Kamis, 01 Juni 2017

Hijrah ke Ibukota (bagian 2)

(Baca cerita sebelumnya)

Bapak memberiku amplop berisi uang. “untuk pegangan dijalan” katanya. Kuintip uang merah seratus ribu sejumlah sepuluh. "Nanti jika ada apa-apa jangan lupa kabarin." lanjutnya
Malam itu keretaku berangkat. Ibuk tak mengantarku ke stasiun. Aku diantar mbak Erti. Inilah pertamakali aku pergi ditempat jauh sendiri. Tanpa ada siapapun. Argo Anggrek melaju dengan cepat. Tak terasa, pagi itu aku sampai di stasiun Gambir. Berkali-kali aku ambil napas panjang. Aku semakin membuka mata lebar. Jantungku berdegub. Aku sekarang ada di ibukota. Terlihat tiang Monas dekat denganku.

Dimulai bulan Ramadhan pertama kali di Jakarta, aku merasakan beratnya kesendirian. Tanpa kamar yang nyaman seperti dirumah, tanpa lemari es yang selalu tersedia minuman dingin dan tanpa mesin cuci. Mengatur keuangan yang ternyata sering berantakan. Dengan capeknya perjalanan ditempat kerja karena melewati tiga kali kemacetan. Kemacetan di Condet sampai Cililitan, juga ganasnya jalan Kalimalang menuju Bekasi. Karena aku kecapekan dengan perjalanan ini, akhirnya kugunakan jasa laundry pakaian. Kusisihkan bekal sangu dari Bapak untuk bisa menghemat tenaga tangan untuk mengkucek baju. Setiap hari bangun pagi-pagi, dan tidur malam hari. Setiap hari berlari. Setiap hari berkompetisi. Membelah jalanan Jakarta yang sesak.

Aku stress dengan masa saat itu. Saat aku kelelahan, aku pilek yang lendirnya bercampur darah. Dari kecil aku tak pernah bermasalah dengan hidung kecuali pilek biasa yang akan sembuh perlahan setelah istirahat. Dan malam-malam karena pilek itu, membuat badanku hangat. Pilek dengan jenis ini sungguh menyiksa. Aku semakin membenamkan diri dalam jaket. Untuk berjalan membuat tubuhku sempoyongan. Aku juga pernah terlambat datang bulan. Padahal aku mesti teratur mengenai hal itu. Aku takut terjadi kelainan padaku. Akhirnya saat siang hari yang panas di bulan puasa, aku menyempatkan browsing. Dan ternyata dari semua artikel yang aku baca, banyak yang mengatakan salah satu sebabnya adalah stress. Huifttt  benar. Aku stress luar biasa. Macet dan karakter orang Jakarta diawal sungguh mengagetkanku. Aku hanya bisa bersabar sampai kereta eksekutif Argo Anggrek seharga 550ribu membawaku lagi ke Surabaya untuk berlebaran bersama keluarga. 

(bersambung)
#day16
#30dwcjilid6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar