Merasa Jenuh Sebagai Ibu Rumah Tangga? Yuk selesaikan dengan Reframing

by - Rabu, Juli 03, 2019


Pekerjaan dan tempat tinggal saya di kota industri, Gresik. Dengan beberapa pertimbangan, Lui bersama Ibu di Surabaya selama saya kerja. Tahun kemarin saya resign dari pekerjaan dan Lui tetap tinggal sama Ibu. Sepertinya udah nyaman ya, apa-apa dibantuin. Sejak saya resign, saya tetap tidak pernah berfikir Lui gimana ketika saya ikut seminar atau liputan event blogger karena toh Lui ada ditangan orang yang terpercaya. Bahkan seperti pelatihan TBS yang 3 hari, malah saya pulangnya ke Gresik, gak ke Lui di Surabaya.


Sumber gambar dari Canva, diedit sendiri

Semua berubah sejak ladang gandum dibanjiri cokelat *bukan iklan Koko Krunch :D. Bulan Ramadhan lalu, Lui maunya tinggal di Gresik terus. Bahkan sekarang tidak mau lagi pulang ke Ibu di Surabaya. Alhasil kami tinggal bertiga, Adit, saya dan Lui. Dan hal itu menjadikan saya 24 jam berkutat sama anak dan pekerjaan rumah tangga. Setiap hari. Setiap waktu.

Buat beberapa orang, tidak akan masalah hanya melakukan pekerjaan seperti cuci piring, cuci baju, dan lainnya jika dilakukan sesekali. Tapi buat saya, mengerjakaan pekerjaan domestik seakan tak ada ujungnya. Cuci piring bisa berkali-kali. Gak bisa sekedar buka laptop, mandi syantik, bahkan menjelang Idul Fitri saya nolak job review hanya gegara saya harus main sama Lui. Halah gitu doang nelangsa. Iya karena feenya bisa menggendutkan sedikit isi tabungan saya hihi :p

Sampai pada satu titik, saya bertanya dalam diri. Apa mungkin saya bosan dengan pekerjaan domestik rumah tangga? Apa aku jenuh sebagai ibu rumah tangga?

Setiap peristiwa adalah netral

Pada hakikatnya setiap peristiwa adalah netral alias tidak membawa makna. Kita bisa jadi ngerasa nelangsa, sedih, marah, senang karena kita memaknai peristiwa tersebut. Ketika peristiwa itu dibingkai makna dan menghasilkan emosi, akan mendorong kita buat bertindak.

Contohnya misal ada peristiwa “Lui nolak belajar ngaji”. Saya maknai (frame) Lui anak pemalas. Lalu karena frame tersebut, emosi yang muncul pasti marah dan respon saya ngomel wkwk.

Beda lagi jika kita Lui nolak ngaji saya maknai (reframe) oh Lui bosan dengan metode belajar ngaji satu arah. Emosi yang muncul menjadi netral. Dan respon saya adalah berfikir untuk menyiapkan agenda cara belajar ngaji yang menyenangkan, tidak di buku Iqro’ saja. Misalnya mengenalkan huruf hijaiyah dengan three lesson period ala Montessori. 


Akan terasa beda responnya bukan? jika kita menyelesaikan emosi dengan mengubah cara pandang. Inilah yang disebut reframing. Dengan reframing kita jadi punya makna baru terhadap peristiwanya. Dan bisa memberi respon yang memberdayakan.  

Sebab jenuh

Apa sih yang bikin jenuh dari pekerjaan ibu rumah tangga? Menurut saya sebabnya karena mengerjakan aktivitas monoton seperti cuci piring, cuci baju, setrika, masak yang ujung-ujungnya bikin lelah. Ditambah minim interaksi sosial dan keuangan yang pas-pasan.

Semakin jenuh karena kurang memaknai apa yang kita lakukan (yang katanya monoton tadi). Dibawah ini saya coba mengubah cara pandang (reframing) terhadap pekerjaan domestik  agar lebih memberdayakan.

Reframing

Mencari makna pekerjaan rumah tangga yang lebih memberdayakan dari SEBAB jenuhnya.

“Duh nyuci nyuci piring melulu”
Tandanya dapur mengepul, ada perut orang terkasih yang sudah memakan sajian lezat dari tangan lembutku (hiyaaa lembut jare). Alhamdulillah ada beras dan lauk yang bisa dimasak hari ini.

“astaga aku harus setrika segunung semeru”
wah berarti aku dan Lui punya baju banyak yang bisa gonta-ganti kapanpun. Banyak orang yang bahkan beli baju menjelang lebaran adalah sesuatu yang mewah. Sementara aku? Gak pernah kekurangan untuk padu padan dalam menutup aurat. Pun juga Lui, basah dikit ganti, kena kotor dikit ganti, karena emang bajunya satu lemari sendiri.  Alhamdulillah.

“nyapu ngepel pagi siang sore”
Tanda anak sehat, bisa berlarian dan berantakin rumah. Coba kalo anak sakit, pasti rumah bersih namun sepi. Dengan menyapu dan mengepel, Alhamdulillah berarti punya tempat tinggal untuk dibersihkan.

“nyikat kamar mandi dan WC”
Alhamdulillah bisa punya kamar mandi sendiri. Diluar sana banyak yang kudu ke ponten dulu untuk sekedar buang air kecil. Meski gak mewah kayak di hotel, tapi Alhamdulillah kamar mandi ini jadi sejarah perjalanan toilet training Luigi (kisah nyata haha). 


“aku lelah seharian kerja dirumah”
Alhamdulillah lelahnya bikin keluarga sehat. Lelahnya bikin rumah rapi sehingga membuat keluarga betah dirumah. Dengan betahnya dirumah, bisa membangun bonding yang kuat. Alhamdulillah lelahnya untuk kegiatan yang bermanfaat demi keluarga. Bukan buat melakukan yang sia-sia, tanpa bernilai pahala.

“kesepian gak punya teman, gak bisa jalan-jalan”
Alhamdulillah uang aman, gak sering buat jalan-jalan *elus-elus dompet*. Lagian masih sepian di alam kubur, sendirian. Hiks.

“keuangan pas-pasan”
Alhamdulillah yang penting cukup. Alhamdulillah punya suami bertanggung jawab yang mau bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga. Dengan ikhlas menjadi tumpuan dalam keuangan keluarga. Dilingkungan terdekat, saya banyak melihat para wanita yang tidak hanya mengurus anak dan rumah saja, namun juga menjadi tulang punggung keluarga.

“yah kerjanya cuma dirumah”
Jika kita frame pekerjaan kita dirumah hanya ngerjain hal sederhana dan remeh temeh kita bakal merasa kecil, sehingga segala yang dilakukan jadi berat. Kalo lihat kurangnya, pasti isinya ngeluh. 

Beda lagi jika memaknai pekerjaan ini misalnya sebagai manajer, kita ngerasa enteng jalanin peran karena ngerasa “oh aku ini manager dalam keluarga yang mengurus rumah seisinya, bikin hunian nyaman dan keluarga sehat”.

Sebagai manajer kita punya ruang kerja berupa ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi. Fasilitasnya ada TV, kasur empuk yang nyaman, ruang tidur ber AC, kulkas, dapur dengan setumpuk indomie yang bisa dimasak kapan saja kita mau. 

Hayoh, fasilitas kerja mana yang bisa sekeren ini? 

Ibu Manajer diluar sana pasti mikir seribu kali buat masak indomie+telur setengah mateng dan cabe 5 biji saat jam kerja, ya khan? Hoahaha. Mereka bisa dengan mudah beli, padahal indomie kenikmatannya ada pada racikan sendiri, betul apa betul? *duta indomie :D

Dari fasilitas mewah diatas, Alhamdulillah berkesempatan bersama anak 24 jam, menjaga dan menemainya main. Memberikan edukasi di usia emasnya yang sesuai dengan nilai keluarga.

Tips menikmati pekerjaan rumah tangga

Nah berikut ini cara saya menikmati aktifitas dirumah dengan setumpuk pekerjaan domestik kerumahtanggan.

Gugurkan limiting belief dan bikin anchor
Terlahir sebagai anak bungsu, Ibu saya SELALU menyediakan semua. Mulai makan yang tersaji di meja makan sampai tumpukan baju rapi dilemari. Hingga kuliah saya gak pernah cuci baju dan masak!!! Aku si anak manja. Sangat kaget saat harus merantau kerja di Jakarta, Babat Lamongan dan Bojonegoro. Sendirian !!!, tanpa orangtua dan saudara.

Setelah dijalani (dengan beberapa tangisan – terutama di Jakarta) saya bisa survive mengurus diri sendiri. Ternyata saya bisa pegang kompor, pegang setrika dan ngucek baju. Alhamdulillah. Berarti saya bukan anak manja, saya juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tangan ini bisa diajak bersusah ria. 

Akhirnya survive saya diperantauan, saya bikin anchor, kalo saya ngerasa malas karena ngerasa gak bisa, saya pencet “tombol Jakarta” ditangan kanan. Langsung semangat lagi deh :D

Tentang limiting belief ada ditulisan ini dan anchor ada ditulisan ini

Membuat skala prioritas dengan manajemen waktu
Namanya manajer rumah tangga, tentu harus juga memakai POAC dalam menjalankannya. Pekerjaan ini bukan main-main, pertanggungjawabannya diakherat. Maka saya tulis, seminggu apa target umumnya. Lalu di pecah perhari, sehingga setiap hari berusaha selalu ada aktivitas buat Luigi. Jika saya udah buntu, main play doh, corat coret dibuku gambar dan sepedaan jadi andalan hehe :p

(Baca juga : Mengapa Luigi Memakai Balance Bike?)

Menekuni kegemaran
Supaya ada waktu sejenak untuk diri sendiri, kita bisa menekuni hal yang paling kita sukai. Misalnya menulis, menjahit, fotografi, memasak dan lainnya. Siapa tau besok saat anak-anak sudah besar, kegemaran yang terus dilakukan menemukan muaranya. Misalnya berjualan kue dari hobby bikin kue, memberikan pelatihan blogging untuk ibu-ibu perumahan, membuat buku cerita anak dan masih banyak lagi sesuai passion

Untuk saat ini saya masih memilih membaca buku sebagai sarana waktu untuk diri sendiri. Tulisan ini saya kerjakan saat Lui tidur. Jika ada waktu bertemu teman, saya minta difoto dengan background kota Surabaya wkwk. Asli receh bener bahagiaku yang terakhir ini. Biarin!!!

Bangun lebih pagi dan olahraga
Saya pernah ikut event blogger, pembicaranya pernah mengatakan bahwa olahraga memacu hormon endorfin yang merupakan hormon bahagia. Gak perlu ke tempat fitnes, ngikutin gerakan senam berbekal yutub udah cukup kogh. Apalagi jika musiknya rame, makin semangat deh memulai hari. Dan emang kalo memulai hari dengan bergerak, jadi happy terus sepanjang hari. Cobain deh.

Follow akun yang memberdayakan
Karena emosi itu menular maka saya mulai meng-unfollow akun yang unfaedah. Dan menggantinya dengan memfollow akun yang memberdayakan. Untuk ibu rumah tangga bisa follow akun @RahelYosi. Dan yang wajib di-follow adalah Instagram founder Enlightening Parenting @OkinaFitriani dan semua akun team sharing. Tidak hanya mencerahkan, namun bisa ditiru cara penerapan ilmu EP-nya. 


Mendengarkan musik
Sejak kecil saya suka mendengarkan musik lembut. Sambil masak, sambil nyuci, sambil nyikat kamar mandi, selalu sambil menyetel musik. Pekerjaan pun tak terasa lekas selesai, karena mengerjakannya sambil nyanyi dan joget. Wkwk.


Mengefektifkan Dapur
Karena saya (belum bisa) memasak, maka saya buat dapur senyaman mungkin. Saya tata sedemikian rupa agar saya betah berlama-lama didapur meski hanya untuk goreng nuget. Barang yang tidak perlu saya singkirkan. Saya juga mengefektifkan isi dapur, piring hanya saya siapkan 5, mangkuk 5, sendok 10, wajan dan panci masing-masing satu buah. Hal ini agar saya tidak pernah merasa cucian piring menumpuk seperti gunung semeru. Karena dengan alat makan yang terbatas, membuat saya dengan segera mencucinya jika kehabisan.

Melibatkan Anak
Saya berusaha melibatkan Luigi dalam aktifitas yang sederhana. Seperti mengajaknya mengambil jemuran. Anak-anak pasti senang karena merasa melakukan pekerjaan yang bermakna seperti orang dewasa lakukan. Bahkan jika selesai nyuci dia tanya “jemurane wes kering ta Ma?”

***
Gimana manajer rumah tangga, sudah lumayan berubah belum emosinya jika pekerjaan domestik dimaknai secara positif? Sudah legowo dan bisa nyengir seperti muka habis ditembak suami pertama kali? Hihi.

Manusia itu takut kehilangan. Sebelum Allah mengambil semua nikmat diatas, yuk kita jalani peran saat ini dengan ungkapan syukur dan hati lapang. Caranya dengan dengan reframing. Mengambil makna yang memberdayakan agar menjadi manusia yang efektif. Menjalankan hari dengan sebaik mungkin. Seperti kata guru saya dibawah ini.

“Jalani peran kita sebaik-baiknya, Jangan setengah-setengah. Jadilah ahli. Tidak hanya di profesi publik yang kita jalani tetapi juga peran domestik. Tidak ada peran yang kecil. Jadi istri, ahli menyenangkan suami. Jadi Ibu, ahli mendidik anak. Jadi murid, ahli mengerjakan assignment. Maka sangat penting menyadari sepenuhnya tiap langkah yang diambil. Hidup bukan sekedar mengalir, karena manusia diciptakan lebih baik dari air” (oleh Okina Fitriani pada IGS 2 Juli 2019)


Menulis adalah menasehati diri sendiri
Gresik, 3 Juli 2019

You May Also Like

32 komentar

  1. hahahah, tulisan Mbak ini kok enak banget bacanya , bikin hati adem.👍😆. Informatif dan Memotivasi bangezt.

    # Kayaknya blog ini bakal jadi idola saya dech...😃.

    BalasHapus
  2. mamaaaaahhhhh Luiiiiii, sini kiss kiss duluhh..
    Masha Allaaahh, saya mewekk loh bacanya.

    To be honnest, sejak sore tadi saya bad mood.
    Tapi Allah menggiring saya buka laptop, keliling ke beberapa blog teman, dan ini postingan kedua yang bikin adeeemmmmmmm. Alhamdulillah.

    Nggak bisa diungkapin deh, how i need tulisan penyemangat kayak gini.
    Melihat sesuatu dalam hal positif.

    Meskipun jujur, mungkin masih kudu berusaha sebaik mungkin menerapkannya, tapi minimal, ada sudut yang hangat dan sejuk menjalar di hati.

    Keuangan pas-pasan, kerjaan monoton cuman di seputar masak nyuci nyetrika, anak yang nggak punya jadwal tidur teratur.
    Sungguh bikin saya kadang pengen teriak, dan tidak jarang udah teriak, pas anak lemot hahaha.

    Kayak tadi sore, si kakak yang ngantuk, gara-gara semalam tidur pukul 2, bangun pukul 5 subuh dan nggak mau tdur lagi seharian, alhasil sore dia ngantuk dan numpahin air di meja sampai menggenang.

    Duh saya yang bahkan udah mau habis waktunya Magrib belum juga bisa mandi, rasanya emosiiiii banget.
    Akhirnya teriak juga marahin si kakak, untungnya segera sadar dan minta maaf sama kakak, huhuhu.

    Padahal di otak saya tuh melayang-layang perkataan hati
    "Rey, butuh 5 menit saja buat ngelap air tersebut, tapi butuh waktu seumur hidup bagi anak melupakan bentakanmu" huhuhu.

    Ya Allah..
    Alhamdulillah, meski masih sering bocor2, tapi sebisa mungkin saya berusaha untuk selalu berpikir positif, menahan diri dengan istigfar.

    Thanks so much mama Lui.

    Btw, saya dulu pernah dapatin ilmu 'mengulik penyebab suatu masalah sampai 3 lapis pertanyaan".

    Sayang sekali, sekarang sama sekali nggak bisa ikut seminar parenting hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, saya bisa membayangkan perasaan ibu rumah tangga yang hidup sendirian hanya dengan dua anaknya kayak begini.

      Saya inget dulu saya pernah kerja kantoran, etos kerja saya keras, saya pegawai yang disiplin, tapi kemudian saya memilih tinggal di rumah untuk berkonsentrasi punya anak. Saya pernah merasa super kelelahan, nangis karena kecapekan, nangis karena terjebak di dalam rumah.

      Sampai kemudian suatu hari saya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua selama dua minggu, meninggalkan suami saya, membiarkan dia mengurusi hajat hidupnya sendiri. Pulang-pulang saya mendapati tempat sampah penuh dengan bekas-bekas kaleng sarden, kulit telur, dan dia sedikit bersin-bersin. Ternyata suami saya cuman makan lauk sarden, nggoreng telor dadar sendiri, dan tidak makan sayur, selama saya pergi. Detik itu saya nyadar bahwa saya sebetulnya bukan "pembantu rumah tangga", tetapi saya manajer rumah tangga yang memastikan seluruh keluarga dalam keadaan sehat. Tanpa ibu rumah tangga, maka ayah dan anak-anak itu sesungguhnya berantakan.

      Reframing terhadap suatu kejadian adalah ide yang sangat bagus, Septi. :)

      Hapus
  3. Sama bun. Aku suka pakai metode reframing juga pada diri aku sendiri. Terkadang pernah juga ketika hatinya dalam keadaan kurang jadinya nangis saking lelah dan bosannya. Udah gitu bangkit lagi

    BalasHapus
  4. AKu juga pakai metode ini mbak pada diri sendiri sejak mengalami depresi akhir tahun lalu. Dengan begitu kita juga jadi lebih damai ya

    BalasHapus
  5. Aku juga senang setelah mengenal dan mempraktekkan reframing ini dalam kehidupan jadi IRT karena jatuhnya nanti jadi dibikin asyik aja. Dulu saya paling gak suka nytrika apalagi udah liat menggunung, lah sekarang bawaannya hepi karena bukan liat tumpukannya tapi liat ada kesempatan nonton film malam-malam (sambil me time) lebih lama. Hihi,itu salah satunya.

    BalasHapus
  6. Terimakasih atas reframingnya, kafamg-kadang karena lelah, kita terjebak emosi

    BalasHapus
  7. Aku suka baca ini. Reframing ini postif thinking juga terhadap keadaan. Mencoba tidak Mengeluhkan keadaan dan mencari hal untuk disyukuri. Merasa terinspirasi sekali setelah baca ini. Makasih sharingnya, Mbak

    BalasHapus
  8. keinget kalau lagi setrika baju atau pas cuci piring pake headset biar gak bosen dan bikin hepi.

    BalasHapus
  9. Kalo aku pas udah bunek dan pikiran butek pasti minta Papih... kita plesiran dong! Ke mana gitu kek, yang penting dolan!!! Sambil kacak pinggang dan manyun hahahaha..

    Reframing kayaknya bagus ni, tapi ya emang nggak akan semudah itu praktiknya. Terkadang, kita memang harus berteriak atau apalah, sekedar utk mengeluarkan sampah dalam hati dan pikiran. Hehehe itu pendapat pribadiku sih, soalnya akutu tipe orang yang agak susah tampil lemah lembut mbake. Aku lebih nyaman bersikap dan bertindak impulsif. Hahaha itu bahasa lain dari kata "bocor dan selebor"

    Alih-alih diem, aku akan ngomong sama anak-anak dan suami kalo aku emang capek, aku butuh ngaso, butuh me time dan butuh dilayani sesekali. Tapi, itu kalo udah jenuh sekali. Dan so far mereka bisa ngertiin.

    Eniwe,ini cuma pendapat pribadi loh. Tulisan mba Septi is very great. Nice to read this laaffff u mbake...

    BalasHapus
  10. Mbak.. tulisannya bagus. Saya pun sering melakukan reframing, hanya saja sekarang sedang jenuh-jenuhnya dengan rutinitas sebagai IRT. Rasahya butuh jeda sejenak. Terima kasih artikelnya mbakkkk, sangat memotivasi :)

    BalasHapus
  11. Masyaallah mbaa ini lengkap bangettttt

    BalasHapus
  12. Masya allaaahhh jadi tergerak hati buat lebih berubah, aku seringnya ngeliat yanh jelek aja. Liat cucian numpuk bete. Liat anak berantakin rumah suka mendengus, liat kamar belom rapi bawannya pengen jungkir balik. Padahal maaah semua bisa dilakukan kalo ubah pola pikir ya kak lui

    BalasHapus
  13. Wah.. Menarik ya mba konsepnya. Seperti memahami case dari dua sudut pandang. Syakep...

    BalasHapus
  14. Selalu ada syukur di setiap keluh kesah ya intinya mbak. Jika cucianmu setinggi Semeru, maka cucianku bagaikan Gunung Everest, lebih tinggi. Alhamdulillah cucianku lebih indah dan bersalju hehehee.

    BalasHapus
  15. Ya Allah sesungguhnya kita harus banyak bersyukur dengan apa yang kita jalani saat ini. Di karuniai anak-anak yang bikin heboh rumah. Coba kalau mereka ga ada pasti rasanya sepi. Terkadang merasa jenuh sama aktifitas yang itu itu ajah. Refarming emang sangat bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  16. Kalau menurut daku di rumah pun para ibu rumah tangga bisa juga mendapatkan penghasilan dengan membuka usaha sampingan

    BalasHapus
  17. Gw selalu salut sama perempuan-perempuan yang rela mengundurkan diri dari kerjanya hanya untuk mengurus suami dan anaknya.

    Semangat mbak !


    Btw, kok gw cowok sendiri sih?

    Wkwkwkwk

    BalasHapus
  18. hahahak sebagai perempuan yang pernah jadi workingmom dan skrg jadi IRT aku ngerasain banget bedanya. ALhamdulillah aku ketemu cara kalau lagi kumat jenuhku, thanks to blogging, social media, dan online shop hehehe

    BalasHapus
  19. Aku jadi IRT baru setahun ini karena sebelumnya working mom dan emang beda banget, apalagi mobilitasnya. Makanya dulu sebelum memutuskan untuk jadi IRT kudu menyiapkan kesibukan lain, jadilah ngeblog dan untungnya ada fotografi yang menyelamatkanku.

    BalasHapus
  20. Begitulah mbak konsekuensi jd ibu, akhirnya ya kita gak sebebas merpati.
    Ah bagus banget tips reframingnya, aku juga suka ngeluh capek ini itu, tpi dengan mengubah pikiran jd kyk gtu sepertinya lebih enteng ya semua kerjaan2 RT dll TFS

    BalasHapus
  21. sebagai workingmom jujur aku pingin banget ngerasain jadi irt yang full day ngurusin rumah sama anak, jadi kalau baca ini bisa relate :(

    BalasHapus
  22. Jadi termotivasi dan semangat lagi, penasaran sama EP, aku jadi ingin mampir ke page yg lain

    BalasHapus
  23. Reframing sangat efektif ya mba. Wajarlah kalau kita kadang jenuh dengan pekerjaan kita sehari hari. Reframing pemikiran ini bisa jadi salah satu cara penangannya. Terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
  24. Reframing sangat membantu untuk mengontrol emosi kita ya, mbak

    BalasHapus
  25. Kalau ngebayangin setrikaan menumpuk mah leleus pisan mba. Tapi mau gak mau harus tetap dikerjakan. Kalau gak pasti bertambah tinggi gunung semerunya. Pekerjaan ibu rumah tangga memang 25jam

    BalasHapus
  26. Emang kadang2 pekerjaan ibu rumahtangga itu membosankan tetapi dinikmatin aja.

    BalasHapus
  27. Baca tulisan ini mbaa, berasa semua uneg-uneg kayak tersampaikan gitu mba. Duh, memang ya mba pekerjaan terberat itu adalah menjadi IRT, tanpa gaji dan cuti pula. Pas baca ini jadi makin adem deh mba hihii

    BalasHapus
  28. Masya Allah ak bacanya agak sambil terisak nih mba hihi. Serasa udh d wakilkan perasaannya, walaupun ak belum punya debay. Makasih banyak ya mbaa terutama ilmu reframing ini sering banget luput, padahal pernah ikut workshop cleansing dan bahas reframing

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah ya mbak kita dikasih rejeki anak.. masih banyak wanita lain yang menginginkan posisi kita sebagai ibu.. semangat semangat.. ayok semangat mamaaaaa mamaaaa

    BalasHapus
  30. Thanks for sharing, sukses terus..

    BalasHapus