Kamis, 13 Oktober 2016

kontemplASI



Aku menikah di usia muda, 24 tahun dan tanpa persiapan. Dengan idealisme ku akan kata keramat “menikah” aku hanya akan melaluinya saat usia 27 tahun. Tetap Adit mengajakku dengan yakin di tahun itu. Sampai akhirnya kami bersepakat, tidak akan ada anak dulu dalam rumah tangga ini. Apa yang kulakukan? BELAJAR. Belajar jadi istri, belajar menjadi Ibu, dan belajar SEIMBANG. Dan entahlah setelah aku menikah, makin sibuk aja dalam kegiatan. Setiap pulang kerja, aku diklat di Surabaya. Senin-jumat. Dan kalau Jumat sampe jam 9 malam finish, sehingga nyampe Gresik jam 10 malam. Tapi aku senang, tidak ada beban. Tidak ada tanggungan anak. Hanya Adit dirumah yang bisa mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Sampai dalam proses belajar itu aku baru tau bahwa menikah itu perlu perjuangan, sampai aku sadar bahwa istri harus paham bahwa dalam keluarga adalah sebuah organisasi kecil, aku juga baru ngeh kalo aku ternyata gak bisa masak, gak bisa nyuci baju. Selama komitmen tidak punya anak juga lah, aku semakin mendalami dunia per Ibu an. Yang ketika aku kuliah mikir kalo berkeluarga pasti banyak pengeluaran susu, ternyata ASI adalah susu terbaik di dunia ini. Gratis pula. Dari proses belajar aku pun tau bahwa seharusnya sebelum aku menikah, aku tes kesehatan sama Adit. Tapi enggak aku lakukan, lha gimana wong gak tau. Aku pun jadi yakin kalo aku mau hamil, aku harus bebas dari berbagai virus yang bisa menghambat di awal atau bahkan saat kelahiran.
Tibalah jua keinginanku sendiri, aku siap memiliki anak. Saat itu demi ikhtiar ini, aku ke Spesialis Kandungan, untuk keinginan program hamil. Selain diberi obat penyubur kandungan, aku di beri beberapa vitamin, dan dalam manajemen lain. Tidak hanya bolak balik ke Obgyn, untuk kepastian kapan aku hamil, akupun juga dengan inisiatif sendiri tes darah lengkap, hepatitis B dan C, dan TORCH dengan biaya sendiri, yang bagi aku dan Adit tidak lah murah. Tapi ini demi calon anak kami, demi kehamilan dan kelahiran yang sehat. Sampai tibalah jua segala usaha dan doa terkabul. Aku hamil dan membawa suka cita dalam kehidupan ku. Gimana bisa, anak kecil akan punya anak kecil. Haha, tapi aku sudah siap. Aku sudah punya BEBERAPA bekal dan akan terus belajar. Selama kehamilan awalku, aku kerja keras untuk sebuah peran dan pekerjaan. Aku tidur malam, begadang, banyak berfikir dan berhubungan dengan banyak orang. Saat itu aku juga tidak pernah pulang kerumah. Kerja dari pagi sampai pagi. Istirahat maksimal adalah siang ketika rekan lain istirahat. Tapi aku kuat dan bisa melalui. Targetku tidak boleh tidak produktif meski hamil. Selama hamil harus sehat. Dan di akhir trimester aku pasti update CMV dalam tubuhku, dan Alhamdulillah hasilnya selalu negatif.
 
Lui poto sama Evan Dimas ahahaha :D

Namun di usia kandungan 7 bulan disitulah aku merasa aku sudah sangat ngos ngosan. Tapi aku masih harus berperan dan berjuang untuk suatu hal. Untuk duduk aja sudah sangat capek. Sampai aku menghubungi para sabahat yang sudah pengalaman hamil. Ada beberapa yang nyaranin minum madu. Aku lakukan minum madu dan banyak minum air putih, tapi apa kondisiku lebih kuat? Tidak. Kemanapun aku pakai motor sendiri. Tidak pernah aku diantar atau di jemput Adit karena jam kerja  dan jam biologis kami yang berbeda. Bahkan untuk rapat atau diklat malam ke Surabaya pun, aku lakukan sendiri. Apa Adit jahat padaku? Ada beberapa orang yang mengatakan “...tega banget nih mas Adit...”. Aku senyum. Aku yakin, bahwa kehamilan itu adalah anugerah. Hamil itu bukan sakit. Aku sudah berat, tapi aku masih punya energi. Mungkin karena keadaan lah yang membuat aku kuat dan ber-Energi. Aku hanya punya 23 hari itu beradaptasi dengan bayi jika ia sudah lahir kedunia. Karena hal itulah, aku harus kuat sampe besok aku melahirkan, saat itulah target aku baru cuti. 
 
dugong ;O
Dalam proses kehamilah ini, ada hal yang menggangu di hati, bayi tidak posisi seharusnya. Luigi dalam 'oven' melintang. Aku berusaha renang, meski hanya terealisasi 2 kali saja, dia tetap tidak berubah. Adit memberi kejutan saat kami barusan bertengkar dengan beli birth ball warna ungu, aku pakai tiap pagi, kepalanya tetap anteng. Saat itu ada ikhtiar terakhir agar aku bisa melihat Luigi berjuang mencari jalan lahirnya sendiri. Aku masih punya harapan, bahwa aku pasti bisa melahirkan tanpa banyak intervensi medis, tanpa infus di tangan, dan tanpa bius. Apa itu? Aku pernah membaca di internet bahwa janin yang di beri suara tepat di tulang kemaluan, dia akan mencari sumber suara dan segera berputar. Air ketuban kata Obgyn cukup. Berarti masih bisa. Bahkan ada Obgyn di Surabaya menyemangatiku bahwa ada pasiennya yang sudah di vonis secar saat akan melahirkan, tapi di usia 9 bulan pun sang janin berputar. Subhanallah.
Aku akhirnya membeli alat 'prenatal education'. Aku hanya memberi Luigi musik klasik di awal usianya di oven. Setelah itu alat inilah yang aku gunakan tiap hari 2X sehari, pagi dan malam pulang kerja. Aku masih ingat karena harganya yang mahal, aku patungan sama Adit buat beli. Alat ini merupakan alat edukasi kecerdasan untuk bayi dalam kandungan (prenatal) yang terdiri dari 16 seri pembelajaran yang menggunakan “suara alami” mirip dengan detak jantung Ibu (maternal heart beat). Harapannya selain untuk pembelajaran Luigi sebelum lahirnya, alat ini juga akan membuatnya lari mencari sumber suara.
pembelajaran Lui setiap hari sebelum lahirnya

Dengan segala tantangan kehamilanku, dibalik cueknya Adit malah ia daftarin Luigi sejak dalam oven untuk program Asuransi. Jenis asuransi yang dipilih adalah Pru My Child dari Prudential. Program asuransi ini merupakan produk asuransi yang melindungi bayi sejak dalam kandungan, dengan berbagai resikonya, termasuk resiko penyakit bawaan sejak lahir. Semua orang tua tidak ada yang menginginkan anaknya dilahirkan dalam kondisi yang tidak diharapkan. Namun, sejujurnya selama aku hamil, aku selalu parno. Selalu memikirkan hal-hal yang buruk. Aku ketakutan. Apa Luigi akan sehat ketika dilahirkan, apa Luigi akan memiliki semua organ yang lengkap, dan berjejer dibelakang ketakutan-ketakutan lain. Inilah yang memotivasi ku membebaskan segala virus jahat dari tubuhku sejak program kehamilan. Dan asuransi ini adalah bentuk tanggung jawab Adit sebagai seorang calon Ayah. Aku tau, dia sangat memikirkan kami. Aku dan bayi kami. Meski aku tidak pernah didampingi dalam setiap kegiatanku termasuk antri nomer kontrol di Rumah Sakit. Tapi aku tidak pernah merasa perlu berfikir, bagaimana Adit bisa menebus semua obat atau vitamin dari Obgyn. Tidak pernah mengeluh bagaimana sebenarnya keras nya ia bekerja untuk menabung biaya persalinan yang cenderung ke arah cesar. Dan memberi banyak nutrisi melalui makanan untuk kami. Aku dan anakku. 
perlindungan Lui sejak di kandungan

Hamil itu seperti merasakan tulang-tulang mau rontok, kaki sering kaku saat dini hari. Napas ngos-ngosan. Capek tiada tara. Selama aku hamil, aku tidak pernah piket di kantor, tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, kecuali 1X masakin Adit selama hamil (9 bulan) dan setrika seragamnya tiap mau ganti hari Senin, Rabu dan batik hari Jumat. Apakah Luigi kepalanya kebawah dengan usaha kami? Sampe kontrol terakhir TIDAK. Sedih sekali rasanya. Yah aku sekarang tau kenapa Luigi tidak berputar. Kepala tidak segera ke panggul bawah. Hal ini karena aku tidak pernah olahraga. Hidupku hanya untuk kerja dan kerja. Tidak mengurus rumah dan Adit. Tapi hanya untuk kerja. Bahkan untuk foto kehamilan seperti impianku pun, aku tak sempat. Aku hanya merasakan cuti saat hitungan jari hari sebelum kelahiran. Di saat cuti itulah, aku gunakan fokus untuk aku. Istirahat. Dan mencari barang untuk persiapan ASI nya Luigi. Aku sering cari di babyshop online, fix, pesan, deal trus Adit yang bagian transfer. Tidak hanya itu. Cutiku aku gunakan untuk berjualan. Hah? Aku berjualan? Apa bisa. Bisa ternyata. Aku menjual kerudung ku yang masih bagus, merk Zoya ke grup jual beli Gresik.  Grup ini hanya diisi oleh Ibu-Ibu saja. Mulai barang baru sampai barang preloved. Sekitar hampir 20 jilbab Zoya ku yang aku beli dengan harga 79rb satu biji, aku jual dengan harga 30 ribu dan laris manis. Ludes tak bersisa. Sebenernya masih ada beberapa jilbab yang aku jual itu, aku pakai cuma satu kali, dua kali saja, dan masih ingin aku pakai. Tapi aku sudah yakin mau ngejual untuk mengisi waktu cuti. Aku jadi banyak teman melalui grup itu. Senang sekali rasanya, hehe. Selama cuti, kalender adalah hal yang sangat sakral buat ku. Tiap hari kupadangi kalender, aku hitung kapan berakhirnya 23 hari itu.

beberapa jilbab yang laku keras ;p

Hari Senin, di kehamilan 9 bulan alias 38 minggu aku rapat di Surabaya, siangnya sampe maghrib ke Cerme, setelah itu aku cari nursing cover motoran dengan tenang. Rabu aku pindah RS. Yang biasanya kontrol di RS Semen Gresik, aku ganti di RS Petrokimia Gresik dan masih bisa ambil nomer antrian sendiri. Ternyata kamis 18 Februari 2018 paginya ketubanku rembes. Pagi itu juga aku langsung masuk ruang operasi. Tuhan, rasanya seperti hidup dan mati. Aku takut. Dan Adit tidak menemaniku di meja mengerikan itu. Tapi proses ini sungguh sangat cepat. Bayi ku lahir dan langsung diberikan Nikmat ASI oleh Allah melalui payudaraku. Tapi rasanya cesar itu sangat sakit. Jujur, aku kesulitan bergerak. Aku tersiksa. Perih sangat. Bergerak ke kiri sakit, ke kanan sakit, apalagi untuk bangkit dari tempat tidur. Disana aku dan Adit mulai berjuang memahami setiap tangisannya, belajar dari nol. Aku pun mulai belajar manajemen perah ASI. Bahagianya hati kami. Anak yang kami perjuangkan, yang kami jaga, yang kami lindungi dalam hal apapun sejak dalam kandungan, akhirnya lahir dalam kondisi sehat, meski berat badannya cukup mungil. 2,5 kg sementara aku naik 15 kg selama hamil. Dari 45 kg menjadi 60 kg. Waaaah? Bulat sekali diriku. Pantesan semua baju gak cukup karena tubuhku membesar dimana-mana. Pantesan usia kehamilan 7 bulan aku sudah kelelahan. Kami beri nama Luigi Kautsarrazky. Pejuang (Itali) yang dilimpahi banyak rezeki (Arab). Semoga kelak ia memiliki akhlaq pejuang, dan merasakan nikmat rezeki pahit manisnya perjuangan, rezeki kesehatan dan lainnya.
Ternyata pembelajaranku sebagai Ibu baru sangat lah cepat. Usia 25 hari dengan penuh tangisan, aku putuskan untuk masuk kerja. Bagaimana tidak penuh tangisan, dia masih sangat lemah. Lui harus aku bawa kerja di usia 25 hari. Tidak punya stok Asip di Gresik. Lui harus di bawa pergi pulang kerumah pakai motor. Bayi ini masih kecil. Aku masih ingat dengan 3 kantung asi, harus di hemat supaya asi nya cukup. Di usia Lui belum 1 bulan, Lui sudah aku daftarkan ke daycare Petrokimia Gresik. Disana disediakan 20 box bayi, namun masih full. dan persyaratannya usia bayi minimal 2 bulan dan sudah diajarin minum Asip dengan menggunakan media dot. Ah Lui, usia belasan hari aku ajarin minum dengan dot. Akhirnya aku antri daftar. Sepulang dari daftar itu, Adit ke Surabaya dan aku di rumah sendirian. Lui nangis luar biasa. Gak jelas kenapa. Nangis terus gak bisa ditenangkan. Aku bilang ke Lui "Apa enggak mau dititipin disana, Nak?". Suatu hari Ibuku telfon, kenapa Lui di Gresik dan tidak di taruh Surabaya saja. Banyak berfikir lagi, merengung dan mengangis. Jika Lui di Gresik, ia dekat dengan kami, meski konsekuensinya ia harus di bawa kerja menggunakan motor. Jika Lui di Surabaya, jauh dan aku harus pulang Surabaya. Keluarga menjadi berjauhan. Adit sebenarnya menyerahkan keputusan padaku. Dengan menangis, akhirnya Lui dibawa ke Surabaya lagi dan Ibuku yang merawat selama aku kerja. Aku pun PP Surabaya Gresik setiap hari. Tepat 31 hari setelah secar, aku sudah motoran Gresik - Surabaya PP setiap malam sendiri tanpa Adit. Aku antar ASI yang aku perah selama kerja. Selama itu pun kami, aku dan Adit berjauhan. Aku di Surabaya dan adit di Gresik. Banyak hal yang kami alami selama ini dengan memiliki Luigi. Mulai kesedihan, kebahagiaan, penyesalan terhadap keputusan-keputusan kecil kami, dan riangnya hati. 
 
masih di RS Petrokimia Gresik
Dengan pekerjaan yang seperti itu, aku masih bisa memenuhi haknya mendapatkan ASI Eksklusifnya. Berat Lui, berat Nak. Perjuangan Ibu memberimu ASI sangat besar. Lui ditinggal Ibu masih kecil. Lui masih belajar pelekatan, Lui masih belajar mengenali Ibu, masih belajar adaptasi dengan alammu yang baru, alam dunia. Lui masih banyak menangis. Lui menangis tiap saat. Sementara Ibu harus bekerja jauh dari Lui, mengabdi lagi pada tanggung jawab. Kadang kalau kelelahan, hasil pumping juga sedikit dan aku selalu menangisi hasil ml nya. Sudah sering aku menangis karena ASI. Sering merasa bersalah, sering minta maaf sama Lui. Selama Lui eksklusif ASI, aku sudah tidak pernah lagi tidur malam lebih dari 2 jam. Tidak pernah tidur cantik. Tiap 2 jam, bahkan kurang dari itu Lui pasti minta menyusu. Tidak hanya itu, setelah menyusu aku selalu sempatkan pumping. Pumping dini hari berusahah tidak pernah aku lewatkan. Ngantuk? Capek? Jenuh? Semua tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesehatan Lui. Percayalah, tiap tetes ASI ada doa dan harapan buat Lui. Dan satu lagi. Ada perjuangan disana.

Banyak nyinyiran yang bilang yakin bisa PP Surabaya Gresik setiap hari, kenapa anaknya enggak ditaruh di Gresik aja. Kenapa bayi tidak dekat dengan orangtuanya. Hai Lui, kalo boleh berteriak keras dan bilang pada seluruh dunia. Ibu ingin dekat dengan Lui bukan setiap hari. Tapi setiap saat. Kalau aku sudah putus asa, Aditlah yang memotivasiku. Sabar dan sabar adalah kata yang sering diucapkan. Apalagi kalau Lui sakit, sudah rasanya hancur hati ku. Ingin selalu ada buat dia. Tanggal 21 Agustus 2016 pertama kali rawat inap di RS DARMO Surabaya. Saat itu aku sudah tidak ingin apa-apa lagi. Hanya ingin Lui sembuh atau aku aja yang gantikan dia di infus. Tangisannya menyayat hatiku. Ini loh rasanya patah hati. Aku baru merasakannya. Pada awal Oktober 2016 Lui juga batuk sampe muntah. Bahkan butuh di nebu. Sempat berfikir, kalau Lui berada pada pengawasanku 24 jam apa Lui tetap akan sakit? Apa Lui bersamaku, tumbuh kembangnya akan terus meningkat dengan berbagai stimulasi setiap harinya? Ah, hidup itu pilihan. Aku dan Adit sudah memilih.
Saat aku menulis ini, Lui semakin lucu, sudah makan sejak 6 bulan, makin suka becanda alias cekikikan, sudah diajakin jalan-jalan kuliner, ke taman, berkunjung ke sekolah besi usia 4 bulan, sudah diajakin ke luar kota tepatnya ke Trenggalek di usia 4 bulan juga, sudah tau pantai, sudah diajakin nge mall dan nonton bioskop di usia tepat 7 bulan, dan mulai diajakin ke acara nikahan. Sekarang sudah merangkak dan belajar duduk tanpa bantuan. Makannya sangat lahap. Lui juga masih mau menyusu padaku. Selama ini dia tidak pernah rewel kecuali sakit dan akan memulai tidur. Suka marah kalo mainannya diambil. Dan aku tau sejak bayi, keinginannya sangat kuat. Persis Adit. Inilah seorang yang benar-benar mengubah hidupku selamanya. Anak kecil ini. Ia banyak mengajarkan banyak hal. Belajar disiplin, belajar bersyukur, belajar ke ikhlasan, belajar kesabaran, belajar hal-hal baru, belajar semuanya. 


semua berawal dari perut ini :D
Dengan pengalaman ini, aku banyak sekali belajar. Hidup itu harus ideal tapi tetap menginjak ke bumi. Melihat realitas. Fokus tujuan tapi tetap kontekstual. Pilihan Ibu adalah yang terbaik untuk saat ini, untuk Lui dan keluarga kecil kita. Semoga Lui tumbuh dengan sehat. Tumbuh dengan limpahan kebahagiaan orang tua Lui, ayah dan Ibu dan orang-orang sekelilingmu. Lui, maafkan Ibu ya. Ibu sayang Lui, setiap detik.  
 
ini Lui masih imut :)

Selamat 7 bulan, 3 minggu dan 4 hari Lui. Tetaplah jadi anak bayi kesayangan Ibu.
Kamis, 13 Oktober 2016



*) Kontemplasi : merenung sambil menyusui