Membiasakan Berbincang Sebagai Aktivitas Pra Membaca Anak Usia Dini

by - Jumat, September 13, 2019


Sejak kecil saya suka dengan aktivitas membaca buku. Seorang guru SD pernah mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Meski dirumah merasa kurang bacaan, saya melepaskan dahaga membaca dengan mendekati tetangga yang memiliki banyak koleksi buku. Bahkan buku yang dilengkapi gambar, saya tulis kembali dan gambar saya salin melalui kertas karbon hitam. Betapa antusiasnya saya terhadap buku sejak dulu. Dan bersemangat menulisnya kembali untuk memudahkan saya mengingat isi bacaan

Tidak hanya itu, saya banyak meminjam buku di perpustakaan sekolah. Saya melakukan dialektika untuk bisa memahami buku yang saya baca dengan mengajarkan pada boneka-boneka yang saya punya. Ibarat guru, boneka itulah muridnya. Menurut saya dengan mengucapkan kembali apa yang saya baca, saya bisa memahami apa isi buku tersebut. Dan kebiasaan itu saya lakukan sampai hari ini. Jika dalam kondisi sepi saya akan mengucapkan nyaring bacaan saya.

Sumber gambar : Canva. Edit oleh : penulis
Setelah melahirkan, saya tentu ingin Luigi (3 tahun) memiliki kesukaan yang sama. Membaca buku. Karena dengan membaca akan banyak pengetahuan dan wawasan yang didapat. Apalagi saat ini makin mudah menemukan tulisan yang mengandung unsur hoax, sehingga membuat orang gagal paham. Kenapa ini bisa terjadi? Karena kemampuan literasi yang rendah. Yakni kurangnya kemampuan memahami apa yang dibaca.

Padahal seingat saya dulu saat pembelajaran di sekolah, anak-anak akan menemui soal sebuah paragraf, dan kita disuruh menjawab, apa paragraf utamanya? Atau apa pikiran utama dari paragraf tersebut? Dan soal lainnya yang berhubungan dengan pemahaman bacaan. Sehingga penting sekali memiliki kemampuan literasi yang baik.

Lalu bagaimana cara mengajarkan anak saya memahami apa yang ditulis dan dibaca, sementara usianya saat itu masih bayi? Cara yang saya lakukan pertama adalah dengan mengakrabkan anak pada buku sebagai benda seperti tulisan Sahabat Keluarga ini. Saya memulainya dengan buku bantal, boardbook, pop up, hingga sekarang Luigi bisa membolak-balik halaman demi halaman buku berbahan kertas tipis.

Sejak Luigi bayi saya mulai membacakan buku. Saya percaya bahwa buku menjadi media komunikasi saya dengan Luigi yang belum bisa bicara. Bahkan saya membacanya dengan nyaring diiringi intonasi dan mimik muka yang hangat. Berharap apa saya sampaikan dari hati, akan sampai juga ke pikiran dan perasaan Luigi.

Sekarang Luigi usianya 3 tahun, sudah mulai meledak kata-kata yang diucapkan. Dan mulai bertanya “apa dan mengapa”. Misalnya “suara apa itu Ma?” “mengapa listrik dirumah mati?” “mengapa jalannya diperbaiki?” “mengapa harus menggunakan beton” dan lainnya.

Maka cara yang kedua adalah dengan membiasakan berbincang dengannya. Membiasakan berbincang selain membangun kelekatan hubungan dengan Luigi, saya juga dapat mengajarkan aktivitas pra membaca. Aktivitas pra membaca adalah kegiatan yang dilakukan sebelum anak-anak diajarkan membaca. Banyak hal yang kita jadikan tema  berbincang atau “ngobrol” dalam aktivitas pra membaca, misalnya

1.       Berbincang tentang simbol yang kita temui di jalan
Di jalan raya banyak ditemui simbol misalnya tanda S dicoret atau P dicoret. Dulu Luigi selalu bertanya “gambar apa itu Ma?” Saya jawab itu huruf P. Huruf P yang dicoret artinya dilarang parkir disekitar lokasi itu. Atau saat bertanya S dicoret, saya akan jelaskan bahwa itu huruf S, dan huruf S yang dicoret artinya dilarang berhenti. 

Ternyata setelah itu tidak hanya P dan S yang dicoret menjadi bahan “obrolan”. Namun simbol helm, jaket, masker di pintu kaca mini market membuat saya harus menunda masuk beberapa menit hanya untuk menjawab apa maksud gambar tersebut. Seperti mengapa tidak boleh memakai helm, jaket dan masker di dalam. Jika kurang jelas, ia akan menanyakan lagi. Maka dirumah sering saya ulang obrolan “tadi Luigi di minimarket lihat gambar apa di pintu kaca?” berikutnya ia akan bercerita dan mengulang dari penjelasan saya.

Bukankah huruf adalah simbol? Maka berbincang mengenai simbol-simbol yang kami temui menjadi salah satu pembelajaran aktivitas pra membaca.


berbagai simbol yang kita temui dan menjadi bahan "obrolan". Foto : pribadi

2.       Berbincang isi cerita dalam buku
Kami memiliki ritual membaca buku sebelum tidur. Buku apapun, bahkan buku-buku milik saya yang berserakan di kamar. Setelah selesai membacakan buku, saya tidak langsung berhenti dan mengembalikannya ke rak buku. Namun kami main tebak-tebakan seperti ini “Lui, mengapa batu di pinggir sungai diambil oleh pekerja batu, sehingga membuat katak bersedih?”, “siapa yang berlari dan melompat di pinggir sungai?”.

Dengan bermain tebak-tebakan ini, saya bisa tahu apakah Luigi memahami cerita yang saya bacakan. Tidak hanya itu, dengan berbincang mengenai isi buku, ia menabung kosa kata dan bahasa baku yang bermanfaat pada kemampuan membacanya kelak.

3.       Berbincang tentang huruf yang membentuk kata
Saat ini Luigi sudah mulai dikenalkan huruf latin, maka biasanya kami bermain huruf yang membentuk kata. Saat tidak ada ide bermain, maka cukup melihat tulisan di sekitar rumah sudah bisa jadi bahan “obrolan”. Misalnya di rumah ada tulisan “BUKA”.

Saya : “adek, itu tulisan BUKA  terdiri dari huruf apa saja ya?”
Lui : “B” “U” “K” “A”
Saya : Jadi kata BUKA terdiri dari huruf B, U, K, dan A ya dek. Ok, jika ada tulisan BUKA dipintu kira-kira maksudnya apa ya?”
Lui : “tokonya buka”

Dengan membiasakan ini, anak tahu bahwa membaca bukan sekedar membunyikan huruf sehingga menjadi kata atau kalimat. Namun dalam setiap kata, ada huruf yang membentuknya dan setiap kata ada maknanya.

4.       Berbincang setelah bernyanyi
Terkadang saya suka menyanyi di depan Luigi, lagu TK jaman dulu. Misalnya lagu TIK TIK BUNYI HUJAN dengan lirik “tik tik tik bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira, cobalah tengok, dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua”.

Dari lirik tersebut saya bisa tanya jawab dengannya, “adek, tadi hujannya bunyinya gimana?” “tadi yang basah semua kena hujan apa?”

Aktivitas sederhana ini membuat anak tahu, bahwa dalam lirik lagu tersimpan runtutan dan ini bermanfaat untuk kepekaan memahami urutan peristiwa dalam membaca.

5.       Berbincang yang dialami sehari-hari (dari pengamatan)
Terkadang Luigi cerita pengalamannya melihat sirkus, lalu cerita saat pergi ke mall, apa yang dilihat dan apa yang berkesan. Dengan menjadi pendengar, tentu anak akan merasa dihargai dan akan membuatnya cerita lagi dilain kesempatan. Dengan membiasakan anak bercerita ada beberapa manfaat. Misalnya menjadi lebih mudah memahami runtutan peristiwa karena terbiasa “menceritakan kembali”. Dan kebiasaan ini kami lakukan menjelang tidur malam.



Banyak sekali bahan berbincang untuk aktivitas pra membaca anak usia dini. Tidak perlu khawatir jika anak belum bisa bicara, namun saya percaya gelas yang terus diisi air akan tumpah juga. Dan ini yang terjadi pada Luigi, diusia 2 tahun belum mampu mengucapkan satu kata yang berarti. Namun saat ini, saya kewalahan dengan banyaknya pertanyaan “apa” dan “mengapa” yang keluar dari mulut mungilnya.

Dengan membiasakan berbincang menjadi media untuk anak belajar memahami simbol, karena huruf adalah simbol-simbol. Dengan berbincang melalui permainan tebak-tebakan, membantu anak memahami cerita yang telah dibacakan. Dengan berbincang mengenai isi buku, ia menabung kosa kata dan bahasa baku yang bermanfaat pada kemampuan membacanya kelak. Dalam berbincang juga ada manfaat anak mengetahui bahwa dalam setiap kata, ada huruf yang membentuknya dan ada maknanya. Dan tentunya dengan berbincang bermanfaat untuk kepekaan memahami urutan peristiwa.




Semoga kelak, Luigi dan teman-temannya bisa menjadi generasi yang tidak hanya tahu cara menulis, mengerti huruf apa yang dibutuhkan dalam kata, namun juga memahami apa yang dibaca. Dengan banyak diajak berbincang oleh orangtuanya.

Karena literasi tidak terlepas dari kemampuan berbahasa!!!


#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga

You May Also Like

0 komentar