Sabtu, 20 Mei 2017

Kawat Gigi, Hanya Untuk Sekedar Gaya ?

Ada istilah gigi dipagar. Itulah istilah 'bully'an teman-teman sekolah dulu ketika melihat gigiku di kawat alias dibehel. Aku pertama kali di behel saat kelas dua SMP. Saat itu, di sekolah hanya aku saja yang memagarin gigi. Kawat gigi yang aku pakai jenis lepasan sehingga ada bagian di langit-langit mulut. Jika makan dan gosok gigi bisa dilepas, dan dipakai lagi sesudahnya. Dan karena lepasan, jadi jarang aku pakai. Sehingga perawatannya lama sampai kelas satu SMA. Lalu kuhentikan. Selain malu sering di olok teman, aku menyerah. Yaiyalah saat sekolah aku menjadi minoritas pemakai behel hoho. Karena perawatan gigiku berhenti ditengah jalan, maka setelah menikah aku lanjutkan lagi. Kali ini kawat giginya jenis permanen. Jadi melekat di gigi sampai tiba terkoreksi dengan baik menjelang melahirkan.

Saat ini kawat gigi seperti menjadi trend baru. Banyak anak-anak muda yang tertawanya berwarna-warni karena giginya ber'pagar'. Tak jarang yang tua pun mulai 'mengekor'. Memang apa sih kawat gigi alias behel? Kawat gigi itu sebenarnya benarkah hanya untuk sekedar gaya ?

gambar diambil dari pramareola14.wordpress.com dan diedit sendiri


Apa sih kawat gigi ?
Kawat gigi dalam bahasa kedokteran disebut dental braces atau orthodontic braces yaitu alat yang digunakan pada bidang kedokteran gigi untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak teratur.
Dalam dunia kedokteran gigi, masalah ini disebut maloklusi atau keadaan ketika gigi atas dan bawah tidak saling bertemu dan menyebabkan susunan gigi menjadi berantakan.

Kenapa gigi harus dikawat ? 
Jarak antar gigi yang terlalu renggang
 Masalah rahang yang menyebabkan gigitan menjadi tidak rata
Gigi yang berdesakan atau tumbuh bengkok
Gigi depan rahang atas tumbuh tidak sejajar (lebih kedepan atau lebih kebelakang) dibandingkan gigi depan rahang

Menurut drg. Dwi Anie Lestari, Sp. Ort pada dasarnya kawat gigi digunakan untuk memperbaiki susunan gigi dan estetetika wajah. Penggunaan kawat gigi juga tidak disarankan apabila mengikuti trend dan aksesori. Penggunaannya harus berdasarkan masalah geligi yang membutuhkan perbaikan lewat kawat gigi.

Sehingga darisini kita bisa mengetahui bahwa fungsi utama pemasangan kawat gigi adalah untuk merapikan gigi. Jika gigi rapi akan memperbaiki fungsi mengunyah, gigi yang tidak rata proses pengunyahan akan kurang sempurna, fungsi berbicara karena gigi yang rapi akan membuat pengucapan kita lebih jelas, dan gigi jadi mudah dibersihkan karena gigi yang tidak rata akan mudah menjadi tempat penumpukan sisa makanan. Hal ini menyebabkan penyakit gigi dan mulut. Ngeri khan?

dengan gigi yang masih ber'pagar'


Apa sih penyebab gigi yang tidak rata ?
Menurut dokter gigi yang menangani saya saat itu drg. Natalya Tanri Sudarno, Sp. Ort, beberapa faktor penyebab gigi tidak rata adalah bisa karena faktor genetik dan faktor kebiasaan dari kecil. Faktor genetik contohnya seperti saya sendiri, dari orangtua giginya juga tidak rapi. Mbak saya dari SD juga udah dibehel giginya. Kebiasaan dari kecil menurut beliau juga menyebabkan gigi tidak rata misalnya ketika kecil terbiasa menggunakan dot dalam waktu yang lama, suka menghisap jempol, dan menggigit kuku. Bahkan menjulurkan lidah ketika berbicara juga bisa jadi penyebab (ini dokter Natali marah kalau ngeliat saya suka julurin lidah jika bicara sama dia). Dokter juga sering ngingatkan jika kebetulan ngeliat saya menggunakan gigi atas untuk menggigit bibir bawah. Kebiasaan-kebiasaan ini secara tidak langsung menyebabkan gigi tumbuh merenggang ke depan.

Siapakah yang menangani masalah ini?
Dokter yang merawat adalah dokter gigi spesialis Orthodonti (Sp. Ort). Bukan dokter gigi biasa. Jadi mereka dokter gigi yang telah menempuh pendidikan spesialis Orthodonti.

Bagaimana mekanisme sebelum perawatan kawat gigi?
Pengalaman saya sebelum kita melakukan perawatan behel ada beberapa tahap yang harus dilalui.
1.         Rontgen gigi
Saat itu dokter nyuruh ke lab buat rontgen panoramic, jadi foto seluruh gigi. Dokter juga berpesan untuk menyertakan foto dalam bentuk CD.
2.         Foto wajah dan foto gigi
Untuk menganalisa kondisi gigi dan posisi rahang.
3.         Analisa dokter
Kasus gigi saya ini ada gingsul atau gigi yang berjejal karena tidak ada ruang, sehingga tumbuh membelakangi gigi lain. Efek dari gingsul tadi, gigi atas saya miring ke kiri, dan dua gigi kelinci posisinya tidak pas ditengah. Pun juga gigi bawah saya. Dari analisa dokter, saya akhirnya harus mencabut beberapa gigi. Terutama gigi geraham belakang yang tertanam. Jadi, dari rontgrn gigi, terlihat ada gigi geraham belakang yang tumbuh, namun karena tidak ada ‘ruang’, jadi gigi tumbuh miring dan tertanam di dalam gusi. Sehingga harus dioperasi untuk mengambilnya. Saya ditangani oleh dokter gigi spesialis bedah mulut yang sabar, drg. R. Soesanto, Sp. BM (K). Langsung dicabut dua gigi sekaligus saat itu juga. Canggih bener dokternya. Efek dari pencabutan gigi ini adalah pipi saya bengkak selama satu minggu. Saya malu, huhu. Akhirnya saya sms dokternya ketika sebelum kontrol, minta obat biar pipi segera tirus lagi. Beliau malah jawab obat itu racun, biarkan aja bengkak, itu memang efek operasi. Sabar, nanti bakalan kempes. Hiks, yaudah deh.  
Setelah selesai gigi geraham belakang di eksekusi, kali ini dokter Natalia juga nyuruh mencabut gigi atas dan bawah masing-masing satu. Bayangin, saya kerja dalam keadaan gigi ‘bogang’ dua. Huhu. Apalagi yang bekas cabutan gigi bawah, kayak bengkak dikit gitu. Nyerinya berhari-hari. Kenapa harus dicabut? Untuk memberi ruang agar gigi bisa dirapikan.
4.         Mencetak gigi dengan cetakan khusus.
Jadi gigi kita dicetak dengan bahan seperti semen gitu.
5.         Pemasangan cincin di gigi belakang
Untuk pengait semua kawat busur.
6.         Pemasangan braket satu-satu alias per gigi
Oleh dokter akan dipasang braket digigi satu persatu. Di lem dan di sinar gitu. Supaya beneran lengket digigi. Proses ini lama banget. Iyalah, satu-satu. Itung aja berapa jumlah gigimu  -.-
7.         Memasang kawat busur
Setelah braket terpasang, akhirnya kawat busur diletakan diantara tengah-tengah braket. Untuk menghubungkan braket satu dan lainnya.  

