Kebiasaan Buruk Si Kecil Ini Berdampak Pada Rahang dan Susunan Gigi Geligi


Sebagai anak yang sering berurusan dengan dokter gigi sejak kecil, saya merasakan betapa lamanya proses memperbaiki susunan gigi geligi menggunakan kawat gigi. Dari mulai memakai alat ortodonti lepasan (kawat gigi lepas) yang penggunaannya dilepas-pasang sendiri sejak saya SMP hingga memakai alat ortodonti cekat.

 

Jika ditotal, saya menggunakan kawat gigi hingga 5 tahun lamanya dan kehilangan 6 gigi karena proses perawatan tersebut. Tentu yang membekas adalah betapa tidak nyamannya ada alat di dalam mulut kita dalam waktu yang tidak sebentar.




Ternyata ada kebiasaan-kebiasaan sejak kecil yang berpengaruh pada susunan gigi geligi, bahkan rahang. Sesimple kebiasaan menggigit jari tangan yang saya lakukan hingga SD, juga sangat berpengaruh.

 

Kesimpulan ini saya dapatkan ketika menyimak IG TV @spesialis.gigirapi dari IG live pada 4 Oktober 2020 pukul 16.00 WIB dari dr. Dwi Pramesti Ariotedjo, Sp.A atau dikenal sebagai dokter Mesty (@mestyariotedjo) dokter spesialis anak lulusan FKUI-RSCM, bersama drg. Benny M Soegiharto, M.Sc., MOrthRCS(Eng), PhD., Sp.Ort(K) dokter gigi spesialis ortodonsia, konsultan ortodonsia dan staf pengajar senior FKG Universitas Indonesia.



Untuk itulah saya ingin menuliskannya, sebagai pengingat diri untuk menjaga anak saya agar tidak melakukan kebiasaan buruk (bad habit) hingga bisa berpengaruh pada rahang dan susunan gigi geliginya.

 

Sebagai pengantar : gigi adalah satu gigi sedangkan gigi geligi adalah keseluruhan gigi (semua susunan gigi yang ada pada rongga mulut). Saya juga akan menuliskan dengan format tanya jawab, sehingga memudahkan pembaca memahami.

 

Apa saja kebiasaan buruk anak yang mempengaruhi mulut, rahang dan gigi?

Kebiasaan buruk, yang terjadi pada anak kadang terbawa hingga usia dewasa, misalnya yang paling sering menghisap ibu jari. Tidak hanya ibu jari tapi kadang jari lain (thumb or finger sucking), mengisap bibir (lip sucking), menjulurkan lidah (tongue thrust), bernapas melalui mulut (mouth breathing) - biasanya  karena ada hubungan dengan sistemik yang lain.

 

Juga menggigit bibir (lip biting) yang kadang dianggap tidak terlalu serius namun efek jangka panjangnya tidak bagus, tapi manifestasi terhadap gigi geligi akan terlihat jelas. Misalnya jika sebabnya karena mengemut ibu jari, bentuk giginya kelihatan seperti gigi atas maju ke depan dan bentuknya di jarinya juga terlihat. Khas banget.


sumber gambar : unsplash.com

Bagaimana cara mengetahui kebiasaan anak apakah normal atau buruk?

Ada 3 indikator yang bisa kita nilai apakah hal tersebut termasuk kebiasaan buruk yakni : frekuensi, durasi, dan intensitas. Selama 3 faktor tidak terpenuhi maka kebiasaan buruk itu tidak akan terjadi manifestasi rahang dan gigi geligi. Jika sekali kali mengisap ibu jari tidak ada apa-apa, kadang menghisap ibu jari karena masalah kepercayaan diri, menghisap bibir juga seringkali karena masalah anxiety (kecemasan).

 

Jadi jika memenuhi 3 hal diatas bisa kejadian gigi tongos (rahang atas lebih maju daripada rahang bawah), gigi mblesek (rahang atasnya masuk ke dalam) juga gigi nyameh (rahang bawah lebih maju daripada rahang atas). Selama tidak terpenuhi 3 hal diatas, wajar saja, tapi anak tetap perlu diberi tahu.

 

Durasi yang upnormal pada kebiasaan diatas adalah jika misalnya mengisap ibu jari selama berjam-jam, frekuensinya sering dan durasinya lama, patut diwaspadai.

 

Hal ini juga berlaku ketika anak sering mengemut makanan atau mengunyah satu sisi dan memenuhi 3 hal tersebut, bisa juga mempengaruhi rahang dan gigi geligi.

 

Kenapa kebiasaan buruk itu bisa terjadi? Apa karena pada masa fase oralnya dulu tidak terpenuhi atau faktor secure/kasih sayang anak yang kurang?

Sejauh ini tidak ada faktor spesifik yang menjadi penyebab.


Gigi normal anak usia 7 tahun. Sumber gambar : kanal youtube Elshinta TV DOKTERKU, presentasi drg. Emyda Djauhari Siregar Sp.Ort-Periksalah Gigi Geligi Anak Pada Usia 7 Tahun, edisi 18 Agustus 2020


Sejak usia berapa kebiasaan itu harusnya hilang ?

Patokan dokter gigi spesialis ortho, begitu menginjak usia 6, 7, dan 8  tahun, yakni usia saat transisi gigi geligi dari gigi susu ke gigi campur (gigi susu dan gigi tetap), sebaiknya sudah tidak ada kebiasaan buruk.

 

Bagaimana dengan anak-anak yang dari awal, giginya sudah tidak rapi? Misalnya jarang atau miring apa yang harus dilakukan?

Tidak masalah, tiap orang terlahir dengan karakteristik yang beda, termasuk dengan kondisi gigi yang berbeda. Ada pasein yang bilang “dok saya nggak mau gigi anak berjejal” dalam riset, hampir nggak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah memprediksi.

 

Bagaimana memperbaiki bentuk rahang faktor keturunan? Misalnya anak dengan keturunan tonggos, apakah ada treatment tertentu?

Direkomendasikan usia antara 7-9 tahun anak sudah mulai dibawa ke dokter gigi spesialis ortodonsia untuk evaluasi, belum serta merta dirawat. Misalnya anak usia 7, 8 tahun giginya berjejal dikit, jika dokter spesialis ortho melihat rahang baik-baik saja, kebiasaan buruk tidak ada, maka memilih didiamkan saja.

 

Berbeda jika sudah ada kebiasaan buruk dan giginya tongos, di orto ada namanya timing of treatment. Misalnya gigi belakang belum keluar full, tunggu setahun atau dua tahun, lalu berlanjut perawatan interceptive orthodontic, penggunaan alat fungsional atau alat tumbuh kembang,

 

Jika tongos mulai usia 10 atau 11 tahun, dan masih gigi campur dokter orto akan perbaiki rahangnya dulu, selesai baru di evaluasi, kemudian merapikan gigi dengan alat cekat.

 

Sebaliknya, jika rahangnya nyameh (rahang bawah lebih maju dari rahang atas), dokter gigi orto kadang ingin intervensi lebih dini terhadap rahang bawahnya.

 

Apa ada type dot tertentu yang dianjurkan agar mulutnya terjaga? Misalnya pacifier ortho atau dot orthodontic.

Kebiasaan menggunakan dot yang dilanjutkan lebih dari 2 tahun saat gigi susu keluar, yang ditakutkan akan mengubah fungsional lidah dalam proses menelan.

 

Penjelasannya - Pada saat bayi giginya belum ada, dia menggunakan botol, itu khan aliran susu dari dot keluar terus. Karena anak belum ada kendali, untuk dapat menelan maka lidahnya harus keluar kedepan. Hal ini untuk menekan aliran susu. Kemudian punggung lidah akan naik keatas dan terjadi proses penelanan


Jika kebiasaan minum seperti ini terus menerus padahal giginya sudah keluar, akhirnya anak mendorong lidahnya ke gigi, akhirnya giginya kebuka, itulah yang namanya terjadi tongue-thrusting.


tongue-thrusting sumber gambar httpswww.braceyourself.orgnew-patientpatient-forms-instructionstongue-thrusting

Dot ortho maksudnya jika dipakai, anak akan melatih lidahnya untuk lebih naik keatas, ibaratnya men-training.

 

Lalu perlukah semua bayi menggunakan dot ortho? Sebaiknya ketika gigi mulai keluar semua, mulai dialihkan gelas, kita mulai mengubah pola penelanannya.


Dot tadi khan bisa menjadi penyebab tongue-thrusting, apakah direct breastfeeding (DBF) di atas 2 tahun juga memiliki risiko yang sama?

Kembali proses penelanan, DBF lebih dari 2 tahun atau berkepanjangan akan mengubah fungsional ke penelanan, maka sebaiknya selesai.

 

Fase oral bayi biasanya pada bayi usia 4 bulan, mana yang lebih baik apakah mengemut tangan, menggunakan teether, atau pacifier?

Jika sesuatu yang sifatnya occasionally alias sekali-kali, tidak ada masalah. Namun kita tetap pantau tingkat ketergantungan anak. Untuk anak 2 tahun keatas, penggunaan pacifier pelan-pelan dikurangi.


sumber gambar : unsplash.com

Bagaimana dengan anak kebiasaan menggigit bibir bawah?

Jika terlalu sering biasanya otot di bawah bibir menjadi aktif, sehingga menahan pertumbuhan rahang bawah juga. Maka, semakin intens anak menggigit bibir bawahnya, maka gigi atasnya akan semakin maju. Biasanya dokter gigi ortho akan memasang alat fungsional, ada modifikasi yang cara kerjanya bibirkan dihalau.

 

Pada kegiatan apa menjulurkan lidah ke depan dianggap wajar?

Nggak ada yang wajar apalagi ketika memenuhi 3 syarat. Dokter gigi ortho bisa melihat ketika giginya terbuka, nggak bisa ngatup, inilah terjadi namanya anterior open bite. Efeknya tidak bisa makan bakmie karena tidak bisa menggigit.


Kondisi rahang atas lebih maju dan rahang bawah lebih maju dari rahang atas. Sumber gambar : kanal youtube Elshinta TV DOKTERKU, presentasi drg. Emyda Djauhari Siregar Sp.Ort-Periksalah Gigi Geligi Anak Pada Usia 7 Tahun, edisi 18 Agustus 2020


Apa ada terapi khusus mengatasi kebiasaan menjulurkan lidah?

Pertama kearah pengarahan dulu, diingatkan terus menerus, terutama sebelum ‘gigi tetap’ mulai keluar. Karena terapinya ada alat yag dipasangkan dilangit-langit, ada pagernya untuk nahan lidah. Jika sudah usia 10-11 masih menjulurkan lidah maka harus dipasang.

 

Bagaimana dengan kebiasaan menggigit gigi?

Kadang terjadi saat tidur, namanya kebiasaan yang tidak disadari, kita harus tahu kenapa sebabnya? Karena anak tidak serta merta ingin menggigit gigi. Jenisnya 2 ada yang giginya gerak-gerak atau menggigit keras. Namun balik ke 3 tadi (frekuensi, durasi, dan intensitas). Jika terus menerus harus dibawa ke dokter gigi karena kebiasaan itu efeknya pada rahang. Jika permanen, dari permukaan gigi geliginya yang parah.

 

Bayangkan kita punya cobek, lalu kita ulek terus, lama-lama permukaannya akan aus. Demikian pula dengan gigi. Apalagi kalo anak makan yang asem, misalnya orange jus bahkan makan pempek (cukanya asam) sebelum tidur, keasaman di rongga mulut tinggi, terus digosok (karena menggigit gigi), padahal  email gigi sangat sensitif dengan keasaman rongga mulut.  

 

Tadi ada kebiasaan buruk yakni bernapas melalui mulut, kapan kita boleh bernapas dari mulut?

Secara normal orang akan bernapas melalui hidung. Jika dia bernapas melalui mulut berarti ada patologi lain, misalnya ada masalah pada saluran napas bagian atas, contohnya penderita asma. Sehingga ada manisfestasi dalam rongga mulut. 


Bayangkan seorang penderita asma butuh oksigen, yang hidung ibaratnya nyumbat, karena tidak bisa memenuhi oksigen dari hidung, akhirnya ambil dari mulut.

 

Nah buruknya ketika kita napas dari mulut, kepala akan tengadah ke atas, karena dia mau menarik banyak jumlah udara. Ketika bernapas melalui mulut, membuat rongga hidungnya tidak berkembang, sehingga rahang atas juga tidak ikut berkembang, akhirnya lengkung gigi atas sempit, kadang akan terjadi open bite juga.

 

Kenapa open bite? karena ketika napas, rahang bawah ketarik. Sehingga jika 3 faktor (frekuensi, durasi, dan intensitas) terpenuhi, mungkin secara genetik tidak nyameh (rahang bawah lebih maju dari rahang atas), tapi karena faktor lingkungan tadi akhirnya mirip nyameh karena rahang bawahnya ketarik terus. 


Treatment untuk masalah ini dengan multidisiplin, dokter gigi spesialis ortho akan bekerja sama dengan dokter spesialis THT (telinga, hidung, dan tenggorokan).


Open bite karena bernapas dengan mulut. Sumber gambar : kanal youtube Elshinta TV DOKTERKU, presentasi drg. Emyda Djauhari Siregar Sp.Ort-Periksalah Gigi Geligi Anak Pada Usia 7 Tahun, edisi 18 Agustus 2020

Tips agar gigi anak tumbuh rapi secara natural?

Kuncinya dipantau, ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Usia 7 tahun anak musti dibawa ke dokter gigi, minimal kenalan dulu, anak mereka merasa nyaman, jika akhirnya pakai alat yang lebih complicated lebih mudah karena sudah kenal. Dokter akan mengidentifikasi dan memantau mana yang dikhawatirkan mana yang gpp. Tidak serta merta langsung intervensi.

 

Disini kerjasama multidisiplin antara dokter gigi spesialis orthodontik dengan dokter gigi spesialis gigi anak. Biasanya dokter  melihat foto gigi anak dan menganalisa jika ada potensi berjejal, maka ada gigi susu yang dicabut terlebih dahulu dulu, agar gigi lain bisa keluar dulu dan tidak numpuk di dalam.

 

Kadang dokter juga melihat ukuran gigi karena ukuran gigi tiap orang beda, bahkan dari orangtua ke anak bisa beda (karena dari Tuhan yang bikin). Tugas dokter gigi spesialis ortho adalah menyesuaikan dan memonitor, tergantung kasusnya dan sifatnya individual.

 

Dirumah anak harus terus diingatkan kesadaran mengenai kebiasaan menjaga kebersihan gigi, dan kesadaran untuk menghindari kebiasaan buruk. Orangtua memberi edukasi, apa dampak dari kebiasaan buruk. Dan memberikan  pandangan positif mengenai dokter gigi. Dokter gigi bukan sebagai alat ancaman.

 

Kapan sebaiknya anak memakai braces/kawat gigi?

Semua ada waktunya. Dokter Benny kurang setuju jika sejak usia dini sudah ada intervensi dalam. Ada pasien masih 5 tahun, Ibunya panik karena gigi anaknya berjejal dan dijawab dokter Benny “Kenapa sih Buk, anak masih 5 tahun, mau jadi Kpop ya?” Kalo terlalu dini kasian anaknya juga. Perawatan braces itu tidak nyaman kadang juga menyakitkan. Tidak semua harus buru-buru.


sumber gambar : unsplash.com

Bagi dokter Benny anak yang masih usia 6, 7, atau 8 tahun dan sudah dipasang fix bracket (kawat gigi cekat) sering bahaya. Bayangkan saja, alat yang ditempel permanen sementara anak-anak usia segitu biasanya belum dapat sikat gigi secara benar dan mandiri, seakan kita memberi kesempatan anak-anak untuk mendapat karies, lubang gigi, penyakit gusi dan masalah lainnya. Oleh karena itu penanganan masalah tergantung kasusnya.

 

Menurut dokter Benny, anak usia 6, 7, atau 8 tahun sudah memakai dipasang alat cekat, ibarat mereka sudah menerima tanggung jawab yang besar. Rekomendasi dokter usia segitu adalah menggunakan kawat gigi lepasan. Ini saya juga baru tahu, kenapa saat SMP saya diberi kawat gigi lepasan oleh dokter gigi saya dulu. Ternyata jika langsung menggunakan kawat gigi cekat akan berpotensi masalah yang mengganggu proses perawatan.

 

Terlalu dini menggunakan bracket tidak baik, karena terkadang dokter ortho membenarkan rahangnya dulu, baru giginya. Mengenai penggunaan behel/braces/kawat gigi, tidak semua masalah HARUS menggunakan behel, meski sekarang trendnya pakai behel. Kawat gigi bagus untuk merapikan gigi, tapi bukan untuk memperbaiki susunan rahangnya, itu beda lagi.

 

Jika tidak semua masalah pakai behel, apa saja type alat untuk permasalahan rahang dan gigi?

Secara umum perawatan ortodontics adalah urusan yang mengawasi pertumbuhkan gigi geligi dan tulang rahang dari anak sampai dewasa. Untuk fungsi ini ada beberapa macam alat, misalnya

1.       Alat ortodonti lepasan

2.       Alat untuk mempengaruhi tumbuh kembangnya rahang

3.       Alat ortodonti cekat (typenya macam-macam),

 

Masing-masing memiliki indikasinya. Treatment-nya personal, seperti resep obat, harus spesifik, demikian pula dengan alat orthodonti disesuaikan foto rontgen panoramic (gigi menyeluruh), bagaimana rahang dia apakah rahang atas mrongos, rahang bawah nyameh dan lainnya.

 

Dokter Benny mengatakan, proses kawat gigi itu maksimal 3 tahun. Jika lebih dari 3 tahun, berarti ada 2 kemungkinan. Kasusnya susah banget atau pasien yang tidak kooperatif. Dan saya sepertinya masuk kategori pasien tidak kooperatif karena hingga 5 tahun lamanya menggunakan kawat gigi. Ini disebabkan kawat gigi lepasan masa SMP dulu jarang saya pakai, padahal HARUSNYA hanya boleh dilepas ketika makan saja -.-

 

Hmm, saya jadi semakin menyadari perawatan gigi itu prosesnya lama, pengalaman saya sering ke dokter gigi sejak SD saja bosan. Bosan ngantrinya broooo. Bayangkan, dulu belum punya ponsel, saya harus menunggu antrian pasien hingga berjam-jam kadang sampe malem diatas jam 10 malem, padahal besok paginya sekolah (eh tapi bagaimana Bapak saya yang setia nganterin, yang pastinya juga bosan, besok paginya ngantor, makasih Bapak :D)

 

Sehingga, dibutuhkan pemahaman dari anaknya, kenapa dia harus dirawat. Seringkali dokter Benny bertanya pada pasien anak, kenapa kamu di bawa kesini? Dijawab si anak, nggak tahu, dibilang mama yang ajak kesini. Tentu ini kurang baik karena anak harus diberi penjelasan hingga merasa butuh dirawat, jangan tiba-tiba langsung “diceburin” ke dokter gigi, apalagi spesialis orthodontist.


sumber gambar : unsplash.com

Bagaimana pergi ke dokter gigi pada masa pandemi Covid-19?

Semua dokter gigi tentu harus melaksanakan protokol kesehatan. Untuk konteks di ruang praktik dokter Benny, ada beberapa yang di-ubah misalnya pasien menunggu di mobil masing-masing (kecuali yang menggunakan taxi). Saat masuk klinik harus menggunakan masker dan cek suhu tubuh.

 

Pada saat bertemu pasien, dokter gigi juga menggunakan masker N-95, menggunakan Alat Pelindung diri  (APD) level 3, dan semua alat di sterilisasi secara double. Sehingga jika ke dokter gigi pada masa pandemi, pastikan protokol kesehatan yang diterapkan.

 

(Baca juga : pengalaman memakai kawat gigi)

 

Penutup

Dari penjelasan ini saya menyimpulkan, kenapa saat kelas 2 SMP saya tidak langsung menggunakan kawat gigi cekat namun lepasan, karena untuk menghindari risiko masalah gigi dan gusi. Dan tidak semua masalah harus menggunakan kawat gigi, tergantung kasusnya.

 

Selain itu kenapa gigi saya berantakan selain faktor keturunan, jika diingat-ingat sejak kecil hingga kelas 4 SD saya suka mengemut jari hingga jari saya terlihat gepeng dan menghitam bekas gigi. Tidak hanya menjelang tidur, saat diam-diam saja juga ngemut tangan -.- (jijay banget deh kalo ngelakuin sekarang HAHA)


poto yang masih tersimpan saat aku menggunakan kawat gigi lagi karena dulu jaman sekolah jarang kontrol :p 


Ternyata kebiasaan “aneh” tersebut harus dibalas dengan perawatan gigi dengan durasi yang tidak sebentar dan merasakan ketidaknyamanan pada mulut, meski akhirnya saya bersyukur. Bersyukur karena Ibuk sayalah yang mendorong menyusul jejak kakak untuk memakai behel/kawat gigi dan Bapak saya yang setia mengantar kontrol ke dokter gigi, termasuk membayar semua biayanya (karena kawat gigi tidak ditanggung kantor). Makasih Bapak dan Ibuk sudah perhatian masalah gigi anak-anaknya :)


Hikmahnya : jika anak melakukan kebiasaan buruk dengan frekuensi, durasi, dan intensitas yang sering harus segera dibawa ke dokter gigi. Karena takutnya jika tidak segera ditangani bisa berdampak pada rahang dan susunan gigi geligi. Seperti gigi tongos (rahang atas lebih maju daripada rahang bawah), gigi mblesek (rahang atasnya masuk ke dalam) juga gigi nyameh (rahang bawah lebih maju daripada rahang atas). Terutama pada usia 7 tahun orangtua harus memperhatikan gigi geligi si kecil ya :) Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?

 

Terima kasih teman-teman yang sudah membacanya. Apakah kalian juga pernah merasakan kawat gigi, atau pengalaman membersamai anak dengan masalah gigi dan rahang? Yuk sharing di kolom komentar ya

 

 

 

 

Sumber referensi :

Instagram @spesialis.gigirapi (https://www.instagram.com/spesialis.gigirapi/) - layanan edukasi publik dari Ikatan Ortodontis Indonesia Komisariat Jakarta Raya (Ikorti Komda Jaya) yang bekerja sama dengan https://www.instagram.com/tentanganakofficial/.

 

 

 

 

 

 

 

 

38 komentar

  1. Ternyata bisa diperbaiki ya . Banyak ilmu yang mpo dapat soal keturunan gigi tonggos dan penanganan .kebiasaan buruk harus dihentikan agar tidak berdampak besar pada gigi.

    BalasHapus
  2. Anakku yang cewek termasuk yang rahangnya nyameh. Sebelum pandemi sudah ke dokter gigi, dan rencana mau perbaikan termasuk pasang kawat. Eh pas udah bikin rencana dan jadwal gitu, tau2 pandemi. Ga jadi deh, tunda dulu :D Mudah-mudahan masih bisa karena usianya kini udah 12 tahun.

    BalasHapus
  3. Aakkk, senangnyaaa ada artikel edukatif yg dikemas ala Q&A gini. Jadi makin asik bacanya, pengetahuan dan wawasan juga nambah banyaaakk!
    Memang gigi itu faktor pentiiing bgt. Ada temenku yg mau program hamil/inseminasi, trus SpOG-nya nyuruh pasutri teresebut untuk "beresein urusan gigi geligi dulu yaa..."

    BalasHapus
  4. Terima kasih sudah berbagi informasi kak. Anakku mulai tumbuh gigi dan suka sekali menggingit apa saja yang dia temui. Baca artikel ini jadi lebih banyak tahu tentang perkembangan dan masalah gigi pada anak.

    BalasHapus
  5. Suamiku cerewet banget nih sama si kakak yang suka banget gigit bibir. Kalo aku sih melihatnya biasa ya. Cuma suami bilang, dia udah pengalaman kebiasaan begitu pas kecil, eh bikin gigi jadi tongos katanya.

    BalasHapus
  6. Kalau anak saya ada yang patah gigi depannya. Sudah pernah diperbaiki. Tetapi patah lagi. Sayangnya pas lagi pandemi. Jadi masih ragu-ragu juga

    BalasHapus
  7. Ternyata banyak penyebab ya?
    Anak anak saya pakai kawat gigi karena masa batitanya ngempeng dan ngedot
    Baru paham kesalahan di anak bungsu yang ngga saya izinin mainan dot

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umur berapa sekarang pas pasang kawat gigi mba? Kalo dot sih, emang gak boleh kelamaan buat anak, sebab bisa memengaruhi pertumbuhan giginya juga.

      Hapus
  8. Lengkap banget ka ulasannya aku terbantu sekali memahami kenapa anakku gusinya bermasalah. Ternyata memang kebiasaannya mempengaruhi struktur giginya. Aku pengen ke dentis tapi karna pandemi belum juga terlaksana. Semoga berapa hari ini bisa dehh yaa

    BalasHapus
  9. Kesehatan gigi dan mulut penting untuk diperhatikan, bagus motivasi dan edukasi seperti ini

    BalasHapus
  10. Belum mbak sep, aku belum pernah merasakan memakai kawat gigi. Tapi punya pengalaman yang tak terlupakan tentang gigi anakku.

    Jadi anak pertama itu termasuk gigi aman, aman disini dia gak ada lubang atau gigis diusia yang hampir jalan 7 tahun ini. rapi, dan bersih.

    nah, karena aku berpatok anak pertama, sikat gigi menjelang tidur aja dan sesekali pas mandi pagi (itupun intensitasnya sedikit), tapi yang jelas sebelum tidur harus gosok gigi.

    Nah, kuterapkan untuk anak kedua, eeeee sekalinya berlubang sudah giginya, gerahamnya, 22 nya lagi...weleh.

    Ke dokter untuk menambal 2 gerahamnya.

    pengalaman membersamai anak yang sakit gigi, alamaaaaak stres sendiri sebelum ditambal. Soalnya mau tidur sakit, nanti tidur lalu bangun tiba-tiba terus nangis kesakitan, makan pun kesakitan, huhu

    anak kedua menjadi pembelajaran bagiku mbak. anak ketiga sekarang rajin sikat gigi minimal 2x sehari (mandi pagi dan sebelum tidur)

    begitu mbak sep pengalamanku tentang gigi anakku

    BalasHapus
  11. Pengunaan pacifier itu yang sering saya liat terjadi pada bayi. Alih-alih ingin anaknya tenang, banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa pacifier bisa mengakibatkan perubahan pada gusi. Pun sebenarnya gak baik untuk kesehatan karena pacifier sering diletakkan sembarang dan eh langsung diberikan ke si bayi tanpa dibersihkan terlebih dahulu.

    BalasHapus
  12. berarti masih usia anakku nih belum bisa memang ya dilakukan perawatan karena giginya tumbuhnya masih tumpang tindih, semoga sih udah agak gedean dikit tumbuhnya bener dan bisa di treatment ke dokter gigi ya

    BalasHapus
  13. Wah, lama sekali enggak denger kabarnya Kak Mesty, dulu zaman kuliah sering ngundang beliau sebagai pembicara. sekarang sudah jadi dokter spesialis anak, ya. wah seminarnya oke banget mba tentang gigi, kebetulan punya ponakan juga bolbal ke dokter gigi karena giginya gigis. semoga tumbuhnya gak tumpang tindih, hehe. makasih sharingnya mba.

    BalasHapus
  14. Lho lhooo 5 tahun di behel aapa ga kasian tu..
    di behel kan sakit ya belum lagi sariawan di mana2 huhuh kasian anaknya

    BalasHapus
  15. aku bookmark ya mbak. Ini menjawab banget beberapa pertanyaanku berkaitan dengan giginya anak-anak.

    Anak 5 tahun di behel? Duh padahal kan masih banyak gigi susunya tuh anak usia segitu

    BalasHapus
  16. Iya sama aku pernah pakai kawat gigi lepasan saat SD, lucunya bangun tidur selalu bingung cari kawat gigi aku dimana... Karena malam hari saat tidur tanpa sadar aku lepas dan lempar entah kemana wkwkwkwk..

    BalasHapus
  17. Gigi aku termasuk yg masalah
    Gigi seri bawah ada 5, jd yg atas giginya jarang 😂

    BalasHapus
  18. Wah giginya mbak Septi rapi kok nihh... malah keren pake behel yaa, gigi berantakan pada anak memang ada faktor genetika, turunan dari ortunya. Tp bisa diubah dengan mengubah kebiasaan buruk dan perawatan di dokter gigi ya Mbak

    BalasHapus
  19. Bermanfaat informasi nya. Btw, mulai usia berapa ya anak minum harus pakai gelas? Soalnya anak saya sdh umur 2 tahun lebih, masih sering minum pake DOT, menjelang tidur.

    BalasHapus
  20. Anakku yang kedua punya kebiasaan menghisap tangan, jari telunjuk bahkan karena diajarin pengasuh waktu bayi dulu. Sampai saya kecewa banget. Sekarang saya pantau terus pengaruhnya ke gigi anakku ini. Makasih mb artikelnya bermanfaat banget nih.

    BalasHapus
  21. Aku engga pakai brace sih. Adikku tuh dulu ngemut jempol sampai SMA dong. Kalau ga salah pernah pakai kawat gigi yg lepasan. Tapi engga telaten...Ya jadinya agak maju deh sekarang...

    BalasHapus
  22. alhamdulillah ya anakku ga kenal dot sama ga suka ngemut mbak. tapi dia jatoh pas masih 1,5 tahun jadi giginya coplok yg depan sehingga susunannya miring emg, kata dokternya ya tinggal tunggu copot aja akarnya, mudaha2an maish bisa diperbaiki yaa

    BalasHapus
  23. Sepupu aku ada yg giginya kayak di gambar tu, karena suka ngedot ampe gede 😀

    BalasHapus
  24. Alhamdulillah, adik saya tidak pernah pakai dot atau kompeng. sebab selalu terasa risih, itupun hanya pakai umur 6 bulan. karena resikonya yaa itu

    BalasHapus
  25. bener kak, kasian kalo sedari kecil sudah dipakai braces :(

    BalasHapus
  26. Ya Allah ini reminder banget buat akuu. Anakku masih ngedot. Hikss haeus segera dilatih ya mbaa biar segera lepas. Makasih banget edukasinya

    BalasHapus
  27. Saya malahan pengen pakai brace, tapi dokter gigi dulu hobinya main cabut aja. Alhasil geraham saya habis, dan ini jadi penyebab nggak bisa pakai kawat. Padahal kata dokter yang sekarang, asal ada akar gigi bisa diakalin.

    Mangkellll kalau ingat ini.

    BalasHapus
  28. duh serem juga ya lihat bentuk giginya yang jadi gak bener karena habit masa kecil yang harusnya di stop, aku makanya rencana mo pasang kawat gigi buat anakku

    BalasHapus
  29. enaknya sih bisa diceha ya, ke dokter gigi itu mahal, apalagi gak bisa sekali datang saja, soalnya aku merasakan harus sring ke dokter gigi. jadi saat anak2 kecil aku banyak mencegah agar gigi mereka sehat dan alhamdulilah mereka punya gigi sehat

    BalasHapus
  30. Iya ya. Kalau anak kebiasaan isep jempol, rahang bisa maju dan gigi bisa tonggos entar hihi. Btw 5 tahun lama banget ya. Dan kalau zaman sekarang, malah pada pasang behel hiasan biar kekinian tanpa tahu apa fungsi sebenarnya kawat gigi. Bahkan sampai ada yang kena kanker cuma karena gengsi.

    BalasHapus
  31. ternyata banyak banget ya mba kebiasaan buruk yang bisa berdampak pada rahang. mba termasuk beruntung orang tua sangat mendukung dan memperhatikan kesehatan khususnya kesehatan gigi

    BalasHapus
  32. Baru tahu nih saya kalau kebiasaan2 itu bisa merusak rahang. Infonya lengkap banget. Terima kasih banyak

    BalasHapus
  33. wah dot buat anak aja harus dipilih dengan bener y mbak, baru tahu, makslum belum nikah jadi belum baca banyak hal masalah parenting, thx kak infonya

    BalasHapus
  34. Ternyata kebiasaan yang begitu ITU berakibat buruk ya kak Septi, padahal sekilas kita melihatnya biasa, anak-anak mah pasti hilang seiring usianya ...

    BalasHapus
  35. Aku nih salah satunya yang susunan giginya amburadul. Tonggos juga karena masih minum susu dari dot dan mengemut jari sebelum tidur sampe kelas 4-5 SD.

    BalasHapus
  36. Anakku sering banget ke dokter gigi mba, ada gigi tumbuh padahal gigi susu masih bagus. Ada bolong terus harus di tambal. Sedangkan biaya ke dokter gigi enggak murah kan ya hehe

    BalasHapus
  37. Bagus informasinya mbak ini bisa menjadi pembelajaran bagi saya kelak untuk mengajarkan kepada anak-anak

    BalasHapus