Mengunjungi Pejuang Kecil

by - Sabtu, Juni 22, 2019


Hari Sabtu (15/6) kami sekeluarga (aku, Adit dan Luigi) ada acara disebuah resort kota Batu. Karena searah dengan Malang, maka sekalian Ibu dan Bapak diajak karena sudah lama ingin bersilaturahmi dirumah Budhe dan Pakdhe. Sehingga secara rencana, Bapak dan Ibuk diturunkan di rumah Pakdhe di Malang, kami lanjut ke Batu. 

Tidak hanya silaturahmi, kami sebenarnya juga ingin menjenguk adek Uki. Adek Uki adalah anak dari sepupuku, mbak Titin. Dulu mbak Titin melahirkan Uki dalam kondisi prematur. Sehingga berat badan Uki hanya 1.6 kg saja saat melihat dunia.




Pagi buta aku bangun untuk menyiapkan segala perlengkapan yang dibawa, termasuk setrika baju hasil jemuran kering mudik kemarin. Semua yang tercatat, aku centang mana yang sudah masuk tas. Saat Luigi bangun segera aku mandikan dan aku suapin makan. Semua beres. Jam 09.00 WIB kami sudah check out dari rumah Gresik. 

Tapi kami harus mampir Pusat Grosir Surabaya (PGS) karena ada kebutuhan yang mendesak harus dibeli. Ternyata di PGS ada kereta barang sedang parkir. Luigi si pecinta kereta api berusaha mendekat, mengamati dan berfoto di samping gerbong.


Luigi di PGS

Jam menunjukkan pukul 10.30 WIB, Adit melajukan mobil ke arah Banyu Urip untuk menjemput Ibuk dan Bapak. Ternyata kakak Davin – keponakanku – ikutan juga. Jadilah mobil berkapasitas 5 orang ini harus dipaksa memasukkan jumlah penumpang lebih dari idealnya.

Untuk menuju Malang kami lewat tol Surabaya-Malang yang baru dan katanya hanya 1.5 jam dari Surabaya. Kondisi jalan tol lancar bahkan cenderung sepi, mungkin karena sudah habis masa mudiknya hehe.

Jam 13.30 kami nyampe rumah Budhe, dan disambut Budhe yang baru bangun tidur. Kami semua selonjoran kaki sembari bergantian ke kamar mandi untuk wudlu dan shalat. Bapak lebih memilih shalat di masjid dekat TPU Samaan. Beberapa menit kemudian semua keluarga Malang menyambut kami dan akhirnya bergantian salaman saling menanyakan kabar. Semua bercerita mudik di desa kemarin.

Saat Bapak, Pakdhe dan Adit mengobrol, aku dan Ibuk menuju kamar mbak Titin. Ini adalah kali ketiga aku mengunjungi adek Uki si pejuang kecil. Pertama saat dia masuk ruang NICU di RS Dr Sutomo, kedua saat ia keluar Rumah Sakit pasca lebaran taun kemarin, dan siang itu. Adek Uki sedang bangun seakan ikut menyambut kami yang datang dari perjalanan jauh. Dia senyum pada kami meski berusaha keras.


Uki dan Davin keponakanku

Uki mengalami jantung bocor sejak lahir, dan karena masalah ini ia menderita microsepali atau pengecilan lingkar kepala. Jika sekilas melihat dari dekat, sepertinya kondisi Uki baik-baik saja. Namun jika membuka baju dan terlihat dadanya, terasa perjuangannya. Ia sangat berusaha keras untuk bernafas. Itulah mengapa ada dua tabung oksigen di dekatnya, sebagai oksigen cadangan. 

Dan ketika memegang kulitnya, hati akan semakin teriris karena ukuran tubuh yang mungil. Diusianya satu tahun, berat badan Uki tidak sampai 5 kg. Yang ini berpengaruh pada tumbuh kembangnya karena Uki belum mampu tengkurap.


Luigi bertanya "ini apa Ma? Buat pompa air ta?"


Oleh karena itu, tidak hanya dokter ahli jantung anak yang selalu menjadi jujukan kontrol, namun dokter tumbuh kembang menjadi sahabat. Setidaknya seminggu tiga kali Uki harus terapi tumbuh kembang sembari memberi nutrisi dengan melalui sonde.

Sebenarnya orangtua Uki diberi kabar baik oleh dokter di Malang bahwa ada ikhtiar yang bisa dilakukan untuk mengejar ketertinggalan. Yakni membawa Uki ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) atau RS Jantung Harapan Kita Jakarta. Namun banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk membawa Uki ke ibukota.

Pikiranku menembus lorong waktu. Teringat saat Luigi harus terapi karena oral motor disorder, anemia devisiensi besi dan underweight saja aku merasa Ibu yang paling merana seluruh dunia. Di depanku sekarang kulihat perjuangan orangtua yang tanpa lelah memberi usaha terbaik untuk putra keduanya. Sungguh, segala ujian yang pernah kami lewati bersama Luigi tidak ada seujung kuku yang dialami Uki.

Baca jugaIkhtiar Tumbuh Kembang Luigi

Hai Uki si pejuang kecil, semoga Allah beri keajaiban buatmu ya Nak. Dengan segala ikhtiar semoga Allah baikkan kerja jantungnya dan esok kau kejar mimpi-mimpimu. Nanti bisa main bola sama Luigi ya. Buat orangtua Uki, semoga Allah lancarkan rezekinya agar segala jalan terus ditempuh sampai tuntas. Amin




Baca cerita lanjutannyaLuigi Hilang di Resort !!!

You May Also Like

1 komentar

  1. MAsha Allah, semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan kesabaran buat ortunya, dan insha Allah akan ada keajaiban dari Allah buat si dedek Uki.

    Btw, si Lui asyik banget sih foto ama kereta, saya aja seumur-umur belum pernah liat kereta barang gitu hahahaha

    BalasHapus