Secuil Cerita Kopdar bersama Ani Berta, Bloger Papan Atas Indonesia

by - Kamis, November 14, 2019


Saat di Jakarta (5-7/11) karena menerima penghargaan kemenangan lomba blog Kemendikbud, rasanya ingin mengunjungi banyak tempat. Pasti asik jika nostalgia suasana Ibukota sambil makan-makan. Sendirian pula. Awalnya setelah selesai acara mau ngemall aja ke Taman Anggrek. Karena mau ke Jakarta Aquarium juga ngapain, tidak mengajak Luigi apa serunya liat ikan-ikanan. Tanpa direncanakan malah Allah mudahkan untuk maen kerumah teh @ani.berta, bloger junjungan smua umat tepat setelah smua urusan “uang” hadiah lomba dan uang transportasi selesai.




Hari pertama saat pamer foto menjejakkan kaki di Monas, banyak yang komen dan DM. Salah satu yang DM adalah teh Ani “mba kopdar yuk, nginap dimana?” tanya beliau. Sampe tanya kapan kosongnya dan akhirnya sepakat janjian di FX Senayan pada hari ketiga aku di Jakarta alias tanggal 7 November. Itupun masih lihat kondisi alias belum pasti, hiyaa.

Cek out hotel ba'da dhuhur, sementara saya ikut penerbangan terakhir maskapai Garuda hari itu. Dan teh Ani bilang lagi repot dirumah. Artinya apa? Batal dong. Mikirlah mau kemana ini, bawa koper segede gajah. Kalo ngemall sambil geret koper juga kayak mau ngerampok barang toko aja rasanya haha. 

Alhamdulillah tiba-tiba teh Ani, berubah pikiran dengan DM lagi “kalo kerumahku bisa gak?” yaelah kapan lagi bisa kopdar lagi sama sosok Ani Berta, seorang yg pertamakali saya temui di event Indonesia Social Blogpreneur di kota Malang. Namun ada sedikit masalah, saya buta jalan dan arah kereta. Bayangan saya, Tangerang Selatan itu berjam-jam dari Jakarta karena beda propinsi.

Teh Ani tanya saya menginap dimana? Saya bilang di Menara Peninsula Hotel. Ternyata mudah ganget gaes. Dari hotel menuju stasiun Palmerah, naik jembatan penyeberangan. Gimana nasib koper? Bayar orang 20ribu buat angkat, beres dah. Lalu pakai e-money buat gesek tiket dengan mengaktifkan kartu dulu (karena kartu saya awalnya gak bisa). Naik kereta kearah Serpong, turun di stasiun Sudimara. Cuma melewati 3 atau 4 stasiun, udah nyampe. Cepet banget. Lanjut naik ojek menuju rumah teh Ani. Cuma karena blok rumahnya ada di belakang perumahan, jadi abang gojeknya muter-muter hehe. Akhirnya sampe juga deh, shalat, ngobrol dan makan.


😹

😄Hari itu pertamakali menginjakkan kaki ke Tangerang Selatan (cuma bentar dari Jakarta gaes), pertamakali minum cendol yang bagi saya kayak dawet (seger banget rasanya) , pertamakali makan makanan Sunda namanya tutug oncom (panganan opo iki, bentuk'e ireng, dadakno uenak pol rek), sungguh saya kekenyangan. Belum lagi suguhan rujak manis, astaga apa-apaan ini Teh.


Tutug oncom uenak pol, guys

Tentu saja tak hanya kenyang secara fisik, namun kenyang wejangan, pesan-pesan berharga dalam hal ngeblog. Bagi saya idealisme teh Ani sbg bloger itulah yang menempatkannya menjadi bloger papan atas. Ia tak pernah ikut yang kekinian hanya untuk sekedar “terkenal”, namun terus memperbaiki diri, lihat kedalam diri, dan baginya konten adalah segalanya. Itulah kenapa ia percaya rizki akan datang pada yang berusaha dengan jalan (yg lurus). Jatuh bangun ia rasakan, namun satu yang tak lupa, ia tak pernah menyerah. Deretan penghargaan diruangtamu blio adalah buktinya.

Diam diam mengambil gambar ini :)

Percakapan di WA bersama ms @belalangcerewet juga sempet membahas sosoknya. Ms Rudi mengatakan "Aku jg belajar dari teh Ani Berta, dianjurkan jangan menyerah sebelum ikut lomba, tulis yang jujur, Insyaallah hasilnya memuaskan" begitu katanya menirukan kalimat Ibu satu anak yg juga hebat ini. Saya sengaja tidak menceritakan semua percakapan, karena menyangkut pilihan setiap bloger, dan itu privasi. Yang pasti saya sempet disentil mengenai urusan DA/PA hehe. Baiqlah tetehku, fokus isi konten !!! Dan saya juga mengucapkan terimakasih atas tipsnya yang gak perhitungan sama klien. Itu terbukti !!!

Ah teh Ani, makasih selalu mengingatkan kami, biar ingat terus untuk apa kami menulis. Menjadi manfaat 💕. Tibalah jua kami berpisah, teh Ani ikut bingung, dengan menyiapkan sebuah tas besar untuk menaruh smua barang saya jadi satu (terutama pigura sertifikat dan tas jinjing). Saat abang gojek datang ternyata kurang paham lokasi Damri di Lebak Bulus. Teh Ani mendekat, dan berkata pada abang gojek dengan serius "Bang, pokoknya tolong dibantu ya, sampe dapat Damri, krn dia mau pulang ke Surabaya".

Di perjalanan abang gojek berusaha tanya sopir ompreng dan beberapa orang, dan bilang ke saya
"Neng harusnya kalo sesuai aplikasi, Neng aku turunin disana, tapi ini aku bantuin dagh sampe bener2 ketemu Busnya, tapi ntar ditambahin ya" katanya.
"gampanglah Bang, ntar ongkosnya aku tambahin" jawabku.
Saat laju sepeda motor mulai pelan, dan tanya sana sini, taraaaaa dari kejauhan di depan kami ada bus Damri ke airport. Abangnya bantu nurunin koper dan barang sy yang super banyak. Saat mau saya kasih tambahan duit, dan beliau bilang "udah Neng gak usah. Hati2 ya perjalanannya". MashaAllah, dia nolak duit dari aku. Akhirnya aku kasih tip paling tinggi melalui aplikasi. Mungkin abang ingat pesan teh Ani, "tolong bantu ya.......(bla bla bla)" abang masih terngiang kali ya. Makasih banyak bang.

Akhirnya meski sempet ngalami macet total di tol, yang bikin dag dig dug (bahkan sempet mikir, apa hadiah lomba bakalan jadi tiket pesawat? huhu) ternyata meski mepet, tiba jua ke gate paling pojok di terminal 3 Bandara Soeta. Jalan kaki sampe “njarem” euyy. Jauh bener posisi pesawatnya Wkwk.

Makasih banyak teh Ani, semoga Allah selalu menjagamu, memberimu banyak kesempatan, terus berbagi dan menginspirasi. Terimakasih atas semuanya.

You May Also Like

0 komentar