Kamis, 25 Mei 2017

Festival Budaya Pustaka 2017

Festival Budaya Pustaka ini merupakan acara tahunan pemerintah kota Surabaya, untuk memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke 724 melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Tujuannya adalah membuat masyarakat Surabaya mencintai membaca. Acara yang diselenggarakan hari Kamis, 24 Mei 2017 di Taman Flora ini, sebenarnya akan dihadiri oleh walikota Surabaya, ibu Ir. Tri Rismaharini, MT. Namun karena sesuatu hal, akhirnya digantikan oleh kepada dinas Perpustakaan dan Kearsipan, ibu Wiwik Widayati.


“Bangsa yang besar adalah bangsa yag mengetahui tentang sejarahnya.”
Terinspirasi dari pernyataan proklamator Indonesia, Ir. Soekarno, Festival Budaya Pustaka kali ini mengusung tema melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Dengan mengangkat drama kolosal perang Majapahit malawan tentara Tar-Tar. Ada pula lomba permainan tradisional, seperti dakon atau congklak, engklek. Diikuti juga dengan kegiatan menumbuhkan kemampuan literasi baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat melalui lomba ibu bercerita kepada anak, workshop parenting, pojok dongeng dan membuat APE (alat permainan edukatif). Hal tersebut diharapkan mampu melestarikan , mengenalkan, dan menumbuhkan rasa kecintaan akan sejarah bangsanya .

Nah, saya hadir disana sebagai peserta membuat alat permainan edukatif. Jadi, ada 25 ibu dan anak yang akan membuat DIY (do it yourself) puzzle dari kardus. Dipandu oleh psikolog pendidikan anak, Husna Ika Putri Sari, S.Psi, M.Psi atau yang akrab dipanggil mbak Iput. Dikarenakan anak saya masih berusia 15 bulan, maka saya mengajak keponakan yang bersekolah TK-B bernama Davin untuk membuat puzzlenya. Sehingga, saya datang bersama Davin, Luigi, dan Ibu.

Dengan menumpang taxi online bertarif 6.500, kami sampai di Taman Flora pukul 09.30 WIB. Disana sudah ramai sekali. Ada tim anak-anak TK yang sedang latihan guna menyambut ibu wali kota, dan beberapa anak-anak yang sedang bermain dadu raksasa. Sementara saya bingung, dimana ya pusat acaranya. Akhirnya dibantu mbak Dyah dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, saya akhirnya mencari panggung. Ternyata saya langsung disuruh registrasi, karena melihat Davin yang memegang kardus.
“Peserta membuat puzzle kardus ya? Ayo registrasi, tulis nama bunda dan nama anak bunda disini ya.” Seru mbak Dyah.
“Nanti cari tempat duduk yang kosong ya.” Lanjutnya.

Nah, ternyata kursi sudah penuh sampai belakang. Saya tidak mungkin membiarkan Ibu berdiri, karena acara membuat puzzle masih jam 10.00 WIB.
“itu di kursi yang diselimuti, masih ada yang kosong.” Seru Ibuku.
Hmm, bukankah itu kursi khusus untuk para pejabat pemerintah kota yang hadir? Batinku.
“Ah iya Buk, kita tanyakan mungkin benar masih kosong.” Jawabku pada Ibuku.

berempat bersemangat

Ternyata seseorang mempersilahkan kami duduk dikursi kosong yang berjumlah 2. Sementara kami membutuhkan 3 kursi. Lalu seorang Ibu, mengambil kue yang diletakkannya dikursi kosong supaya kami bisa duduk bertiga.  Alhamdulillah, kami duduk di barisan kedua.

Acara ini sedianya dibuka dengan drama anak “Perang Majapahit Melawan Tentara Tar-Tar” pukul 09.00 WIB. Namun mundur menjadi jam 09.30 WIB karena menunggu Bu Risma, yang akhirnya benar-benar tidak bisa hadir. Selama menunggu itu, kami yang hadir disuguhi oleh musik gamelan dari tim Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya. Sampai tiba juga anak-anak tampil drama. Satu kata : keren. Ada banyak anak yang terlibat dalam drama ini. Mereka semua menghayati setiap peran yang diamanahkan. Anak-anak ini merupakan perwakilan anak-anak SD seluruh kota Surabaya.

drama dari perwakilan anak-anak SD seluruh kota Surabaya


Jam menunjukkan pukul 09.30 WIB, tibalah saya dan Davin membuat puzzle kardus. Dipandu dengan mbak Iput, kami diberi arahan tahapan-tahapan pembuatan puzzle. Nah, karena ini memperingati ulangtahun kota Surabaya, maka puzzle yang akan dibuat adalah gambar Suro dan Boyo alias hiu dan buaya. 

Husna Ika Putri Sari menjelaskan tahapan pembuatan puzzle

Davin serius membuat puzzle

Davin sangat semangat mengerjakannya. Saya hanya membantu menggambar Suro dan Boyonya menggunakan kertas karbon. Selanjutnya Davin sendiri yang mengerjakan sampai akhir. Karena Luigi menunggu dibawah panggung bersama Ibu, akhirnya Luigi saya bawa sekalian diatas panggung. Luigi saya beri kuas yang sudah saya beri cat air, dan membiarkannya mengecat kardus. Dia senang sekali.

Luigi ikut mengecat


Tibalah jua acara selesai. Kami semua berfoto bersama dengan seluruh peserta yang ada. Sebagai apresiasi, dari panitia memberi paket kotak makan anak untuk peserta yang membuat puzzle. Davin bangga akan hasil karyanya.

Davin membawa karyanya berfoto bersama Husna Ika Putri Sari


Akhirnya kami berempat pulang. Karena taxi online yang diawal kami pesan sedang tinggi permintaannya, akhirnya kami pulang menggunakan taxi online yang lain seharga 30.000.


Terimakasih Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya sudah membuat acara ini, dan selamat ulangtahun kota kelahiranku, Surabaya. 

foto diambil dari instagram @diana.ekawati 


#30DWCjilid6
#day9