Kamis, 09 Maret 2017

Arti Sebuah Komitmen dalam Sebuah Hubungan

Wah rame banget di timeline facebook dan IG mengenai cerita Selma dan putra bungsu Amien Rais bernama Haqy. Kalau belum pada tau bisa baca di (SINI). Nah dari cerita Selma yang di kasih hesteg #SelmaHaqyJourney tersebut, banyak di share di berbagai media online. Macem-macem sih ngambil sudut pandangnya. Ada yang sampe trenyuh gitu bahasanya. Sementara para netizen pun banyak yang komentar, ada yang pro dan ada yang kontra terhadap keputusan Selma. Yang pro bilang mendukung Selma berani ngasih keputusan iya sama seseorang yang mau ngajak nikah duluan. Yang kontra bilang Selma mengkhianati pacarnya. Ada yang menyoroti bahwa impian Selma menikah muda layak di acungi jempol, dan ada yang kasian sama pacar Selma yang diputusin. (dan akhirnya banyak yang kepo siapa pacar Selma yang di Malang itu, eaaaa) Saya sih enggak akan cerita mengenai kisah Selma, karena aku mah apah atuh. Cuma saya ada uneg-uneg mengenai seberapa besar arti sebuah komitmen dalam sebuah hubungan?

gambar diambil dari : dream.co.id

Saya pernah menjalani hubungan jarak jauh juga seperti Selma, saya di Jakarta sementara Adit di Gresik, Jawa Timur. Saat itu kami berkomitmen untuk membawa hubungan kami pada tahap yang serius. Dan saya manggut-manggut tanda meng iyakan, meski saya tidak mengenal Adit sebelumnya. Saya mengenalnya dari hubungan jarak jauh ini.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), komitmen/ko·mit·men/ n adalah perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Menurut Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) komitmen merupakan nilai sentral dalam mewujudkan soliditas organisasi. Hasil penelitian Quest (1995, dalam Soekidjan, 2009) tentang komitmen organisasi mendapatkan hasil :
1.    Komitmen tinggi dari anggota organisasi berkorelasi positif dengan tingginya motivasi dan meningkatnya kinerja;
2.    Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kemandirian dan “Self Control”;
3.    Komitmen tinggi berkorelasi positif dengan kesetiaan terhadap organisasi;
4.    Komitmen tinggi berkorelasi dengan tidak terlibatnya anggota dengan aktifitas kolektif yang mengurangi kualitas dan kuantitas kontribusinya.

Berarti dapat saya simpulkan bahwa, komitmen (konteks) sebuah hubungan (antara perempuan dan laki-laki) adalah perjanjian untuk melakukan sesuatu antara dua belah pihak. Komitmen dalam sebuah hubungan memang tidak tertulis, namun komitmen membuat pasangan termotivasi dan setia bahkan senantiasa berkontribuasi satu sama lain baik secara kualitas ataupun kuantitas.

Kembali ke cerita saya, ketika di Jakarta saya secara tidak sengaja bertemu kembali dengan seorang yang saya kagumi sejak SMA. Kami sama-sama saling suka sejak MOS namun tidak sempat menjalin hubungan karena sesuatu hal. Lalu kami putus komunikasi karena dia kuliah negeri di luar kota. Ketika bertemu di Jakarta, saya merasa berbunga-bunga. Tetiba saya jadi intens komunikasi sama dia. Bagaimana tidak, dialah seseorang yang saya impikan akan menikah dengan saya. Mungkin karena cinta SMA memang bisa aja di bilang cinta monyetlah, masih emosional lah, jiwa labil lah, namun kenyataannya kekaguman saya sama dia tidak pernah berubah. Dia pun mengajak saya jalan-jalan, dan saya mengiyakan. Saya masih ingat Adit dan cinta sama dia, tapi bertemu lagi dengan seseorang sebut saja Boy, membuat saya tak kuasa menolak ajakannya.

Kita pernah jalan ke tempat para satwa bersama teman-temannya, kami di foto-fotoin pula sama teman kerja Boy. Saya juga pernah samperin dia di depan kosan bawain kue, dan diapun pernah saya ajak ke tempat kerja saya saat itu. Saya bilang, kamu akhirnya tau, saya sibuk apa sekarang. Dan dia mau mendukung. Saya di ajak nge mall, makan dan ini persis seperti kisah Selma yang diajakin jalan sama Haqy. Boy sangat perhatian, tidak berubah sejak kami pakai seragam abu-abu. Lalu tibalah di mall Ambassador Kuningan, ketika dia mengajak buka puasa di Hokben, kata yang saya tunggu bertahun-tahun muncul juga dari mulutnya. Dia nembak saya. Dooooor.

Saya menantikan kata ini bertahun-tahun. Siapa yang tidak mau dengan Boy, cowok impian saya, berprestasi di sekolah, idola para guru (dan saya) juga sudah bekerja mapan yang ia dapatkan dari berbagai rangkaian seleksi yang sangat ketat. Dia lah pujaan hati saya. Dalam hati saya mau bilang iya. Namun, inilah yang saya katakan padanya (intinya ya):
"Jujur, Boy adalah harapan aku selama ini, dan kata barusan adalah impian aku sejak kita sekolah, namun maaf banget boy, karena sejujurnya aku sudah memiliki orang lain".
Dia diem sambil kita teruskan buka puasa kita.

Dan sepanjang kita jalan di mall Ambassador pikiran ku melayang ke Adit, sejenak berfikir Adit tapi mikir lagi khan ini cowok impianmu udah di depan mata, dan yang bikin aku makin merasa bersalah adalah ada embun di matanya yang siap terdorong jatuh, namun ia tahan paksa.

Bohong lah kalo bilang perasaanku gak ada ke Boy, tapi aku inget, aku sudah komitmen dengan seseorang nun jauh disana, Adit.

Bedanya Boy dan Adit tidak segera mengajak menikah, dan secara hukum aku belum ada ikatan sah dalam pernikahan. Kata wong Jowo khan janur kuning belum melengkung. Namun, ada yang lebih penting dari itu semua. Yakni s e t i a . Dan akhirnya aku lebih memilih setia. Makanya aku menghayati banget ketika ngedengerin lagu Fatin Shidqia – Aku Memilih Setia

Yaelah Septi kenapa enggak nerima Boy aja sih udah di depan mata. 

Saya mendefinisikan komitmen adalah sebuah JANJI dan janji tersebut disepakati kedua belah pihak, dan kedua nya sama-sama sadar atas terikatnya mereka dalam suatu perjanjian. Namanya janji bukankah harus di tepati? Saya tau bahwa saya melakukan kesalahan dengan tetap mau diajak jalan sama Boy, namun saya sadar saya janji pada hubungan kita, aku dan Adit. Dan komitmen memang idealnya di jalani dengan keterbukaan. Sayapun jujur juga ke Adit kalo saya keluar sama Boy, dia marah namun menyadari saya khilaf. Dan terakhir komitmen dijalani dengan konsisten. Inilah yang susah ya. Konsisten sama janji yang kita buat berdua.

Jika memang ada orang yang mengganggap bahwa gak papa khan kamu belum dinikahi, secara hak dan hukum khan belum ada apa-apa. Tapi saya berpendapat sebaliknya. Bahwa saya sangat menghargai komitmen dalam sebuah hubungan, meski MASIH dalam tahap pacaran atau ta’aruf atau apapun istilahnya itu .

Saya LDR juga karena saya yang memilih LDR, jika saya sudah memilih Adit berarti harusnya enggak boleh membandingkan lagi. Meski ada yang lebih baik. Karena ketika kita memutuskan memilih, maka saat itu kita telah mempertimbangkan secara rasional dan perasaan. Makanya saya baru deket sama Adit adalah semester delapan *emang ada hubungannya*. Tapi saya juga enggak boleh berlebihan dengan bilang bahwa Adit adalah hamba Allah yang terbaik karena dia juga manusia biasa. Bukankah kami sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing?.

Saya membayangkan bagaimana jika Adit yang ada di posisi saya, saat itu. Dia yang CLBK. Ya sah-sah aja sih. Saya cari ganti Adit dengan segera dong *buset dagh* *hihihi*

Namun dalam hati saya, komitmen = janji dan janji adalah sakral. Karena komitmen adalah kekuatan. Dengan komitmen kami bisa bersama selama hampir 3 tahun sebelum akhirnya menikah, dengan komitmen akhirnya kita belajar sabar, dengan komitmen kita tau arti kesungguhan. Kesungguhan untuk saling memperjuangkan dan menjaga, dan komitmen inilah yang akan saling menguatkan dan mengingatkan kita. Dan satu lagi, dengan komitmen kita bisa saling belajar dan mengenal.

Dan akhirnya aku dan Boy sudah sama-sama berkeluarga. Dia bahagia dengan keluarganya dan sayapun begitu. Saya bahkan menghadiri pernikahannya dan Adit turut serta, Adit pun tau siapa yang ada di pelaminan ketika itu. Aku juga tidak pernah menyesal komitmen yang juga LDR dengan Adit, karena meski menjalani LDR yang tidak sebentar toh dia akhirnya menikahi aku di usia yang baru menginjak 24 tahun. Padahal aku punya target menikah usia 27 dan memiliki anak usia 30 taun.

Jadi titik tekannya :
Janji tetaplah sebuah janji
Dan hargai kesepakatan itu dengan keterbukaan dan konsisten

Namun bukan berarti komitmen itu selalu lurus, komitmen juga bisa berubah, tapi yang berubah adalah derivasi perilakunya, teknis perjanjiannya, bukan pondasi janjinya.




Buat mba S selamat ya akhirnya tercapai impiannya menikah muda. Gara-gara kamu aku jadi nulis gini. Kalaupun mba akhirnya memilih mas H, itu urusan mbak dan enggak ada sangkut pautnya sama saya. Seperti diatas, saya hanya menyampaikan uneg-uneg berdasarkan pengalaman :) Xoxo


Sumber referensi tambahan :
mengenai komitmen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar