Fitrah Bertahan Hidup

by - Senin, Agustus 05, 2019


Ketika forum EP Surabaya kemarin (27/7), saya jadi review lagi mengenai fitrah baik yang sudah diinstal olehNya pada anak. Salah satunya adalah fitrah bertahan hidup. Setelah melihat dunia pertama kali, bayi sudah pintar mencari dada Ibunya melalui IMD. Namun lambat laun, dalam perkembangan tumbuh kembangnya, kenapa ya Luigi menjadi sulit mengunyah makanan? Apa yang keliru? 



Hmm bisa jadi dulu saya tidak memberi stimulasi yang benar dalam makan. Ibu baru seperti saya pasti ingin anak terlihat gemol, makannya lahap, makanan apapun yang sudah dimasak ditelan dengan cepat. Akhirnya hingga usia 19 bulan Luigi makannya diblender, agar gizinya tidak ada yang tertinggal masuk dalam tubuhnya.

Padahal justru dengan cara makan yang begitu, berat badan Luigi dibanding usianya divonis underweight, hasil lab menunjukkan Anemia Defisiensi Besi (ADB) berat, bahkan dr spesialis anak sub spesialis nutrisi anak (Sp.A (K)) mengatakan tinggi Luigi kurang 1 cm saja sudah stunting. Hiyaaaa jantung emak dag dig dug der. Dirujuklah oleh dr ahli nutrisi anak ke spesialis rehab medik (Sp. KFR), dan dr rehab medik mengaminkan sebabnya adalah Luigi mengalami oral motor disorder.

Sampai 19 bulan Luigi memang tidak bisa mengunyah makanan (entah gak bisa atau gak dilatih hiks), lalu cara cepatnya adalah di blender. Saya aja gak mau loh makan makanan yang dicampur jadi satu kayak bubur gt (hoek -.-). Akhirnya pengalaman makan menjadi kurang menyenangkan saat Luigi masa MPASI. 

Diingatkan lagi oleh cikgu Okina, makan adalah proses belajar. Ada proses mencium dan mengenal bau makanan (indera penciuman), melihat warna dan tekstur makanan (indera penglihatan), menyentuh bibir, proses mengenai gusi, lalu belajar mengunyah. Lama? Ya emang, namanya juga belajar.

Dulu saya ngerasa jadi Ibu paling menderita, rumah di barat, bawa Lui ke RS di timur Surabaya RS Bedah Surabaya. Terapinya beda lagi, mucuk di National Hospital Surabaya. Untuk mengejar berat badan ideal, Lui harus dibantu minum susu khusus tinggi kalori selain terapi oromotorik. Takarannya sesuai hitungan dr spesialis anak sub spesialis nutrisi anak. Pernah saya ke RS hanya untuk nimbang BB Lui agar tidak ada selisih yang lewat (timbangannya biar gak beda) haha segitunya ya aku.

Salah gpp, tapi jangan salah sia-sia begitu kami selalu diingatkan oleh cikgu Okina. Sampe hari ini tulisan “Ikhtiar tumbuh kembang Luigi dan terapi Oromotorik” dibaca banyak orang. Beberapa menemukan Instagram saya dan DM apa yang harus dilakukan karena anaknya mengalami hal yang sama. “Oh Allah kasih saya pengalaman Luigi riwa riwi ke lab, dokter spesialis, terapi, rumah sakit, buat pelajaran orangtua lain. Alhamdulillah kelirunya masih bermanfaat” (reframing).

Sekarang gimana? Lui hobby makan KFC dan bahkan makan empal Zamzelova :D. Seiring usaha cara makan yang membaik, kemampuan bicaranya berangsur meningkat. Sehatlah selalu anakku Luigi, semoga kita terus belajar dari pengalaman.

*Untuk tahu lebih dalam mengenai fitrah bertahan hidup ada di buku Enlightening Parenting hal 8.

You May Also Like

0 komentar