Dari Brand Sekolah, Hingga Mengantarkan Pelajar Berprestasi Tingkat Dunia


Perjalanan tak pernah berhenti bagi Hendro Yulius Suryo. Berawal dari mencari murid untuk sekolah tempatnya mengajar, akhirnya ia mendirikan sekolah Robot yang bertransformasi menjadi pencetak pelajar berprestasi di kejuaraan bidang robotik hingga kancah internasional.

 ***


Langit biru Surabaya pagi itu berseri-seri. Saya janji bertemu Hendro di sebuah sekolah. Ia memberi alamat sekolah dan acuan lokasi yang dekat dengan perguruan tinggi berbasis teknologi di Surabaya. Sopir ojek daring yang saya tumpangi tak tahu sekolah yang dimaksud, kami sama-sama mencari, hingga google maps menunjukkan arah untuk masuk ke sebuah gerbang perumahan elit – Pakuwon City -. Sebelum masuk komplek perumahan, saya ditanya tujuan oleh satpam perempuan. Saya jawab ada janji dengan seseorang di SMP Islam Al Azhar 13, dan diiyakan oleh satpam berambut cepak tersebut.

 

Ternyata sekolahnya terletak di pojok blok perumahan kelas atas di Surabaya Timur ini. Saya cukup tertegun karena sekolahnya mewah dan bersih. Sekolah berbasis agama ini terlihat cukup megah, dengan bangunan 3 lantai. Ada papan yang menunjukkan kurikulum pendidikannya bekerja sama dengan lembaga asing. Dibalik megahnya sekolah, ternyata menyimpan kenangan yang tidak pernah dilupakan oleh Hendro Yulius Suryo, sang kepala sekolah SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya.


SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya saat ini. Foto : pribadi

“Jumlah muridnya sedikit mbak” ia mengawali pembicaraan. “Tahun 2007 pertama kali saya ngajar disini sebagai guru fisika, kelas VII hanya diisi 6 orang, kelas VIII ada 17 dan kelas IX ada 32 anak. Tinggal menunggu waktu sekolah ini akan mati” ungkap Hendro pada (16/12/2020).

 

Hampir setiap malam, ia diajak rapat bersama pengurus yayasan, untuk membahas nasib sekolah. Hingga keputusan berat disampaikan oleh pengurus, jika tahun ajaran baru siswa yang mendaftar tidak sampai 20 anak, sekolah akan ditutup.

 

Semua tamu rapat diminta memilih, mau ditutup sementara atau terus berjuang mendapatkan 20 siswa. Dalam ruangan itu ada pro kontra, beberapa orang mengatakan sudahlah ditutup saja daripada menghabiskan energi. Sementara dari sisi para guru berpikir, akan lebih berat jika menutup lalu membukanya lagi. Saat itu jumlah guru ada 8 orang. Mungkin guru-guru itu juga membayangkan bagaimana membagikan ilmunya setelah tak lagi mengajar karena sekolah yang tutup.


Hendro Yulius Suryo membawa robot hasil karya siswanya

Batin Hendro bergejolak, tergerak oleh keprihatinan masa depan sekolah. “Akhirnya saya berkomitmen, kita yakinkan pengurus untuk mencari murid, akhirnya dapat 19 anak” tukas Hendro mantap. “oh iya kurang 1, satunya ada dari kenalan dosen, anaknya berkebutuhan khusus pula” kenangnya.

 

Seketika saya teringat film Laskar Pelangi besutan sutradara Riri Riza yang bercerita sekolah di Gantong nyaris ditutup karena kekurangan satu murid hingga datanglah Harun, anak dengan keterbelakangan mental sebagai penyelamat. Ini pula yang terjadi pada SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya kala itu.

 

“Akhirnya sama pengurus yayasan nggak boleh nempati tempat ini (Jalan Florence komplek Pakuwon City), karena mau dibangun, kami disuruh menempati gedung di Jalan Mulyosari gabung sama SD Islam al Azhar 11. Saya kira dipakai semua, ternyata hanya lantai 3 saja, jadi kelasnya terasa sempit” cetusnya.

 

Tahun berikutnya SMP berbasis Islam ini mempunyai murid kelas VII sebanyak 20 anak, kelas VIII ada 6 anak dan kelas IX ada 15 anak. Kelas VII yang 20 siswa akhirnya berguguran karena yang lulus hanya tersisa 18 anak. “Nah, tiap tahun kok begini saja” tutur Hendro cemas.

 

Pada tahun 2010 ia diamanahi menjadi wakil kepala sekolah, tapi jumlah murid tidak pernah ada peningkatan signifikan. “Mendapat 20 siswa saja sudah bagus, lulus juga nggak sampai 20” kenang Hendro menerawang.

 

Di tahun yang sama, sekolah pindah lagi ke tempat semula di Komplek Pakuwon City karena gedungnya sudah jadi. Hendro menyangka SMP tempatnya mengajar ini akan berbagi dengan SD Islam Al Azhar 35, ternyata SMP hanya menempati lantai 4 saja. “Nggak ada ekskalator, gedung tambah tinggi, capek juga naik turun 4 lantai” tambahnya sambil terkekeh. Bagaimana harus berbagi setengah lantai jika memang muridnya saja terbatas.

 

Dinas Pendidikan saja sering salah dan tamu pun beberapa kali kesasar. Mungkin benar orang-orang tidak banyak yang mengetahui keberadaan SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya ini. Sehingga jumlah murid tidak ada kemajuan dari tahun ke tahun. Hendro terus berpikir bagaimana cara agar masyarakat mengenal dan mengakui keberadaan serta kualitas sekolah tempatnya mengajar.


pintu masuk SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya. Foto : pribadi

Tahun 2011 hatinya semakin bergejolak hingga ia menemui kepala sekolah “kita nggak bisa Bu, jika seperti ini terus, mencari murid dengan cara yang sama. Kita harus cari cara lain. Kita harus punya brand.” ungkapnya dengan pandangan penuh harapan.

 

Bagi Hendro, brand adalah apa yang mau diunggulkan sekolah. Di tahun 2011 itu pula ia melihat ada event kompetisi robot di Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS). “wah keren ya” kesan Hendro. Hingga ia tersadar, bukankah lokasi sekolahnya dekat dengan ITS dan PENS, kenapa tidak dimanfaatkan, bahkan pengurus yayasan banyak dari PENS. Hendro juga sering mendengar pemberitaan, kedepan tenaga robot isunya menggantikan pekerjaan manusia.

 

Itulah yang menginspirasinya membuat ekstrakulikuler robotik. Ekskul robotnya ini diharapkan menyajikan diferensiasi sebagai nilai jual sekolah yang belum dimiliki sekolah lain. Saat itu belum banyak sekolah yang mempunyai ekstrakulikuler robotik.

 

Bagaimana teknis ekskul robot masih di awang-awang Hendro, karena ia tak pernah belajar mengenai dunia robot. Tapi ia yakin bisa mengangkat nama sekolah apabila ada siswa yang berprestasi di ajang kompetisi bidang robotik, hingga ia menyebar informasi ke orangtua dan mendapat peminat 20 anak.

 

Pencarian Trainer dan Target Menang

 

Lalu bagaimana dengan pelatih? Ia mulai mencari dan diberi kenalan temannya seorang dari Fisika ITS.  Adalah kak Isa dari Fisika ITS yang dimaksud, biasanya ia juga mengajar robot. Isa menyanggupi dan bisa ditarget. Akhirnya Kak Isa akad kontrak kerja bersama Hendro.

 

“saya bilang ke Kak Isa bahwa kita punya target, targetnya adalah anak-anak bikin karya, ikut lomba dan juara, bila perlu hampir semua event bisa juara demi mengangkat nama sekolah.” tukas Hendro bersemangat. Dipikiran Hendro saat itu hanya menang dan menang, atau sekolah tempat ia mengajar pelajaran Fisika ini tak terdengar lagi namanya.

 

Materi yang diberikan ke anak-anak adalah line follower yaitu robot yang bisa mengikuti jejak garis secara otomatis. Hendro melihat anak-anak merakit sendiri, menyolder sendiri, dan memperhatikan wajah fun siswanya ketika bisa membuat robot jalan sendiri.

 

Kala itu ada lomba di Universitas Airlangga (UNAIR) dan ia mengirim tim. Namun Hendro tidak ikut karena ia mendampingi siswa yang LDKS. Ternyata keberuntungan belum memihak perwakilan tim robot sekolah. Mereka kalah.

 

Setiap ekskul robot Hendro selalu mendampingi anak-anak. Hingga tersiar kabar ada lomba lagi di SMAN 2 Jombang Jawa Timur. Pemuda asal Mojokerto ini mengikutkan siswanya lagi. Jauh dari rasa nyaman, disana 4 siswa bukan tidur di hotel, melainkan menginap di rumah nenek Hendro.

 

“Kita bawa robot line follower, robot kompetitor bagus-bagus, tract arenanya lumayan besar, robot kompetitor bisa melewati jalur dengan cepet bahkan melewati tidak sampe semenit. Sementara punya kita dikasih waktu 3 menit saja nggak nyampe” suara Hendro mengingat-ingat.

 

Esok harinya Kak Isa datang ke sekolah dan menyampaikan pamit. Hendro dan Kak Isa bersalaman sebagai tanda perpisahan.

 

Kemenangan Pertama

Pemuda lulusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Surabaya ini mulai gusar. Harus mencari kemana lagi pelatih robot untuk anak didiknya. “Mungkin ini rencana Tuhan. Saya memberanikan diri masuk kampus PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya), saya masuk di parkiran, lalu keliling, saya nggak tahu siapa yang mau saya temui, pikir saya namanya kampus yang unggul di robotik maka pasti ada UKM robotik. Disana ketemu anak tangga, saya naiki dan berniat mencari kantor UKMnya”.

 

Hendro melihat ada pintu bertuliskan dilarang masuk selain Crew, ruangannya besar berisi robot-robot. Hendro terkesima seketika. Seseorang bertubuh kecil tiba-tiba membuyarkan lamunan Hendro dan bertanya siapa yang sedang dicarinya. Pria kelahiran Mojokerto ini mengatakan berniat mencari pelatih robot untuk sekolah tempatnya mengajar. Seseorang yang ternyata dosen itu bernama Pak Nando, yang akhirnya menghubungkan Hendro dengan mahasiswa PENS robotika bernama Rodik Wahyu Hendrawan. Kala itu Rodik masih mahasiswa semester tujuh.

 

Rodik dihubungi dan janjian di sekolah. Hendro tak alpa menautkan robot dengan tujuannya, membuat brand sekolah dengan prestasi robotik. Rodik menyatakan kesanggupannya. Dibawah bimbingan Rodik, anak-anak membuat robot line follower sudah tidak pelan lagi.

 

Tahun 2012 Hendro mengeluarkan tim dalam kompetisi ITS Expo. Mereka bertanding dalam kompetisi Robot Cleaner atau robot pemungut sampah. “Akhirnya kita juara 1 tingkat nasional” kenang Hendro. Itulah pertama kali, sekolah menjadi juara 1 kompetisi robot tingkat nasional.

 

Moment mengharukan tersebut, membuat orangtua, murid, pengurus yayasan, kepala sekolah senang bukan kepalang. Kala itu, tahun 2012 bisa juara pertama laga robotik adalah sesuatu yang prestise. Hendro punya pengharapan, bahwa prestasi ini menjadi jalan pembuka prestasi lainnya -demi nama sekolah-.

 

Berikutnya Hendro berdiskusi dengan Rodik untuk meng-upgrade kurikulum dengan modul pemrograman, yakni siswa belajar coding dasar dan logika pemrograman.

 

“Saya mengajukan dana ke yayasan dan disupport, namun diberi bertahap. Saat itu anak-anak masih pakai line follower, mereka tekan tombol start dan robot jalan sendiri. Sementara jika programing, mereka benar-benar pakai coding” ujar Hendro.

 

Tantangan dan Kemenangan Bergengsi

 

Ada bara yang selalu membuat semangat Hendro terus menyala. Saat itu Hendro tertarik dengan robot buatan Amerika karena diberi saran jika ingin juara, robot Amerika bisa diadu. Akhirnya ia membeli dua robot buatan Amerika, seharga masing-masing 3 juta. Pololu nama robotnya. Robot itu kemudian dipakai siswa untuk belajar pemrograman.

 

Pertama dipakai lomba pemrograman di Bandung, ternyata kalah. Tapi dipakai di Sidoarjo bisa menang. Kok bisa? Hendro mengamati, ternyata ada robot kompetitor yang unik-unik. Robot dari Korea.

 

Pololu coba dipakai lomba lagi, dan berakhir kalah lagi dengan buatan Korea. “Wah ternyata punya Korea ini lebih unggul, tahun 2014 saya sudah nggak pakai Pololu” terang Ayah 2 anak ini.

 

Akhirnya Hendro membeli robot buatan Korea, namanya Roborobo, harganya 2 kali lipat dengan buatan Amerika. Robot itulah yang akhirnya menjadi jejak prestasi bagi siswa didiknya. “Saya beli 1 pasti menang, wes dimana-mana menang. Terus saya beli 1 lagi. Akhirnya robot lokal juga kalah”.

 

Sejak saat itu SMP Islam Azhar 13 Surabaya mendapat kemenangan di hampir semua kejuaraan robot mulai tingkat kota, propinsi, nasional, bahkan internasional. Prestasi yang ditorehkan ini menjadi sorotan publik baik media cetak dan elektronik.


Ketika saya mencari informasi mengenai SMP Islam Al Azhar 13 di web Dinas Pendidikan Kota Surabaya, prestasi yang dikumpulkan sekolah berbasis Islam ini sangat banyak. Yang mendominasi tentu saja prestasi robotik, pernah juga memborong sebagai juara 1, juara 2, dan juara harapan 1 Robotik Kategori Junior dari IT Smart dalam satu waktu.


Untuk sampai pada tahap itu, jelas bukan perkara gampang. Ada saja tantangan dari beberapa pihak guru di sekolah. Terutama mereka yang kurang peduli pada teknologi.

 

“Namanya anak ketika dia mrogram (mem-program) biasanya juga jenuh akhirnya mesti main game, dan main (bermain) game-nya pas konangan (waktu ketahuan) guru lain, katanya ekskul robot kok main game. Padahal anaknya sudah mrogram lama karena mau persiapan lomba. Bukannya saya membela anak-anak.” ungkap Hendro.

 

“Tapi kebetulan ada beberapa guru berasumsi bahwa laptop yang dibawa siswa ke sekolah untuk dijadikan alasan ekskul padahal main game. Tapi itu lambat laut kok. Lama-lama mereka mulai paham, dengan munculnya banyak prestasi robotika dengan pemrograman.” lanjut konsultan pendidikan ini.

 

Yang juga tidak pernah dilupakan Hendro adalah ketika mendampingi siswanya bertanding di Kemenristek. Mereka latihan mulai pagi hingga malam. Kurang 5 hari lomba, robot trouble. Dicoba diperbaiki terus bermasalah. Saat itu sekolahnya mengirim 3 tim, dan hingga jam 10 malam -sebelum esoknya berlaga- robot masih error.

 

Ketika akhirnya robot bisa jalan, siswanya latihan 1 jam, dan jam 11 malam pulang, padahal paginya harus berangkat. “sebelum berangkat saya mampir ke sekolah, ternyata dananya belum turun. Akhirnya bawa 9 anak pakai uang pribadi dulu.“ kenangnya

 

Saat proses kompetisi juga ada sedikit ganjalan karena banyak peserta yang mempermasalahkan aturan lomba. Lomba yang harusnya pemrograman, namun oleh panitia tidak diberi waktu mem-program. Kondisinya sebagian arena ditutup, sehingga tim tidak tahu tracknya padahal harus meng-coding. Akhirnya disepakati diberi waktu 30 menit untuk coding.

 

Terbayarlah segala lelah sejak latihan dan sebelum keberangkatan. “Akhirnya anak-anak mendapat juara 1 dan 3.” ujar pemilik nama lengkap Hendro Yulius Suryo Putro ini.

 

Ekstrakulikuler robot yang digagasnya terus melesat. Tahun 2014 Hendro membuat karya inovasi robot penyiram tanaman, yang diberi nama Loving Plant Robot. Robot tersebut diikut sertakan dalam ajang International Robot Olympiad (IRO) di Beijing, China. Hasilnya sungguh membanggakan karena robot ini mendapatkan penghargaan special award.

 

Selain Loving Plant, Hendro juga mengikutkan tim robot Transporter buatan Korea. Ternyata robot buatan Korea yang membuat siswanya menang di setiap laga robot di Indonesia, harus kalah dengan siswa dari Korea dengan robot yang sama.

 

Ia menyimpulkan berarti robot buatan Korea lebih bagus kualitasnya daripada yang diekspor. Hal ini membuka wawasan tim robot, ternyata teknologi yang digunakan negara lain sudah sangat maju.

 

Riset Robot Buatan Sendiri

“Kemudian saya berpikir kenapa kita nggak buat sendiri? Akhirnya tahun 2015 kita develop sendiri, namanya Robo Plant, lalu kita coba tandingkan” tukas Hendro. Namanya membuat sendiri berusaha mirip dengan made in Korea, namun masih juga kalah. “kita mengakui, kadang kita buat sekali dua kali IC-nya jebol, ya namanya riset” kenangnya.

 

Tahun 2016 ketika sudah mulai stabil, timnya membuat lagi namanya Robot X-Line. Mencoba mengikutkan robot buatan sendiri ke laga robotik di Lombok, Nusa Tenggara Timur. “kita coba tandingkan di Lombok, kita keluarkan 2 tim, ada tim siswa yang menggunakan X line, ada tim yang pakai Roborobo punya Korea, ternyata nggak kalah!!! Juara 1 Roborobo, juara 2 robot X line buatan sendiri, dan semua adalah siswa kita.” tutur Hendro bersemangat. Akhirnya riset itu terus berkembang.

 

Sekolah itu akhirnya tak berhenti mencetak prestasi di bidang robotik. Bulan ketiga tahun 2016, pada ajang Robocup Singapore Open yang diadakan RoboCup Commitee & Singapore Polytechnic bertempat di Science Center Singapura, SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya berhasil memborong juara 1, 2 dan 3 Ressue Line Junior.

 

Empat bulan kemudian pada bulan Juli, di kompetisi RoboCup International, sekolah berbasis agama ini mendapatkan Special Award Rescue Line Junior di Leipzig, Jerman.

 

Jeda 1 bulan, pada bulan Agustus pada ajang IISRO yang diselenggarakan International Muslim Association for Robotic (IMARO) di Lombok NTT, siswa Hendro memborong hampir semua kategori juara. Diantaranya peringkat 1, 2, dan 3 Fire Fighting, Juara 3 Rescue, Special Award Rescue, juara 1 dan 2 Transporter dan mendapat special award Fire Fighting.

 

Melebarkan Sayap melalui AWG Robotic Courses

 

Nyala semangat Hendro terus bersinar. Alih-alih membusungkan dada berpuas hati, Hendro mulai berpikir agar ilmu robotik ini bisa dimanfaatkan banyak sekolah lainnya, tidak hanya di sekolah tempatnya mengajar. Ternyata robot bukan semata-mata ekstrakulikuler yang membawa nama baik sekolah. Ada hal esensi yang menurutnya unik dari robot. 

 

“Robotik itu khan siswa belajar sambil bermain. Sebenernya bukan robotnya. Di robotik itu, yang ingin kita berikan ke anak-anak bagaimana logic thinkingnya, logika ketika mereka memprogram, bagaimana menyelesaikan persoalan, ketika ada masalah, mereka menyelesaikannya (sehingga) permasalahan terpecahkan, langkah-langkahnya sesuai urutan. Alatnya menggunakan robot, tanpa mereka sadari selain belajar pemrograman, mereka belajar toolsnya, codingnya, tapi yang kita sasar kemampuan di problem solving. Betul-betul langsung terapan.” ucapnya bersahaja.


manfaat belajar robotik untuk pelajar, dari slide Hendro. foto : pribadi 

Akhirnya, dengan semangat meluaskan manfaat bagi sekolah lain agar memiliki wadah untuk mengembangkan minat bakat pelajar dalam bidang teknologi, tahun 2016 ia mendirikan lembaga sekolah robot secara independen bernama yayasan AWG (Adicita Wiraya Guna) Robotic Course. “Kita urus operasional, berdirilah sekolah robot AWG, ijin operasionalnya keluar tahun 2018” tukasnya.

 

Sekolah robot yang digagasnya ini menempati ruko 3 lantai di Jalan Mulyosari Surabaya. “akhirnya kami menempati ruko lantai 3 yang waktu itu tidak terpakai, tempatnya kecil, campur gudang” ujar Hendro.


AGW Robotic Courses di ruko. foto : pribadi

Dengan payung AWG ia mulai mengirim proposal ke sekolah-sekolah untuk kerjasama resmi. Akhirnya banyak sekolah yang berminat. Menurut Hendro, pelajar hari ini harus punya bekal menghadapi tantangan era digital.

 

AWG memang fokus di ranah edukasi jenjang sekolah. Sekolah robot yang didirikannya menyiapkan tidak sekadar jalan, asal pelajar belajar robotik. Namun di AWG benar-benar menggodok siswanya bisa berlaga tingkat nasional bahkan kancah internasional. Kompetisi internasionalnya pun resmi seperti RoboCup. Untuk mencapai goal tersebut, AWG juga menyiapkan kurikulum, mulai tingkat dasar hingga advance.

 

Kurikulum tersebut terbagi menjadi kelompok mata pelajaran seperti introduction and rule untuk mengenalkan modul robot yang akan dipelajari dalam satu semester. Disana siswa juga ditunjukkan robot serta video kegiatan perlombaan yang akan diikuti sehingga menginspirasi mereka. Ada juga mata pelajaran mechanical dan coding untuk melatih siswa berpikir sistematis, logis dan terstruktur.

 

Selain itu ada mata pelajaran creative project untuk mengembangkan gagasan menciptakan karya yang bermanfaat. Hingga mata pelajaran game and competition yang melatih siswa mempresentasikan hasil karya dan melatih mental berkompetisi baik skala nasional maupun internasional.


saya memegang salah satu robot karya anak didik Hendro

Ternyata antusiasme sekolah luar biasa. Dalam lingkup Surabaya ada beberapa sekolah yang bekerja sama. Hingga akhirnya AWG bisa menjangkau beberapa daerah dan sekolah di Indonesia. Mulai dari Surabaya, Mojokerto, Bojonegoro, Solo, Pasuruan, Gresik, Pondok Pesantren di Jombang, Palu, bahkan Sorong Papua. Kali ini siswanya menyebar mulai jenjang SD, SMP hingga SMA.

 

Kok bisa menjangkau sampai beberapa daerah Indonesia?

Semua berangkat dari prestasi.

“Kompetitor pasti bertanya, kok bisa menang ya? Dari mana belajarnya? Robotnya apa? Padahal kita beli punya Korea dan Amerika kok tetap kalah” ucap Hendro terkekeh menirukan kata-kata peserta lomba dari sekolah lain.

“Akhirnya mereka minta contact person kami” sambung leader SMP Islam Al Azhar 13 Surabaya ini.

 

Memang pengalaman mengikutkan murid ke berbagai ajang kompetisi baik skala nasional maupun internasional, Hendro dan tim banyak belajar. Hingga terus melakukan riset. Dari riset yang terus berkembang, menghasilkan robot yang bahan bakunya (komponen dan sparepartnya) tidak mengambil dari negara lain namun dibuat sendiri.


robot X-Line buatan anak Indonesia. foto : pribadi
 

Inilah keunikan robot AWG. Semua jenis robot yang dibuat adalah produk sendiri, yang kualitasnya bisa dikatakan sama dengan robot negara maju. Terbukti dari beberapa kejuaraan robot, AWG lebih unggul dan bisa menandingi robot-robot dari negara maju seperti robot Korea Selatan, Amerika dan Jerman.


sebagian robot karya siswa AWG. Foto : pribadi

robot yang pernah digunakan berlaga siswa AWG

Pada ajang RoboCup Asia Pasific yang diselenggarakan oleh RoboCup Commitee di BITECH Bangkok, Thailand, siswa dari AWG Robotic mendapatkan penghargaan bergengsi yakni Best Algoritm Programming Rescue Line.


salah satu prestasi siswa AWG Robotic Courses


Seiring berjalannya waktu, di bulan Agustus tahun 2018 siswa AWG jenjang SD juga berhasil menorehkan prestasi di kompetisi RoboFest Japan, yang dilangsungkan di Okayama University, Osaka, Jepang dengan penyelenggara PPI Kansai dan Okayama University. Murid robotnya yang masih berseragam putih merah ini berhasil membawa pulang piala juara 1 Gathering Primary dan juara 1 Transporter Primary untuk SD Al Falah Surabaya. Juga juara 2 Gathering Primary dan juara 2 Transporter Primary untuk SD Islam Al Azhar 35 Surabaya.

 

Prestasi ini juga menular ke daerah lain. Pada bulan April 2019, ia juga mengantarkan siswanya dari Mojokerto di ajang RoboFest Indonesia Open yang diselenggarakan RoboFest Commitee & Kemkominfo. Anak didiknya meraih Juara 1 Battle Maze Secondary untuk SMP Negeri 1 Mojokerto dan juara 1 Gathering Secondary untuk SMP Islam Al Akbar Mojokerto. Hal ini mendapat sambutan yang baik dari berbagai pihak, termasuk Bupati, karena siswa daerah akhirnya mampu berprestasi di bidang robotika.

 

Empat bulan kemudian, bulan Agustus 2019 siswa didiknya dari MAN 1 Pasuruan meraih prestasi pada kejuaraan RoboFest Japan 2019 dan mendapat juara 1 kategori Robot Gathering Super Team Senior dan juara 3 kategori Line Maze Senior hingga dijamu oleh gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur setibanya di Surabaya.


salah satu prestasi siswa AWG yang diliput media cetak. Foto : pribadi

 

siswa AWG yang mendapatkan emas di ajang International Robotic Workshop & Competition di Okayama Jepang diliput media cetak. Foto : pribadi



Prestasi demi prestasi tak henti dicapai anak didik Hendro dalam bendera AWG, mulai jenjang SD, SMP dan SMA. Ia terus bersinergi dengan rekannya, Rodik dan Gama Indra. Melatih dengan sabar para pelajar untuk mengenal teknologi melalui robotika. Ia membentuk mental siswanya dengan mengikutkan kompetisi namun juga mengajarkan berkolaborasi.

 

Karena lomba robot lebih banyak dikerjakan oleh tim. Ia meramu bagaimana komposisi tim bisa seimbang, antara siswa mekanik dan pemrograman. Ada anak yang tangannya cepat jika bongkar pasang ketika mekaniknya trouble, namun ada siswa yang mindsetnya program. Itulah seninya.

 

AWG juga menyasar sekolah kejuruan. Selama 2019 ia mengantarkan siswanya dari SMK Negeri 2 Surabaya berlaga di MLTC dari Fakultas Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang dan mendapat juara 1 dan 2 Gathering. Terakhir, pada bulan Juni sekolah SMK tersebut juga meraih juara 2 dan 3 Gathering pada ajang Java Robot Contest di kampus Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).


saya bersama Hendro Yulius Suryo di ruang kerjanya AWG Robotic Courses

Hendro tak pernah kehabisan energi. Puncaknya pada tahun yang sama –tahun 2019- Hendro diganjar dengan penghargaan SATU Indonesia Award yang digagas oleh Astra Indonesia dalam bidang teknologi. Hal ini karena kegigihannya mengenalkan dunia robotik kepada generasi muda hingga membawa teknologi robotik Indonesia ke kancah dunia.

 

Seiring semangat Sumpah Pemuda, PT Astra Internasional Tbk mempersembahkan 11th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards untuk generasi muda yang tanpa kenal lelah memberi manfaat bagi masyarakat di seluruh penjuru tanah air.

 

SATU Indonesia Award (SIA) adalah wujud apresiasi Astra untuk pemuda, baik individu atau kelompok yang punya program di lima bidang yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan dan teknologi. Serta satu kategori yaitu kelompok yang mewakili bidang tersebut.

 

Pada tahun 2020 ini, Astra memberikan tambahan kategori apresiasi khusus kepada para pejuang tanpa pamrih di tengah pandemi Covid-19. Semangat generasi muda yang tak kenal lelah berjuang menebar kebaikan bagi sekitarnya sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa. Pemenangnya pun tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Jurinya juga tak bisa dianggap remeh. Dua diantaranya adalah pakar teknologi informasi, Ono W Purbo, Ph. D  dan cendikiawan Prof. Emil Salim.

 

Saat Hendro bertemu dengan juri Prof Emil Salim, ada pertanyaan yang lekat dalam ingatan Hendro. “beliau bilang, mas sampeyan ini sudah menghasilkan anak-anak yang juara sampai tingkat internasional, apa yang salah dengan pendidikan kita, kenapa PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia rendah, dan bisakah kurikulum robotik mendongkrak PISA Indonesia?” ujar Hendro menirukan pertanyaan Prof Emil.

 

“Bagaimana tidak rendah Pak, jika mindset kita masih UN (Ujian Nasional) bukan by project. Robot adalah tools karena sebenernya tujuannya anak anak dilatih berpikir pemecahan masalah, mereka kritis, berkolaborasi, kerjasama, team work, dan mengasah jiwa kompetisi. Nah itulah yang kemudian anak jatuh bangun. Sehingga mereka juara.” jawabnya lantang kala itu.

 

Robotik Pada Masa Pandemi Covid-19

Hendro mengisahkan pada bulan November Desember 2019 trainer robot AWG tidak pernah berhenti mengajar, mulai Senin sampai Minggu. Bahkan ke Pasuruan, Jombang, Mojokerto, hingga akhirnya di rem mendadak Februari karena semua sekolah berhenti total akibat pandemi. “mau nggak mau kita juga berhenti,” tutur Hendro.

 

Di masa krisis akibat pandemi Covid-19 Hendro tak kering ide. Bulan Juni, ia dan timnya membuat event kompetisi robot secara daring “pesertanya hanya 20, sedikit banget, biasanya kalo kita bikin event bisa (mencapai) 300-500 peserta. Nggak apa-apa yang penting jalan. Akhirnya trainer yang mati total bisa jalan lagi” ujarnya bersemangat.

 

Selain lomba robotik virtual, ia dan tim trainer AWG juga tetap mengajar robot secara daring. Sistemnya siswa belajar dari rumah masing-masing menggunakan media zoom.


pemrograman untuk menggerakkan robot yang dijalankan siswa AWG. Foto : pribadi 

“Masa pandemi gini, mengajar robotika juga penyesuaian. Kalau ngomong robot nggak hanya aplikasi program saja yang kita berikan, namun saat pandemi siswa belajar aplikasi saja, coding juga virtual. Yang lebih bagus ada barangnya langsung. Beda rasanya ketika siswa menyentuh barangnya. Ketika prosesnya langsung (offline), mereka belajar bagaimana komponen elektronikanya dan merakitnya secara langsung. Itu bedanya dengan virtual.” Lanjut Hendro.

 

Barulah bulan November beberapa siswa mulai aktif berjalan lagi, mempelajari robotik bersama trainer AWG, namun tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.


robot yang tinggi ini adalah robot pengukur suhu tubuh yang dikerjakan siswa AWG selama Pandemi dan belum dilombakan. Foto : pribadi

Penutup

Sekarang, SMP Islam AL Azhar 13 Surabaya tak lagi mencari murid seiring dengan prestasi robotik yang terus diraih. Setelah hanya mendapat 20 anak untuk menyelamatkan sekolah, akhirnya menjadi 69 siswa dalam satu angkatan. Saat ini semua kelas terisi penuh.

 

Tak hanya itu, berkat dedikasinya bermanfaat seluas mungkin, tercatat ada 389 yang menjadi murid AWG Robotic Course. Dengan teknologi robotik itulah, Hendro semangat memajukan Indonesia.

 

“Masalah panggung itu hanya masalah waktu, yang bisa kamu lakukan adalah berikan totalitas yang terbaik yang kamu hadapi saat itu. Meskipun terlihat diatas kertas bisa juara, tapi jangan berpikir kamu juara. Karena Tuhan pasti akan memutus pikiranmu itu, Tuhan nggak mau disetir. Karena Dia tetap berkuasa atas kehendakNya” adalah mantra yang ditanamkan Hendro pada siswa robotiknya.

 

Menjadi juara tak lagi menjadi tujuannya. Value totalitas itulah yang selalu dibawa siswanya, kemanapun mereka berlaga, mengharumkan nama Indonesia.

 

Sementara langit Surabaya menjadi mendung. Perlahan hujan mulai turun dengan deras. Hendro yang dulu cemas nasib sekolah agar tak mati, kini telah mengantarkan banyak pelajar, mendulang prestasi hingga kancah dunia.

 

#SemangatMajukanIndonesia #KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik

32 komentar

  1. Aku bacanya ikutan bangga loh mba. Bisa membuat harum nama sekolah terlebih Indonesia di kancah internasional. Bukti kalo pelajar2 Indonesia ga kalah dibandingkan students negara maju lain :)

    Dan sebagai alumni Al Azhar walopun di Medan, lebih berasa lagi bangganyaa :D 😁😄.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mba, pelajar Indonesia nggak kalah sama negara maju, asal terus dikembangkan ya :D

      Hapus
  2. Terharu saya dengan perjuangan Pak Hendro ini. Saya membayangkan bagaimana telatennya ia dan tim melatih anak-anak. Sewaktu S1 dulu, skripsi saya juga berkaitan dengan pemrograman, microcontroller, sensor, IC dan lainnya. Saya aja pusing, apalagi anak-anak sekolah ya. Tapi akhirnya memang terbukti, usaha membuahkan hasil. Semoga keberkahan selalu tercurahkan pada sosok inspiratif kita ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yang wawancara aja juga ikutan terharu dan salut banget sama Pak Hendro ini, bukan guru biasa karena pemikirannya sungguh melesat.

      Hapus
  3. Bagus ya, sejak kecil anak-anak udah diajarkan kerja tim. Ujudnya memang berupa robot. Tapi di bidang lain pasti bermanfaat tuh pola kerja by project kayak gitu. Hebat pak Hendro ya, bisa memajukan sekolahnya. Semangaaat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yeyy semangat juga mbak dosen Hani :) emang asik banget sih kalo tugas sekolahnya by project gt hehe

      Hapus
  4. lho mba di surabaya juga toh ? wah baru tahu aku
    Seneng ya membimbing anak-anak sekolah membuat inovasi gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba Maria, aku di Surabaya-Gresik, lalu lalang :p Seneng dan haru juga ya kalo seorang guru mengantarkan muridnya mencapai prestasi bergengsi :)

      Hapus
  5. Terenyuh saat membaca bagian ini, "jika tahun ajaran baru siswa yang mendaftar tidak sampai 20 anak, sekolah akan ditutup." Saya jadi ingat sekolah di Laskar Pelangi mba. Hihihi. Keren ini Mas Hendro. Orang-orang seperti beliau wajib dikloning. Biar semangatnya semakin menular.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah bener, semangatnya harus dicontoh guru2 lain. Tahun 2021 ini beliau nggak diem, mau ada project baru lagi :)

      Hapus
  6. Pak hendronya sangat menginspirasi, ekstrakurikuler robotik akhirnya membuat sekolahnya tidak jadi mati sekaligus juga membuat nama pak hendro menjadi diakui

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Hendro emang keren, jarang sih sekolah yang punya ekskul robot dan berprestasi tingkat internasional :)

      Hapus
  7. Masya Allah keren pak Hendro. Andai saja beliau patah semangat, udah tutup sekolahnya pasti. Tapi emang robotik selalu digemari, andai saja AWG nyampe ke Malang, anak saya pasti daftar. Sukses terus pak Hendro!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga komentar mba sampai ke Pak Hendro dan tim robotnya :)

      Hapus
  8. Menginspirasi benget sosok Pak Hendro Yulius Suryo ini. Di tengah kesuliatn, beliau tidak menyerah. malah sebaliknya memberi pembuktian bahwa mereka bisa berkarya mesti dalam keterbatasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pemikirannya nggak biasa ya mba, guru satu ini emang top banget :)

      Hapus
  9. Hasil yg gemilang tidak bisa didapat dg mudah ya kak. Harus melalui perjuangan panjang dan pastinya ga mudah. Tapi kalau sudah berhasil, bahagia dan haru sekali pasti

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah saya juga nggak bayangin perasaan Pak Hendro saat siswanya dapat medali dari kompetisi internasional, kalo saya pasti nangis, :D

      Hapus
  10. Wah, mantap juga fokusnya ke dunia robot! Ternyata tidak cuma bikin robot asal bergerak, tetapi juga pemograman dan hitung-hitungan rumit lainnya. Asal siswanya senang tidak masalah. Dan, sepertinya memang menyenangkan dunia robot itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo saya pasti sudah pusing duluan Kak :D tapi Pak Hendro sabar ngajarin dan motivasi siswanya dalam setiap laga.

      Hapus
  11. Keren ya...robot ciptaan Hendro dan anak didiknya ini, shingga bisa mengharumkan nama sekolah yang dulu sempat hampir mogok. Salut deh kak Septi bisa meliput ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah makasih ya Kak, saya juga awalnya awam sama robot, tapi tergerak buat wawancara beliau, Alhamdulillah beliau baik mau sediakan waktunya.

      Hapus
  12. Ah, andaikan AWD Robotic Course ada di tempat saya pasti anak kedua saya yang hobi utak-atik mainan robotnya bisa tersalurkan dan bisa punya keterampilan pula. Pak Hendro ini inspiratif ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga AWG Robotic Course bisa menjangkau banyak pelajar di seluruh kota di Indonesia ya mba :) Amin

      Hapus
  13. Inspiratif sekali perjalanan dan kisah pak Hendro dan anak didiknya.. semoga artikel ini memberi motivasi pada tenaga pendidik lainnya supaya dapat membuat karya nyata dalam situasi apapun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga banyak pendidik yang baca tulisan ini, syukur2 kalo tergugah :)

      Hapus
  14. hebat ya. Seneng deh adek-adik SMP pun bisa berprestasi di ajang nasional maupun internasional. Ini tentu juga berkat peran pak Hendro yang merintis jalan dan tak putus asa mencari jalan dan juga peluang

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba, berkat Pak Hendro yang pemikirannya luar biasa keren.

      Hapus
  15. Salut untuk semangat dan totalitas yang ditanamkan Pak Hendro kepada siswanya.
    Benar kata pepatah: tanpa kerja keras, tak akan ada yang tumbuh, kecuali gulma. Semoga ada Pak Hendro Yulius lainnya di berbagai daerah yang gigih membimbing anak-anak bangsa menggapai mimpi di dunia robotik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga ada Hendro Hendro lainnya yang juga semangat mendampingi anak berbakat hingga berprestasi dan mengharumkan nama Indonesia, apapun bidangnya :)

      Hapus
  16. seeneng banget kalau baca artikel prestasi anak negri kayak gini. Inovasi dan kerja keras kak Hendro ini juga patut diacungi jempol

    BalasHapus
  17. Wah luar biasa banget nih Pak Hendro. Andai ia tidak bekerja keras, mungkin sekolah sudah entah kabarnya. Btw tulisannya luar biasa. Menang nih. Amiiin.

    BalasHapus