Selasa, 07 Maret 2017

6 hal mengenai etika menjenguk bayi baru lahir

Banyak berita kelahiran, hasyeek senang sekali mendengarnya. Terlintas seperti baru kemaren saya kesakitan nan bahagia di Rumah Sakit sesaat setelah melahirkan Luigi. Selain mempersiapkan kado buat Ibu atau bayi, yuk ah intip hal yang juga penting mengenai etika menjenguk bayi. Jangan sampai kita yang sebagai tamu malah nyusain Ibu nya ya hihi.


Waktu menjenguk

Saya sudah bilang Adit, sesaat setelah secar maunya leha-leha dulu di Rumah Sakit, menambah biaya kamar dan perawatan tidak masalah. Minimal seminggu. Kenapa? Ya karena saya secar. Supaya bisa belajar bangun dari tempat tidur, duduk, dan berjalan *ini sis yang susah*. Dan Adit setuju. Namun ketika suami sudah publish bahwa saya melahirkan, di Rumah Sakit pun akhirnya banyak yang berbondong-bondong datang jenguk saya. Saya senang dikunjungi, merasa ada teman, merasa banyak yang perhatian sama kelahiran Luigi. Namun sebagai seorang Ibu baru (dengan anak pertama) masih butuh proses pemulihan, butuh proses adaptasi terutama cara menggendong dan posisi pelekatan dalam menyusui. Dan itu enggak mudah ketika saya pun harus juga berusaha belajar duduk, berdiri dan berjalan. Sehingga masih butuh bulan madu alias berdua-duaan dengan bayi. Butuh waktu saling mengenal masing-masing. Butuh bonding. Sehingga menurut saya, tak apalah kita bukan yang pertama yang menjenguk bayi sahabat kita, tak mengapa. Tidak mengurangi rasa perhatian kita. Ibu (baru) hanya butuh penyesuaian. Apalagi kalau bayinya nangis aja, dan kita belajar menyusui, begadang yang bikin capek, sementara tamu terus menerus datang di Rumah Sakit, lalu Ibu baru merasa “sungkan” mau bilang “permisi saya mau menyusui”. Nanti mereka membatin aih diusir secara halus nih. Hadeeeh susah juga ya. Sehingga, menurut saya tanyakan kapan waktu yang tepat untuk berkunjung, supaya Ibu bisa mempersiapkan diri atau tunggu ‘lampu hijau” mungkin kita bisa menjenguk bayi setelah ibu dan bayi pulang kerumah. Bagi saya itu menandakan sang Ibu sudah dalam kondisi baik.

Durasi

Karena cuti saya pendek, saya pengen nyampe rumah bisa segera nabung ASIP. Sehingga di sela menyusui dan menemui para tamu, saya masih bisa pumping ASI. Ternyata ada seorang yang menjenguk saya dari pagi sampe sore menjelang mahgrib. Ngajak ngobrol ‘ngalor ngidul’ kayak kita sedang ‘ngafe’ dan ini orang yang sama *etdah*. Menurut saya sih kalau konteksnya begitu membuat fisik Ibu semakin lelah, dan bisa bikin Ibu sedih sendiri. Sedih karena biasanya pagi hari sangat hectic, mulai memandikan, menyusui dan jemur bayi, di sela-sela waktu siang bisa berduaan dengan baby, sedih harusnya dia mendapat minimal setetes, dua tetes ASIP buat di kumpulkan. Sehingga saran saya durasi dalam menjenguk bayi adalah seperlunya. Enggak ada patokan berapa lama dan berapa jam, namun kita TD aja alias tau diri. Eh iya gak sih?

Sehatkah kita?

Bayi baru lahir itu imunitasnya masih sangat amat lemah. Sehingga pastikan kita tidak sedang sakit menular, misalnya pilek, batuk, bersin-bersin. Kalau flu mana bisa di tahan kalau mau pilek dan bersin.  Gimana kalau bersin tapi khan pakai masker? Hmm, gimana ya? Lebih baik keluar dulu di teras rumah, kalau ngerasa belum baikan, segeralah ijin pamit. Berfikir positif aja ya.  

Jangan asal gendong, sentuh dan cium

Kita yang Ibunya aja hati-hati ya dalam gendong bayi, jangan sampai kita udah gendong bayi orang sementara tangan kita belum suci *eh belum cuci tangan ding*. Itu tangan setelah nyetir motor bawa kuman atau virus apa kelihatan mata ya? *sambil mikir*. Apalagi ada aja orang yang ber-hasrat cium mulut atau area wajah bayi. Wuih ini yang bahaya ya. Menurut dr. Theresia Adhitirta di (sini), mencium bagian pipi bayi menyebabkan penularan penyakit melalui percikan ludah dan menyebar di udara sehingga terhirup oleh bayi. Bahkan menurutnya lagi, kebiasaan mencium ini berpotensi menyebabkan bayi terkena penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD), yaitu sekelompok penyakit infeksi seperti radang paru, infeksi darah dan radang selaput otak. Dan penyakit ini penyebab kematian tinggi dan kecacatan pada balita hingga 50%. Ngeri ya?

Jadi mending liat aja dan kalaupun keinginan men cium bayi sangat mendalam, ciumlah kaki nya. InsyaAllah masih kerasa kogh bau bayinya.
Kalau ingin gendong, ijinlah. Biar sama-sama enak, dan demi kenyamanan bayi juga.

Memfoto menggunakan blits dan posting

Jika memang sudah ijin orang tua nya mah monggo. Tapi kita harus empati, tidak semua orang tua mau mem-publish foto wajah anaknya apalagi dalam keadaan jelas wajahnya. Beberapa orang tua dengan pertimbangan keamanan, tidak pernah mempost foto anaknya di media social manapun. Kalaupun di posting biasanya di blur atau ditambahkan sticker. Dan sebagian orang tua menganggap foto anak adalah privacy. Eh ini beneran, saya punya temen blogger yang anti banget posting foto wajah anaknya. Penyanyi Anggun C. Sasmi sampai anaknya gede gini, juga tidak pernah 'pamer' anaknya. Kalaupun ingin di post, Anggun lebih menggunakan angel dari belakang atau tampak samping. Bahkan memainkan pencahayaan foto agar wajah anaknya tidak terlihat jelas.
Nah jangan sampai kita datang sebagai tamu, enggak ijin, tetiba moto dan menggunakan blits disaat mata bayi masih sensitif  *ini saya taubat, maaf mba helen* :'( kemudian asal kita share aja di medsos. Kalau saya sih, jika memang sudah seijin kedua orang tua nya apalagi Ibunya, share aja yang banyak. Apalagi misal kita jenguk cucu raja Salman, sekalian numpang tenar geto ketika share di Instagram. *uhuk*

Banyak komentar mengenai

·      Tuh anaknya rewel aja, ASI nya enggak cukup tuh. Ada lagi temen kantor Adit yang bilang “udah dibelajarin pakai susu botol (formula)? Di belajarin pakai susu botol biar gizinya lengkap, semuanya dapat.”
·      Bedongnya kurang kenceng, biar kakinya lurus, entar kalau gede enggak bengkok
·   Dikasih gurita dong biar perutnya ramping. Ketika tau Ibu saya enggak makein gurita “Loh minimal 40 hari di pakein gurita, jangan macem-macem sama omongan orang tua” lalu Ibu saya ngerasa bersalah, dan makein gurita lagi. Padahal sejak di rumah sakit Luigi enggak pakai gurita.
·      Enggak cocok ASI nya tuh, gumoh terus
·      Kalau njemur tuh semua bajunya dilepas semua biar telanjang bulat. 
     *hadeh bisa gosong anak gue, padahal dia enggak ada target tanning kulit sis*
·      Wah enak ya secar, bisa duduk bersila kayak gitu *iya saya menyusui dengan bersila*, aku DULU setelah lahiran duduk harus lurus kedua kakinya, enggak boleh nekuk, nyut-nyut rasa jaitannya, dan kelahiran anakku DULU prosesnya sampe hampir 24 jam nunggu dia nongol kedunia. Kalau secar enggak sampe se jam udah keluar bayinya, gak lama-lama ya sakitnya. 
    *mau bertukar di posisi saya?*
   *yang ngerasa komen lebih hebat jadi Ibu karena dia melahirkan per vaginam hempas manjah aja say*
·      Susu nya apa, susu ibunya apa susu sapi? *ini pertanyaan mengarah kemana?* *sekedar kepo, apa karena dia bisa membanggakan diri di depan Ibu karena dia bisa ngasih ASI ke anaknya?* *Mau belikan susu sapi nya jika memang beneran minum susu formula?* Tidak kah kita empati, banyak loh ibu-ibu setelah kelahiran ASI tidak langsung lancar ASI nya, padahal dia sudah berusaha mati-matian supaya ASI nya keluar, mulai makanan sampe pompa per 2 jam*
·      Naik berapa kilo niih, lebih berisi lebih kelihatan seger ya? *busui rawan ngamuk kalo di sentil mengenai ini* Xoxoxo :D
·      Anaknya imut, kecil dan mungil *emang kenapa kalo anak saya 2 setengah kilogram? Mau kamu sebul biar gede?*

Sodara sekalian plis buang jauh komentar enggak penting kayak gini, karena enggak bakal kita tambah kliatan pinter dan dipuji sang Ibu. Ibunya malah gengges gemez pengen ngruezz. *piisss ya* :D Pengalaman saya setelah melahirkan jadi sangat sensitif sehingga mudah marah karena sering denger komentar orang seperti ini. Mungkin efek lelah begadang juga ya. Iya beneran saya enggak bisa bobok syantik lagi. Sehingga menurut saya, jika menjenguk duduklah, berilah selamat dan tunjukkan kebahagiaan dan dukungan atas kelahiran bayi Ibu yang penuh perjuangan. Kalaupun mau ngasih masukan, yah tinggal nada bicara nya yang diperhalus dan mimik muka yang bukan ‘sok tau’. Iya beneran beda loh, orang yang tulus memberi bantuan berupa saran ilmu (ilmiah), dengan member Perkemi (Persatuan Kemeruh Indonesia). 


Seorang busui yang mencoba empati Ibu baru
Gresik, 07 Maret 2017
23.00 WKS