Kamis, 11 September 2014

Saya Seorang Istri



Menjadi seorang istri adalah hal yang belum pernah saya jalani. Iyalah pasti. Dan ternyata berkeluarga itu banyak tantangan (khusus) yang harus saya lakukan. Diawal menikah banyak hal yang "berbeda" dari kami - hobi, gaya hidup, kebiasaan, selera makanan, tempat faforit dll - , sehingga wajar jika kadang beda pendapat sampai kadang berujung fifty fifty alias “jalan tengah”. 
Sebenarnya bukan tantangan ya, tapi lebih tepatnya adalah tanggung jawab. Bahwa "gelar" istri itu punya sederetan tanggung jawab yang mestinya dilakukan. Bahwa dengan gelar istri itu bukannya yang jadi ratu terus dirumah, minta dilayani ini itu, minta makanan yang enak terus dari suami, minta di jemput dan dianter kesana kemari, harus dimengerti karena itulah wanita ingin selalu dimengerti 
(kalau gak pengen paginya di gondokin), yang kudu bilang “aku sayang kamu” tiap pagi atau “kamu cantik hari ini” atau bahkan “ pagi ini kamu tercantik di dunia” dan sederetan penerimaan manis dari suami yang terus berjejer dibelakang. "Gelar" istri adalah gelar yang menurut saya menuntut hak dan kewajiban. Seorang istri memiliki hak dari suami, eitttsssss tapi juga kewajiban yang harus ditunaikan dengan tulus.Nah disinilah petualangan dimulai. Suami memiliki kewajiban memberikan nafkah pada istri, namun bukan berarti istri akhirnya leha-leha dan tinggal ngabisin duit suami, gesek atm tiap pengen beli beli. Istri tidak diwajibkan mencari nafkah karena memang secara fitrahnya memiliki perbedaan, baik secara fisik dan lainnya.
-------
Ketika menikah (yang awalnya sendiri kemudian jadi berdua) akan banyak kisah2 seru. Petualangan menjadi istri yang keren banget *halah* :p 
Dari banyaknya perbedaan dengan suami, yang berujung pada "jalan tengah", saya akhirnya banyak belajar bagaimana berumah tangga yang baik dari buku. Saya sengaja menyisihkan sebagian gaji untuk membeli majalah atau buku yang berhubungan 'pernikahan dan sejenisnya' (sesuai sama kebutuhan saya). Saya membelinya sebagai wawasan, membuka banyak pikiran, melebarkan sudut pandang mengenai hidup berumah tangga. Apalagi saya memutuskan hidup mandiri dengan suami. 
Inilah buku2 yang pernah saya baca dan pelajari. 
Buku dan majalah yang saya baca
Dari banyaknya tersebut, poin intinya adalah pernikahan itu juga "perjuangan".
---------
Suami sy kerja daripagi sampai sore, trus ngurusin bisnis alias berdagang hal2 “tema bola” se sorean dan setelah maghrib berangkat kuliah malem. Pulang-pulang bisa sampai larut, apalagi kalau lagi ada tugas kelompokan dan presentasi. Pasti capek banget bukan? Akhirnya saya memutuskan 'meskipun saya juga bekerja, saya akan berusaha menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan suami saya'. Saya pikir, saya akan sangat egois jika saya leha leha dirumah sepulang kerja, berbisnis, kuliahnya suami kemudian saya tinggal minta uang atau minta hal2 yang dipengenin. Jika saya dirumah, saya adalah istri dari suami saya.

Sebelum suami bangun pagi, saya BERUSAHA bangun terlebih dahulu dari suami. Atau jika kami shubuhan bareng,dan suami tidur lagi, saya enggak balik tidur. Saya belajar memasak sederhana. Enggak harus yang ruwet (karena memang saya gk bisa) :p
Karena saya suka males ke pasar pagi2 buta, saya ke pasar malem hari pulang kerja. Trus disimpan di lemari es. Dan oooh memasak itu sulitnya pemirsah. Hmm,memasaknya gampang seeh. Tapiii menjadikan masakan jadi enak di lidah itu oh tantangan buat saya. Ibaratnya saya ini masak air aja bisa gosong :D
Saya pernah memasak dan memblender bumbu intinya nya terlebih dahulu, lalu ternyata rasanya aneh karena kebanyakan jahe.
Saya pernah memasak yg saya yakin rasanya pasti ciamik, kemudian sy tambahkan bumbu asam manis di akhir masakan, rasanya jadi enggak karuan, daaaan akhirnya saya buang. Huhu
Saya pernah memasak tumis tempe, yang ternyata tempenya gorengnya terlalu kering, jadinya allot enggak nyaman di kunyah gigi.
Saya sering masak salah karena kebanyakan salah satu jenis bumbu, lalu saya ulang lagi, enggak enak lagi, yang tetiba bumbu inti ludes tanpa saya sadari. *nangis di pojokan*
Saya pernah akan memasak bumbu masakan bali dan memblendernya. Lalu tetiba blender bumbu enggak bisa di buka, karena salah metode muternya, akhirnya blender bumbu sampai sekarang enggak bisa dipakai. Dan jangan tanya sudah berapa kali saya masak keasinan lah, ke manisan lah, dan kawan2nya :D
Saya jadi inget ibu saya. Yang selalu masakin enak buat aku. Sejak itu saya selalu hati – hati dalam memasak, dan mulai bertekad belajar dengan membeli buku ini. 

Buku yang sangat simple buat sebagian orang, tapi tidak buat saya :D

Namun suami tidak pernah menuntut saya HARUS memasak tiap pagi. Tidak sama sekali. Jika saya tidak capek dan masih ada waktu, saya yang berinisiatif sendiri. Karena suami berfikir, kalau ada pekerjaan yang lebih penting, lebih produktif jika digunakan untuk kegiatan tersebut. Namuuuun saya dan suami punya kebiasaan sarapan sebelum kerja  #nah looh #dilema :D
----------
Bagaimana dengan urusan nyuci baju. Di awal2 menikah, kami mutusin untuk menyucikan  pakaian di laundry kiloan, pendasaraanya karena pasti enggak sempat buat nyuci dan setrika. Lalu suatu hari, di pagi hari ketika suami mau berangkat kerja nyari baju dinasnya, kogh enggak ada. Dicari di sana sini enggak ada juga. Suami baru inget, kalau ternyata masih di laundry an dan se pagi itu, pasti belum buka. Lalu apa yang terjadi? 
Suami enggak jadi kerja 
Alias ijin 
Alias cuti dadakan :D 
karena enggak mungkin berangkat kerja telat atau kerja dengan baju bebas.

Trus kami juga sering, karena kami dirumah cuman berdua, jika punya makanan apa gitu, suka enggak awet , atau pas beli makanan diluar suka enggak habis lauknya, endingnya di buang. Padahal lauknya enak loh *dasar emak2 irit*  
Akhirnya karena kejadian2 tersebut, kami mutusin beli mesin cuci 1 tabung dan lemari es. 
Bukan karena sok sok an beli beli barang. Sok banyak duit sok apalah. Bukan karena itu. Tapi kami berfikir, ini akan jauh lebih menghemat pengeluaran kami. Makanan bisa dimasukkan lemari es dan awet, dan kami bisa nyuci baju kapanpun tanpa kisah ketinggalan di laundry an dan meminimalisir baju rusak karena kesalahan "mbak2" laundry nya.
---------
Lalu apa semua harus saya yang mengerjakan. Apakah dengan pekerjaan rumah tangga sehingga kita seperti pembantu di rumah sendiri? Menurut saya premis itu salah. Ini mengenai kemandirian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan suami. Ini adalah bentuk pembagian kerja antara saya dan suami. Kami harus bekerja sama. Kebetulan suami juga enggak anti dengan pekerjaan2 begini, karena jaman jejaka juga mandiri ngekos sendiri. Secara kebetulan aja *padahal enggak ada aturan tertulis* suami musti yang nyuci baju. Halah apaan tinggal puter, beres. Eits jangan salah. Nyuci juga butuh waktu loh. Termasuk nata jemurannya jadi rapi biar keringnya merata.
Dan saya menyetrika baju setumpuk tiap minggu. Iya saya. Sehingga meski hari minggu, saya bangun pagi sekali, dan segera menyelesaikan setrikaan supaya bisa ikut suami ke Surabaya siangnya. Dan suami yang menyapu halaman depan rumah yang selalu ada dedaunan gugur dari pohon tetangga depan .

Lalu gimana menyapu dan ngepel. Hmm, diusahakan 2 hari sekali, dan mengepel 2 x seminggu. Berusaha se :D *alesan sambil kedip kedip nglirik suami* haha
Padahal rumah saya itu pasti berantakan loh. Harusnya tiap hari kudu menyapu dan mengepel. Kenapa? Rumah saya penuh barang dan setiap hari selalu dikunjungi orang. Maklum suami nyambi jadi pedagang hehe. Namanya Scudetto Sport (loooh lah kogh endingnya promosi hehe) 

Samping kiri ruang tamu


Tampak depan
Dan seperti inilah tiap malam...


Pengunjung yang mampir ke toko alias rumah saya
Jadi, bisa dibayangkan khan bagaimana kondisi rumah saya setiap harinya? :p Serba berantakan? Tentu :D

 -------------------------------
Meski saya bangun paling pagi, saya masih bisa berolahraga. Saya olahraga pulang kerja jam setengah 7 sampai setengah 8. Kebetulan saya ikut olahraga di Fitnes Center. Apa karena gaya hidup serba mewah saya ikut klub kebugaran?
Dengan biaya 120ribu saya bisa datang ke tempat tersebut selama 10X kedatangan. Saya boleh merasakan semua fasilitas yang ada yakni renang, fitness, aerobic dan sauna. Berarti jika dihitung, cuma 12ribu doang sekali datang. Jauh banget di Surabaya yang sekali renang butuh merogoh kocek 25-30rb. Sehingga biasanya setelah fitness, saya renang biar segar. Dan ini tempat khusus wanita looh. Mau tau saya olahraga dimana? saya olahraga di VIOLETTA Health and Beauty Center, Jl. Panglima Sudirman Gresik. Yang berminat monggo :D


gambar ini diambil dari google


Sebenernya saya menganggap olahraga sebagai kebutuhan walaupun saya enggak terlalu ngoyo. Saya pikir olahraga teratur akan membuat tubuh menjadi sehat dan bugar. Efeknya enggak cepet lelah. Jadi saya pilih olahraga yang menyenangkan, ber olahraga yang saya minati dan bisa. Suami mendukungnya dengan membelikan baju renang muslimah, ikut muterin keliling Pasar Grosir untuk mencari baju senam, yang endingnya nemu di Plaza :D (pertama kali beli baju di gerai Sport haha)
Dan hari ini, 11 September tepat di hari ulang taun saya, tetiba pagi-pagi menghadiahi saya sepatu running warna ungu #teteup slalu ungu :p 
Mungkin tau banget, kalau saya lagi giat-giatnya olahraga. 

 ---------------
Lalu apakah dengan berkeluarga akhirnya kami harus berduaan mulu, lengket kayak perangko, lengket kayak jajanan jenang.
 
Saya menikah 1 januari 2014, itu bertepatan dengan padetnya agenda kerjaan saya, mulai dari rapat evaluasi taunan, pembahasan program kerja, diklat-diklat, belajar dll. Dan saya khan itungannya “orang baru” disini, sehingga kudu memperhatikan betul tiap rapat (yang terjadi hampir tiap hari) selama 1 bulan kalo gak salah. Suer padet merayap. Dan saya hanya mendapat jatah cuti 3 hari saja. 
Dan TIDAK mengambil jatah libur selain itu. Sehingga kami, *saya dan suami* enggak ada agenda bulan madu alias honey moon atau apalah istilah orang2 diluar sana. Setelah nikah, saya balik kerja dengan bejibunnya agenda. Pokoknya kerja dan kerja. Begitupun suami. Dan sampai hari ini, kami belum terlintas  agenda berduaan buat bulan madu. 

Tempat kerja saya dengan suami jalannya searah, tapi enggak pernah bareng boncengan. Tetep sendiri-sendiri. Padahal sama-sama masuk pagi. Tapi pulangnya beda. Suami jam 4 sore udah pulang, dan saya *uhuk* jangan ditanya ya... #pastimalem :D
Jadi enggak pernah ada sinetron kayak gini di sebuah sore "Kenapa sih belum jemput aku, capek tau nungguin, haduh jadi jemput jam berapa?" haha enggak ada kayak gituan.

----------------
Namun jangan dikira dengan menikah saya engga punya waktu berkualitas dengan diri sendiri atau istilahnya “Me Time”. Ada kalanya saya melepas gelar “istri” pada saat2 tertentu. Saya masih bisa kogh minggu pagi renang dengan teman2 kerja, masih bisa jalan-jalan dengan sahabat-sahabat saya, nonton, dan melakukan hobi2 lainnya misal membaca buku, ke tempat kebugaran, nginep di tempat kerja, dll. Saya punya komitmen, ini saya lakukan jika : kerjaan rumah beres, setrikaan beres, enggak ada cucian piring dan kerjaan2 rumah yang lain :p

 ----------------
Sehingga dari sini, menikah itu bukan cuma pengen bahagia doang, santei santei dan leha2 kebersamaan dengan suami, manja-manja tinggal nyuruh2 suami, BUKAN....
Seorang istri itu bukan ratu. Dengan gelar nya ia memiliki deretan kewajiban. Ini bukan mengenai ngerjain hal-hal seperti ART atau asisten rumah tangga. Namun, selama saya dirumah saya adalah istri yang mengurus keluarga, mengurus suami. Mengurus urusan rumah tangga dan suami adalah menjaga kondisi rumah tangga, membuat rumah bersih sehingga bikin nyaman pas pulang kerja lagi capek, menjaga keindahan halaman rumah, memasak sendiri sehingga menghemat pengeluaran dan menjaga gizi, membuat saya dan suami sehat, memastikan baju enggak rusak karena kesalahan cucian atau setrikaan laundry kiloan, de el el
Dengan komitmen kami enggak memiliki anak dulu, membuat saya banyak adaptasi.  Dengan jeda waktu ini, saya punya banyak waktu belajar. belajar memasak (yang enak dan sehat),  belajar kisah2 rumah tangga dan mengambil hikmahnya, diam diam saya juga mem follow grup parenting, grup menyusui, membaca artikel-artikel di grup-grup atau blog emak emak dll. Dan dirumah, diam-diam saya juga membaca setumpuk majalah dan buku mengenai rumah tangga dan parenting :D *ssst saya membaca nya saat suami terlelap mimpi*

-------------------
Dengan status bekerja, senin sampai sabtu, suami pun sibuk belum lagi banyaknya kerjaan rumah. Bukan berarti enggak ada hari berdua. Paling “terkadang” (iya terkadang) hari minggu adalah hari kami berdua walau hanya beberapa jam saja. Saya akhirnya jadi ratu... Meskipun karena kesibukan suami, beberapa jam saja itu adalah hal yang sangat mewah buat saya.


Saya akan terus belajar dan belajar. Belajar menyeimbangkan antara peran istri dan profesional bekerja dan memberi manfaat untuk masyarakat. Belajar menjadi istri yang baik. Karena rumah tangga itu enggak ada sekolahnya. Jadi insyaAllah saya berusaha sekuat tenaga untuk seimbang dalam menjalani fase hidup yang ini.. Ini masih menjadi istri. Belum lagi ketika hamil, melahirkan dan memiliki anak, mengurusnya, tetap memberi ASI padahal kerja, dll. Belum bisa bayangin kedepan saya bakalan bawa printilan alat pumping kemanapun dimanapun saya pergi. Namun saya banyak berfikir mengenai ibu-ibu di luar sana. Mereka bisa jadi ibu, jadi istri, jadi guru les privat, jadi koki keren, jadi designer sekaligus penjahit, jadi akuntan keuangan keluarga dan jadi psikolog anak dadakan dalam satu waktu. Mereka melakukan banyak hal tersebut diluar pekerjaan atau karirnya, diluar peran aktifnya memberi manfaat untuk orang lain, untuk masyarakat. Huaaahhhh masih banyak tantangannya kedepan.
Saya akan terus belajar dan belajar
Belajar dan belajar **.

aditya dan septia


Anggraeni Septi
11 September 2014
hari ulang tahun ku :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar