Selasa, 17 Maret 2015

Berkenalan dengan TORCH (dan terutama CMV)



Karena sedang program kehamilan, saya akhirnya ke dokter Obgyn pertama kali. Hal ini mengingat nenek saya pernah ada masalah di rahim yang 'katanya' tumor jinak namun akhirnya operasi dan rahimnya diangkat. Ibu saya pun tahun 2014 kemarin ada myom di rahimnya yang menyebabkan beliau haid berbulan-bulan tanpa henti meski dikiret dan pengobatan dokter lainnya. Yang akhirnya operasi dan rahimnya diangkat juga tepatnya di RS Darmo Surabaya. Makanya saya parno, saya ingin meyakinkan diri bahwa saya sehat. Tanggal 02 Maret 2015 saya mendatangi Obgyn di RS. Semen Gresik. Sebenernya pengen nanya juga juga tentang kesuburan. Namun di RS Semen Gresik tidak ada Obgyn dengan subspesialis Fertilitas Endikronologi Reproduksi (Sp.OG-KFER). Obgyn dengan subspesialisasi ini memahami tentang hormon dan kesuburan. Yaudahlah tahap I dulu pikir saya. Setelah di USG, Alhamdulillah ukuran dan bentuk rahim saya normal. Tidak ada kista dan myom. Lalu saya minta dokter membuatkan pengantar ke Laboratorium untuk tes TORCH. Awal perkenalan saya dengan istilah TORCH adalah dari Rumah Ramah Rubella. 

TORCH
TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma Gondii, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV). TORCH TIDAK bahaya jika diderita selama ia TIDAK mengandung. Namun, bagi ibu mengandung, TORCH ini sangat jahat karena bisa menyebabkan keguguran, bayi lahir dengan organ tubuh yang belum sempurna, dan cacat bawaan. Dampak TORCH pada bayi yang terinfeksi selama dalam kandungan di antaranya: gangguan syaraf, mata (in most cases katarak congenital), pendengaran (in most cases profound hearing loss), paru-paru, jantung, motorik, kognitif, hidrosepalus, dan mikrosepalus. Ada juga yang sampai menyebabkan retardasi mental.


Siapa yang memerlukan pemeriksaan TORCH?
1.  Wanita yang merencanakan kehamilan 
2    2. Wanita yang baru/sedang hamil bila hasil sebelumnya negatif atau belum diperiksa, idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali
3    3. Bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi pada saat hamil

Diagnosis berdasarkan pengamatan gejala klinis sulit dilaksanakan, sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk mengukur antibodi IgM atau IgG terhadap TORCH, antara lain :
  • Anti-Toxoplasma IgM dan Anti-Toxoplasma IgG (untuk mendeteksi infeksi Toxoplasma)
  • Anti-Rubella IgM dan Anti-Rubella IgG (Untuk mendeteksi infeksi Rubella)
  • Anti-CMV IgM dan Anti-CMV IgG (untuk mendeteksi infeksi Cytomegalovirus)
  • Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG (untuk mendeteksi infeksi virus Herpes)

Tanggal 06 Maret 2015 saya ke Lab, dan diambil darah 3 tabung kecil

setoran ke Edward Cullen



Harga Tes TORCH
Ini di Lab Parahita Gresik, saya juga hunting di Pramita Surabaya dan harganya tidak jauh berbeda.

harga tes TORCH


Nah setelah dinanti, akhirnya keluarlah hasil lab saya. Saya langsung tertuju pada tulisan POSITIF di kertas itu. Terbelalaklah mata saya. IgG anti CMV positif!!!






Lalu saya googling habis-habisan ketemulah di SINI
Begini cara membaca hasilnya
  1. Periksalah serum untuk mencari ada tidaknya IgG spesifik untuk parasit/virus TORCH. Bila hasilnya NEGATIF, berarti Anda tidak pernah terinfeksi TORCH. Bila POSITIF, berarti pernah terinfeksi. Note: (periksa Anti-Toxoplasma IgG, Anti-Rubella IgG, Anti-CMV IgG, Anti-HSV2 IgG). Tes IgG itu untuk meriksa apakah pada masa lalu si pasien pernah kena infeksi.
  2. Bila IgG POSITIF, maka untuk menentukan kapan infeksi tersebut, Anda harus melakukan pemeriksaan serum untuk mencari ada tidaknya IgM parasit/virus TORCH. Tes IgM ini fungsinya untuk memeriksa apakah saat ini si pasien terinfeksi TORCH.
  3. Bila IgG Positif dan IgM Negatif : Anda telah terinfeksi lebih dari setahun yang lalu. Saat ini anda mungkin telah mengembangkan kekebalan terhadap parasit itu. Anda tidak perlu khawatir untuk hamil.
  4. Bila IgG Positif dan IgM juga Positif: Anda tengah mengalami infeksi dalam 2 tahun terakhir. (mungkin pula ada false pada hasil IgM). Anda harus catat berapa angka IgM tersebut.
  5. Selanjutnya Anda harus melakukan lagi pemeriksaan IgM (kalau perlu sekalian IgG) setelah 2 minggu dari pemeriksaan pertama.
  6. Bila IgM tetap Positif atau malah naik angkanya, berarti anda sedang terinfeksi TORCH. Sebaiknya anda sembuhkan dulu infeksi ini baru kemudian mulai hamil.
Alhamdulillah meski positif, tapi itu masa lalu.Kalo pengen tau bedanya IgG dan IgM secara spesifik, bisa mampir ke SINI

Karena CMV saya positif (meski dulu), lalu apa itu CMV? saya googling nemu yg pas di SINI
CMV adalah virus yang masih 1 keluarga dengan Herpes. Virus ini biasanya nggak terlalu berbahaya pada orang dewasa. Yang nyebelin adalah sekali ada CMV dalam tubuh kita, virus itu akan tetap berada dalam tubuh kita selamanya. Dengan kata lain, virus ini belum ada obatnya. Kebanyakan infeksi CMV pada orang dewasa yang sehat itu nggak menunjukkan gelaja. Gejala (kalau ada) pun hanya ringan misalnya pegal-pegal, demam, nggereges/meriang, dan sendinya ngilu. Gejala nya memang mirip dengan masuk angin biasa. That's why sering kali keberadaan CMV dalam tubuh nggak disadari. Sedangkan, pada orang dewasa yang daya tahan tubuh/kekebalan tubuh rendah, gejala CMV bisa berupa penurunan kemampuan penglihatan, diare, pneumonia, luka di lambung, kejang, peradangan otak, dan bahkan koma.

Karakter Cytomegalovirus / CMV
Meskipun sama-sama berada dalam satu kelompok TORCH, karakter CMV menurut saya cukup unik. Karakter CMV berbeda dengan Rubella. Rubella, jika kita sudah terkena, tubuh kita akan membentuk antibodi/kekebalan terhadap Rubella. Antibodi ini biasa kita sebut dengan IgG dan IgM. Antibodi Rubella yang terbentuk ini bersifat protektif. Artinya, antibodi ini akan melindungi kita terhadap virus Rubella yang di kemudian hari menyerang kita sehingga kecil kemungkinan kita akan terserang Rubella lebih dari satu kali. Kalau pun memang terserang lebih dari satu kali pun, dampaknya nggak senakal infeksi pertama. CMV berbeda. Antibodi CMV yang sudah terbentuk dalam tubuh kita nggak bersifat protektif, namun dormant (inactive). Artinya, CMV dalam tubuh kita hanya bobok-bobok cantik dan nggak bisa melindungi tubuh kita dari infeksi CMV di kemudian hari. Maka dari itu, CMV selalu bisa untuk reaktivasi atau menjadi aktif kembali.

Penularan CMV
  1. Ibu hamil ke janin. Kalau penularannya seperti ini, perkembangan janin akan terganggu sehingga bisa mengalami gangguan pendengaran, retardasi psikomotorik, mikrosefali, katarak bawaan, dan lain-lain.
  2. Di kamar bayi. Banyak kasus bayi terinfeksi CMV di kamar bayi. Biasanya ini terjadi di rumah sakit yang belum punya fasilitas supaya bayi bisa rooming in / sekamar dengan ibunya. Jadi bisa saja ada bayi yang memang sudah terinfeksi CMV sejak dalam kandungan ibu nya. Lalu CMV bayi tersebut menular ke bayi (yang sebenernya sehat) lainnya di kamar bayi. Menurut dokter, idealnya untuk mencegah penularan di kamar bayi, perawat wajib memakai alat pelindung diri (sarung tangan dan masker) saat bersentuhan dengan bayi dan wajib mencuci tangan setiap akan mengurus bayi lain. Berapa banyak perawat yang melakukan itu? Pasti di luar sana masih ada yang kurang disiplin. Jadi, please, nurse, if you read this, lakukanlah prosedur yang tepat saat menghandle bayi di kamar bayi. Perihal kamar bayi ini juga bisa menjadi pertimbangan untuk para ibu hamil yang akan melahirkan bayinya. Mungkin akan lebih aman melahirkan di rumah sakit yang sudah punya fasilitas rooming in.
  3. Cairan tubuh penderita: urine, percikan air liur, ingus. Ini bisa terjadi pada siapa saja. Misalnya saat anak kita share mainan dengan anak lain yang kebetulan terinfeksi CMV. Biasanya anak (di usia tertentu) suka memasukkan mainan ke mulut. Kalau mainan anak dengan CMV yang sudah terkena air liur itu diemut oleh anak kita, itu bisa jadi jalan penularan CMV. Contoh lain misalnya kebiasaan orang asing (tetangga/pengunjung/dll) yang gemas dengan bayi kita lalu menciuminya di pipi. Ini juga bisa jadi jalur penularan CMV karena pipi dekat dengan mulut sehingga kalau orang yang mencium terkena virus, virusnya bisa dengan mudah masuk ke mulut bayi. Jadi memang kadang ibu perlu untuk protektif terutama kalau anak masih bayi. Dalam seminar yang diliput oleh Detik Health , dokter juga menyampaikan tentang larangan akan kebiasaan cium-mencium bayi di mulut/bibir ini. Liputan lengkapnya bisa dibaca di SINI
  1. Hubungan seksual. Berhubung hubungan badan bisa jadi salah satu jalur penularan, kalau istri terinfeksi sebaiknya berkonsultasi ke dokter dulu, apakah mungkin ada tindakan medis yang perlu dilakukan. Jangan sampai berefek pingpong ke suami.
  2. Transfusi darah dan transplantasi organ. Donor darah juga sangat marak dan itu sangat baik. I totally support that! Tapi kalau kita terinfeksi CMV, sebaiknya nggak mendonorkan darah kita ya.
As what I've stated before, CMV paling doyan masuk ke tubuh yang sedang drop daya tahannya. Jadi sebenernya ada beberapa hal sederhana tapi penting yang bisa kita lakukan untuk mencegah infeksi virus Cytomegalo. Yeay! :)

Pencegahan CMV
  1. Cuci tangan dengan air dan sabun selama 15-20 detik, terutama setelah: mengganti popok, menyuapi anak, menyeka ingus atau air liur anak, dan memegang mainan anak (yang diemut/terkena air liur).
  2. Jangan berbagi makanan dan minuman serta peralatan makan yang dipakai oleh anak.
  3. Jangan meletakkan empeng/dot anak di mulut kita.
  4. Hindari kontak air liur saat mencium anak. (lagi-lagi) :))
  5. Bersihkan mainan, benda, atau permukaan yang terkena air liur atau urine anak.
Pengobatan CMV
  1. Untuk janin di dalam kandungan yang terinfeksi CMV dari sang ibu --> nggak ada obatnya. Hiks.
  2. Untuk bayi yang baru lahir dan diketahui punya infeksi CMV yang cukup berat --> ada opsi untuk pemberian Gancyclovir. Bukan untuk menghilangkan virus Cytomegalo seluruhnya, tapi untuk menekan virus supaya nggak semakin jahat ke tubuh anak. Tapi, WAJIB berkonsultasi dulu dengan dokter ya. 
  3. Berbeda dengan Rubella yang bisa dicegah dengan vaksinasi MMR, belum ditemukan vaksin untuk mencegah CMV.
  4. Saya ingetin sekali lagi ya, jaga kebersihan dan daya tubuh sampai saat ini masih jadi hal yang paling penting dan paling memungkinkan untuk mencegah infeksi CMV pada ibu hamil, dewasa yang nggak hamil, dan anak-anak. :)))

Pencegahan TORCH secara umum dari SINI
  1. Lakukan pemeriksaan terhadap binatang peliharaan anda dirumah, seperti kucing, burung, ikan, kelinci dan anjing untuk mengetahui apakah mereka memiliki infeksi aktif atau tidak. Jika binatang peliharaan anda ternyata memiliki infeksi aktif, titipkan mereka ke tempat pemeliharaan atau pada teman sekurang kurangnya selama 6 minggu (yaitu dimana masa infeksi dapat ditularkan). Jika mereka bebas dari infeksi ,biarkan mereka seperti biasanya dengan tidak membiarkan mereka memakan makan daging mentah,pergi keluar rumah,memburu tikus atau burung, atau bermain dengan bintang lain.
  2. Mintalah seseorang untuk membersihkan kandang dan kotorannya. Bila anda harus melakukannya sendiri, gunakan sarung tangan dan cuci tangan anda setelah selesai. Kandang harus dibersihkan setiap hari karena oosit yang memindahkan penyakit akan sangat menular dengan berjalannya waktu.
  3. Gunakan sarung tangan jika anda berkebun. Jangan berkebun ditanah yang terkena kotoran kucing, juga jangan biarkan anak bermain di pasir yang terkena kotoran kucing.
  4. Cuci buah dan sayur terutama yang ditanam sendiri dengan sabun pencuci piring, bilas bersih bersih.
  5. Jangan makan daging mentah atau daging yg kurang matang atau susu yang tidak di pasteurisasi. Bila anda ke restoran pesanlah daging yang matang penuh.
  6. Termometer daging yang anda masak atau rebus. Minimal harus menunjukan 70ยบ C. (Kista ini di lingkungan dapat hidup sampai beberapa bulan. dan dia tahan terhadap desinfektan, freezing, and drying. tapi dia akan mati pada suhu 70 derajat C dalam 10 menit).
  7. Jika anda sedang hamil lakukan pemeriksaan rutin untuk menghindari dan mengatisipasi jika terkena toksoplasma.

Semoga bermanfaat :)