Ketika Bapak Tanya Melulu

by - Jumat, September 06, 2019


Kadang merasa Bapak tuh suka tanya. Bapak banyak tanya tentang komputer, terutama mengenai office ms word dan excel. Selain itu segala menu WA ada mungkin ratusan kali saya jelasin namun yang ditanya itu lagi itu lagi. Contohnya gimana cara balas pesan satu orang di sebuah WA grup dan chatnya sudah ratusan. Saya sudah bilang, Pak ditekan agak lama pesan yang mau di bales. Tapi kok kayaknya gak mudeng-mudeng.

Ada lagi, tanya gimana meng-copy teks ucapan selamat hari besar Islam, tapi diakhir ucapan diberi keterangan nama Bapak. Saya bilang dicopy aja entar nama orangnya diedit ditulis nama Bapak. Suatu saat tanya lagi, marah-marah karena beliau salah meng-copy dan terlanjur terkirim ke temen kantornya dulu. Halooo... kemarin khan sudah aku bilang sih Paaaak, hiks.

Sampai suatu hari Bapak ngerasa gak bisa balesin pesan WA siapapun, termasuk di grup. Dan kok ya pas saya ke hijack emosi marah gegara saya capek. Saya jawab rada ketus, (karena bosen ditanya itu lagi itu lagi), saya bilang kemungkinan pulsa kuotanya habis, kalo gak ngerti caranya bisa googling. Ketik aja di google “cara cek sisa kuota *provider x*”. Itu aja Bapak ntar tanya lagi loh, huaaah *tuluuung.

Ini belum menu ms office yang sering ditanya dan diulang ribuan kali (eh entah apa bener ribuan). Sebagai asumsi Bapak pensiunan PNS BUMN, namun di purna tugasnya Bapak masih mengabdi disebuah lembaga sosial yang kantornya berdampingan dengan kantor Kelurahan. Dan tugas Bapak adalah mengurus keuangan yang harus bersentuhan dengan menu ms excel. 

Ada kalanya Bapak tanya bagaimana menambah “Rp” didepan nominal angka. Sampe bagaimana memberi tabel. Adek capek jelasin Pak -.- Akhirnya semakin mengukuhkan label saya ke Bapak, Bapak tukang tanya.

Bapak dan Luigi di desa

Sebenernya masalah diatas tidak menjadikan konflik besar, hanya efeknya saya suka manyun jika ditanya tentang ponsel atau komputer. Karena mikirnya pasti tanya itu lagi itu lagi. 


Namun pengalaman pernah ketus ditanya Bapak saat gak bisa nerima WA benar-benar membekas dihati. Apa iya Bapak gak ngerasa sakit hati dengan respon saya selama ini ketika beliau bertanya?

SELF TALK SENJATA MENGGUGURKAN LABELLING
Dengan saya berasumsi bahwa Bapak si tukang tanya, maka tentu respon saya saat menjawab pertanyaan jadi kurang santun. Dan saya gak pengen seperti ini terus. 

Pertama yang saya lakukan adalah melakukan self talk. Self talk adalah kegiatan yang dimana kita berbicara dengan diri sendiri. Tujuan self talk ini adalah dengan berdialog untuk mengurai informasi sehingga tampak detilnya. Apa iya sih Bapak tukang tanya?

Septi : Hai mama Lui, emang Bapak tuh tukang tanya ya?
Mama Lui : iya banget, tanyanya buanyak, terutama tentang gawai dan komputer
Septi : tanyanya setiap hari?
Mama Lui : ya enggak sih, khan saya gak setiap hari pulang ke rumah Bapak di Surabaya
Septi : lah pulangnya kapan?
Mama Lui : ya kadang Sabtu dan Minggu, itupun belum tentu
Septi : lah gak setiap hari ketemu kok bilang Bapak tukang tanya. Emang sekali tanya menghabiskan waktu 24 jam?
Mama Lui : enggak sih paling maksimal tanya ya setengah jam
Septi : 30 menit x 2 hari = 60 menit dari 7 hari. Cuma maksimal 60 menit. Berarti Bapak sering tanyak gak ya?
Mama Lui : enggak

Berarti Bapak saya tuh bukan tukang tanya, lha cuma 60 menit dalam seminggu. Itupun belum tentu juga tanya. Bapak juga gak sampe nelfonin saya untuk menyelesaikan teka-teki ponsel atau komputer dan memaksa saya datang ke rumah. Gugurlah labelling kepada Bapak.

PERSEPTUAL POSITION MENGUBAH PANDANGAN
Setelah melakukan self talk, saya melakukan perseptual position yang membuat saya bisa merenungi apa yang dirasakan Bapak. Dengan menghadirkan persepsi diri sendiri, dan persepsi Bapak. Saya juga seolah-olah menghadirkan orang ketiga sebagai pengamat. Pengamat adalah seseorang yang saya anggap mampu memberikan masukan.

Sebagai diri saya katakan bahwa saya sebel mengulang hal yang sama. Kenapa gak Bapak catat saja. Biar gampang dilihat lagi. Jadi saya gak jelasin hal yang sama berulang kali.

Maka sebagai Bapak inilah curahan hatinya yang terdalam
“Bapak lahir dan besar belum mengenal teknologi. Dulu teknologi paling keren hanyalah radio dan sepeda kebo. Sepeda pun yang punya sedesa hanya 3 orang. Bapak tumbuh di kabupaten pelosok, di daerah pegunungan yang jauh dari kata modern. 

Bapak pernah cerita ke kamu bahwa dulu untuk bisa makan satu buah telur untuk diri sendiri adalah ketika sunatan. Selebihnya, satu telur dibagi untuk 10 bersaudara.

Sampai akhirnya Bapak merantau ke kota Pahlawan. Nasib membawa Bapak bisa bekerja di perusahaan perkebunan. Bapak menjadi pekerja kantoran, menenteng tas, berseragam, duduk di bawah kursi ber-AC, menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)!!! Suatu kesempatan yang tidak dimiliki sebaya Bapak di desa.

Mengerjakan jujur setiap amanah pekerjaan, menambah skill dengan kursus komputer, hingga saat kamu SMA Bapak bisa meraih karir yang lumayan. Menjadi sekretaris direktur utama PTPN XI (persero). Hal yang tidak lumrah seorang sekdirut laki-laki dan bukan lulusan Akademi Sekretari. Saat itu Bapak pernah dikirim ke Singapore karena posisi ini.

Bayangkan seorang anak gunung yang dulu hanya main cacing untuk menangkap ikan, Bapak bisa melihat patung singa Merlion mengeluarkan air deras dari mulutnya.

Masih ingatkah kamu ketika pulang sekolah kamu mampir ke ruangan kerja Bapak, kukenalkan kamu alat yang disebut komputer? 

Masih ingatkah dulu Bapaklah yang pertama kali mengenalkanmu wordstar dan lotus. Atau mungkin kamu lupa istilah komputer pada jaman itu? 

Dengan kaku, tanganmu mengalun mengenai tuts komputer. Kamu banyak bertanya pada Bapak, apa ini dan apa itu? menu ini untuk apa, dan simbol ini buat apa. Untuk menggerakkan mouse saja jarimu terasa kaku katamu.

Dengan rejeki yang Bapak dapat dari pekerjaan, kamu bisa sekolah SMK jurusan sekretaris. Mendalami dunia sekretaris dan stenografi agar kelak bisa bekerja seperti Bapak. Kamu kursus semua menu ms office, photoshop, juga corel draw disekolahmu. Berharap kelak bisa jadi tambahan skill saat lulus.

Bapak tak ingin mengungkit itu semua. Hanya Bapak sekarang sudah 63 tahun. Bukan usia yang mudah lagi untuk mengingat semua hal. Termasuk berpacu dengan generasimu belajar teknologi yang semakin tidak nalar bagi Bapak.

Semuanya sungguh sangat cepat dan tidak pernah terpikir sebelumnya. Untuk mengetik menggunakan ponsel layar sentuh saja Bapak “nggumun” terlebih dahulu. Hanya sedikit “ditutul” dengan jari Bapak bisa melihat dunia luar melalui yutub. Bahkan mau pergi kemanapun dan pengen makan saja tinggal menghadap layar sentuh dan mereka bisa ngerti maunya kita”.

anak gunung itu melihat merlion begitu dekat dengan pelupuk mata

Ah tak terasa ada cairan di ujung pelupuk mataku. Lalu kucoba break state dan beralih seolah menjadi seorang penasehat bagi diriku sendiri


(Baca jugaPerseptual Position Menghadapi Anak yang Mudah Muntah)

Kuhadirkan sosok suamiku sebagai penasehat diantara aku dan Bapak
“Meski dulu Bapak tidak setuju, tapi bukankah kamu ini lulusan manajemen dakwah? Pernah belajar bagaimana komunikasi yang santun pada obyek dakwah, mulai dakwah pelajar, dakwah perusahaan, hingga dakwah perumahan. Kamu bisa bersikap baik dan berbicara pelan pada mereka”.

“Bapak tidak meminta banyak waktu untuk meminta jawaban. Hanya sedikit dari kemampuanmu yang itupun kamu dapat karena Bapak menyekolahkanmu. Bapak ini termasuk Generasi Baby Boomer, generasi yang usianya 51-70 tahun. Yang dulu gak kenal teknologi dan sekarang berhadapan dengan kecepatan teknologi tanpa batas. Jadi wajar Bapak tanya kepadamu sebagai generasi yang dianggap ngerti. Ingat gak kebingunganmu saat pertama kali belajar blog?”

lagian kamu rugi apa kalo ngajarin Bapak? duit? enggak khan. Waktu? gak seharian toh. Trus ngerasa rugi apa? Malah bukannya dapat pahala membantu orang yang kesulitan dan membagikan ilmu meski sedikit?"

Seketika pengen ketemu Bapak dan meminta maaf. Bapak gak pengen banyak tanya, tapi usia Bapak yang menyebabkannya mudah lupa, sehingga ia bertanya lagi.

REFRAMING, SEBUAH MAKNA BARU yang MEMBUATKU LEGA
Setelah proses dialog diatas, saya pun punya makna baru. Bapak pembelajar!!! Jika bukan pembelajar tentu dengan mudah Bapak bilang “stop aku balik aja pakai hape yang cuma bisa ditelfon dan disms kayak dulu”. Tapi apa Bapak melakukannya? Tidak.

Satu lagi, Bapak pengen pekerjaannya sekarang cepat selesai karena Bapak amanah. Oleh karenanya menanyakan excel pada yang ahli. Siapa yang menurut Bapak ahli dan bisa ngajarin? Aku!!! Jadi wajar gak jika tanya ke kamu?

(Baca jugaReframing Ibu Rumah Tangga)

MashaAllah dengan reframing itu aku jadi tahu, kenapa Bapak juga getol ngerjain laporan keuangan masjid, laporan keuangan kampung padahal Bapak ini pak RTnya, kenapa gak dikasihkan ke bendahara. Mungkin karena Bapak amanah, dan mungkin hanya Bapak yang bisa mengerjakan laporan itu dengan detail melalui excel sehingga saat akhir bulan bisa dilaporkan ke warga dengan rapi dan dipertanggung jawabkan. Ah Bapak, selalu aku terbuai bangga pada perjuanganmu. Maafkan adek ya Pak.

PERUBAHAN DIRI
Sekarang, ketika pulang ke Surabaya, tanpa ditanya, saya selalu membuka obrolan dulu kepada bapak. “Gimana Pak, hapenya ada masalah? Penuh gak? WA-nya gak papa?”. Sampai di pagi yang cerah terjadi obrolan “Pak gimana, kira-kira laporan bulan ini ada kesulitan?” "Bapak kelangan file laporan bulan Juni, padahal wes tak ketik kabeh" dengan mimik yang rada sedih. 

Saya cek file excel dan ternyata file yang katanya hilang tersebut ada sheet sebelumnya. Taraaa ketemu deh. Bapak senang dan lega. Alhamdulilah ketika proses klak klik komputer dirumah saya melakukannya sambil tersenyum.

Terkesan sepele ya, namun mungkin ini salah satu cara saya membangun kedekatan dengan Bapak di usianya yang senja. 

depan rumah masa kecil Bapak, aku dan Luigi bahagia punya desa



Sebuah barisan kata maaf untuk Bapak 
Inspirasi dari kelas Merajut Cinta Orang Tua oleh Dini Swastiana
dan kisah mama Bu Okina yang demensia
Surabaya, 6 September 2019

You May Also Like

4 komentar

  1. Terharuuuu.... Alhamdulillah Mbak Septi. Dengan ilmu bisa mewujud bakti pada orangtua dan dapat frame baru yang mencerahkan.

    BalasHapus
  2. Masyaallah mba Septi, aku kok jadi terharu banget ya mba...

    BalasHapus
  3. Masya Allah mama Lui... Mencerahkan tulisan2nya Mba. Semangat membersamai Bapak..

    BalasHapus
  4. 😊😊😊
    Terimakasih sudah membagi ilmunya..
    Kadang kita lupa bahwa orangtua sudah waktunya untuk lupa..

    BalasHapus