Selanjutnya, apa yang harus dilakukah selesai pemasangan kawat gigi?
Pastinya perawatan rutin dengan kontrol ke dokter. Ini yang kadang bikin parno. Yups, jadwal kontrol. Karena ketika kontrol pasti kawat ditarik sana-sini, dikencangkan. Tujuannya untuk menggeser gigi. Tidak hanya itu, gigi saya kadang seperti dikikir dikit-dikit, apa ya istilahnya. Pokoknya target dokter ada spasi antara gigi satu dan sebelahnya, sehingga bisa mudah ditarik dengan kawat. Yang paling menderita adalah ketika dokter menyuruh menggunakan karet yang dikaitkan antara gigi atas dan bawah. Ada jenis gajah, dan kura-kura. Karetnya kecil, tapi sangat kuat. Tujuan dokter gimana cara supaya gigitan antara gigi atas dan bawah pas dan sesuai, sehingga gigi atas bawah harus bertemu. Jika masih ada ruang ketika menggigit, maka disuruh pakai karet itu terus. Bisa dibayangin ya, kita ngomong tapi ada karet yang dipasang digigi atas dan bawah. -.-
Masalah gigitan yang tidak pas ini, yang menyebabkan saya tidak suka makan daging, karena kesulitan dalam hal pengunyahan.

Apa yang dirasakan selama proses perawatan kawat gigi ?
Beberapa pengalaman yang saya rasakan diantaranya :
Nyeri, iyalah pasti. Apalagi setelah kontrol gigi. -.-
Sariawan karena kawat yang bergesekan dengan gusi (padahal saya ini jenis orang yang susah sariawan alias sangat jarang)
Pembersihan gigi agak sulit. Jadi lebih lama dalam menggosok gigi
Kesulitan bicara diawal pemasangan
Kesulitan makan. Temen saya mba Meda diawal menggunakan behel sehari-hari hanya minum Energen Cereal saja. Sampe dia beneran bisa belajar mengunyah.

Tips dari saya selama perawatan menggunakan behel :
Karena ada behel digigi, maka sisa makanan suka nyempil diantara braket. Lebih seringlah menggosok gigi. Bawalah sikat gigi kemanapun.
Rutin menjaga kebersihan mulut, salah satunya dengan membersihkan karang gigi.

Apa yang dilakukan pasca perawatan ?
Sebenarnya ketika saya hamil 7 bulan, perawatan gigi saya sudah selesai. Dokter mengatakan jika prosedurnya adalah saya rontgen gigi lagi. Dokter Natali mewanti-wanti untuk mengatakan pada petugas lab bahwa saya hamil, sehingga akan di berikan baju khusus yang meminimalisir sinar tidak akan tembus ke janin. Saya dengan tegas tidak mau dan mengatakan akan melakukan setelah melahirkan saja. Saya pernah membaca efek negatif rontgen bagi janin. Akhirnya saya rontgen gigi lagi setelah anak saya umur dua bulan. Setelah itu semua braket dilepas. Dan gigi saya dicetak menggunakan 'semen' lagi. Ternyata saya masih harus memakai kawat gigi baru yakni jenis lepasan. Tapi untuk kawat gigi atas tidak ada langit-langitnya (seperti jaman SMP). Pesan dokter tetap dipakai terutama saat tidur dan sedang tidak makan. Minimal 6 bulan, agar gigi yang sudah rapi ini tidak bergeser lagi.

Karena saya bosan, saya hanya memakai dua bulan saja. Entahlah sekarang gigi saya berubah atau tidak. Kalo ditotal saya menggunakan behel lima tahun. Dan saya kehilangan 6 gigi karena perawatan behel ini, masing-masing tiga untuk gigi atas dan bawah. Perjalanan yang sungguh panjang dan melelahkan (juga menyakitkan).


Sehingga, masih mau pasang kawat gigi untuk sekedar gaya ? 😊

mari makan meski gigi ber'pagar' :)



20 Mei 2017
#30dwcjilid6 #day4


Referensi tambahan :
http://www.alodokter.com/perlukah-menggunakan-kawat-gigi    diakses 20 Mei 2017
http://ppgi-purworejo.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-kawat-gigi.html     diakses 20 Mei 2017
http://www.republika.co.id/berita/koran/medika/15/12/29/o040w7-perbaiki-tampilan-lewat-kawat-gigi    diakses 20 Mei 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar