Kamis, 15 Desember 2016

Mengajak Luigi Naik Kereta Api

Suatu pagi di hari Rabu, 07 Desember 2016 yang panas terlintas untuk mengajak Luigi naik kereta api. Sebenarnya keinginan ini sudah lama. Yakni naik kereta KRD Bojonegoro. Yup, kota ini sangat bersejarah buat hidupku. Dan saat inilah saat yang tepat, pikirku saat itu. Jam 08.00 WIB langsung bergegas ke Stasiun Pasar Turi berburu tiket. Alhamdulillah tanpa antri langsung dapat. Yeyy...


Makin keren stasiun ini, makin bagus


Yang dipersiapkan secepat kilat adalah :
1. 2 buah baju ganti
2. Pospak secukupnya
3. Tisu Basah
4. Air Minum (air putih)
5. Cemilan bayi
6. Gendongan 

Jadwal keberangkatan kereta api dari Stasiun Pasar Turi adalah jam 10.25 WIB dan tiba di Stasiun Bojonegoroo adalah jam 12.35 WIB. Cukup singkat bukan? :)
Dan bagaimana respon Luigi pada pengenalan transportasi darat ini? Hmm, senang. Dia sangat menikmati. Makin banyak ngoceh.

Emang setelah nyampe Stasiun Bojonegoro trus ngapain? Ya balik Surabaya lagi haha. Jadi ini ceritanya PP Surabaya-Bojonegoro. Targetnya bukan napak tilas perjuangan masa muda saya di Bojonegoro, tapi mengenalkan Lui transportasi kereta api. Dan suer, beda banget sama KRD jaman saya dulu yang tiap seminggu sekali pasti menggantungkan kereta ini. Sekarang, dengan 6ribu rupiah, tempat duduknya nyaman dan berAC. Tidak ada lagi orang-orang yang lalu lalang jualan. Saya bilang Lui "Kapan-kapan ikut Ibu napak tilas ya, Nak"










Akhirnya nyampe rumah jam 17.00 dan senang :)
Tidak ada komentar:
Kamis, 24 November 2016

Membawa oleh-oleh ASIP dari Lombok ke Surabaya


Sebenernya pengen nyimpen pengalaman ini di blog udah lama. Tapi baru kesampean sekarang. Tanggal 05 Mei 2016 adalah hari yang bersejarah buat saya. Pertama : ini adalah hari dimana saya pertama kalinya meninggalkan baby Luigi selama 3 hari. Kedua : saya bisa menginjakkan kaki ke Lombok. Saat ditinggal, Luigi berumur 2 bulan 16 hari. Hmm masih kecil ya. Sebenernya awalnya Luigi mau diajak terbang, namun karena masih terlalu kecil sehingga sangat rawan untuk kesehatannya. Toh Luigi juga belum ngerti apa-apa. Yang ada malah dia capek sendiri khan. Akhirnya aku dan Adit aja yang berangkat. Sebenernya ini adalah acara kantor nya Adit. Tiap taun selalu ada acara liburan kayak gini. Dan taun ini beneran jauh, di Nusa Tenggara Barat. Saat itu karena pertama kali meninggalkan Lui beberapa hari dan Lui masih ASI Eksklusif, sehingga membuat saya lumayan detail sama persiapannya. Aku bilang ke Adit, bahwa dia harus bantu saya selama di Lombok buat pumping. Itu adalah syarat supaya saya mau ikut acara ini.
Oia dari pengalaman kemaren ada beberapa hal paling awal yang saya lakukan :
  1. Mencari tau aturan membawa ASIP di pesawat
  2. Meminta scedule acara dari berangkat sampai pulang
  3. Apakah penginapan yang akan ditempati ada lemari es nya
  4. Acaranya kebanyakan indoor ataukah outdoor
  5. Selama traveling dari satu tempat ke tempat lain apa alat trasportasinya
  6.  
    Berikut ini data yang saya dapat dari AyahBunda.com  disini mengenai aturan membawa ASIP di pesawat terbang
1. Aturan penerbangan internasional membatasi penumpang membawa cairan, yaitu  tidak boleh lebih dari 3 ounces atau sekitar 90 mililiter. Namun untuk ASI, ternyata aturannya berbeda. Amerika Serikat melalui TSA (Transportation Security Administration atau Badan Keamanan Transportasi), menerbitkan aturan:
  • Ibu yang terbang dengan atau tanpa anak dibolehkan membawa ASI/susu formula/jus dalam jumlah lebih dari 90 mililiter, asal dilaporkan dulu (declared) di pabean.
  • ASI maupun susu formula boleh dibawa di tas jinjing atau tas lainnya. Prosedur pemeriksaannya sama dengan barang-barang lain, yaitu melalui pemeriksaan sinar X, pabean dan boleh dibawa ke kabin. Anda dan anak tidak akan diminta untuk mengetes ASI atau susu formula.  
  • Pisahkan ASI atau susu formula tersebut dari cairan lain (gel, aerosol, cairan). Simpan di dalam tas berukuran 1 liter yang memiliki ritsleting di bagian atas.
2. Aturan maskapai Nasional. Berdasarkan peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel (Liquid, Aerosol, Gel) yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional, tersebut dalam pasal 3 ayat 2 bahwa obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus tidak usah diperlakukan seperti membawa cairan, aerosol dan gel (harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel). Jadi, silakan membawa ASI perah ke dalam kabin tanpa dibatasi.

3. Laporkan juga ice pack di dalam cooler box ke petugas pabean saat check-in. Bila ice-pack tidak boleh dibawa, karena kemungkinan akan mencair setelah lewat batas waktu, sampaikan ke petugas pabean atau kru pesawat Anda akan menitipkan ASI perah di lemari pendingin pesawat.
     
     -------------------------------------------------------
Asumsi acara saya saat itu adalah :
  1. Berangkat dari Gresik jam 03.00 WIB
  2. Setelah nyampe Bandara Juanda, shalat Shubuh disana. Sementara jadwal keberangkatan terbang adalah first flight jam 06.00 WIB. Berarti masih ada waktu pumping di sela itu.
  3. Nyampe Bandara Internasional Lombok, acaranya full ke pantai
  4. Nyampe hotel alias cek in adalah jam 21.00 WITA
  5. Hari kedua acaranya ke Gili Trawangan dari pagi sampe sore
  6. Malamnya jam 18.00 WITA acara kekeluargaan, makan malam di pinggir pantai Senggigi
  7. Besoknya nya sarapan di hotel dan siangnya cabut dari hotel, ke pusat oleh-oleh, ke pusat pembuatan Mutiara dan terbang untuk kembali ke Surabaya jam 15.00
pertama kali menginjakkan kaki di Lombok

Bisa dibayangkan ya, betapa banyak waktu di luar daripada didalam hotel. Sehingga ini adalah catatan beberapa peralatan tempur yang saya bawa :
  1. Breastpump
Saya  bawa double elektric BP.
  1. Botol penampung ASI
Saya bawa 6 botol Medela 150 ml.
  1. Plastik ASIP dan spidol maker
  2. Coller Bag berserta bungkus plastiknya. Saya bawa coller bag Gabag Calmo.
  3. Coller Box
  4. Ice Gell dan Icepack
Saya bawa ice gell gabag dan ice pack Medela dalam keadaan beku dari rumah.
  1. Aluminium foil
Untuk mempertahankan dingin lebih lama saat packing pulang
  1. Plastik ziplock/zipper bag
Untuk membungkus corong setelah digunakan pumping
  1. Nursing cover
Untuk pumping dimanapun kita berada meski outdoor atau pumping di ruang publik
  1. 1 kotak plastik Lion Star ukuran sedang
Untuk alat steril di hotel
  1. Sabun pencuci botol ukuran paling kecil
  2. Sikat botol
  3. Tas kecil ransel kecil (semacam diaper bag)
  4. Hand sanitizer - mungkin kita tidak sedang dekat dengan watafel
  5. Tisu kering dan tisu basah anti bacterial

Setelah semua siap, maka semua barang-barang tersebut dimasukkan tas sesuai dengan kapan penggunanaanya. Dari barang-barang diatas hanya 1 kotak plastik Lion Star yang masuk koper dan ditaruh bagasi. Pun juga coller box dengan isi ice gell beku juga masuk bagasi. Selainnya saya taruh di tas ransel kecil dan dibawa ke kabin.
Setelah nyampe Bandara Lombok, tidak langsung menuju ke hotel. Tapi baru nyampe hotelnya sudah malam. Dan selama itu mengunjungi 2 pantai dan Desa Sade, sehingga otomatis acaranya outdoor terus. Akhirnya manajemen pumping yang aku lakukan seperti ini :
  1. Membawa semua icegell beku di coller box lalu aku taruh di bagian belakang bus
  2. Membawa 2 icegell dalam coller bag yang akan aku bawa kemana-mana
  3. Sehingga, bisa tuker ice gell. Ice gell yang berada di cooler box lebih tahan dingin daripada yang ditaruh di coller bag. Setelah icegel dalam coller bag yang sudah tidak ada titik bekunya, baru aku tuker dengan ice gell di coller box.
  4. Hari pertama , aku pumping di :
-          Bandara Juanda (bukan di ruang baby)

aman menggunakan apron menyusui
-          Pesawat
hasil pumping sesi II
-          Di bus pariwisata
dalam goncangan, tetap pumping meski tidak nyaman
pumping di bus


  1. Sampai di hotel jam 21.00 WITA . Hiks. Langsung bergegas masukin semua ice gel dan ice pack ke zipperbag (biar ga bocor). ASIP yang di perah hari pertama juga dijadikan satu ditaruh zipperbag. Semua digabungin jadi satu di tas plastik coller bag Gabag. Depan tas aku tulis “Breastmilk – Keep Frozen, Room 314". Ice gell yang dititipin adalah ice gell yang digunakan saat bawa pulang ASIP. Trus ke reseptionist, untuk menanyakan bisa gak nitip ASIP di hotel. Setelah mereka bilang iya, maka dipanggilkan petugas hotel lain buat bawa ASIP saya.
  2. Setelah itu aku balik kamar, cek kulkas kamar, apa beneran dingin. Kalau bener-bener dingin, baru deh aku lap-lap pakai tisu basah. Kita gak tau sebelum kita, kulkas tersebut habis buat naro apa.
  3. Aku sisain 2 ice gell di kulkas kamar untuk pumping selanjutnya.
  4. Sebisa mungkin aku pompa sesuai jadwal. Jika biasanya aku pumping 8X, berarti saat di Lombok pun aku berusaha pumping 8X pula. Sebelum keluar hotel, jika belum waktunya pumping, aku tetap menyempatkan pumping meski hanya 10 menit.
  5. Hari kedua acaranya di Gili Trawangan. Kami berangkat sangat pagi. Sampe Gili Trawangan, saya pumping di restaurant. Pakai apron. Meski banyak orang lalu lalang, tetap aman.
  6. Malamnya, hasil pumping seharian itu, saya titipin lagi ke dapur restaurant hotel. Ternyata ASIP-ASIP hari pertama kemaren beneran beku. Oia saya sangat memanfaatkan betul pumping di midnight sesion. Di hotel saya hanya tidur sebentar-sebentar, karena saya selalu mikir belum tentu besok saya bisa konsisten jam pumping.
  7. Di hari terakhir, saya sempet salah asumsi sama Adit mengenai jam cek out hotel. Asumsi Adit, kita makan siang di hotel sehingga kita di kamar masih santai dan belum ambil (apalagi bungkus) ASIP dari dapur restaurant hotel. Sampai akhirnya ditelfon sama temen Adit kalau kita udah ditungguin di bis. Sampe di jemput guide selama kita di Lombok. Akhirnya secepat kilat kita packing baju, dan segera mungkin ke dapur buat ambil semua ASIP beku selama dititipin.
  8. Saya packing ASIP di bis dengan di omelin teman-teman Adit (bisa dibayangkan riwehnya haha). Cara packingnya : Semua ASIP beku dari nitip hotel dibungkus zipperbag, kemudian ASIP diapit ice gell dan dibungkus aluminium foil. Ditiap sisi coller box saya taruh ice gell beku. Lalu ditutupin koran sampe berusaha meminimkan tidak ada udara masuk. Coller box dikunci dan isolasi. Sayang sekali coller box yang saya bawa terlalu kecil. Sehingga saya hanya bisa memasukkan 3 ice gell di dalam coller box. Saya sudah was-was. Apa bisa ASIP saya bertahan beku?
  9. Coller bag gabag saya bawa untuk lanjut pumping di bandara dan kabin.
  10. Nyampe bandara Lombok saya double dengan packing wrap. Kalo gak salah di Bandara Lombok waktu itu bayar 50ribu. Dan langsung menuju musholla buat pumping. Saya gak ngerti dimana baby room nya. Yang saya pikirkan, yang keliatan musholla yaudah disitu ajalah.
  11. Coller box aman masuk bagasi. Coller bag saya bawa di kabin. Ditanya petugas Bandara cairan apa itu. Saya jawab ASI perah karena saya busui dan Alhamdulillah lolos.
Ini beberapa foto ASIP saya selama di Lombok

ASIP made in Gili Trawangan
Nikmat ASI dari Allah
midnight sesion - day 1

midnight sesion - day 2
kumpulan ASIP hari pertama - yang akan dititipkan ke hotel
menata beberapa ASIP beku dari kulkas kamar untuk dititipin lagi

ASIP yang sudah di packing wrap, siap dibawa terbang


Saat itu saya sedih banget, nyampe Bandara udah sore. Kenapa? Semenjak keluar hotel kita pergi ke pusat oleh-oleh, ke pusat mutiara, dan makan. Dan lebih bikin deg-degan adalah pesawat Singa delay tanpa kepastian jadwal. Sampe saya kelaparan, sampe makan bakso yang harganya aduhai di Bandara. Sampai saya gak bisa pumping, takut tetiba di umumin pesawat Singa udah siap. Kita semua para penumpang dikasih ganti rugi keterlambatan waktu dengan sekotak roti dan minum. Gimana nasib ASIP saya? Jika di total ASIP saya menempuh perjalanan 10 jam perjalanan semenjak packing di bus. Akhirnya Singa telah siap dan terbang menuju Surabaya. Sampe Bandara Juanda udah malem. Itu PD udah nyut-nyut penuh, sampe merembes. Adit naik bis Petrokimia Gresik bareng rombongan teman-teman karyawan yang lain. Saya pilih tidak bareng bis. Kenapa? Jarak Juanda-Surabaya dengan Juanda-Gresik pasti lebih lama ke Gresik. Sehingga untuk menebus waktu, saya naik ojek Bandara. Setelah deal, saya suruh bapaknya agak ngebut. Huift nyampe rumah Surabaya,  Alhamdulillah ASIP saya tetap beku. Meski ada 3-4 kantung yang cair. Meski cair tapi masih dingin. Yang masih beku saya taruh freezer. Yang sudah cair saya taruh chiller.

Ketika saya posting foto pumping di Bandara, ada yang sempat komen Instagram saya. “Gimana cuci sterilnya mom?” seperti itulah kira-kira pertanyaanya.
Jadi selama saya acara outdor saya selalu membawa
-       Coller bag
-       Coller box
-       Tas ransel kecil

Hasil pumping sehari-hari ditempat wisata saya taruh cooler bag dulu beserta corong (yang udah dibungkus zipper bag). Saya nyesel bawa coller bag kecil. Untuk naruh corong sempit banget. Nah setelah ganti tempat wisata khan naik bis pariwisata lagi, disitulah saya oper ASIP hasil pumping sebelumnya ke colller box. Beserta corongnya. Sehingga ASI yang nempel di corong juga enggak basi. Lalu jika turun dan nyampe tempat wisata berikutnya saya ambil corongnya yang dingin dan dipakai lagi. Karena acara nya outdoor mulu, maka saya maksimalkan cuci steril adalah di hotel.

Saat itu cara cuci steril nya adalah :
  1. Mencuci semua botol penampung ASIP dan dua corong
  2. Panasin air di teko (setiap kamar khan pasti ada tuh alat pemanas buat bikin teh atau kopi)
  3. Setelah panas, air tadi dimasukkan ke wadah kotak plastik Lion Star
  4. Cemplungin deh tuh gerombolan botol penampung ASIP dan corong
  5. Tunggu minimal 10 menit
  6. Buang airnya
  7. Angkat
  8. Kibas-kibas (tidak di lap menggunakan tisu)
  9. Ditata yang rapi di atas lap bersih sampai kering.
  10. Rakit
Taraaa...bisa dipakai lagi

Dari pengalaman ini saya membawa 2,5 liter ASIP made in Lombok. Oleh-oleh berharga buat Baby Luigi di usia 2 bulan 16 hari. Terimakasih buat Adit yang udah mau bantuin saya pumping di manapun. Ternyata saya bisa melakukan pekerjaan yang ribet namun menyenangkan ini.
Oia sebagai penutup tulisan ini, di saat menunggu jadwal keberangkatan yang Delay di Bandara Internasional Lombok, saya sempat menyaksikan sesuatu yang membuat saya haru. Apa itu? Seorang Ibu yang mojok, dekat kamar mandi Bandara untuk berduaan dengan bayinya. Ya sang Ibu mengasingkan diri. Untuk apa? untuk menyusui anaknya. Saya menangis. Saya bersyukur sekali diberi kesempatan oleh Allah menjadi Ibu Menyusui. Saya bangga memberi anak saya ASI.

bermesraan dengan bayi nya, memberi cairan surga

Tidak ada komentar:
Selasa, 08 November 2016

Traveling dengan Bayi MPASI



Wah bisa ke Jakarta lagi setelah sekian lama. Kangen dengan kota sibuk dan bising seperti Jakarta. Saya benar-benar menantikan hari ini. Bisa balik lagi ke Jakarta. Apalagi kalo baliknya jalan-jalan haha. Tanggal 06 November 2016, pakdhe nya Lui menikah. Kita bertiga akhirnya terbang ke Jakarta, yup Lui diajak. Karena harus membawa bayi, maka pastinya lebih rempong alias ribet. Bawaan barangnya gak bisa disamakan seperti liburan berdua doang sama Adit. Dan persiapannya harus detail. Aku enggak mau, ada sedikit pun yang tertinggal. Kalo perlengkapan bayi ada yang ketinggalan, bisa berputar kebalik tuh dunia. Misal nih kalo pospak ketinggalan, sementara dia lagi pup banyak-banyaknya, huah bisa pengen kabur tuh Adit wkwkwk. Semua harus bener-bener direncanakan dengan baik. List perlengkapan sampai hal yang terkecil.
Hal-hal yang aku siapin pengalaman liburan kemarin antara lain  :
Tidak ada komentar:
Kamis, 27 Oktober 2016

10 Perlengkapan Menyusui untuk Ibu Bekerja

Siapa bilang working mom enggak bisa kasih ASI anaknya? Bisa buk ibuk. Bisa. Meskipun jauh dari baby, kita masih kogh kasih ASI ke anak kita. Caranya gimana? Caranya anaknya dikasih ASI perah (ASIP). So, sangat amat 'maha' penting memiliki alat-alat yang bisa membantu kita untuk kesuksesan ASI apalagi ASI Eksklusif. Dan lanjut sampe 2 tahun.

Dulu, saya pikir menyusui itu gampil, gampang banget. Tinggal buka bra, anak buka mulut beres. Lah, kalo udah masuk kerja ya gak bisa gitu dong :D lol. Haha. Ternyata oh ternyata  menyusui itu, hmm bikin emosi naik turun. Jangan dikira menyusui itu mudah dengan konteks Ibu Bekerja. Apalagi konteks saya yang usia Lui belasan hari kembali bertugas. Bayi 2 minggu udah bisa apa coba? Hehe Percayalah padaku, sebagai busui bekerja bukan prioritas beli stoller, box bayi, tempat mandi bayi digital, hiasan kamar bayi, gurita 10 lusin lalalililili... Menurut saya, perlengkapan menyusuilah yang prioritas apalagi ketika jatah cuti sangat singkat. Makanan anak adalah yang utama, apalagi kalau bukan ASI.
Tidak ada komentar:
Kamis, 13 Oktober 2016

kontemplASI



Aku menikah di usia muda, 24 tahun dan tanpa persiapan. Dengan idealisme ku akan kata keramat “menikah” aku hanya akan melaluinya saat usia 27 tahun. Tetap Adit mengajakku dengan yakin di tahun itu. Sampai akhirnya kami bersepakat, tidak akan ada anak dulu dalam rumah tangga ini. Apa yang kulakukan? BELAJAR. Belajar jadi istri, belajar menjadi Ibu, dan belajar SEIMBANG. Dan entahlah setelah aku menikah, makin sibuk aja dalam kegiatan. Setiap pulang kerja, aku diklat di Surabaya. Senin-jumat. Dan kalau Jumat sampe jam 9 malam finish, sehingga nyampe Gresik jam 10 malam. Tapi aku senang, tidak ada beban. Tidak ada tanggungan anak. Hanya Adit dirumah yang bisa mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Sampai dalam proses belajar itu aku baru tau bahwa menikah itu perlu perjuangan, sampai aku sadar bahwa istri harus paham bahwa dalam keluarga adalah sebuah organisasi kecil, aku juga baru ngeh kalo aku ternyata gak bisa masak, gak bisa nyuci baju. Selama komitmen tidak punya anak juga lah, aku semakin mendalami dunia per Ibu an. Yang ketika aku kuliah mikir kalo berkeluarga pasti banyak pengeluaran susu, ternyata ASI adalah susu terbaik di dunia ini. Gratis pula. Dari proses belajar aku pun tau bahwa seharusnya sebelum aku menikah, aku tes kesehatan sama Adit. Tapi enggak aku lakukan, lha gimana wong gak tau. Aku pun jadi yakin kalo aku mau hamil, aku harus bebas dari berbagai virus yang bisa menghambat di awal atau bahkan saat kelahiran.
Tibalah jua keinginanku sendiri, aku siap memiliki anak. Saat itu demi ikhtiar ini, aku ke Spesialis Kandungan, untuk keinginan program hamil. Selain diberi obat penyubur kandungan, aku di beri beberapa vitamin, dan dalam manajemen lain. Tidak hanya bolak balik ke Obgyn, untuk kepastian kapan aku hamil, akupun juga dengan inisiatif sendiri tes darah lengkap, hepatitis B dan C, dan TORCH dengan biaya sendiri, yang bagi aku dan Adit tidak lah murah. Tapi ini demi calon anak kami, demi kehamilan dan kelahiran yang sehat. Sampai tibalah jua segala usaha dan doa terkabul. Aku hamil dan membawa suka cita dalam kehidupan ku. Gimana bisa, anak kecil akan punya anak kecil. Haha, tapi aku sudah siap. Aku sudah punya BEBERAPA bekal dan akan terus belajar. Selama kehamilan awalku, aku kerja keras untuk sebuah peran dan pekerjaan. Aku tidur malam, begadang, banyak berfikir dan berhubungan dengan banyak orang. Saat itu aku juga tidak pernah pulang kerumah. Kerja dari pagi sampai pagi. Istirahat maksimal adalah siang ketika rekan lain istirahat. Tapi aku kuat dan bisa melalui. Targetku tidak boleh tidak produktif meski hamil. Selama hamil harus sehat. Dan di akhir trimester aku pasti update CMV dalam tubuhku, dan Alhamdulillah hasilnya selalu negatif.
 
Lui poto sama Evan Dimas ahahaha :D

Namun di usia kandungan 7 bulan disitulah aku merasa aku sudah sangat ngos ngosan. Tapi aku masih harus berperan dan berjuang untuk suatu hal. Untuk duduk aja sudah sangat capek. Sampai aku menghubungi para sabahat yang sudah pengalaman hamil. Ada beberapa yang nyaranin minum madu. Aku lakukan minum madu dan banyak minum air putih, tapi apa kondisiku lebih kuat? Tidak. Kemanapun aku pakai motor sendiri. Tidak pernah aku diantar atau di jemput Adit karena jam kerja  dan jam biologis kami yang berbeda. Bahkan untuk rapat atau diklat malam ke Surabaya pun, aku lakukan sendiri. Apa Adit jahat padaku? Ada beberapa orang yang mengatakan “...tega banget nih mas Adit...”. Aku senyum. Aku yakin, bahwa kehamilan itu adalah anugerah. Hamil itu bukan sakit. Aku sudah berat, tapi aku masih punya energi. Mungkin karena keadaan lah yang membuat aku kuat dan ber-Energi. Aku hanya punya 23 hari itu beradaptasi dengan bayi jika ia sudah lahir kedunia. Karena hal itulah, aku harus kuat sampe besok aku melahirkan, saat itulah target aku baru cuti. 
 
dugong ;O
Dalam proses kehamilah ini, ada hal yang menggangu di hati, bayi tidak posisi seharusnya. Luigi dalam 'oven' melintang. Aku berusaha renang, meski hanya terealisasi 2 kali saja, dia tetap tidak berubah. Adit memberi kejutan saat kami barusan bertengkar dengan beli birth ball warna ungu, aku pakai tiap pagi, kepalanya tetap anteng. Saat itu ada ikhtiar terakhir agar aku bisa melihat Luigi berjuang mencari jalan lahirnya sendiri. Aku masih punya harapan, bahwa aku pasti bisa melahirkan tanpa banyak intervensi medis, tanpa infus di tangan, dan tanpa bius. Apa itu? Aku pernah membaca di internet bahwa janin yang di beri suara tepat di tulang kemaluan, dia akan mencari sumber suara dan segera berputar. Air ketuban kata Obgyn cukup. Berarti masih bisa. Bahkan ada Obgyn di Surabaya menyemangatiku bahwa ada pasiennya yang sudah di vonis secar saat akan melahirkan, tapi di usia 9 bulan pun sang janin berputar. Subhanallah.
Aku akhirnya membeli alat 'prenatal education'. Aku hanya memberi Luigi musik klasik di awal usianya di oven. Setelah itu alat inilah yang aku gunakan tiap hari 2X sehari, pagi dan malam pulang kerja. Aku masih ingat karena harganya yang mahal, aku patungan sama Adit buat beli. Alat ini merupakan alat edukasi kecerdasan untuk bayi dalam kandungan (prenatal) yang terdiri dari 16 seri pembelajaran yang menggunakan “suara alami” mirip dengan detak jantung Ibu (maternal heart beat). Harapannya selain untuk pembelajaran Luigi sebelum lahirnya, alat ini juga akan membuatnya lari mencari sumber suara.
pembelajaran Lui setiap hari sebelum lahirnya

Dengan segala tantangan kehamilanku, dibalik cueknya Adit malah ia daftarin Luigi sejak dalam oven untuk program Asuransi. Jenis asuransi yang dipilih adalah Pru My Child dari Prudential. Program asuransi ini merupakan produk asuransi yang melindungi bayi sejak dalam kandungan, dengan berbagai resikonya, termasuk resiko penyakit bawaan sejak lahir. Semua orang tua tidak ada yang menginginkan anaknya dilahirkan dalam kondisi yang tidak diharapkan. Namun, sejujurnya selama aku hamil, aku selalu parno. Selalu memikirkan hal-hal yang buruk. Aku ketakutan. Apa Luigi akan sehat ketika dilahirkan, apa Luigi akan memiliki semua organ yang lengkap, dan berjejer dibelakang ketakutan-ketakutan lain. Inilah yang memotivasi ku membebaskan segala virus jahat dari tubuhku sejak program kehamilan. Dan asuransi ini adalah bentuk tanggung jawab Adit sebagai seorang calon Ayah. Aku tau, dia sangat memikirkan kami. Aku dan bayi kami. Meski aku tidak pernah didampingi dalam setiap kegiatanku termasuk antri nomer kontrol di Rumah Sakit. Tapi aku tidak pernah merasa perlu berfikir, bagaimana Adit bisa menebus semua obat atau vitamin dari Obgyn. Tidak pernah mengeluh bagaimana sebenarnya keras nya ia bekerja untuk menabung biaya persalinan yang cenderung ke arah cesar. Dan memberi banyak nutrisi melalui makanan untuk kami. Aku dan anakku. 
perlindungan Lui sejak di kandungan

Hamil itu seperti merasakan tulang-tulang mau rontok, kaki sering kaku saat dini hari. Napas ngos-ngosan. Capek tiada tara. Selama aku hamil, aku tidak pernah piket di kantor, tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, kecuali 1X masakin Adit selama hamil (9 bulan) dan setrika seragamnya tiap mau ganti hari Senin, Rabu dan batik hari Jumat. Apakah Luigi kepalanya kebawah dengan usaha kami? Sampe kontrol terakhir TIDAK. Sedih sekali rasanya. Yah aku sekarang tau kenapa Luigi tidak berputar. Kepala tidak segera ke panggul bawah. Hal ini karena aku tidak pernah olahraga. Hidupku hanya untuk kerja dan kerja. Tidak mengurus rumah dan Adit. Tapi hanya untuk kerja. Bahkan untuk foto kehamilan seperti impianku pun, aku tak sempat. Aku hanya merasakan cuti saat hitungan jari hari sebelum kelahiran. Di saat cuti itulah, aku gunakan fokus untuk aku. Istirahat. Dan mencari barang untuk persiapan ASI nya Luigi. Aku sering cari di babyshop online, fix, pesan, deal trus Adit yang bagian transfer. Tidak hanya itu. Cutiku aku gunakan untuk berjualan. Hah? Aku berjualan? Apa bisa. Bisa ternyata. Aku menjual kerudung ku yang masih bagus, merk Zoya ke grup jual beli Gresik.  Grup ini hanya diisi oleh Ibu-Ibu saja. Mulai barang baru sampai barang preloved. Sekitar hampir 20 jilbab Zoya ku yang aku beli dengan harga 79rb satu biji, aku jual dengan harga 30 ribu dan laris manis. Ludes tak bersisa. Sebenernya masih ada beberapa jilbab yang aku jual itu, aku pakai cuma satu kali, dua kali saja, dan masih ingin aku pakai. Tapi aku sudah yakin mau ngejual untuk mengisi waktu cuti. Aku jadi banyak teman melalui grup itu. Senang sekali rasanya, hehe. Selama cuti, kalender adalah hal yang sangat sakral buat ku. Tiap hari kupadangi kalender, aku hitung kapan berakhirnya 23 hari itu.

beberapa jilbab yang laku keras ;p

Hari Senin, di kehamilan 9 bulan alias 38 minggu aku rapat di Surabaya, siangnya sampe maghrib ke Cerme, setelah itu aku cari nursing cover motoran dengan tenang. Rabu aku pindah RS. Yang biasanya kontrol di RS Semen Gresik, aku ganti di RS Petrokimia Gresik dan masih bisa ambil nomer antrian sendiri. Ternyata kamis 18 Februari 2018 paginya ketubanku rembes. Pagi itu juga aku langsung masuk ruang operasi. Tuhan, rasanya seperti hidup dan mati. Aku takut. Dan Adit tidak menemaniku di meja mengerikan itu. Tapi proses ini sungguh sangat cepat. Bayi ku lahir dan langsung diberikan Nikmat ASI oleh Allah melalui payudaraku. Tapi rasanya cesar itu sangat sakit. Jujur, aku kesulitan bergerak. Aku tersiksa. Perih sangat. Bergerak ke kiri sakit, ke kanan sakit, apalagi untuk bangkit dari tempat tidur. Disana aku dan Adit mulai berjuang memahami setiap tangisannya, belajar dari nol. Aku pun mulai belajar manajemen perah ASI. Bahagianya hati kami. Anak yang kami perjuangkan, yang kami jaga, yang kami lindungi dalam hal apapun sejak dalam kandungan, akhirnya lahir dalam kondisi sehat, meski berat badannya cukup mungil. 2,5 kg sementara aku naik 15 kg selama hamil. Dari 45 kg menjadi 60 kg. Waaaah? Bulat sekali diriku. Pantesan semua baju gak cukup karena tubuhku membesar dimana-mana. Pantesan usia kehamilan 7 bulan aku sudah kelelahan. Kami beri nama Luigi Kautsarrazky. Pejuang (Itali) yang dilimpahi banyak rezeki (Arab). Semoga kelak ia memiliki akhlaq pejuang, dan merasakan nikmat rezeki pahit manisnya perjuangan, rezeki kesehatan dan lainnya.
Ternyata pembelajaranku sebagai Ibu baru sangat lah cepat. Usia 25 hari dengan penuh tangisan, aku putuskan untuk masuk kerja. Bagaimana tidak penuh tangisan, dia masih sangat lemah. Lui harus aku bawa kerja di usia 25 hari. Tidak punya stok Asip di Gresik. Lui harus di bawa pergi pulang kerumah pakai motor. Bayi ini masih kecil. Aku masih ingat dengan 3 kantung asi, harus di hemat supaya asi nya cukup. Di usia Lui belum 1 bulan, Lui sudah aku daftarkan ke daycare Petrokimia Gresik. Disana disediakan 20 box bayi, namun masih full. dan persyaratannya usia bayi minimal 2 bulan dan sudah diajarin minum Asip dengan menggunakan media dot. Ah Lui, usia belasan hari aku ajarin minum dengan dot. Akhirnya aku antri daftar. Sepulang dari daftar itu, Adit ke Surabaya dan aku di rumah sendirian. Lui nangis luar biasa. Gak jelas kenapa. Nangis terus gak bisa ditenangkan. Aku bilang ke Lui "Apa enggak mau dititipin disana, Nak?". Suatu hari Ibuku telfon, kenapa Lui di Gresik dan tidak di taruh Surabaya saja. Banyak berfikir lagi, merengung dan mengangis. Jika Lui di Gresik, ia dekat dengan kami, meski konsekuensinya ia harus di bawa kerja menggunakan motor. Jika Lui di Surabaya, jauh dan aku harus pulang Surabaya. Keluarga menjadi berjauhan. Adit sebenarnya menyerahkan keputusan padaku. Dengan menangis, akhirnya Lui dibawa ke Surabaya lagi dan Ibuku yang merawat selama aku kerja. Aku pun PP Surabaya Gresik setiap hari. Tepat 31 hari setelah secar, aku sudah motoran Gresik - Surabaya PP setiap malam sendiri tanpa Adit. Aku antar ASI yang aku perah selama kerja. Selama itu pun kami, aku dan Adit berjauhan. Aku di Surabaya dan adit di Gresik. Banyak hal yang kami alami selama ini dengan memiliki Luigi. Mulai kesedihan, kebahagiaan, penyesalan terhadap keputusan-keputusan kecil kami, dan riangnya hati. 
 
masih di RS Petrokimia Gresik
Dengan pekerjaan yang seperti itu, aku masih bisa memenuhi haknya mendapatkan ASI Eksklusifnya. Berat Lui, berat Nak. Perjuangan Ibu memberimu ASI sangat besar. Lui ditinggal Ibu masih kecil. Lui masih belajar pelekatan, Lui masih belajar mengenali Ibu, masih belajar adaptasi dengan alammu yang baru, alam dunia. Lui masih banyak menangis. Lui menangis tiap saat. Sementara Ibu harus bekerja jauh dari Lui, mengabdi lagi pada tanggung jawab. Kadang kalau kelelahan, hasil pumping juga sedikit dan aku selalu menangisi hasil ml nya. Sudah sering aku menangis karena ASI. Sering merasa bersalah, sering minta maaf sama Lui. Selama Lui eksklusif ASI, aku sudah tidak pernah lagi tidur malam lebih dari 2 jam. Tidak pernah tidur cantik. Tiap 2 jam, bahkan kurang dari itu Lui pasti minta menyusu. Tidak hanya itu, setelah menyusu aku selalu sempatkan pumping. Pumping dini hari berusahah tidak pernah aku lewatkan. Ngantuk? Capek? Jenuh? Semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesehatan Lui. Percayalah, tiap tetes ASI ada doa dan harapan buat Lui. Dan satu lagi. Ada perjuangan disana.

Banyak nyinyiran yang bilang yakin bisa PP Surabaya Gresik setiap hari, kenapa anaknya enggak ditaruh di Gresik aja. Kenapa bayi tidak dekat dengan orangtuanya. Hai Lui, kalo boleh berteriak keras dan bilang pada seluruh dunia. Ibu ingin dekat dengan Lui bukan setiap hari. Tapi setiap saat. Kalau aku sudah putus asa, Aditlah yang memotivasiku. Sabar dan sabar adalah kata yang sering diucapkan. Apalagi kalau Lui sakit, sudah rasanya hancur hati ku. Ingin selalu ada buat dia. Tanggal 21 Agustus 2016 pertama kali rawat inap di RS DARMO Surabaya. Saat itu aku sudah tidak ingin apa-apa lagi. Hanya ingin Lui sembuh atau aku aja yang gantikan dia di infus. Tangisannya menyayat hatiku. Ini loh rasanya patah hati. Aku baru merasakannya. Pada awal Oktober 2016 Lui juga batuk sampe muntah. Bahkan butuh di nebu. Sempat berfikir, kalau Lui berada pada pengawasanku 24 jam apa Lui tetap akan sakit? Apa Lui bersamaku, tumbuh kembangnya akan terus meningkat dengan berbagai stimulasi setiap harinya? Ah, hidup itu pilihan. Aku dan Adit sudah memilih.
Saat aku menulis ini, Lui semakin lucu, sudah makan sejak 6 bulan, makin suka becanda alias cekikikan, sudah diajakin jalan-jalan kuliner, ke taman, berkunjung ke sekolah besi usia 4 bulan, sudah diajakin ke luar kota tepatnya ke Trenggalek di usia 4 bulan juga, sudah tau pantai, sudah diajakin nge mall dan nonton bioskop di usia tepat 7 bulan, dan mulai diajakin ke acara nikahan. Sekarang sudah merangkak dan belajar duduk tanpa bantuan. Makannya sangat lahap. Lui juga masih mau menyusu padaku. Selama ini dia tidak pernah rewel kecuali sakit dan akan memulai tidur. Suka marah kalo mainannya diambil. Dan aku tau sejak bayi, keinginannya sangat kuat. Persis Adit. Inilah seorang yang benar-benar mengubah hidupku selamanya. Anak kecil ini. Ia banyak mengajarkan banyak hal. Belajar disiplin, belajar bersyukur, belajar ke ikhlasan, belajar kesabaran, belajar hal-hal baru, belajar semuanya. 


semua berawal dari perut ini :D
Dengan pengalaman ini, aku banyak sekali belajar. Hidup itu harus ideal tapi tetap menginjak ke bumi. Melihat realitas. Fokus tujuan tapi tetap kontekstual. Pilihan Ibu adalah yang terbaik untuk saat ini, untuk Lui dan keluarga kecil kita. Semoga Lui tumbuh dengan sehat. Tumbuh dengan limpahan kebahagiaan orang tua Lui, ayah dan Ibu dan orang-orang sekelilingmu. Lui, maafkan Ibu ya. Ibu sayang Lui, setiap detik.  
 
ini Lui masih imut :)

Selamat 7 bulan, 3 minggu dan 4 hari Lui. Tetaplah jadi anak bayi kesayangan Ibu.
Kamis, 13 Oktober 2016



*) Kontemplasi : merenung sambil menyusui

Tidak ada komentar:
Senin, 26 September 2016

Luigi Sarjana ASI (S1 ASI)



Baby Luigi telah menempuh ASI Eksklusifnya. Selama 6 bulan HANYA makan dan minum ASI, sejak lahir. Baby Luigi tercatat sakit 1 kali yaitu batuk. Itupun karena tertular keponakan saya. Mudik lebaran ke Trenggalek menempuh berjam-jam perjalanan macet dan di desa yang minim fasilitas, dia tetap sehat dan lincah. Ah, ini karena ASI dari sang Maha Pengasih. Ngomong-ngomong soal ASI, jujur banyak hal dalam perjalanan ini yang membuat saya ingin berhenti.  Lho kogh? :0

Lui S.ASI :)


ASI. Air Susu Ibu adalah hal yang paling saya siapkan jauh sebelum hamil. Setelah hamil, peralatan menyusui adalah yang saya prioritaskan beli dibanding baju, bedong, gurita, stoller, dan kosmetik bayi macam bedak lotion dan kawan-kawannya. Saya masih ingat, betapa keukeuh nya saya harus memberi anak saya ASI, sampai 2 buku ASI best seller saya pelajari. Sampai kehamilan usia delapan bulan (kalo gak salah), semua yang saya butuhkan untuk ASI sudah tuntas terbeli. Mulai dari botol penyimpan ASIP, breastpump elektric, alat steril sampe punya 2, dll.

Saya masih ingat pertama kali pumping, tidak lebih dari 15 ml. Sampai lama-lama bisa 100ml sekali pumping. Usia Luigi 2 bulan pasokan ASI dari pabrik semakin deras, sampai sering rembes. Saya masih ingat bantal guling basah kuyup tiap malam, saking banyaknya produksi ASI saya (saat itu). Lalu karena sering skip pumping, produksi jadi menurun. Sedih banget kalo hasil pumping menurun. (cerita kesedihan saya di sini ) Selama kerja bawa peralatan tempur ASI yang bejibun. Kadang pompa ketinggalan. Kadang botol yang ketinggalan. Huaah..

perjalanan ASI ku


Pengalaman ketika berlibur sama Adit di Lombok saat usia Lui 3 bulan, saya pumping di manapun saya berada dan membawa oleh-oleh 2,5 liter ASIP. Aman tetap beku sampe Surabaya. Padahal persawat sempat delay. Selama di Lombok saya pumping di ruang tunggu cek in tiket bandara, di musholla bandara Lombok yang imut, di bis, di rumah makan, dan di pesawat . Luar biasa pengalaman menyusui ini.



Buat saya petualangan menyusui ini enggak mudah dengan cuti hitungan jari. Baby usia 2 minggu ditinggal kerja, masih bisa apa? Latch on, masih belajar. Tapi saya harus mengajarinya minum asip dengan botol dot. Saya tidak punya pilihan. Persediaan asip? Saya ingat ketika awal masuk kerja, saya dan Lui posisi di Gresik sementara ASIP saya ada di lemari es di rumah Ibu di Surabaya. Di Gresik saya cuma punya 3 kantung asip 50 ml. Akhirnya apa? saya bawa Lui kerja, naik motor. Apa kabar rasa jaitan secar? hehe...


ASI ku di masa kejayaan :)


Selama ini saya berusaya memenuhi hak Luigi Surabaya-Gresik PP setiap hari. Kadang untuk antar ASI menempuh hujan sangat lebat. Kadang puter haluan dan 2 jam karena ada transformer dengan roda 16 biji, alias truk gandeng mogok. Belum lagi Ibu saya sering bikin down, dan stres dengan bilang ASI saya apa cukup. Saya juga sering baru ketemu Lui setelah 12 jam bahkan lebih. Yah ini buat cerita Lui nanti ya.


Makasih ya Allah atas kesempatan menjadi Busui. Makasih Adit, keukeuh anaknya dikasih ASI aja saat saya tiap pumping tidak lebih dari 20 ml. Terimakasih Ibu saya, mau ‘BERBEDA’ dengan kasih asip anak saya. Yang ketika antar timbang di posyandu, BB anak saya selalu lebih imut dari bayi lain yang minum susu sapi. Juga makasih Ibu Mahfud yang pertama kali ngasih Lui asip dingin. Dari situ saya tau, dia suka dingin. Para tetangga juga yang pada jaga in Lui kalo saya belum pulang kerja. Terimakasih semuanya.


Tidak ada komentar: