Ini Masa Pandemi Covid-19, Nak. Surat untuk Luigi

by - Senin, Mei 04, 2020


Hai Luigi, anak Mama yang selalu ceria, kamu membaca tulisan ini kira-kira usia berapa ya? Saat ini Luigi berumur 4 tahun 2 bulan, dan Alhamdulillah Ayah, Mama dan Luigi dalam kondisi sehat. Mama mau berkirim surat untuk Luigi, karena Mama ingin sekali cerita agak panjang. Awal tahun, masih ingat gak sih, kita berdua saling menangis sambil motoran berdua, trus kita ke Ciputra World Mall.

Dalam kondisi Surabaya yang mendung, kita berangkat menuju Kidzoona dan main dengan gembira. Kita sempat makan ayam goreng, pempek, beli d crepes dan jajan lainnya di foodcourt. Pulangnya kita kebanjiran di Jalan Mayjen Sungkono, dan untuk pertama kalinya Luigi melihat dan merasakan banjir setinggi hampir se sadel motor Mama. Luigi hanya memakai atasan jas ujan Mama, dan Alhamdulillah kita ditolong mas-mas.


Surat untuk Luigi pada masa pandemi Covid-19 

Pada 23 Februari, dari Gresik Mama anter Luigi lomba balance bike di Surabaya Town Square (SUTOS). Itu tepat 5 hari setelah Luigi ulang tahun yang ke 4. Dan akhirnya setelah sekian lama Luigi gak sepedaan bareng temen-temen, disana ketemu lagi deh. Gak nyangka bahwa juga ketemu mbak Kinan dan adek Laras. Rezeki Luigi, dikasih 1 dus donat sama tante Ririn. Tapi yah, mungkin Luigi lupa bilang terima kasih sama tante. Besok lagi harus bilang terima kasih ya, Nak.

Tanggal 1 Maret, kita bertiga bersama kakak Davin, ke car free day Taman Bungkul. Sempet susah cari parkir, tapi akhirnya dapat juga. Adek sama kakak Davin beli jajan gak penting haha, maen bubble, dan jalan-jalan. Pulangnya adek dan kakak beli celana kembaran. Meski nyampe rumah, Mama dimarahi sama Ibuk karena belikan kakak celana yang rada cingkrang haha.

Seminggu kemudian 7 Maret kita jalan-jalan ke alun-alun Lamongan, kita juga sempat shalat Dhuhur di Masjid Namira. Trus tanggal 10 Maret kita ke Gressmall berdua. Itulah kebiasaan kita Nak di kota yang minim hiburan ini, ngemall. Intinya kita bergembira menjalani aktivitas di luar rumah, kapanpun kita mau jika sedang bosan di rumah..

Hingga akhirnya pemerintah menginstruksikan bahwa kita harus dirumah saja di 15 Maret karena ada sebuah penyakit serius. Penyakit ini berasal dari kota cantik, Wuhan dan menjangkiti banyak negara. Hingga masuk ke Indonesia dimulai dari dua orang pertama yang diketahui positif dari sebuah Klub Dansa di Jakarta. Lalu entah bagaimana ceritanya menyebar ke kota, kabupaten dan provinsi lain di Indonesia. Di Jawa Timur sendiri, hanya Sampang yang masih zona hijau. Apa kabar kota dan kabupaten lainnya? Zona merah alias pasti ada penderita wabah meski hanya 1 orang.

Ini masa pandemi Covid-19, Nak
Apakah Luigi sudah tahu apa itu Covid-19? Mama sudah sering menjelaskan pada Luigi, namun sering juga Luigi bertanya. Akhirnya Mama tulis disini, biar besok Luigi juga bisa baca. Penyakit ini sangat infeksius Nak, alias mudah sekali untuk menular. Makanya bikin Mama takut


Ini masa pandemi Covid-19, Nak
World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia secara resmi mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi. Sudahkah Luigi tahu, apa itu pandemi? Pandemi itu gampangnya suatu penyakit yang nyebar di berbagai lintas negara bahkan seluruh dunia. Hingga Mama menulis (2 Mei 2020), virus ini telah menginfeksi 3,4 juta orang di dunia. Dari jumlah yang sangat banyak itu, ada 239.602 orang yang akhirnya harus meninggal.

Bahkan negara adidaya Amerika Serikat seakan tak berdaya melawan Covid-19 dengan mencatat sebagai negara dengan menempati urutan nomer 1 kasus positif dan meninggal dunia, disusul Italia dan Inggris. Bagaimana dengan di Indonesia? Pada 2 Mei sudah menjangkiti 11ribu orang. Apakah Luigi sudah bisa membayangkan kengeriannya? Covid-19 memang bisa sembuh Nak, namun mematikan.

Ini masa pandemi Covid-19, Nak
Di masa awal virus ada di Wuhan beberapa oknum pejabat publik sempat membuat hal ini sebagai lelucon Nak. Diantaranya mereka bilang Korona gak bisa masuk Indonesia karena perijinannya sulit lah, karena orang-orangnya kebanyakan nasi kucinglah, Korona itu kecil, Korona (Komunitas Rondo Mempersona) lebih bahaya daripada Korona, sampai lelucon berkedok rasa agamis -berkat doa Kiai dan Qunut, Korona menyingkir dari Indonesia-. Lelucon ini ada hingga akhir Februari sebelum pemerintah mengumumkan pasien pertama dan kedua Covid-19. Ssst rondo itu bahasa Jawa dari janda, orang yang gak punya suami, kenapa juga mereka janda dibandingkan penyakit, hiks.

Ini masa pandemi Covid-19, Nak
Butuh waktu 2 minggu setelah pasien pertama Covid-19 diumumkan, pemerintah menyarankan rakyat untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Sempat masyarakat panik, ketakutan jika akhirnya harus lockdown seperti negara lain. Beberapa percakapan di grup WA Mama, bahkan di supermarket orang-orang pada memborong bahan pangan. Mama ikutan sedikit panik dengan membeli banyak frozen food.

Sejak mereka tahu bahwa penularan Korona dari kontak fisik salah satunya berjabat tangan, tetiba hand sanitizer menjadi langka. Di cari dimanapun kosong, jikalau ada harganya selangit. Hingga pemerintah mengatakan bisa dengan jalan cuci tangan dengan sabun. Mama cari sabun cuci tangan yang biasanya penuh di rak supermarket tetiba lenyap. Tak ada satupun hand sanitizer maupun hand wash. Apa kabar di marketplace? Udah gak nalar harganya. Ketika pemerintah mengatakan pentingnya menjaga imun atau kekuatan tubuh, sekoyong-konyong Vitamin C di apotek kosong. Mama masih sempat dapat di Indomart dan Alfamart, namun kosong beberapa hari kemudian, hingga hari ini.

Ini masa pandemi Covid-19, Nak
Sebagai garda terdepan dalam berperang menangani Covid-19, ternyata Indonesia benar-benar gagap. Kita tidak siap alat perangnya. Iya, Mama bilang semua alat perang. Bayangkanlah Nak, musuh yang dihadapi ini tidak terlihat, namun Alat Pelindung Diri (APD) terbatas. Akhirnya harga APD seperti hazmat dan masker menjadi langka, kalaupun ada harganya bisa berkali-kali lipat. Banyak tenaga medis yang terpaksa menggunakan jas hujan untuk pelindung diri, bahkan kresek sampah dibentuk sebagai baju sebagai perisai.

Pernah Mama merasakan perjalanan Surabaya-Gresik tanpa hujan namun memakai jas hujan, rasanya panas dan sesampainya di rumah tubuh basah kuyup keringat. Apa kabar tenaga medis seharian bekerja dengan menggunakan pelindung diri seperti itu? tanpa bisa dengan mudah lepas pasang karena APD itu sekali pakai. Lha kalau mau kebelet ke kamar mandi, mau makan, harus bagaimana mereka? Menahankah? Ah tak bisa membayangkan. 

Memakai APD benar-benar tidak mudah, cara memakainya tidak sembarangan, memastikan tidak bisa ditembus droplet. Mereka juga memakai perisai APD berlapis. Mama bayangkan rasanya pasti pengab, bahkan masih ditambah menggunakan masker berlapis dan menggunakan face shield dan kacamata pelindung. Mau ngomong dan bernapas aja juga pasti susah. Kalo Mama pasti sudah sesak napas dan pingsan :'(  *hormat untuk para tenaga medis

Dimasa seperti ini, banyak yang menyalah gunakan dengan menimbun APD, dijual dengan harga tinggi. Sebagai asumsi, masker medis pada masa normal 1 box isi 50 lembar seharga Rp.12-25ribu, dan masa gaduh dijual seharga Rp.500-850rb, ini termasuk alat pengukur suhu tubuh atau termometer. Termometer digital infrared pada masa normal hanya kisaran Rp. 175-550rb, dan pada masa panik dibandrol sampai dengan 7 juta. Ini info valid yang Mama dapat dari sahabat Mama, seorang apoteker. 

Hingga, satu persatu dokter dan perawat berguguran menghadapNya. Salah satu sebabnya adalah tertular pasiennya dan mereka tidak dilengkapi dengan alat pelindung diri yang memadai saat bertugas. Sedih rasanya mendengar kenyataan ini. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencetak seorang dokter baru, Nak. Hingga mereka siap diterjunkan ke masyarakat. 

Rasanya eman-eman jika mereka meninggal hanya gegera tertular karena APD yang terbatas. Di dalam pesawat saja, jika terjadi kegawatan, maka seseorang diharuskan melindungi diri dulu baru menyelamatkan orang lain (itu ada loh dalam demo pramugari). Namun ini tidak terjadi dalam pandemi Covid-19.

Cerita tenaga medis tak berhenti, karena cara penguburan jenazah pasien Covid-19 berbeda dengan orang meninggal pada umumnya. Mereka dibungkus plastik hingga dipastikan tidak ada cairan yang keluar dari tubuh. Ada cerita perawat yang ditolak dimakamkan di daerahnya karena ia meninggal terinveksi Covid-19? Dikhawatirkan jenazah perawat bisa menularkan warga sekitar jika dimakamkan disana. Padahal setiap penanganan orang meninggal karena Korona harus menggunakan protokol kesehatan. 

Dimana nurani? Mereka bukan koruptor. 
Sudah hilangkah akal bahwa kita ini manusia?

Hari ini masa pandemi Covid-19, Nak
Setiap hari, kita di bombardir dengan berita Covid-19. Suara grup WA centrang-centring yang dibuka ternyata info Korona, lihat TV isinya Korona, percakapan antara teman juga Korona. Bahkan di pasar yang dibahas juga Korona. Yang menyeramkan adalah kadang berita yang disajikan adalah berita sedih, seperti berapa yang meninggal, dan bagaimana kondisi tenaga medis.

Kita tak perlu penasaran berapa yang terinfeksi, yang sembuh atau yang meninggal seperti menanti skor pertandingan sepak bola. Semakin disuguhi berita Korona, semakin yakin bahwa Korona hanya berjarak beberapa centimeter dari kita. Semakin pusing dan lelah. Semakit kalut dalam diri. Apakah imun akan juga turun? Tentu saja. Teman Mama curhat sempat psikosomatis, kepala dan perut tetiba sakit setelah dengar berita Korona. Bahkan Ayahmu harus left salah satu WA grup, karena ada yang setiap hari dan setiap saat menyuguhkan berita Korona. 

Hari ini masa pandemi Covid-19, Nak
Sejak Korona datang, gaya hidup masyarakat mulai berubah. Termasuk keluarga kita.




Sebentar, Mama akan lanjutkan pada halaman lain ya 😊, di Surat Kedua Buat Luigi

Surat ke - 2

You May Also Like

0 komentar