Menyesap Rindu Menulis Buku di Kopdar Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Jawa Timur

by - Senin, November 25, 2019


Kecintaan dunia tulis menulis membuat aku pernah bermimpi memiliki buku. Tahun 2018 sungguh tahun yang penuh energi menjadikan target 1 buku solo harus tercapai hingga totalitas membuat outline dan menabung draft tulisan. Semangat sungguh menggebu karena aku punya alasan kuat mengapa harus menuliskannya.

Namun karena sesuatu hal, akhirnya kukubur mimpi itu. Aku merasa jalan itu kian kabur dan hilang dari pandangan. Sungguh, sebuah peristiwa disaat lalu, sangat membekas untukku. Rasanya tak ada harapan lagi menulis buku yang aku impikan sejak lama itu. Ah, ketika kubuka lagi buku yang memuat catatan ide-ide, ada rasa haru. Lalu menengok ke dalam diri, kemana Septi yang dulu?




Hingga berseliweran informasi mengenai Kopdar IIDN yang membahas mengenai penulisan buku. “Buat apa aku ikut, toh aku tak lagi memiliki target menulis buku lagi” aku merutuki diri. Apalagi posisiku di Gresik, acaranya di Surabaya. “apa salahnya sih sekedar kopdar, bertemu teman-teman yang selama ini cuma dibaca tulisannya di media online” sahut self talk yang lain. Ketika kucoba sampaikan kepada pak suami, dijawabnya “sama Luigi saja dirumah, ketemuan kayak gitu masih bisa kapan-kapan”. Tak seketika aku iyakan jawaban suami “bukankah sama Luigi bisa kapan-kapan, kopdar seperti ini belum tentu ada moment lagi” gumamku dalam hati.

Singkat cerita suami mendukung dengan mencarikan taxi daring di minggu pagi dari Gresik ke Surabaya. Sesampainya Surabaya aku menitipkan Luigi dirumah Ibuk. Main sebentar, lalu kupesan ojek daring menuju lokasi acara. Tahu gak, aku daftar ke panitia ketika menunggu ojek daring mengantarku ke AJBS. Iya, sebelum nyampe lokasi malah baru mendaftar.




Alhamdulillah kedatanganku tepat saat pemateri menyampaikan materi pertama. Adalah Fuatuttaqwiyah El-adiba atau yang akrab disapa mba Fu memaparkan materi Mengawal Naskah dari Awal sampai Akhir. Ternyata menulis buku itu prosesnya panjang teman-teman. Ada pra menulis, mulai menulis, hingga apa yang harus dilakukan selesai menulis. 

Pra menulis gak sekedar memilih tema, mikirin ide, atau membuat coretan draft kasar, dan membuat outline. Namun ada langkah yang penting yakni riset. Penulis sekelas Dee Lestari pernah 3 bulan ke Gunung Lawu hanya untuk riset salah satu novelnya. Bahkan ada penulis yang diceritakan mba Fu, melakukan riset hingga 9 tahun dan proses menulis 3 bulan.


mba Fu menyampaikan proses penulisan buku

Semua tulisan mba Fu juga basicnya adalah riset meski itu tulisan fiksi. Fiksi tidak hanya menggunakan imajinasi saja, namun tetap menggunakan riset. Pernah mba Fu berjam-jam mengamati Mangrove di Surabaya untuk proses menulis cerita Puzzle Heart. Apakah riset itu ribet? Enggak dong. Tergantung tema tulisannya apa. Jika mengenai parenting, maka kita bisa riset observasi dari anak kita sendiri.

Untuk proses menulis, founder Nderes Literasi ini mengingatkan kami untuk membuat target harian dalam menulis. “luangkan waktu untuk menulis minimal 30 menit setiap hari” ujarnya. Bahkan ia menulis dimanapun, di sebuah kertas oret-oretan lalu ia kembangkan saat sudah didepan laptop. 

Bagaimana jika saat menulis ada ide lain berseliweran di otak? Tulis saja !!! namun di halaman lain. Jangan biarkan ide hilang begitu saja. Lalu  menulislah dengan menyesuaikan jam tidur anak, dan ijinlah kepada pasangan untuk membiarkan kita menulis pada jam tertentu. Kesepakatan ini penting agar tak tiba-tiba disuruh masak saat asyik menulis. Ide buyar deh.

Satu lagi, jangan pernah menulis sambil diedit. Apalagi menulis sambil ngintip KBBI haha (aku banget ini). Udah deh, nulis ya nulis aja. Susah dong nulis itu? mba Fu menuturkan “nulis itu gak perlu yang susah-susah. Kejadian dari bangun pagi hingga tidur lagi bisa dimanfaatkan menjadi bahan tulisan” ujarnya lagi.

Setelah proses menulis selesai barulah kita lakukan self editing. Endapkan tulisan minimal semalam. Setelah selesai menulis, lengkapi dengan persyaratan naskah misalnya biodata penulis. Untuk biodata penulis jangan terlalu banyak bercerita. Minimal 50 kata jika itu buku antologi, atau maksimal 100 kata.

Mba Fu juga memberi penutup dengan memberi semangat bahwa masa depan menulis buku cetak masih bagus. Sehingga jangan khawatir dengan adanya ebook, karena bagaimanapun buku cetak tetap akan diminati.

Materi selanjutnya datang dari Ketua Umum IIDN, dialah Widyanti Yuliandari seorang penulis buku, bloger dan banyak lagi status yang disandangnya. Sejujurnya, ingin bertemu mba Wid-lah yang memotivasiku untuk hadir dalam kopdar ini. Tahu gak karena apa? Karena aku selalu mengamati tiap status di Facebook maupun Instagram. Berfikir sebelum menulis (bahkan status receh) itulah kesanku padanya didunia maya. Sehingga dikepalaku, tentulah nih orang pastilah serius pembawaannya.


mba Wid yang ternyata kalem dan gaya bertuturnya sangat asyik

Menggunakan celana jins dan kaos dengan jilbab yang dikalungkan di leher, ia tampil sederhana namun sangat memikat sejak kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. “Setelah kita tahu gambaran menulis buku, saya akan menjelaskan singkat mengenai personal branding penulis dan promosi buku”. Ia menuturkan alasan tema ini dibahas “Saya suka geregeran dengan mereka, ibarat sudah mengandung berat, lalu setelah bayi lahir dibiarkan begitu saja” ujarnya.

Menurut mba Wid -begitu ia disapa- semua orang butuh personal branding. Mungkin sebagian curiga dengan istilah personal branding karena dirasa seperti pencitraan. Padahal bukan seperti itu. Personal branding bukan mengada-adakan. Penjenamaan diri (bahasa Indonesia personal branding) adalah kita mengambil sisi mana dari kita yang ingin diketahui oleh orang lain. Tak perlu semua dalam diri kita diketahui orang.

Sebelumnya tentukan tujuannya terlebih dahulu, kita ingin dikenal sebagai apa dan siapa? Jangan karena mengejar yang kekinian lalu kita dibuat bingung sebenarnya kita ingin dikenal sebagai siapa?

Lakukan dengan natural dan penuh kewajaran. Maksudnya berilah manfaat pada tulisan yang kita bagi di media sosial. Lalu lakukan dengan konsisten. Jangan menyerah hanya karena like sedikit, bahkan karena tidak ada yang komentar. Mba Wid mencontohkan dirinya yang baru dikenal sebagai seorang bloger tahun 2016, padahal ia blogging sejak 2008. Artinya apa? Personal branding membutuhkan proses dan usaha yang konsisten.


ketua umum IIDN yang punya banyak mimpi untuk penulis perempuan Indonesia

Tip ala mba Wid dalam memanfaatkan media sosial untuk membangun personal branding.
Gunakan nama yang sama
Kita diuntungkan dengan era media sosial hari ini, sangat mudah membuat orang mengenal kita. Namun ada hal yang cukup menggangu mba Wid ketika terbiasa melakukan aktivitas secara daring, beberapa orang tidak konsisten dalam menggunakan nama. Gunakan nama yang sama dalam semua media sosial kita, jangan menggunakan kata alay. Nama penapun seragamkan, dan menggunakan profile picture yang jelas.

Positif
Jika berbicara sebagai bloger, ASN Bondowoso ini sangat menghindari bloger yang suka nyinyir, nyindir, misal invoice telat langsung koar-koar. Alasannya sederhana, mba Wid ngebayangin jika ia melakukan kesalahan yang sama, mba Wid gak kuat mental untuk dibegitukan. Beliau sangat hari-hati dengan konten, apalagi yang sedang viral. Ia berusaha tidak ikut-ikutan apalagi ranah yang ia tidak dikuasai, ia tak akan ikut berkomentar. Apakah tidak boleh mengomentari konten viral? “Boleh jika konten viral sejalan dengan branding kita, hanya sekedar memanfaatkan moment, sesuai ranah dan branding kita” jawabnya.

Bangun konten yang Asyik
Berinteraksilah yang wajar dalam konten yang kita buat. Menggunakan standart kepantasan dan kewajaran. Dan gunakan tagar yang relevan.


akhirnya bertemu mba Nur Rohma, bloger Tuban - selama ini hanya bersapa online

Lalu siapa berkewajiban berkewajiban mensukseskan penjualan buku kita?
“Buku itu isi kepala kita, buku adalah apa yang pengen saya share ke dunia, sehingga bukan editor atau penerbit yang bertanggung jawab dengan buku kita. Melainkan kita sendiri” begitu mba Wid menekankan. Penulis buku Food Combining ini menuturkan masih sering menemui penulis pemula yang merasa malu  untuk promosi dengan bukunya sendiri. Apalagi masih karya pertama, perasaan bangga bercampur dengan khawatir karena masih awal. Padahal dulu, di tahun 2015 mba Wid pernah mengalami hujatan bahkan dari tokoh nasional mengenai buku pertamanya.

Namun ibu dua anak ini menyadari bahwa inilah resiko yang harus dihadapi. Apalagi kita ada tantangan budaya membully, men-judge, bahkan tidak suka melihat orang lain maju. Sehingga pesannya, jika kita sudah menerbitkan buku, maka kita harus selesai dengan diri sendiri. “tidak apa-apa dihujat, namun tanamkan dalam diri bahwa saya ini pembelajar” pesannya.

Tidak ada karya sempurna. Segala sesuatu berkembang termasuk kita sebagai penulis. Maka teruslah menjadi pembelajar. “Saya percaya kalo temen saya baik, dia akan bahagia dengan pencapaian saya.” begitu ketua umum IIDN ini menambahkan.  

Tugas penulis bukan hanya menulis. Setelah menulis hanya duduk manis menunggu royalti. Penulis juga punya tanggung jawab terhadap penjualan bukunya. Mba Wid mencontohkan panduan dalam mengawal promosi buku-bukunya untuk penjualan yang baik. Ia bahkan suka koar-koar terlebih dahulu sebelum bukunya lahir, termasuk ketika masih terpikir judulnya saja. Misalnya dengan tagar #sehat ala mba Wid atau #emak cumlaude. Dengan cara itulah ia meneguhkan cita-cita menjadi seorang penulis, dan agar niat itu ada yang mengawal, dan mengamini.  

Mendengar mba Wid menyampaikan materi ini, semakin yakin jika segala sesuatu yang dibangun dengan kewajaran dan kepantasan akan berbuah baik. Dan baru menyadari bahwa buku isi otak kita. Maka pahami valuenya agar bersemangat dalam setiap prosesnya. Ah jleb banget ini.


mba Evi Sri Rezeki yang energik dan tekun dalam meraih mimpinya

Terakhir ada bintang tamu spesial. Adalah Evi Sri Rezeki yang sharing mengenai proses kreatif novel yang sedang digarapnya. Mba Evi merupakan bloger dan penulis buku teenlit yang sekarang mengawal novel sejarah. Proses buku ini sangat berliku, hingga membutuhkan waktu selama 6 tahun untuk riset dan menulis. Iya enam tahun, guys. Kamu gak salah baca. Adalah Babad Kopi Parahyangan judul novel yang pengerjaannya panjang dan berliku.

Ia bercerita sebagai independen, tanpa surat tugas, riset dari satu lahan kopi satu ke yang lain. Namun ia tak pernah lelah dan berhenti pada setiap prosesnya. Ia berharap bahwa suatu saat novel yang bercerita tentang kopi ini bisa sampai valuenya kepada pembaca, bagaimana setiap seteguk kopi itu ada cerita sejarah yang memikat peminumnya.

Saat mba Evi bercerita keteguhannya, aku jadi mengingat lagi naskah yang (dulu) pernah kugarap dan kulupakan. Harapanku kembali menyala. Ternyata proses adalah kunci. Dan jatuh bangun dalam berproses adalah hal yang biasa dalam menulis.


peserta kopdar yang hadir dan sempat terfoto, sebagian pulang duluan dan sedang shalat

Akhirnya kuakhiri tulisan ini dengan semakin menyesap rindu akan menulis buku. Kisah sakitku dulu, tak boleh menghentikan langkahku. Setelah ini akan kucari lagi kepingan hati yang patah, kubalut segala luka, kupasang lagi puzzle yang berhamburan, dan kumulai lagi semangat baru dengan kembali menari diatas tuts keyboard usang. Kembali menulis!!!

Ah rasanya haru ketika kucoba mengikat hikmah dari acara ini. Terimakasih mba Fu, mba Wid, mba Evi, tim IIDN Jatim yang menyelenggarakan acara, semoga menjadi pahala jariyah ya mba. Juga terimakasih kepada semua teman-teman IIDN dari berbagai wilayah Jawa Timur yang hadir. Senang sekali akhirnya bertemu mba Dian lagi (setelah kita sekamar selama di Jakarta :D), mba Nur Rohma, mba Maya, mba Nike dan semuanya.

Yuk mulai menulis (lagi) !!!

#kopdarIIDNJatim
@ibuibudoyannulis

You May Also Like

4 komentar

  1. Setiap karya ada waktunya. Nggak apa-apa tersimpan lama. Kita bergerak dalam waktu kita sendiri. Semangat :)
    Terima kasih tulisannya, Mbak :)

    BalasHapus
  2. Apik ulasannya, lengkap..

    Yuk semangat nulis buku say,,,

    Eh antologi yg itu mw g kita garap brg promonya, hehe

    BalasHapus
  3. Ditulis lengkap ini.

    Yuk,saling support untuk menulis.

    BalasHapus
  4. Jangankan buku, menulis artikel di blog aja kadang membutuhkan waktu yang tak singkat ya mbak. Demi tulisan yang berkualitas tentunya, setidaknya asyik dibaca.

    Mbak Evi ini kalo nggak salah pernah menang cerpen dengan tema kopi-kopi gitu juga ya *cmiiw*

    BalasHapus