Mengintip Perjuangan Raja Kretek di House of Sampoerna


House of Sampoerna (HoS) adalah sebuah kompleks museum sejarah perjalanan Sampoerna, pabrik rokok, galeri seni, kafe, bus Surabaya Heritage Track (SHT) yang menjadi sebuah destinasi wisata menarik di Surabaya. Mungkin sekilas kita akan berfikir “mengapa kita harus ke museum tema rokok jika kita bukan perokok, bahkan tidak suka berdekatan asap rokok?”

Disini kita akan banyak belajar tentang perjuangan seorang Liem Seeng Tee membangun bisnis berbahan cengkeh dan tembakau ini yang dimulai dari nol. Berdasarkan majalah Ide Indonesia.2012 sejak dibuka untuk umum pada tanggal 9 Oktober 2003, HoS telah menarik rata-rata lebih dari 12.000 wisatawan nusantara dan mancanegara. 


gedung megah sejak masa kolonial Belanda



Atmosfir rokok sangat terasa ketika memasuki kompleks Sampoerna, bau cengkeh yang khas, dan aroma tembakau. Di halaman depan banyak tanaman yang tertata rapi. Di bagian tengah digunakan sebagai museum. Bangunan berciri khas arsitektur jaman kolonial Belanda dengan empat pilar menjulang tinggi nan kokoh. Disinilah museum Sampoerna berada. Saya ditemani oleh mbak Ririn sebagai tour guide #dolenkaroluigi kali ini.  

“Pendiri Sampoerna ini adalah Liem Seeng Tee, beliau adalah imigran dari Cina. Datang ke Indonesia saat usianya 5 tahun bersama Ayahnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik” ucap mbak Ririn membuka sejarah. Enam bulan setelah kedatangannya di Surabaya, Ayahnya meninggal dunia. Saat berumur 5 tahun tersebut Pak Liem tinggal di Bojonegoro dengan keluarga angkatnya. Disana beliau membantu berdagang.

Pada umur 11 tahun si anak yatim piatu ini ke Surabaya untuk bekerja di sebuah toko namun beliau tidak dibayar uang. Dibayarnya hanya menggunakan upah baju dengan tempat sewa. Karena merasa hidupnya ”gitu gitu aja” akhirnya beliau memutuskan untuk keluar dari toko tersebut dan pemilik toko memberi modal Pak Liem sejumlah uang untuk modal usaha. Modal usaha tersebut salah satunya untuk membeli sepeda kayuh.




Saat beliau umur 19 tahun bertemu dengan istrinya Siem Tjiang Nio umurnya 15 tahun. Waktu beliau menikah beliau bekerja di pabrik rokok yang ada di Lamongan . Namun hanya 6 bulan saja. Setelah 6 bulan keluar lalu beliau membuka toko kelontong seperti replika dibawah ini bersama istrinya di Surabaya. 


Saya dan Luigi berfoto di replika toko kelontong pertama Liem dan istri

Setelah 6 bulan beliau sudah memiliki skill meng-kretek, meracik tembakau, akhirnya membuat warung untuk mencukupi kebutuhannya, istrinya berjualan dan beliau ada di belakang warung untuk mengkretek rokok-rokok lalu diperjual belikan. Mbak Ririn sebagai tour guide menjelaskan bahwa sepeda kayuh itulah yang akhirnya dibuat jualan rokok hasil racikannya sendiri.




Rokok Dji Sam Soe adalah hasil racikan pak Liem yang dalam bahasa hokkian artinya dua tiga empat. Lambang 5 pada kemasan rokok Dji Sam Soe artinya adalah racikan ke 5 pak Liem. Bahan utama rokoknya cengkeh. Cengkeh dari Jawa dan Bali aromanya berbeda. Produk rokoknya Pak Lim ini khan rokok kretek. “Kenapa disebut rokok kretek mbak?” tanyaku keheranan. “Karena bahan utamanya cengkeh dan setelah cengkeh diolah menjadi rokok jika dinyalakan bunyinya kretek kretek” jawab mbak Ririn sembari tertawa. Aku pun ikut terbahak bersamanya.

Baca juga : Kampung Eropa Surabaya


cengkeh sebagai bahan baku utama rokok


Saat memasuki ruangan, tepat didepan pintu masuk kami disambut dengan kolam ikan koi yang dibentuk melingkar. Tentu hal ini menyegarkan mata. Ternyata ada filosofi mengapa ada ikan koi di depan ruangan. Dikolam air ada sembilan ekor ikan koi. Keluarga Sampoerna meyakini keberuntungan angka sembilan. Dan jika dji sam soe alias 234 dijumlah akan menjadi 9.

Lalu kami melihat sebuah replika banguna berbata yang kuketahui ternyata sebuah oven. Petani tembakau menggunakan oven seperti ini untuk pengeringan tembakau. Kemudian tembakau yang telah diikat digantung ditiang bambu dialam oven. Kemudian diolah dialat dibawah ini.




Dan semuanya dibungkus dengan besek selama dua tahun. Iya kamu enggak salah baca, disimpan di besek selama dua tahun agar aromanya semakin sedap. Sebelum akhirnya diproses menjadi linting rokok.
“Apa bedanya cengkeh dan tembakau meski dua-duanya adalah bahan utama rokok kretek?” aku melanjutkan pertanyaan. “Perbedaannya adalah beda tanaman, tembakau daunnya lebar, cengkeh dari pohon tinggi yang diambil bunganya, tembakau yang diambil daunnya”.



Dalam suasana tempo doloe, kami diajak mengenal lebih dekat silsilah keluarga Liem Seeng Tee. Dibangun pada 1858, oleh masa kolonial Belanda fungsi gedung Sampoerna dulu adalah sebagai panti asuhan yatim piatu khusus anak laki-laki. Pendiri Sampoerna mendirikan usaha rokok kreteknya sejak tahun 1913, belum sebesar ini. Masih diwarung kecil-kecilan seperti diatas. Baru 20 tahun sesudahnya Liem Seeng Tee membeli kompleks gedung sebesar 1,5 hektar ini pada tahun 1932. Saat sudah dibeli Pak Liem dan istri, fungsi kompleks ini adalah sebagai pabrik dan bioskop. 

Mengapa bioskop? Karena bangunan terlalu luas, karyawan tidak terlalu banyak, banyak ruangan kosong, akhirnya hall dijadikan untuk bioskop. Bioskop terbuka setiap malam, kecuali saat Tahun Baru Imlek. Pengunjung yang pernah datang ke Sampoerna Theater adalah Charlie Chaplin pada tahun 1932 dan Dr. Ir. Soekarno pada tahun 1938 yang akhirnya menjadi presiden pertama Indonesian untuk serangkaian pidato-pidato untuk mendukung perlawanan Indonesia terhadap penjajah. Di dinding dipajang piringan hitam yang pernah dipakai bioskop Sampoerna sebagai musik latar film bisu.  

Liem memiliki lima anak dan tinggal dibangunan sebelah kanan HoS. Hingga saat ini bangunan tersebut masih menjadi tempat tinggal keluarga Liem. Liem mempercayai bahwa tinggal dipabrik untuk dapat efektif dan efisien dalam mengendalikan usaha. Dan sampai sekarang menjadi kepercayaan keluarga ini untuk memiliki rumah tinggal di dalam kompleks pabrik.




Didepan rumah keluarga Sampoerna ada mobil Roll Royce keluaran tahun 70an, namun karena berplat Singapura maka tidak bisa digunakan di Indonesia. Dan mereka tetap menggunakan plat dengan angka keberuntungan 234.

Di museum ini tersimpan alat cetak rokok kuno, alat ukur beratnya hisapan rokok, juga alat ukur besarnya rokok. Lukisan bungkus rokok yang pernah diproduksi dan bungkus rokok yang pernah di produksi untuk dikirim ke luar negeri.




alat cetak rokok kuno

Yang paling menarik perhatian saya dan Luigi tentunya adalah masih tersimpannya kostum dan peralatan marching band Sampoerna. Marching band ini ada tahun 1989-1992, uniknya yang menjadi playernya adalah 234 pekerja yang melinting rokok. Tapi sekarang sudah vakum, dulu pernah ikut lomba di USA dan menang juga.




Dilantai 2 kita bisa melihat para pekerja yang semuanya perempuan sedang memproduksi rokok kretek lintingan tangan. Bedanya pekerja jaman dulu memakai kebaya sekarang mereka menggunakan seragam. Diruangan ini tidak boleh memotret dan memvideo kecuali dengan ijin manajemen. 

Para pekerja tangguh ini ditarget melinting 325 batang rokok perjam/orang, ditarget memotong 1000 perjam/orang, packing 200 perjam/orang. Ada sekitar ada 500an pekerja. Mereka memulai bekerja mulai pukul 06.00 – 13.00 WIB. Kita seperti disuguhkan film yang dipercepat karena kelihaian tangan perempuan pelinting rokok nan cekatan ini. Hebat para perempuan super!!!


foto klasik perempuan pelinting rokok kretek

foto pekerja menggunakan kebaya ketika bekerja


Untuk saat ini Sampoerna bukan lagi perusahaan keluarga karena sahamnya terbuka (Tbk). Sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Philip Morris International, perusahan Amerika yang memproduksi rokok Marlboro. Selain di Jl. Taman Sampoerna Surabaya, pabrik rokok Sampoerna saat ini ada Kali Rungkut dan Rungkut Surabaya juga di Probolinggo.

Jika museum selama ini terkesan ruangan jadul alias kuno, panas, dan penuh dengan barang-barang lampau nan kotor. Maka, House of Sampoerna merupakan cerminan museum modern meski masih menggunakan bangunan khas kolonial Belanda yang berusia 160 tahun. Dengan tatanan barang nan rapi sesuai tema, ruangan yang sejuk karena dilengkapi AC, toilet kering yang sangat bersih bak hotel, juga tour guide yang ramah dan sangat menguasai data sejarah museum. Bahkan yang tak tertulis dalam keterangan di setiap barang dan foto.

HoS dilengkapi juga dengan art gallery, penjualan cenderamata, juga kafe. Cenderamata yang dijual diantaranya kaos, tas, batik, kipas dan berbagai aksesoris seperti gantungan kunci. 

Art Gallery adalah lokasi dari komples HoS yang menyajikan karya seni terutama karya seni lukis. Agustus ini temanya adalah no limit no fear, yang diisi karya dari Forum Aliansi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). “Dengan menggunakan kayu yang dicukil, dikurangi sedikit lalu dipres, alias menggunakan seni grafis” kata mas Idzar menjelaskan padaku. Mataku tertuju pada lukisan dengan tekstur yang tidak biasa. “Ini lukisan tekturnya gini menggunakan apa mas?“ tanyaku penasaran. “Sebelum dilukis dibelakangnya dikasih tekstur seperti lem, yah eksplorasi per individu, tergantung senimannya diaplikasikan ke karya sesuai temanya. Lebih ekspresif” terang mas Idzar. Dan benar saja tema sedekah bumi diatas kanvas menjadi hidup. 

lukisan dengan tema sedekah bumi

Tema bisa berganti sesuai manajemen art gallery HoS. Disini saya bisa lihat bahwa seni itu tak terbatas. Bahkan botol pun bisa menjadi karya seni yang sangat apik. Berjudul argumentasi warna kesenian ini menggunakan media air brush di botol ini menjadi seni yang antimainstrem. Harapan dari Forum Aliansi adalah supaya kesenian di Surabaya mempunyai wadah sendiri dan akan terus berkembang.

Keren ya, anak muda kreatif diberi wadah di House of Sampoerna. Beberapa kontribusi sosial perusahaan Sampoerna diantaranya Sampoerna Enterprenership Training Center letaknya di Pandaan Jawa Timur, Tim SAR Sampoerna dengan peralatan terlengkap sejak tahun 1990 untuk membantu berbagai bencana alam yang terjadi di Indonesia, pelestarian lingkungan seperti penanaman pohon, dan kerjasama dengan petani tembakau.

PT. HM. Sampoerna, Tbk termasuk salah satu produsen rokok kretek (tembakau dan cengkeh) tertua dan yang berkembang paling pesat di Indonesia. Museum ini sangat recommended untuk mengintip sejarah rokok kretek, perjuangan seorang Liem See Tee dari nol hingga memiliki kerajaan bisnis rokok. Dari seorang anak yatim piatu hingga akhirnya membangun perusahaan rokok yang dikenal tidak hanya di Indonesia. Kita dibawa menembus waktu, meresapi perjuangan Liem Seeng Tee, dan semua barang seolah menjadi saksi bisu kerja keras anak manusia, Liem dan istri. Dan kalian yang berkunjung ke tempat ini akan memahami bahwa tidak ada makan siang yang gratis. Yuk kerja kerja kerja, Merdeka !!!





HOUSE OF SAMPOERNA
Jalan Taman Sampoerna No. 6 Surabaya
Jam buka : 09.00-19.00 WIB
Biaya masuk : gratis




Referensi tambahan :
Majalah Ide Indonesia Edisi 05 Juni 2012

12 komentar :

  1. Aku ke HoS ini tahun 2011..dan terkagum-kagum dibuatnya. Keren bingits.
    Tapi kok waktu itu aku enggak dapat guide ya atau karena aku enggak nanya...hiks
    Tapi pengin ke situ lagi, karena waktu itu anak-anak belom ngerti bener..Jadi pengin diulang karena sekarang sudah lebih paham :D
    Terima kasih sudah berbagi cerita ini Mbak Septi :)

    BalasHapus
  2. Dhika baru tau ini. Bagus banget kayaknya ya Mbak? Jadi penasaran dehhh.

    BalasHapus
  3. Rokok ada musiumnya, ya. Baru tahu. Jadi penasaran.

    BalasHapus
  4. luar biasa,...
    terima kasih atas sharingnya

    BalasHapus
  5. Sudah pernah ke sini tapi belum jadi blogger, makanya nggak ada jejaknya de..

    BalasHapus
  6. Aduh cerita di awalnya jadi bikin sedih. Soalnya aku tu suka ngerasain gimana kalau berada di posisi sekecil itu kehilangan ayah dan tak punya saudara

    BalasHapus
  7. Ceritanya bagus sekali. Betah baca sampai selesai. Cerita Pak Liem dan sebagian besar tokoh Tiongjoa mmg sangat menginspirasi. Mereka terkenal nggak takut berjuang dan hiduonya oenuh filosofi. Bagus, Mbak.

    BalasHapus
  8. Wah dapat pengetahuan baru nich, tentang perjuangan membangun usaha.

    BalasHapus
  9. Wih rokok aja ada toh museumnya. Gratis pula ya masuknya. Hihi. Makasih infonya mba

    BalasHapus
  10. Wah pengalaman hidup pendirinya luar biaa ya mba.. bisa dijadilan pelajaran buat kita.

    BalasHapus
  11. Istri Om saya kerja di pabrik Sampoerna, mbak, udah puluhan tahun. Sepertinya penghasilannya juga lumayan gede.
    Sayangnya, saya belum pernah ke museum Sampoerna, mungkin kapan-kapan kalau pulang ke Surabaya.

    BalasHapus
  12. Waaaah, bagus ya museumnya. Memang ya mbak, sebuah usaha kalo ditekuni dengan keikhlasan hasilnya pasti beda. Siapa yang bisa menduga bermula dr toko kelontong bisa jadi pabrik rokok yg melegenda gitu. Saluuut.

    BalasHapus

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates