa sih jalan-jalan ke sana ke mari apalagi sampai ke pesantren juga. Ini dari sekolah atau gimna? Hihihi kepo ya aku. Soalnya seruuu liatnya ��
BalasHapussengaja berkunjung kesana Bunda :) iya seru banget, saya jadi punya pandangan lebih luas tentang kehidupan di Pondok :)
HapusMakan bareng begini mengajarkan anak untuk berbagi, enggak egois. Saya jadi teringat ketika kecil dulu dengan adik-adik makan bareng dalam satu nampan, makanannya dari kenduri yang dibawa oleh bapak :) . Semoga anak-anak ini kelak siap terjun ke masyarakat, dan berguna bagi nusa bangsa serta agama, sebagaimana cita-cita mereka.
BalasHapusAmin, terimakasih banyak ya mbak sudah berkunjung ke blog ini :)
HapusBaca tulisan ini dan lihat foto-fotonya serasa nostalgia masa-masa di pesantre dulu. Walaupun lauknya cuma tahu tempe, kadang telur dadar (campur tepung), tapi nikmatnya luar biasa. Sederhana tapi selalu bikin kangen. I really feel them. Thanks udah membawaku bernostalgia, Mbak. :)
BalasHapusMashaAllah lulusan pondok juga ya mbak, sekarang bertransformasi menjadi blogger hehe. Selamat bernostalgia dengan membaca tulisan ini :)
HapusSuasana di pondok pesantren, baik guru maupun teman seperjuangan memberikan #SemangatCiee untuk selalu happy
BalasHapushappy selalu :)
HapusOoh makannya barengan gitu ya kak jadi lbih niknan 1 nampan rame2 klo di pesantren anakku nasi ambil sendiri cuma lauknya aja diambil petugas kantin,, jadi kangen anakku ��
BalasHapuswah anaknya di Pondok juga kah? Iya makan barengan lebih nikmat :)
Hapushiks hiks itu seumuran anakku...
BalasHapussemoga dimudahkan belajar nya ya adek2 soleh soleha dan tercapai cita2 nya... aamiin ya robbal alamin
Amin, terimakasih doanya ya mbak :)
HapusIni pesantren yang sering dikunjungi orang2 besar itu ya?
BalasHapusbaper liatnyaaaa...
Pengen juga anak masuk pesantren, tapi apa saya kuat ya, padahal sering emosi ama anak, tapi kalau anak ikutan pesantren kok ya kangen huhuhu
Btw makannya senampan gitu ya, banyak banget ya santrinya, sampai pancinya aja kayak panci raksasa gitu
Mbak itu dibilang jelas 7 berarti mereka sekolah formal juga..atau keluar dari lingkungan pondok untuk sekolah di SMP umum?
BalasHapusMakannya jongkok ya..bukan duduk duh..penuh perjuangan mondok yaa
aku pernah merasakan kehiduoan pesantren waktu zaman smp tapi cuma bertahan sebulan. xixixi..
BalasHapusBtw kok.makannya jongkok ya mb? klw pake talam itu emang sebenernya kalau nyunah makan emang rame2 gitu
Aku fokus ke wajan dan panci yang gede itu, seru ya makan ramaian gini. Duh aku selalu tersentuh melihat adik-adik yang gembira sekali seperti mereka ini.
BalasHapusMasyaAllah. Indahnya kebersamaan. Satu nampan gitu untuk berempat. Duuuh, serunya mereka.
BalasHapusLuaaarr biasaaa salut untuk tim dapur itu, masak segitu banyaknya tiap hari. Semoga mereka semua diberi kesehatan agar bisa terus menjamu para santri dan santriwati ini, Ustadz dan Ustadzah masa depan, Aamiin :)
Pengalamannya seruu banget Mbak :)
Subhanallah, aku baru tahu loh kalau kehidupan di pesantren itu seperti itu. Penuh kebersamaan dan kesederhanaan. Senang rasanya melihat mereka bahagia dengan cita-cita yang mulia. Semoga terwujud ya cita-citanya.
BalasHapusUwooowww itu wajan sama pncinya guede banget.
BalasHapusKarena terbiasa antri, jadi tertib ya meskipun rame.
Kalau di pesantren memang katanya makannya rame-rame gini ya. Jadi lebih berasa kebersamaannya. Aku jadi penasaran itu masaknya gimana ngaduknya ya secara gede banget gitu wajannya. Heu
BalasHapusAku baru dengar pesantren Al Fithrah ini. Semoga cita-cita mulia mereka terwujud.
BalasHapusJadi sekali makan 1 orang cuma dapat setengah potong tahu dan setengah potong tempe sebagai protein?
BalasHapusMaaf kak saya bantu jawab ya, saya juga alumni dari pondok assalafi al fithrah Surabaya. tentu tidak, biasanya satu talam terdapat 4 anak atau 5 anak, dan lauknya bukan hanya tahu tempe saja, akan tetapi terdapat sayuran (jangan) juga. Tujuan dari makan menggunakan talam tersebut adalah agar para santri belajar bagaimana hidup sederhana dan tidak banyak menuntut ataupun mengeluh.
Hapus